Keana Aluna, seorang anak perempuan yang di angkat oleh keluarga Hardian. Keana memiliki 2 kakak angkat. Namun diantara keduanya, menyimpan rasa yang berbeda selain sebagai seorang kakak.
"Ada satu cara agar Paman tidak akan pernah bisa menyentuh atau mengambil Keana dari rumah ini secara hukum"
"Maksudmu apa? Jalur hukum apa lagi yang kita punya?"
"Nikahkan dia denganku."
Apa tanggapan orang tua mereka setelahya? baca ceritanya SEKARANG!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yaya haswa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Aku benci
Elvan menghempaskan pintu mobil dengan keras setelah membiarkan Keana masuk ke kursi penumpang depan. Suara dentuman pintu yang beradu memecah kesunyian sore yang makin mencekam. Elvan memutari kap mobil, membuka pintu kemudi, lalu membantingnya tak kalah kasar.
Ia memacu mobil meninggalkan area cafe dengan kecepatan di atas rata-rata. Mesin mobil menderu keras, mencerminkan emosi yang masih bergejolak di dalam dada mereka.
Awalnya, hanya ada hening yang membakar. Keana mengepalkan jarinya kuat-kuat di atas pangkuannya, napasnya patah-patah menahan sesak dan tangis. Di sampingnya, jemari Elvan mencengkeram lingkar kemudi hingga buku-buku jarinya memutih, tatapannya lurus dan tajam memandang jalanan.
Hingga akhirnya, Keana tak sanggup lagi menampung dinding pertahanannya.
"Kenapa sih, Kak?!" suara Keana memecah hening, naik satu oktaf dengan nada melengking penuh kekecewaan. "Kenapa kakam selalu harus membatasi semua yang Kea punya?! Arlo itu cuma teman Kea! Kami cuma belajar!"
"Dia bukan cuma teman kamu, Keana!" potong Elvan, suaranya membentak keras, tak kalah tinggi hingga memenuhi kabin mobil. "Aku nggak buta! Akh bisa malihat bagaimana cara dia menatap kamu, gimana cara dia pegang kamu tadi!"
"Terus kalau dia natap Kea atau pegang kepala Kea, kenapa? Kenapa kalau Kea punya pacar?!" teriak Keana, matanya yang basah kini menatap Elvan dengan amarah yang meluap-luap.
"Kea udah SMA, Kak! Kea berhak atas diri Kea sendiri, Kea berhak berteman sama siapa aja! Kak El itu kakak Kea, bukan pemilik hidup Kea!"
Sreettt!
Elvan mendadak membanting stir dan menginjak rem secara mendalam hingga ban mobil mencicit keras di bahu jalan yang sepi. Keana terdorong ke depan, ditahan oleh sabuk pengaman.
Elvan menoleh cepat, tubuhnya mencondong ke arah Keana. Matanya yang merah membara menatap Keana dari jarak yang teramat dekat.
"Kakak?!" desis Elvan dengan nada tinggi yang bergetar karena emosi berlebih.
"Asal kamu tahu, Kea. Aku tidak pernah menganggap mu adikku dan tidak akan pernah. Adikku hanya Gavin" ucap Elvan.
Jedarrrr
Sakit? Tentu. Kata itu menghantam dada Keana dengan keras. Air matanya jatuh sejatuh-jatuhnya. Membasahi pipi yang memerah karena amarah dan kekecewaan. Ternyata memang benar Elvan tidak menerima kehadirannya sebagai keluarga Hardian.
Di dalam benaknya yang hancur, kata-kata itu menjadi pembenar atas segala rasa tidak aman yang selama ini menyiksanya. Keana merasa ditolak secara mentah-mentah. Ia berpikir bahwa sedalam apa pun ia berusaha menjadi bagian dari keluarga Hardian, bagi Elvan, ia hanyalah orang asing. Seorang anak angkat yang tidak pernah dianggap saudara, keberadaan yang tak pernah diharapkan, dan pemicu beban bagi keluarga ini.
Namun, fakta di balik kalimat itu jauh lebih gelap dan rumit dari apa yang Keana pahami.
Keana tidak tahu dan belum sanggup membayangkan arti sebenarnya dari ucapan Elvan. Ketika Elvan menegaskan bahwa ia tidak pernah menganggap Keana sebagai adik, itu bukan karena ia membenci status Keana di keluarga mereka. Justru sebaliknya.
Sejak awal, Elvan tidak pernah melihat Keana sebagai seorang adik perempuan yang harus disayangi secara wajar. Bagi Elvan, Keana adalah seorang wanita. Wanita yang ingin ia miliki sepenuhnya, dan wanita yang tak boleh tersentuh oleh lelaki mana pun di dunia ini termasuk Arlo.
"Tapi cara kakak itu GILA!" balas Keana berteriak tepat di depan wajah Elvan, tak lagi takut.
"Kak El mukul Arlo di depan umum! Kakak bikin Kea kayak orang terasing yang nggak boleh punya siapa-siapa! Kea benci kakak! KEA BENCI!"
Kata "benci" yang terlempar dari mulut Keana seolah merobek sesuatu di dalam diri Elvan.
"Abang jahat!" ucap Keana lirih.
Elvan memukul lingkar kemudi dengan telapak tangannya hingga klakson berbunyi nyaring sebentar. Ia bernapas memburu, menatap Keana yang kini terisak hebat di sampingnya. Melihat kebasahan di pipi Keana, ada retakan rasa penyesalan yang coba Elvan tekan dalam-dalam, tertutup oleh obsesi gelapnya untuk tetap memegang kendali atas gadis itu.
Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, Elvan kembali menginjak pedal gas dalam-dalam, memacu mobil kembali melaju membelah jalanan menuju rumah keluarga Hardian.
Mobil hitam milik Elvan berhenti mendadak di garasi rumah keluarga Hardian. Mesin dimatikan, meninggalkan keheningan mencekam yang menusuk. Keana langsung menyambar tasnya, keluar dari mobil tanpa memandang Elvan sedikit pun, dan berlari menuju kamarnya di lantai dua. Ia mengunci pintu rapat-rapat, menghempaskan tubuhnya di atas tempat tidur, dan melampiaskan tangisnya.
Elvan berjalan lambat menyusuri koridor rumah. Langkah kakinya berat, rahangnya masih mengeras, dan obsesi yang gelap di dalam dadanya makin menyala.
*****
Di tempat terpisah, di ruang kerja direksi Rumah Sakit Utama, Papa Arland dan Mama baru saja menyelesaikan rapat ketika sekretaris memanggil mereka. Di luar ruangan, Paman Imran sudah berdiri tegak bersama seorang kuasa hukum.
Paman Imran tidak lagi berniat bermain-main atau sekadar mengintai di balik gerbang sekolah Keana. Hari ini, ia membawa berkas-berkas legal yang mengejutkan, bukti kepemilikan hak asuh yang sah secara hukum atas Keana setelah kematian orang tua kandungnya, serta bukti bahwa adopsi yang dilakukan keluarga Hardian dulu memiliki celah hukum yang serius.
"Saya datang di sini untuk mengambil kembali hak atas keponakan saya, Keana. Selama ini kalian menyembunyikannya. Pekan depan, gugatan hak asuh ini akan resmi masuk ke pengadilan jika kalian tidak menyerahkan Keana secara baik-baik" ujar Paman Imran dengan suara dingin namun penuh penekanan di hadapan Papa Arland dan Mama Soraya yang berdiri terpaku.
Pernyataan itu menghantam Papa Arland dan Mama Soraya bagaikan petir. Kerajaan reputasi dan rasa sayang mereka pada Keana terancam hancur dalam semalam. Jika kasus ini meledak ke jalur hukum, bukan hanya Keana yang akan direbut kembali, tetapi reputasi besar keluarga Hardian juga berada di ambang kemerosotan.
Sore menjelang malam, Papa Arland dan Mama tiba di rumah dengan wajah pucat dan langkah gontai. Perasaan mereka campur aduk, takut kehilangan Keana, cemas akan skandal hukum, dan bingung mencari jalan keluar dari jeratan hukum yang disiapkan Paman Imran.
Gavin yang baru saja pulang dari studio FSRD bingung melihat suasana rumah yang mendadak muram. Ia memandang Papa dan Mama yang duduk di sofa ruang tamu dengan tatapan kosong, sementara Elvan berdiri bersedekap di dekat tangga dengan wajah tanpa ekspresi.
"Pa, Ma... ada apa sebenarnya?" tanya Gavin cemas, pandangannya beralih dari Papa ke Elvan. "Kenapa muka kalian tegang semua?"
Papa Arland mengusap wajahnya yang lelah, lalu menghembuskan napas berat. "Paman Imran, adik kandung ayah Keana... dia datang ke rumah sakit tadi. Dia membawa pengacara dan berniat membawa Keana ke jalur hukum. Hak adopsi kita cacat hukum, Vin. Kalau ini sampai ke pengadilan, kita tidak punya dasar kuat untuk mempertahankan Keana secara legal. Keana... bisa diambil paksa dari kita."
Mama mulai terisak pelan, memegangi dadanya yang terasa sesak. "Mama nggak mau Kea dibawa pria itu, Pa... Kea sudah kita anggap anak sendiri..."
Di tengah keputusasaan itu, Elvan melangkah maju perlahan. Langkah kakinya terdengar mantap di atas lantai marmer. Matanya menyapu wajah kedua orang tuanya dengan ketenangan yang aneh, ketenangan yang menyembunyikan rencana gila di baliknya.
"Ada satu cara agar Paman Imran tidak akan pernah bisa menyentuh atau mengambil Keana dari rumah ini secara hukum," suara Elvan mengalun dingin, memutus keheningan ruang tamu.
Papa Arland mendongak, menatap putra sulungnya. "Maksudmu apa, Elvan? Jalur hukum apa lagi yang kita punya?"
Elvan mengepalkan tangannya di balik saku celananya, lalu berucap dengan tegas, tanpa ada rasa ragu sedikit pun,
"Dengan menikah. Ubah status Keana. Lepaskan dia dari status anak angkat keluarga ini..."
"Maksud mu bagaimana? dengan siapa kita nikahkan?" Papa Arland sungguh tidak mengerti.
"Nikahkan dia denganku."
Deg
Kalimat itu terlempar bagai bom di tengah ruang tamu. Papa Arland membeku seketika, matanya membelalak lebar. Mama menghentikan tangisnya, menatap Elvan dengan tatapan tak percaya. Sementara Gavin berdiri terpaku, dadanya bergemuruh hebat mendengar penawaran yang begitu gila keluar dari mulut kakaknya sendiri.
"Elvan! Apa yang kamu bicarakan?!" bentak Papa Arland, berdiri dari duduknya dengan napas memburu. "Dia adikmu! Kamu gila?!"
"Dia bukan adik kandungku, Pa. Kita semua tahu itu," sahut Elvan dengan nada datar namun menuntut, tatapannya tak teralihkan.
"Jika Keana menjadi istriku yang sah secara hukum negara dan agama, hak asuh Paman Imran otomatis gugur total. Tidak ada pengadilan mana pun yang bisa merebut seorang istri sah dari suaminya."