Mutia, Gadis Manis itu merasa Tuhan begitu menyayanginya, selain sang mama, kini ia juga di hadapkan dengan seorang Om-om mesum yang tidak lain adalah bosnya sendiri. Kedua orang tersebut bagaikan bayangan diri sendirinya, apapun yang ia lakukan pasti tidak pernah terlepaa dari pantauan mereka.
Namun semua berubah saat ia bertemu dengan Raga, pegawai baru yang tidak diragukan lagi ketampanannya.
Lantas bagaimana kisah Mutia selanjutnya? Akankah si Bos membiarkan ia dekat dengan lelaki lain?
Akan ada banyak kejahilan serta kisah seru lainnya, jangan ketinggalan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Erin FY, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bimbang
Mutia akhirnya bisa bernapas lega saat berhasil keluar dari ruangan Denis. Bosnya itu mendadak mendapat telepon dari seorang supliyer, membuatnya harus sangat terpaksa keluar dari toko.
"Dapat hukuman apa tadi Mutia?" tanya Bagas saat Mutia baru saja bergabung dengan mereka.
"Di suruh bersih-bersih, sial emang itu si bos," ucap Mutia berbohong. Padahal hampir sejam di sana tadi, lelaki itu justru memanjakannya dengan banyak sekali makanan. Sudah seperti tong pembuangan saja dia.
"Aku masih penasaran, perasaan tadi dia panggil kamu sayang, deh, kenapa bisa jadi kuyang?" tanya Rani dengan alis sedikit terangkat.
Mutia sedikit terkejut mendengar pertanyaan Rani. Dia tak menyangka bahwa Rani dan Bagas masih mengingat hal tadi.
"Ah, kamu salah denger, Mbak. Tadi dia manggil aku kuyang, kan dia emang resek begitu." Lagi-lagi, Mutia berbohong.
"Entahlah. tapi kamu beneran gak ada hubungan dengan dia?" todong Rani langsung.
"Eh, enggak-enggak. Mana mau dia sama bocah ingusan kayak aku," jawab Mutia sedikit terbata.
"Jadi, kalau misal dia mau, kamu mau dong?" Bagas membalikkan situasi, membuat Mutia lagi-lagi gelapan.
"Ish, sudah jangan bahas dia. Kerjaan sedang banyak."
Rani, Bagas dan Mutia akhirnya larut dalam pekerjaan masing-masing. Hingga jam makan siang pertama telah tiba.
"Ran, Mut, Aku lapar, aku istirahat jam pertama, ya?" ucap Bagas memecah keheningan.
"Lah, padahal aku juga laper banget, Gas. kamu ngalah deh," rajuk Rani.
"Aku juga laper, Ran."
"Sudah-sudah, Mbak Rani sama Bagas istirahat saja lebih dulu. Aku nanti saja jam kedua," ucap Mutia menengahi.
"Beneran gak papa, Mut?" tanya Rani memastikan.
"Beneran, tadi aku udah sarapan banyak." Kali ini, Mutia tak berbohong. Perutnya memang masih sangat kenyang dengan sarapan yang diberikan Denis tadi.
Rani dan Bagas beranjak, mereka keluar dari gudang meninggalkan Mutia seorang diri.
"Mutia, gak istirahat?" tanya seseorang di depan pintu gudang.
Mutia mengangkat kepala, melihat siapa ke arah si empunya suara.
"Eh, Arga. Nanti istirahat kedua. gantian sama yang lain," jawab Mutia kepada pegawai baru itu.
"Sama dong. Nanti bareng, mau? aku belum hafal banget makanan enak di sini."
"Boleh. Nanti, ya?" Arga mengangguk, kemudian berlalu dari sana.
Tanpa terasa jam istirahat Rani dan Bagas berakhir. Mereka pun sudah kembali ke gudang, kini gantian Mutia yang beranjak.
Mutia masuk ke ruang karyawan, mengambil ponselnya di loker karyawan terlebih dahulu.
"Mutia, mau makan dimana?" tanya Arga yang entah kapan sudah berdiri di sampingnya.
"Kita lihat di luar dulu, biasanya kalau lihat warungnya mendadak langsung pingin," jawab Mutia seraya mengunci kembali lokernya.
"Oh, ya? sama dong kayak aku, kalau sekali lihat sudah suka, pasti langsung nyaman kalau dekat-dekat dia," ujar Arga dengan senyum mengembang.
"Player?"
"No! hanya memastikan kalau benar-benar nyaman saja."
"Kalau tidak? ditinggalkan?"
"Buat apa mempertahankan sesuatu yang memaksa? bukankah jujur dari awal lebih baik daripada menyesal di kemudian hari?"
Sembari berjalan keluar, Mutia mencoba memahami ucapan Arga. Tak ada yang salah, bukankah menjalin hubungan lebih baik serius dari awal, kalau ternyata memang tak nyaman? pergi sepertinya menjadi jawaban terbaik.
Dan, Denis ...? Ah, entahlah, Mutia bahkan tak terlalu memahami rasanya.
Dering ponsel Mutia membuat Arga dan Mutia berhenti.
Om Mesum
calling ....
Arga mengeryit sejenak, merasa aneh dengan nama yang Mutia berikan kepada si penelepon. Sedangkan Mutia berdecak sebal, kenapa dia selalu saja mengganggu di saat yang tepat.
"Apa?" ucap Mutia saat pertama kali menerima panggilan.
"Mau kemana?"
"Makan"
"Sama Arga?" Mutia mengeryit, sesaat kemudian dia clingukan mencari seseorang.
"Segitu rindunya hingga mencariku seperti itu? aku ada di mobil kalau kamu mau menyusul." lanjut Denis lagi.
"Nggak! aku makan!"
"Gak boleh! apalagi sama Arga. Cepat kemari dan kita makan siang bareng."
"Gak mau!"
"Tidak ada bantahan, Mbak Mut!"
"Pemaksa!"
"Terserah! atau kamu lebih memilih untuk kesana dan menciummu di depan Arga." Mutia mencabik, selalu saja Denis mengancamnya seperti itu.
"Jangan terus-terusan memaksa!"
"Kamu yang membuatku seperti ini, Mbak Mut. Dan nanti, keadaan juga yang akan memaksamu menerima cintaku. cepat kesini sebelum aku benar-benar ke sana."
Mutia mematikan panggilan dengan kesal.
"Arga, Maaf. Aku tidak bisa makan siang denganmu kali ini, mungkin lain kali," ucap Mutia penuh dengan rasa bersalah.
"Tak masalah, ada janji?" Meskipun terlihat kecewa, tapi Arga berusaha kembali menetralkan wajahnya.
"Iya, aku duluan, ya?" pamit Mutia seraya berjalan menjauh.
"Jangan memaksakan diri kalau akhirnya tidak membuatmu nyaman, Mutia." ucapan Arga menghentikan langkah Mutia.
Gadis itu menoleh sejenak, memberikan senyum yang dibalas oleh Arga, hingga kemudian kembali berbalik dan berlalu dari sana.
Mutia melangkah dengan pikiran tak tentu. Ucapan Arga kembali terngiang, benarkah Denis membuatnya tak nyaman?
"Ngobrolin apa?" tanya Denis saat Mutia sudah duduk di sampingnya.
"Apa harus kamu tahu semua tentang apa yang kubicarakan?"
"Harus! jika itu akhirnya merubah perasaanmu," ucap Denis sembari menatap Mutia lekat.
"Perasaan apa? memangnya kamu tahu perasaanku?"
"Setidaknya aku tahu ada secuil namaku yang sudah mulai tersimpan di sudut hatimu."
"Sok tahu!"
"Bisa kubuktikan."
"Dengan apa?"
"Menikalah denganku." Kali ini, Denis menatap kedalam mata Mutia, menghunus pandangannya hingga tertembus ke hati.
tolong sambung... best nie..tak sabar nak baca...
Sekalian rekomen buat yang kesusahan nyari novel yang seru dan bagus, mending coba baca yang judulnya (Siapa) Aku Tanpamu, searchnya pakek tanda kurung biar gak melenceng yaa