Special moment dalam hidup gue itu: Pertama, Bokap gue kembali. Kedua, bersyukur karena ada Langit yang suka sama gue. -Adista Felisia
Special moment dalam hidup gue yaitu, pertama bisa meyukai Adista dan kedua bersyukur Adista juga suka sama gue. Hehehe. -Langit Alaric
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon alviona27, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 28 - Kembalinya Evan
Langit tidak tahu siapa yang harus dia awasi, karena semua orang terdekatnya adalah orang yang dia sayang. Tapi setelah Langit pikir-pikir, hanya Adista yang pernah bertemu dengan Regan, sedangkan Lala dan yang lain tidak pernah bertemu dengan Regan.
Alhasil, Langit harus melindungi Adista. Hanya karena Regan, bukan karena Langit ingin Adista kembali. Meskipun dia mau seperti itu.
“Lang, uang kas,” kata Caca sambil menengadahkan tangannya meminta uang dari Langit. “Buruan, gue udah ditanyain. Lo mikir gak sih, dari awal masuk sampe sekarang lo belum bayar sama sekali.”
“Serius, Ca? Gue udah bayar,” jawab Langit. “Tahun lalu.”
Caca menatap jengah Langit, dia ingin segera berteriak memanggil Adista tapi tidak jadi saat Langit memegang tangan Caca sebentar.
“Gue bayar elah, turun derajat gue kalo Adis tahu,” ucap Langit smabil membuka dompetnya dan menyerahkan uang kepada Caca. “Gak usah nagih gue lagi, udah lunas tuh.”
“Lunas dari mana? Masih kurang nih, pokoknya mulai besok gue tagih lo terus, setiap hari, sampe lo lunas bayar uang kas.”
“Gitu amat sama gue, Ca.”
“Ya terserah gue lah,” ucap Caca dan berlalu pergi meninggalkan Langit.
Langit menatap Adista yang tengah membaca buku, dia masih memiliki satu janji kepada Evan dan sampai saat ini belum dia katakan kepada Adista. Langit menghembuskan napasnya, mengambil ponselnya, dan mengirim pesan kepada Adista.
Langit : Gue tunggu pulang sekolah di parkiran, ada yang mau gue omongin.
Adista melirik Langit saat pesan itu telah masuk ke ponselnya, Langit hanya mengamati Adista.
Adista: Tentang?
Langit : Bukan tentang kita, tentang lo.
Langit memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku celananya dan pergi keluar kelas malas untuk mengikuti kegiatan belajar hari ini.
“Kak Langit,” Langit menoleh dan menganggukkan kepalanya singkat. “Aku boleh duduk sini?” tanya Della, Langit
hanya mengangguk.
Langit hanya mengabaikan Della yang duduk di depannya, Langit tidak tahu apa yang akan dilakukan cewek yang ada di depannya karena dia hanya diam saja tidak mengucapkan apapun.
“Kak Langit apa kabar?” tanya Della, Langit mengangkat kepalanya menaikkan sebelah alisnya.
“Gue baik, kenapa?”
Della tersenyum dan menggeleng. “Cuman mau nanya aja, kalo gitu aku pergi Kak. Baik-baik sama Kak Adis.”
Della pergi membuat Langit bertambah bingung, entah kenapa semua orang selalu saja menyangkut-pautkan nama Adista disetiap omongan mereka.
Mungkin kamu rindu sama dia.
Langit mencibir dan menggelengkan kepalanya, dari mana suara itu berasal?
* * *
Adista tidak tahu apa maksud Langit tentang dia, Adista rasa dia tidak memiliki masalah apapun untuk dibicarakan.
Disinilah dia, menunggu Langit kembali entah darimana semenjak dia mengirimkan pesan kepada Adista, Langit pergi dari kelas.
Adista menatap Libert, rindu Libert tidak masalah, kan?
“Maaf gue lama,” ucap Langit membuat Adista mengalihkan pandangnnya. “Ngomongnya disini aja ya, gue mau pergi.”
Adista mendesah, Langit yang mengajaknya ngomong, bukan Adista.
“Iya.”
“Ini masalah bokap lo, gue gak tahu lo harus perduli atau enggak yang penting gue udah nyampein pesan Om Evan sama lo,” Adista hanya diam menatap Langit. “Bokap lo gak nikah lagi, keluarga yang lo lihat keluarga temennya. Lo pasti tahu bokap lo masuk rumah sakit dan sakit ginjal ....”
Langit menceritakan semuanya, sementara Adista mendengarkan. Evan masih mencintai Mamanya dan dirinya, Evan masih perduli padanya. Itu yang Adista ingin tangisi, Adista tidak tahu kenapa Evan sama sekali tidak menceritakannya kepada Anita dan Adista? Kenapa pria itu hanya memilih memendamnya sendiri?
“Gue udah selesai, sekarang urusan lo mau gimana sama bokap lo,” ucap Langit mengambil helm dan memakainya. “Gue pergi.”
Langit pergi meninggalkan Adista sendirian disana. Adista hanya menatap Langit yang sudah pergi, dia berjalan dengan lunglai, duduk di halte, menunggu angkot untuk datang menjemputnya.
“Adista ....”
Adista hanya tersenyum simpul saat melihat Elang duduk di sebelahnya. Sungguh melihat Elang bertambah membuatnya sakit hati.
“Kamu kenapa?” tanya Elang, Adista hanya tersenyum tipis dan menggeleng. “Kalo kamu butuh temen, kamu ada aku.”
“Terima kasih,” Adista menjawab tanpa menatap Elang. “Aku lagi banyak pikiran aja, tapi tenang aja. Kamu selalu jadi yang utama tempat aku cerita kalo aku ada masalah.”
Elang terkekeh, mengacak pelan rambut Adista. “Mau pulang sama aku?”
Adista menggeleng. “Enggak usah, aku pulang naik angkot. Sebentar lagi pasti datang.”
“Pulang sama aku aja, itung-itung terakhir kalinya aku ngeboncengin kamu.”
Adista diam, tapi seperkian detik kemudian dia mengangguk dan duduk di atas motor Elang dan memakai helm yang diberikan cowok itu.
Benar, terakhir kalinya.
* * *
“Thanks Lang, aku masuk duluan ya. Kamu hati-hati di jalan.”
Adista masuk ke dalam rumahnya, Adista sudah melihat mobil Evan. Berarti saat ini pria itu sedang berada di rumah, Adista sudah memantapkan hatinya untuk meminta maaf kepada Evan dan mengakui kesalahan dirinya.
“Anita, maafin aku. Aku seharusnya cerita sama kamu dan bukannya diam aja.”
Adista berhenti berjalan saat melihat Papanya memohon kepada Anita yang menangis. Adista juga melihat dua anak cowok dan wanita yang juga menangis duduk di sofa. Adista mendekat dan memanggil
Evan.
“Papa ...,” panggil Adista. Evan mendongak dan tersenyum tipis melihat Adista. “Papa.”
Adista berlari dari tempatnya berdiri dan langsung memeluk Evan, dia merindukan Evan, sangat. Evan hanya mengelus punggung Adista yang menangis saat memeluk Evan.
“Papa,” Adista memanggil masih di dalam pelukan Evan. “Maafin Adis.”
Evan menggeleng. “Papa yang harusnya minta maaf sama kamu dan Mama. Maafin Papa, Adis.”
“Adis udah dengar semuanya, dari Langit. Kenapa Papa gak cerita aja sama Adis dan Mama?” tanya Adista sambil melepaskan pelukannya. “Mungkin aja, Adis sama Mama bisa maklum dan menerima semuanya.”
“Iya Papa salah, seharusnya Papa cerita sama kalian dan mungkin kalau Papa cerita kejadiaannya gak akan kayak gini.”
Semuanya kembali, Papanya, Mamanya, keluarganya. Adista tersenyum lebar melihat kedua orang tuanya. Dan keluarga barunya, istri teman Evan dan dua anak cowok yang menjadi Adik Adista mulai sekarang.
“Saya kira Evan udah cerita sama Mbak Anita, saya gak tahu Mbak. Maafin saya,” ucap Liza merasa tidak enak.
Anita hanya tersenyum, dia sudah menerima Evan kembali meskipun dia tidak percaya dan juga merasa kenapa Evan tidak menceritakannya kepada Anita.
“Gak usah dipikirin lagi, sekarang semuanya udah baik,” ucap Anita sambil menggenggam tangan Liza.
“Varo, kamu gak mau nginap sini aja?” tanya Adista kepada Alvaro yang sudah berumur sembilan tahun.
“Ngapain Kak? Aku besok mau sekolah, sana suruh Dito aja.”
Adista kemudian menarik Dito dan menundukkannya di sebelah Adista. “Dito mau, kan? Temenin Kak Adis.”
Dito menggeleng. “Enggak mau. Kalo Bang Varo gak mau, Dito juga gak mau.”
Adista hanya terkekeh dan mencubit pelan pipi Dito membuat Dito berlari pergi dan tidak mau lagi berada di dekat Adista karena selalu mencubit pipi Dito.
“Pa,” Adista memanggil dan menyender di bahu Evan, Evan hanya tersenyum dan menepuk pelan kepala Adista. “Adis sayang Papa, dan Adis juga sayang Varo sama Dito.”
Evan tersenyum dan memanggil Alvaro dan Dito untuk mendekati Evan, Alvaro dan Dito menghampiri Evan.
“Malam minggu mau temenin Kak Adis, gak?” tanya Evan kepada Alvaro dan Dito. “Kasihan Kak Adis sendirian, dia sering nangis malam minggu.”
“Kenapa Pa?” tanya Dito penasaran.
Evan mengangkat bahunya dan terkekeh. “Tanyain aja sama Kak Adis.”
“Kenapa Kak?” tanya Dito kepada Adista, Adista menggaruk tengkuknya dan berbisik kepada Dito.
“Cuman anak SMA aja yang tahu,” bisik Adista, Dito cemberut dan pergi meninggalkan Adista.
Adista hanya terkekeh, dia kembali melihat sekelilingnya. Keluarganya bertambah dan keluarganya menjadi lebih lengkap dibanding yang dulu. Adista suka keluarganya yang sekarang, ada Evan, Alvaro, dan Dito.
TBC
kalau sempat mampir baliklah ke karyaku "love miracle" dan "berani baca" tinggalkan like dan komen ya makasih
Hai kak, numpang promote nggeh 😅
Yuk mampir dikarya saya "Ainun" dan "Because of you". Update setiap hari kok 😁 like+vote+comment juga boleh kok 😂
Tankeyu 💞