21++ Harap bijak memilih bacaan. Bukan bacaan untuk teenager, ABG, Bocil dan kawan-kawan.
Widia adalah mahasiswi tahun pertama yang mendadak harus menikah dengan pacarnya karena paksaan dari kakaknya.
Dalam perjalanan rumah tangganya, Widia dan Ivan yang tidak pernah berkonflik besar tiba-tiba berpisah. Widia menghilang meninggalkan suami dan anaknya.
Setelah beberapa waktu, Widia yang dikira telah tiada ditemukan bersama dengan laki-laki tampan lain yang memperbudaknya sebagai istri.
Bagaimana perjuangan Widia untuk lepas dari 'GENDAM' Sang Suami setelah hadirnya madu yang meracuni hidupnya?
Base on true story, Cus … dibaca!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Al Orchida, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CH 28
Menjelang malam Ivan baru keluar dari kantor polisi terdekat, usahanya mendapatkan berita kecelakaan dan kejahatan dengan korban berciri Widia tidak ada hasil.
Rasa gelisah dan bersalah menghujat hatinya.
Membawa beberapa lembar foto istrinya, Ivan berkeliling ke tempat keramaian untuk melanjutkan pencarian.
Bertanya pada pengunjung, pedagang bahkan tukang parkir toko tanpa rasa bosan.
Tak berhenti lelah, Ivan menghabiskan sepanjang malam duduk di pinggir jalan. Berharap melihat Widia melintas di depannya dengan motor dan dia bisa mengejar untuk mengajak istri cantiknya kembali ke rumah.
Matahari hampir terbit ketika Ivan memutuskan untuk pulang, menyesali kesadarannya yang datang terlambat.
Harusnya di hari pertama Widia tampak aneh dan tidak biasa dia sudah mencari jawaban, bukan menunggu mendapatkan bukti baru bergerak melakukan penyelidikan.
Sekarang … nasi sudah menjadi bubur, Ivan mulai mengubur semua harapan akan kedatangan Widia. Hati kecilnya berbisik kalau Widia memang sengaja pergi meninggalkannya demi bisa bersama dengan laki-laki lain.
Esoknya, seluruh keluarga Widia datang ke rumah Ivan, membicarakan kemungkinan terburuk yang terjadi pada Widia.
Meski tidak ada yang menyalahkan Ivan, tapi Ivan merasa sakit melihat ibu Widia yang penuh air mata saat bertanya inti permasalahan kepadanya.
Dua keluarga sepakat untuk terus mencari Widia dalam batas waktu yang tidak ditentukan. Sebagai suami, Ivan diberi tanggung jawab lebih besar untuk menemukan istrinya dalam keadaan apapun.
"Pergi ke Kyai Marzuki saja sore nanti, siapa tau Widia pulang setelah didoakan," usul mama Ivan dalam pertemuan.
"Iya … saya setuju, nggak ada salahnya bertanya dan minta bantu doa dari orang suci." Ibu Widia langsung menyetujui gagasan besan perempuan.
"Ada orang pintar bernama Pak Suwanto juga di kampung sebelah, paranormal terkenal … banyak orang kesusahan minta tolong kesana dan merasa puas dengan hasilnya," celetuk Papa Ivan.
Kedua orang tua Widia mengangguk, "Kita datangi semua, yang penting ada kabar dari Widia secepatnya."
Lalu, hari melelahkan mencari Widia tak pernah berhenti, seminggu pertama Ivan sama sekali tidak bekerja. Seluruh waktunya dihabiskan untuk mendatangi teman-teman Widia, dari teman SMA sampai teman kuliah.
Menyisir kampung kos-kosan dan banyak bertanya pada siapa saja yang dijumpainya, menemui semua temannya untuk ikut membantu mencari istrinya yang hilang begitu saja.
Ivan dan keluarga beberapa kali datang ke orang pintar, dari kyai sampai dukun pun dilakoni, dari istrinya diberitakan sudah mati sampai sedang hidup bersama laki-laki lain dia terima dengan sabar.
Di sisi lain, perjalanan Widia juga ternyata tidak mudah, tidak semanis yang diharapkannya.
Tempat yang diberikan Erwin di luar kota bukan rumah besar, tapi rumah salah satu kenalan Erwin yang punya usaha travel.
Widia dan Erwin menempati satu kamar, ruang lain hanya dapur kecil untuk kebutuhan rumah tangga. Erwin bekerja sebagai sopir travel luar kota dan Widia di rumah membantu istri teman Erwin menjaga toko.
“Bang … tadi Reni minta fotocopy kartu keluarga buat laporan RT." Widia ikut duduk di lantai setelah meletakkan segelas kopi di depan Erwin, melanjutkan cerita obrolannya dengan istri teman Erwin sore tadi.
"Trus kamu bilang apa?" tanya Erwin.
"Aku beralasan kalau lupa nggak bawa, Bang! Reni bilang suruh kirim dari rumah kan bisa," jawab Widia dengan wajah muram.
"Nanti aku bilang Dodi biar bantu urus itu ke RT."
"Tapi kita kan memang nggak punya kartu keluarga, Bang. Tadi Reni juga tanya surat nikah …."
Erwin menatap Widia, "Ya emang kita belum nikah gimana mau punya surat?!"
"Kita kan bisa nikah siri di sini, biar disaksikan beberapa orang dan punya surat sementara. Aku malu kalau ditanya soal itu …."
Widia menunggu tindakan Erwin, perempuan cantik itu merasa keberatan jika harus tinggal bersama tanpa ikatan apapun.
Widia berharap, apa yang sudah dikorbankan paling tidak ada harganya, menjadi istri sah Erwin seperti yang sudah dijanjikan.
Hal kecil yang belum dikabulkan Erwin meskipun mereka sudah tinggal bersama layaknya pengantin baru.
Tak memperdulikan keluhan Widia, Erwin keluar kamar untuk menemui temannya, Dodi. Mencari solusi.
***
erwin apa khabar ya?..
smoga nasib baik berpihak padamu