Kehidupan remaja yang penuh warna nyatanya tak selamanya selalu indah. Kadang ada masa bertemu dengan masalah yang pelik yang justeru datang dari lingkungan keluarga dan teman.
Sama sebagaimana yang dialami Cita, menjadi remaja justeru membuatnya hampir frustasi.
Untunglah ia memiliki Damar dan Adi dalam hidupnya. Meskipun pada akhirnya Cita harus kehilangan salah satu di antara keduanya.
So' seperti apa kisah yang real kehidupan remaja pada umumnya? Yuk ndongeng bersama Cilamici 😊
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon cilamici, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
28. Topeng
Emi membanting tubuhnya di sofa apartemennya. Wajahnya tampak begitu kesal. Lelah rasanya berpura-pura manis di depan anak bandel itu.
Cita...
Anak itu keras kepala luar biasa. Menyebalkan! Batin Emi.
Emi melempar tasnya ke sisi kanannya, sepatunya dibuka tanpa menggunakan tangan, lalu menendangnya terpental tanpa arah.
Emi baru menghela nafas, ketika ia mendengar hp nya di dalam tas bergetar.
Sudah jelas siapa yang menghubunginya.
Malas Emi meraih tas nya, mengambil hp miliknya dari dalam tas.
Sayang. Begitu tulisannya pada layar.
Emi mengangkatnya, berusaha bermanis-manis lagi.
"Ya Mas."
Suara Emi dibuat sehalus mungkin.
"Kau sudah sampai apartemen?"
Tanya Ayah Cita yang sepertinya menghawatirkan Emi karena pulang tanpa ia antar dan hanya memakai taksi.
"Baru saja Mas."
Jawab Emi.
"Ah syukurlah, rehatlah, kau pasti lelah, besok berangkat siang tidak apa-apa, aku akan menemui Tuan Ardi Subrata di kediaman beliau di Kemang, nanti pulangnya aku jemput."
"Oh ke rumah Tuan Ardi Subrata? Apa aku boleh ikut Mas? Aku sungguh mengagumi pengusaha itu. Aku punya beberapa teman yang sempat menjadi bagian dari yayasan beliau."
Kata Emi.
"Hmm... kebetulan sekali."
Sahut Ayah Cita.
"Ya, aku mengagumi beliau sebagai pengusaha besar yang begitu peduli dengan sesama, dan sangat peduli juga dengan pendidikan anak-anak asuh di bawah yayasannya."
Kata Emi.
"Ya benar, memang beliau sangat dermawan. Baiklah jika memang ingin ikut, besok pagi sebelum ke Kemang aku akan mampir ke apartemen."
Ujar Ayah Cita.
"Sarapan saja sekalian di sini, nanti Emi masak."
Kata Emi.
"Ah kau memang calon isteri idaman Emi, terimakasih sayang."
Ayah Cita begitu bahagia.
"Baiklah, aku akan mandi, Mas istirahatlah."
Kata Emi yang sebetulnya ingin segera menyudahi pembicaraannya dengan Ayah Cita.
"Emi..."
Panggil Ayah Cita.
"Ya Mas."
"Maafkan sikap Cita saat makan malam tadi, dia memang sulit diatur, sejak Ibunya meninggal dia memang begitu."
Kata Ayah Cita.
"Ya, aku ngga apa-apa kok, aku bisa mengerti anak remaja seusia Cita kan memang sedang labil, ngga masalah Mas."
Emi berusaha terlihat sangat pengertian.
"Sungguh kamu tidak masalah dengan Cita?"
Tanya Ayah Cita seolah memastikan lagi.
"Iya Mas, kan Emi juga pernah seusia Cita, dulu saat Ibu Emi akan menikah lagi juga Emi sempat bertengkar dengan Ibu."
Tutur Emi.
"Ah begitu ya?"
Ayah Cita sejenak seperti jadi teringat sesuatu.
"Kenapa kamu bertengkar dengan Ibu hanya karena Ibu akan menikah lagi?"
Tanya Ayah Cita.
"Ya karena calon suami baru Ibu pengangguran."
Kata Emi.
Ayah Cita terdiam.
"Ibu saja harus membiayai tiga anak yang masih sekolah, kakak Emi, Emi dan adik Emi, malah Ibu menikah lagi dengan pengangguran."
Ayah Cita menghela nafas.
"Ya sudah, Emi mandi dulu Mas, nanti gampang diteruskan lagi."
Kata Emi.
"Ah ya Em, terimakasih sudah mengerti kondisi Cita."
Ujar Ayah Cita yang seolah langsung lega.
"Ya Mas, tenanglah, aku akan jadi Ibu yang baik. Anak-anak Mas Yandik adalah anakku juga."
Mendengar Emi mengatakannya langsung tenang dan sejuklah hati Ayah Cita.
Apa yang lebih diharapkan seorang Duda ataupun janda yang ingin menikah lagi selain calon pasangannya juga bisa menerima anak mereka?
Tentu saja ini sebuah berkah. Mendapat calon pasangan yang bukan hanya bisa menerima dirinya, namun juga satu paket dengan anak-anaknya pula.
Dan setelah telfon dimatikan, Emi meletakan hp nya di atas sofa dengan kasar.
"Anak sialan."
Kesal Emi.
**---------**
Ayah Cita meletakan hp nya di atas meja belajar Cita.
Cita menghela nafas.
Ternyata Ayah Cita sengaja menelfon Emi sengaja mengeraskan volume panggilannya agar Cita mendengar sendiri betapa Emi sangat mengerti akan dirinya.
"Sekarang kamu sudah dengar sendiri Cita, calon Ibumu kali ini benar-benar baik dan peduli padamu."
Kata Ayah Cita.
Cita diam saja.
Bagaimana lagi, memang perempuan itu terdengar sangat baik dan perhatian, bahkan juga seolah sangat mengerti posisi Cita.
Ah ya, setidaknya ini tidak seburuk Bibi-bibinya, neneknya, dan apalagi perempuan yang dijodohkan oleh nenek dengan Ayah saat Ibu Cita baru saja meninggal belum genap setengah tahun.
Ya, Cita ingat hubungannya dengan Ayah memburuk sejak itu, begitu juga dengan nenek dan akhirnya adik-adik Ayah Cita juga ikut-ikutan.
Cita masih ingat mendorong perempuan yang dijodohkan dengan Ayahnya karena berani mengatai Ibu saat melihat foto Ibu Cita yang masih di gantung di ruangan utama rumah.
Berani-beraninya dia bilang tidak pantas orang sudah meninggal fotonya masih dipajang.
Cita kesal bukan main saat itu, begitu juga Cita membenci Neneknya sejak hari itu karena Nenek malah terkekeh mendengar ejekan si perempuan bermake-up tebal itu.
"Ayah bisa menerima sikapmu dulu pada Sandra, tapi Ayah harap jangan ulangi lagi pada Emi."
Kata Ayah.
Cita menatap Ayahnya.
"Apa jaminannya kalau Ayah menikah lagi?"
Tanya Cita.
Ayah mengerutkan kening.
"Jaminan apa maksudmu?"
Tanya Ayah Cita kemudian, wajahnya sedikit memerah karena merasa Cita sedikit kurangajar.
Cita yang sejatinya meniru sifat keras Ayahnya itu turun dari tempat tidur lalu berdiri menghadap Ayah.
"Jika ternyata dia jahat pada Cita dan Manda, ceraikan dia Yah."
Kata Cita tanpa basa basi.
Ayah Cita sejenak terdiam.
Cukup kaget dia mendapati anaknya yang baru masuk tujuh belas tahun ini mampu berkata setegas itu.
"Ayah bisa janji itu pada Cita? Bisa kah?"
Tanya Cita seperti mencecar.
"Terutama pada Manda yang masih kecil, kalau sekali saja Manda sampai menangis karena isteri Ayah memarahinya, Cita akan tagih janji Ayah."
Kata Cita lagi.
Ayah Cita menatap anaknya.
Tubuhnya bergetar menahan marah karena Cita bisa sampai berani berkata begitu padanya.
Bagaimanapun Cita adalah anak.
Anak itu harus menghormati orangtua. Harus berkata baik pada orangtua. Harus sopan pada orangtua.
Tapi...
Cita menghela nafas.
"Cita ngga akan menghalangi Ayah menikah lagi, ngga akan seperti dulu saat Ayah akan menerima perjodohan dengan saudara jauh Nenek."
Kata Cita lagi.
"Cita tak akan egois, tapi Ayah juga harus jangan egois, karena Cita dan Manda sekarang hanya punya Ayah saja. Ibu sudah meninggal, kalau Ayah lebih memilih orang lain, itu artinya Cita dan Manda sama saja tak punya orangtua lagi."
Lanjut Cita.
Mendengar kata-kata Cita, sang Ayah menelan ludahnya yang tiba-tiba terasa pahit.
"Berjanjilah Ayah."
Pinta Cita dengan nada suara lebih rendah.
Ayah Cita akhirnya mengangguk pelan.
"Ya baiklah, Ayah janji, jika kelak Emi sekali saja melakukan kesalahan pada anak-anak Ayah, maka Ayah akan menceraikannya."
Kata Ayah akhirnya.
**-----------**