Menelusuri lorong kota itu setelah sekian lama meninggalkannya mengusik ingatanku.
Beberapa tempat yang tak berubah, mengingatkan sebagian kisah masa laluku yang menempaku menjadi seperti sekarang .... Laki-laki yang masih tetap menjadi dirinya sendiri.
Aku bisa selembut kapas dan berubah sekeras batu padas seiring kedewasaan hidupku yang dikelilingi kepalsuan dan intrik penumpang gelap di sekitarku.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon A.T. Setiawan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
10. Cantik
Kuceritakan dulu tentang bocah perempuan yang tiba-tiba membuatku semakin tak mudah melupakan kota persinggahan masa kecilku.
"Waow .... Cantiknya," mulut Erwin ternganga melihat bocah perempuan yang baru masuk di kelas kami.
"Panggil aku Arin," suara itu terdengar lembut saat sosok di depan kelas yang menjadi perhatian kami mulai memperkenalkan dirinya.
"Anak baru ya Win .... Pindahan dari mana dia?" kataku pelan ke arah Erwin.
"Kayaknya dari Jakarta. Tadi sempat kulihat plat B di mobil yang mengantarnya," jawab Erwin.
Menatap wajah bocah perempuan yang masih terlihat malu-malu di depan kelas, Aku teringat dongeng Gadis Penjual Korek Api-nya Hans Christian Andersen yang pernah kubaca.
Dongeng yang mengenalkanku tentang kata cantik yang tadi diungkapkan Erwin.
Jika Erwin seperti riak air yang mudah terganggu kata itu, Aku seperti batu yang tenggelam dalam genangan air.
Butuh validasi lebih bagiku untuk mengucapkan kata itu.
Menurutku, cantik itu bisa tak terlihat di awal, seperti cerita kecantikan gadis cilik penjual korek api yang terlihat di akhir dongeng Hans Christian Andersen setelah bertemu dengan neneknya ....
***
Tak lama setelah perkenalan kepindahannya itu, Aku hanya bertegur sapa biasa saja dengan Arin. Sama saja seperti Aku saling menyapa dengan teman perempuanku yang lain.
Sampai kemudian di bulan November 1980 pak guru Selo menyuruh kami pulang lebih awal ketika banyak temanku yang tak masuk sekolah.
"Ada apa Pak ?" tanyaku ke arah Bapak yang tidak seperti biasa datang menjemputku.
"Gak ada apa-apa .... Nanti di rumah saja ya Pras, jangan ke mana-mana," jawab Bapak yang memboncengkan Aku dengan sepedanya.
Aku diam saja tak membantah kata-kata Bapak.
Tak seperti biasanya, sepanjang perjalanan pulang banyak toko yang tutup. Toko Mawar punya ci Lani juga kulihat tutup saat kami melewati jalan di depan tokonya.
Beberapa mobil polisi yang melintas dengan sirine yang meraung membuatku semakin bertanya-tanya tentang apa yang sedang terjadi.
Sampai pintu gerbang belakang rumah sakit, kulihat pak Darso dan beberapa murid laki-laki Bapak ada di sana. Ada yang membawa tongkat dan kayu pemukul ketika Bapak bergegas menuntunku ke arah rumah.
"Sini Pras, temani adikmu !" Ibu menyuruhku menemani Christ dan Dion ketika melihat kedatanganku dan Bapak.
Bapak dan Ibu kemudian meninggalkan kami ke ruang belakang.
"Banyak rumah Cina yang dibakar bu .... Kasihan," kata Bapak.
Aku masih belum sepenuhnya mengerti maksud kata-kata itu ketika menguping pembicaraan Bapak dan Ibu.
Bibi Yanti yang menggendong Dion hanya menempelkan jari telunjuknya ke bibirnya, saat Aku berbisik menanyakan hal itu ke arahnya.
Tak lama Bapak meninggalkan kami. Sepertinya dia bermaksud menemui pak Darso di pintu gerbang belakang rumah sakit.
***
Malamnya barulah Aku tahu apa yang terjadi di luar sana ketika Bapak membiarkanku ikut mendengarkan siaran radio Australia yang disetelnya bersama pak Darso.
Berita kota Semarang yang rusuh dan merembet ke kota sekitarnya membuat Aku sedikit mengerti kenapa banyak teman sekolah Cina-ku yang tak masuk hari itu.
"Semarang ada jam malam So," kata Bapak ke arah pak Darso di sela keseriusan mereka mendengarkan radio itu.
"Moga-moga Purwokerto aman pak," timpal pak Darso kemudian.
Walaupun Bapak berlangganan koran Sinar Harapan yang sering ikut kubaca sepulang sekolah, setiap malam pasti Bapak akan menyetel radio Australia untuk mendengarkan berita.
Dari situlah Aku mulai tahu cara yang paling cepat untuk mengetahui apa yang sedang terjadi di luar sana selain dari berita di koran dan tivi.
Tak heran pak guru Selo selalu memuji ketika Aku selalu dapat menjawab pertanyaan tentang nama-nama tokoh luar negeri yang ditanyakannya.
Dan sekarang Aku hanya heran kenapa orang Cina dibenci seperti berita yang kudengar.
"Apa yang salah dengan ci Lani, Eliza, Bogi, dan temanku lain yang Cina ....?"
Hati kecilku mulai berdebar kencang menanyakan nasib orang yang kukenal dan bermata sipit.
***
Aku sudah melupakan berita-berita yang kudengar dan kubaca di koran ketika sekolah sudah masuk seperti biasa.
Seperti keinginan pak Darso, Purwokerto tak ikut-ikutan rusuh.
Bertemu lagi dengan teman sekolah menghilangkan semua pertanyaan hatiku tentang nasib teman Cinaku, sampai kemudian Aku dan Erwin malah tak sengaja ikut-ikutan terseret kebencian orang-orang yang tak kumengerti apa penyebabnya.
Waktu itu, Aku baru saja menyapa Eliza, Bogi dan Arin di pinggir jalan depan sekolah. Mereka sedang menunggu dijemput saat segerombolan bocah mendatangi mereka di pintu gerbang sekolah yang sepi.
"Cina .... Cina ....!" Gerombolan bocah itu sengaja mendatangi tempat kami mengobrol.
Semula Aku bermaksud pergi main bersama Erwin setelah mengobrol seperlunya dengan Eliza, sampai kemudian teriakan ejekan tadi ke arah Eliza dan Bogi yang kudengar membuatku menahan langkahku.
Bogi menangis keras ketika sosok bocah laki-laki tinggi besar meludahi dan mengacak-acak rambutnya.
Hatiku bergemuruh hebat mengenali bocah yang masih berdiri di depan Bogi. Aku sangat yakin dialah yang sengaja membuat tangan Christ terjepit daun jendela saat Aku mengajaknya menumpang menonton tivi dulu.
Tak berpikir panjang Aku bermaksud menyeretnya menjauh dari Bogi.
"Kamu jahaaaat .... !"
Aku terkejut melihat Arin berteriak sengit mendahuluiku dan menerjang bocah tinggi besar itu, membuatnya terbanting keras ke tanah.
Tak mengira ada bocah perempuan yang berani melawan, bocah tinggi besar itu berusaha berdiri. Temannya yang lain berusaha menjambak rambut Arin.
"Bug.... bug !"
Entah bagaimana Erwin tahu-tahu sudah ada di antara kami dan memukul keras bocah yang berusaha menjambak rambut Arin.
Melihat Erwin berkelahi, Aku bergegas membantunya dengan menendang bocah tinggi besar itu. Tendanganku tepat mengenai kepalanya dan membuatnya terjengkang lagi.
Kali ini kekesalanku teringat ulahnya kepada Christ terlampiaskan. Lalu Aku memukulinya lagi untuk membalas ulahnya kepada Bogi.
"Setoooop .... !"
Dari jauh pak Becak yang biasa mengantar jemput Eliza berteriak keras membubarkan perkelahian kami.
Mendengar teriakan itu, perkelahian kamipun bubar. Aku dan Erwin membiarkan bocah tinggi besar itu terpincang-pincang lari dengan gerombolannya.
"Kalian gak apa-apa ?" tanya pak Becak setelah mendekati kami sambil berusaha mendiamkan Bogi yang masih menangis di dekat Eliza.
"Nggak pak," jawab Erwin sambil terengah-engah.
"Untung ada kalian." Suara jernih tanpa nada takut mengalihkan perhatianku dari Bogi dan Erwin.
"Ah .... Kamu tak seperti yang kukira, " gumamku dalam hati menyadari Arin-lah yang menegur Aku dan Erwin.
Jika tadi hatiku bergemuruh sebab kejengkelanku kepada bocah tinggi besar itu .... Kini hatiku bergemuruh hebat sebab mengagumi keberanian Arin yang sama sekali tak terpikirkan olehku.
Tak kupungkiri, setelah keributan itu, berdekatan dengan Arin dan Eliza sangat menyenangkan. Membuat Aku dan Erwin betah menemani mereka berlama-lama jika belum ada yang menjemput mereka sepulang sekolah.
Jika kata cantik itu boleh diucapkan saat itu .... Aku tak akan kalah dengan Erwin mengungkapkan kata itu ke arah Arin .... Ungkapan kekagumanku yang lebih kepada keberaniannya.
***