Perjodohan adalah hal keramat yang paling tidak aku sukai. Menurutku di jaman serba modern seperti sekarang ini tidak perlu yang namanya jodoh menjodoh.
Hal yang tidak aku suka malah menghampiriku, orangtuaku menjodohkanku dengan anak sahabat mereka.
Bagaimana kisah mereka?
Novel ini merupakan kelanjutan MBA.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon shy. ineng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Restu Nenek
Azan Subuh berkumandang pertanda pagi hendak menyinsing. Di kediaman Kenzo, seluruh anggota keluarga lagi bersiap-siap untuk menemui Nenek. Dia adalah wanita berharga yang telah menghadirkan lelaki sehebat Kenzo. Wanita yang sangat di kagumi oleh Nancy. Wanita yang berbudi luhur baik. Melalui dialah Nancy merasakan peluk hangat seorang ibu, yang tak pernah di dapatkannya sebelumnya.
Seminggu sebelum pernikahan Varel dan Nasya. Kenzo ingin mereka menemui Mamanya terlebih dahulu untuk meminta restu.
"Apakah semuanya sudah siap?" Tanya Kenzo menghampiri Nancy istrinya.
"Udah sih, sayang. Tunggu anak-anak aja." Melihat kearah kamar kedua anaknya.
"Varel belum nyampai?" Tanya Kenzo sekali lagi.
"Belum, Masih di jalan mungkin!"
"Udah lama kita ngak datangin Mama, Ucap Kenzo ikut duduk di samping Nancy.
"Aku kangen banget sama Mama," Nancy menyandarkan kepalanya di pundak kenzo.
"Aku juga kangen banget sama Mama. Dia pasti senang akhirnya cucunya akan segera menikah." Ucap kenzo menatap langit-langit.
"Assalamualaikum," Suara Varel mengucapkan salam.
Wa’alaikumus salam. jawab kenzo dan Nancy bersamaan. "Masuk nak,Nasya masih di kamar tuh." tambah Nancy.
"Iya," Varel ikut duduk bersama Ken dan Nancy.
Tidak lama kemudian Nasya keluar kamar dan Zoan juga keluar. Mereka telah siap. berangkat menemui sang Nenek.
Mereka berangkat mengunakan dua mobil, Kenzo dan Nancy satu mobil di sopiri oleh Anang sopir pribadi kenzo. Varel,Nasya dan Zoan satu mobil. Zoan sengaja memilih satu mobil bersama dengan Varel dan Nasya, katanya menjadi satpam Nasya alasan klasik, karena dia enggan satu mobil dengan orang tuanya. terlalu kaku pikirnya.
Tepat pukul 10.00 Mereka berangkat bersama-sama menuju tempat peristirahatan sang Nenek.
"Aku nerves banget." Bisik Varel pada Nasya.
"Biasa aja, Nenek baik kok orangnya. Dia pasti kasih restu buat kita."
"Iya, aku juga berharapnya begitu."
Di mobil lain, tepatnya mobil kenzo dan Nancy.
"Mama baik-baik aja kan di sana." Ucap Nancy tak kuasa menahan air matanya.
"Mama pasti bahagia di sana. Kamu jangan sedih gitu dong sayang." Mengusap air mata yang jatuh di pipi Nancy.
Sunyi, Nancy menyandarkan kepalanya di bahu kenzo. sepanjang perjalanan menuju tempat peristirahatan sang mama, Nancy tak hentinya meneteskan air mata.
"Udah dong sayang nangisnya, kasian Mama. Kamu harus terlihat kuat di hadapan anak-anak." Kenzo menenangkan Nancy yang terus saja menanggis sejak tadi.
Nancy tetap menanggis tak menghiraukan ucapan Kenzo. Dia tak kuasa menahan air matanya yang terus saja keluar walaupun dia berusaha keras menahannya.
"Ayo turun, kita sudah sampai." Kenzo menunjukan area pemakaman umum yang terlihat sepi.
Ehemmm, Nancy menarik nafasnya dalam-dalam, merapikan pakaian dan membersihkan mukanya yang masih sembab akibat terlalu lama menanggis. Kemudian dia turun dari mobil.
"Mami tak apa?" Tanya Nasya panik, melihat muka Maminya sembab tanda habis menanggis.
"Mami oke kok, ayo kita ketempat Nenekmu."
"Melewati beberapa Makam, akhirnya mereka tiba di makam sang Nenek.
Nancy langsung duduk tersungkur di depan pusara sang Mama mertua.
"Mama, apa kabar? Nancy datang.Mama Baik-baik aja kan di sana?" Berucap dengan berlinang air mata. Mengingat bagaimana baiknya sang mertua padanya dulu. Sungguh wanita yang bisa menjadi teladan baik menurut Nancy.
"Mama, mama bahagiakan di sana." Tambah kenzo menyirami pusaran makam sang mama dan tak lupa menaburkan bunga.
"Mama, Ken datang membawa Nasya dan Zoan. Mereka udah besar dan sebentar lagi Cucu Mama Nasya akan menikah. Ken mohon doa restu dari mama untuk pernikahan mereka.
"Hai Nenek," ucap Nasya Ikut duduk di pusaran makam sang Nenek. "Nek, Nasya datang. Nasya datang dengan calon suami Nasya.Ini Varel nek, dia yang akan menjadi suami Nasya. Nasya mohon Nenek restuin pernikahan kami ya."
"Hai Nek, Apa kabar? Aku Varel nek. Lama kita ngak ketemu. Varel harap Nenek masih mengenali Varel. Varel janji akan menjaga Nasya dan melindunginya. Nenek restuin ya pernikahan kami." Tambah Varel ikut duduk di samping Nasya.
Tinggal Zoan yang berdiri mematung binggung apa yang harus dia katakan pada sang Nenek.
"Hai Nek, Zoan sekarang udah besar. Doain Zoan biar cepat dapat jodoh ya. Zoan akan datang suatu saat nanti bersama dengan calon istri Zoan." Akhirnya setelah sekian lama berkutat dengan pikirannya zoan membuka suara menyapa Neneknya.
Setelah agak lama berada di makam sang Nenek, keluarga kenzo memutuskan untuk pulang. Dengan posisi semula, hanya saja Zoan pulang bersama orang tuanya karena Varel dan Nancy akan ke Butik anita.
Berpisah di area pemakaman, mereka berjalan menuju tujuan masing-masing.
"Nasya," Panggil Varel pada Nasya yang terlihat sedih duduk di sampingnya.
"Hmm, jawab Nasya singkat.
"Kenapa?"
"Aku kangen banget sama Nenek. Nenek terlalu cepat pergi meninggalkan kita. Padahal Nenek janji akan Melihatku menikah."
"Jangan sedih, semua sudah di atur oleh Tuhan. Kita harus mengiklaskan kepergiannya. Supaya dia juga tenang di alam sana." Ucap Varel menenangkan Nasya.
"Iya aku sudah mengiklaskan kepergiannya, aku hanya merindukan nenek saja."
"Aku tahu, sudah dong sedihnya."Mencubit pelan pipi Nasya yang terlihat chuby.
Tidak membutuhkan waktu lama mereka tiba di Butik anita.
"Mama." Panggil Varel begitu mereka memasuki butik. Terlihat anita duduk di kursi kebesarannya dengan tumpukan kertas di hadapannya.
Varel dan Nasya menghampiri Anita,mencium punggung tangan Anita dan cepika-cepiki sesaat.
"Ayo ikut Bibi. Bibi akan tunjukin Baju pernikahan kalian yang Bibi desain sendiri."
Ucap Anita pada Nasya.
"Ayo, Nasya ngak sabar pengen liat hasil karya bibi, pasti bagus." Berjalan beriringan mereka menuju ruang penyimpanan.
Terpajang sebuah gaun yang sangat indah membuat Nasya terkesima melihat gaun tersebut. Gaun berwarna putih dengan belahan dada rendah tersebut membuat Nasya jatuh cinta pada gaun tersebut.
"Bagaimana Nasya suka?" Tanya Anita melihat Nasya yang berdiri di hadapan gaun putih tersebut.
"Suka banget bi, Boleh di coba?"
"Boleh dong, Ayo bibi bantuin pakaikan." Mereka memasuki ruang ganti, melewati Varel yang duduk di sofa.
Dengan bantuan Anita, Nasya berhasil mengenakan gaun putih tersebut.
"Cantik banget sayang." Puji Anita melihat Nasya yang sangat anggun.
"Thanks Bi, desain bibi bagus banget. Nasya suka." Berdiri di depan cermin.
"Tunggu sebentar," Anita pergi meninggalkan Nasya sendirian yang lagi asik bercermin.
"Wow, cantik banget." Puji Varel, rupanya Anita menghilang karena nemanggil Varel.
Dipuji seperti iti oleh Varel membuat Nasya tersipu malu. "Gaunnya yang cantik, Bibi hebat merancangnya."
"Menurutku gaunnya terlihat cantik karena di pakai wanita cantik seperti kamu." Varel menghampiri Nasya. dia mendekat hendak mencium Nasya.
"Gimana,varel.Nasya cantikkan mengunakan gaun buatan Mama." Suara Anita mengagalkan rencana Varel.
.
.
.
.
.
.
🕊🕊🕊
Mohon sarannya untuk chapter ini yaa guys🙏🙏
selalu dukung Author ya😘😘