Syhang nyang cipto gumono, rawuhno sejatining… kang aperojo hing songgobuwono rawuh rawuh rawuh mijil dateng pangarsanisun…
Asap dari bakaran kemenyan membumbung pekat di dalam ruangan. Menebar bau harum menggidikkan ke seluruh area rumah mewah yang baru saja di tempati Mbah Priyo dan keluarga.
Rumah mewah yang dulunya milik paranormal kondang, yang masih berdiri kokoh dengan segala keangkerannya selama empat puluh tahun itu akhirnya berpindah tangan. Dari keluarga Pak Karman ke penghuni baru yang juga seorang paranormal, Mbah Priyo.
Selanjutnya, kisah Mbah Priyo dan segala lelakunya sebagai paranormal dimulai dari rumah dengan tingkat wingit paling tinggi tersebut. Membangkitkan kejayaan paranormal kondang yang telah runtuh dengan kidung-kidung dari alam kegelapan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Al Orchida, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mengenaskan
Keak! Keak! Ber! Ber!
Di rumah Salman, ibunya mendapati anak laki-lakinya sedang menggigil di atas tempat tidur. Sejak kejadian kemarin malam, Salman seperti orang linglung yang hanya berdiam ketakutan di atas ranjang.
Tangan ibu Salman menyentuh dahi putranya. "Badanmu panas sekali, trus gimana ini … mana sudah malam begini. Minum obat turun panas ya, Man?" Ibu Salman mengulurkan air putih dan juga obat turun panas. "Lah … nasinya malah nggak kamu makan!"
Salman semakin meringkukkan badan, "Mak, kenapa ada suara gagak di atap rumah?"
"Wes ayo makan dulu trus minum obat!" Satu sendok nasi disuapkan ke mulut Salman yang enggan membuka. "Duduk sebentar, Man!"
"Mak … kalau ada gagak itu tandanya mau ada orang mati ya?"
Ibu Salman mengerjap dan tertegun sesaat, "Kamu ngomong apa, Man? Jangan ngelantur malam-malam."
Salman berdecak resah, nalurinya berbicara tentang ketakutan. "Jam berapa ini, Mak? Kok rasanya sepi senyap begini."
"Jam sepuluh. Wes ayo makan trus istirahat, besok kamu ke puskesmas ya kalau masih panas!" Ibu Salman meletakkan sendok di atas piring dan memaksa anaknya agar posisinya sedikit duduk. Salman sama sekali tidak mau makan atau minum apapun seharian.
Dengan terpaksa Salman bangun, membasahi mulutnya dengan seteguk air sebelum menerima suapan nasi dari ibunya. "Mak, di dapur ada siapa?"
"Owalah Man, kita ini tinggal cuma berdua. Jangan tanya yang aneh-aneh, nggak ada siapa-siapa di sana."
Salman diam dengan pandangan mata ke arah dapur. Dari pintu kamarnya yang terbuka lebar, Salman melihat sekelebat bayangan hitam besar di dapurnya. Dengan wajah tegang, Salman berbicara pelan, "Ada orang di dapur, Mak! Salman barusan lihat ada yang lewat!"
Ibu Salman ikut merasakan rasa tidak nyaman, hanya saja menutupi dengan baik agar Salman tidak ketakutan seperti kemarin malam.
KEAK! KEAK!
Gagak lagi, suaranya dekat. Seperti berada tepat di atas kamar Salman. Tidak biasanya dan memang sangat aneh, dan itu adalah malam kedua yang sangat sepi dengan suasana mencekam. Ada kengerian dalam perasaan yang tidak bisa dijelaskan.
Lengang. Hanya suara nafas Salman yang ketakutan yang terdengar di dalam kamar. Ibunya membisu mencoba mendengarkan sesuatu.
BRAK!!!
Suara seperti pintu dihempas terdengar dari dapur, lalu kembali lengang. Sepi sekali. Salman memegang lengan ibunya kuat-kuat dengan nafas seperti kuda yang sedang dipacu.
"Mak, suara apa itu di dapur?" tanya Salman berbisik.
"Tak lihate, tunggu di sini sebentar! Takutnya Mak lupa ngunci pintu dapur, anginnya keras kayak mau hujan soalnya!"
Salman menimbang, antara mau ikut ke dapur atau menunggu dalam kamar. Akhirnya dia hanya diam, toh dapur sedikit terlihat dari tempatnya duduk sekarang.
Ibu Salman tercekat, pintu dapur terbuka lebar, padahal dia ingat betul kalau sudah mengunci semua pintu dan jendela rumahnya. Perasaannya mulai was-was, apa yang ditakutkan Salman juga mulai menghantui kepalanya.
"Si-siapa di situ?" tanya Ibu Salman hampir seperti pada diri sendiri karena hanya keluar sebagai desisan ringan. Lengang. Dan tiba-tiba saja mata wanita berumur itu menangkap bayangan hitam berkelebat ke luar dapur melewati pintu yang terbuka. Penerangan yang redup tidak mampu menjelaskan siapa yang baru saja keluar rumahnya.
Ibu Salman meraih sapu dan berjalan berjingkat menuju pintu keluar, membuntuti bayangan serupa orang bertudung hitam.
BRAK!!!
Pintu dapur tertutup sendiri dengan keras. Sontak Ibu Salman membalikkan tubuh dengan rasa kaget luar biasa. Nalurinya berbicara tentang sesuatu yang tidak beres, sedikit menyesal karena saat siang tidak mencoba mencari pertolongan pada orang pintar.
"Man, Salman … buka pintunya!"
Bagaimana mungkin pintu kayu yang kuncinya hanya berupa palang mendadak tidak bisa dibuka? Siapa yang mengunci pintu dapurnya dari dalam.
Lengang. Angin bertiup dingin meremangkan bulu kuduk. Ibu Salman memutari rumah, menuju jendela kamar Salman, berusaha memanggil anaknya dari sana.
Sepi, sepi dan sepi!
"Akh … akh!" Detik berikutnya suara desah besar terdengar samar-samar. Lalu terdengar lagi lebih tajam seperti suara geraman binatang.
"Mak! Tolong …!" Sontak jantung Ibu Salman berdetak kencang. Jeritan Salman seperti lolongan serigala di tengah malam buta. Lantang, menyakitkan dan menggidikkan.
"Man, Salman! Ada apa? Buka pintu belakang!"
Gedoran Ibu Salman dari luar jendela kamar tertiup angin malam, berlalu begitu saja tanpa respon dari anaknya. Kepanikan semakin menjadi, raungan Salman semakin sering terdengar telinga ibunya.
"Tolong Salman, Mak! Tolong!"
Ibu Salman melangkahkan kaki ke rumah sebelah, menggedor pintu tetangganya sekuat tenaga. Bahkan gagang sapu yang dibawanya dipakai untuk memukuli pintu agar tetangganya cepat mendengar panggilannya.
Senyap. Tidak ada sahutan, tidak ada suara orang bangun, apalagi membukakan pintu. Dalam putus asa, Ibu Salman kembali ke rumah, berusaha mendobrak pintu dapur dengan segala cara. Naluri keibuannya mengatakan kalau Salman dalam bahaya.
Kriet!
Pintu terbuka dengan sendirinya. Meski merasa aneh, Ibu Salman tidak memperdulikan. Langkah kaki Ibu Salman sangat cepat, hampir berlari dan terdengar jelas menapaki dapur menuju kamar anaknya yang sedang meregang nyawa.
"Salman! Salman, sadar Man!"
Darah sudah membanjir di tempat tidur dan masih keluar dari seluruh lubang tubuh Salman dengan deras. Nafas Salman turun naik tak beraturan karena tersedak darahnya sendiri, mata terbuka lebar ke atas meninggalkan warna putih bercampur darah.
"Sal-man, ya Robi." Ibu Salman menangis dalam kepanikan melihat putranya yang sesaat lalu masih disuapinya mulai sekarat. Dua puluh menit terjebak di luar rumah dan semua telah berubah 180 derajat.
Salman siap meninggalkan dunia dengan kondisi sangat mengenaskan. Kejang dengan darah merembes keluar dari tubuh. Dalam hembusan nafas terakhirnya, kabut hitam tebal ikut keluar dari mulut Salman diiringi lesatan cahaya merah menembus langit-langit kamar.
Jeritan Salman menghilang, berganti dengan tangisan pilu ibunya yang sibuk memanggil nama Salman dan mengguncangnya kencang.
"Salman ….!"
***
apa ini sukma bambang