menceritakan tentang perjodohan seorang ceo dingin dengan gadis cantik anak tunggal di keluarga kaya raya, yaitu sahabat papanya sendiri. mampukah mereka menyatuhkan cinta mereka meskipun memiliki sifat yang sangat berbeda dari keduanya??
ini karya pertama ku,, 😊😊
maaf typo bertebaran guys
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fajra Ichi Ocha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 28
Rasa haus tengah di rasakan oleh Mahendra di tengah lelapnya, Mahendra yang terbangun tengah malam dan mendapati Rya yang tengah tertidur di sampingnya sambil memeluk tubuh Mahendra bagaikan guling.
Senyum terukir di wajah Mahendra kala mendapati situasi di mana wanita yang selalu jual mahal kepadanya kini dengan suka rela memeluk tubuh Mahendra meskipun dengan keadaan tertidur.
Mahendra lalu memindahkan tangan Rya dengan hati-hati dan juga beranjanjk dari ranjang dengan sangat hati-hati karena tidak ingin membuat Rya terbangun dari tidurnya.
Mahendra lalu berjalan ke arah dapur masih dengan senyum yang terukir di wajahnya kala mengingat Rya, Mahendra mengambil air lalu meneguknya dan kembali segera ke kamarnya.
Mahendra lalu membaringkan tubuhnya kembali di samping Rya dan meletakan kepala istrinya itu di lengannya lalu memeluk tubuh Rya dengan sayang, tak lupa pula Mahendra mencium kening wanitanya itu.
"Aku akan mengucapkan kata cinta saat aku yakin ini adalah cinta." batin Mahendra memeluk Rya
Mahendra belum yakin dengan perasaannya pada Rya, walaupun rasa nyaman yang ia rasakan bersama wanita yang menyandang status istrinya itu terus membayangi diri Mahendra.
Mahendra juga tak ingin cepat menyimpulkan perasaannya, entah karena cinta atau hanya sekedar penasaran dengan wanita yang terus mengajaknya berdebat itu, pikir Mahendra saat ini.
Mahendra terus menatap wajah Rya sambil tersenyum sampai kantuk kembali datang padanya dan membuat ia tertidur sambil mendekap tubuh istri kecilnya.
di mimpinya Rya seperti sedang memegang seekor kuda putih dan meraba halus pada tubuh kuda tersebut.
"wah halus sekal." ucap Rya masih terus meraba tubuh kuda sampai pada saat ia memegang ekor sang kuda
"Hey kenapa kau memegang bagian itu?" suara bariton pria yang sangat ia kenali dan sangat Rya benci tengah menegur dirinya.
"Hey wanita mesum, lepaskan tangan mu." ucap pria itu lebih keras dan kini membuat Rya terbangun dari mimpinya.
Rya langsung tersadar dan mendapati wajah Mahendra yang kini menatapnya dengan pandangan lain seperti menahan sesuatu.
Melihat wajah Mahendra di depan matanya dan sangat dekat dengannya Rya juga merasakan tangannya kini memegang sesuatu lalu Rya melihat ke arah tangannya yang kini tengah berada di milik Mahendra yang masih terbungkus oleh boxer yang di gunakan Mahendra.
"Cepat lepaskan, sebelum aku..."
belum sempat Mahendra menyelesaikan perkataannya Rya langsung terburu-buru beranjak dari ranjang mahendra dan langsung mengambil jurus seribu langkah untuk keluar dari kamar Mahendra itu.
"Sial!" ucap Mahendra yang langsung beranjak dari ranjangnya den segera ke kamar mandi untuk menuntaskan sesuatu yang akan membuatnya berlama-lama di sana.
Sementara Rya kini telah berada di kamarnya dan merutuki kebodohan yang telah ia lakukan.
"kenapa juga aku harus tidur di kamar itu, dan kenapa aku harus memegang.... ah sudahlah." ucap Rya yang membayangkan apa yang telah tangan sucinya sentuh tadi.
"Aku harus segera mandi dan segera meninggalkan apartemen, aku sangat merasa malu jika harus bertemu dengan pria itu sekarang" ucap Rya lalu bergegas untuk mandi dan mempersiapkan diri ke kampus tempatnya menimbah ilmu karena tidak ingin menemui Mahendra sebeb rasa malu yang tengah di rasakan oleh Rya.
Setelah selesai dengan ritual mandinya Rya langsung saja berganti pakaian dan memakai riasan tipis pada wajahnya.
"sempurna." ucap Rya lalu keluar dari kamarnya.
Rya sama sekali tak melihat keberadaan Mahendra dan itu membuat Rya sangat senang karena tidak ingin bertemu dengan Mahendra dalam keadaannya yang sedikit canggung karena kejadian tadi
sementara Mahendra sebenarnya memang sengaja berdiam diri di kamar menunggu Rya pergi dari apartemen karena Mahendra yakin bahwa Rya pasti akan merasa canggung saat bertemu dengannya dalam keadaan seperti ini.
Mahendra sangat tau Rya yang masih polos akan menghindarinya jika terjadi hal yang seperti tadi apa lagi jika Rya sendiri yang melakukannya walaupun Rya tak sengaja.
Mahendra hanya tersenyum mengingat keluguan istri kecilnya itu dan ekspresi wajah Rya saat ia memerintah Rya dengan sesuka hatinya.
***
Rya pun berlalu ke kampus dengan tenang karena tidak bertemu dengan Mahendra selepas insiden yang memalukan pagi tadi.
sesampainya Rya di parkiran kampus Rya sudah di sambut oleh sahabat tercintanya Risa yang memang sengaja menunggu Rya.
"Hey kau kenapa lama sekali, sudah lama aku menunggu mu di sini?" ucap Risa dengan memasang wajah cemberut.
"memangnya ada apa lagi? apa kau sudah jadi pacar kak alex? dan jangan memasang wajah seperti itu, kau terlihat seperti induk bebek yang kehilangan anaknya." ejek Rya pada ekspresi wajah Risa.
"ini adalah pose yang imut, kenapa kau malah mengatakan aku seperti induk Bebek" ucap Risa tak terima
"Lalu ada apa hmmm?" tanya Rya lagi
"sebenranya kemarin aku telah mengirim pesan pada kak Alex agar dia mau mengajari ku materinya kemarin yang belum ku pahami." jawab Risa dengan tersenyum malu-malu.
"ohh itu, jadi benarkan tebakan ku kalau ini tentang Alex." ucap Rya sambil sedikit tertawa
"kapan kau akan bertemu dengannya?" tanya Rya lagi.
"Sore ini!" jawab singkat Risa
"ohh begitu." ucap Rya sambil mengangguk
"masalahnya kak Alex juga ingin kau datang bersama ku." ucap Risa lagi
"hah, kenapa harus aku juga? yang tidak paham dan meminta bertemu kan kamu bukan aku." Rya yang kini bingung.
"temani aku ya, pliss mau yah, biar aku tidak merasa canggung saat bertemu nanti, kamu kan tau aku sangat gugup jika hanya berdua dengan orang yang aku suka, jadi temanilah sahabat mu ini." mohon Risa
"memangnya kamu janjiannya jam berapa?" tanya Rya
"Jam 4 sore, mau yahh!" Risa masih berusaha membujuk Rya
"Bagaimana ini, aku kan ada kelas memasak." batin Risa
"Tapi aku tidak bisa, aku ada urusan sore nanti." tolak Rya
"ayolah Rya, mau yah temani aku." ucap Risa sambil memperlihatkan wajah imutnya.
Rya masih terus berfikir.
"jika aku hanya meninggalkan sekali saja kelas mamasak, Mahendra pasti tidak akan tau." batin Rya
"Baiklah aku akan ikut dengan mu." Rya setuju untuk mengantar Risa nanti.
"terima kasih teman ku, kau memang adalah yang terbaik." ucap Risa sambil tersenyum senang dan melompat-lompat kegirangan
lalu Risa dan Rya bergegas untuk masuk ke kelas mereka.
sementara di tempat kerjanya Mahendra terus tersenyum kala mengingat Rya dan tingkah lakunya, entah sudah berapa lama ia hanya melihat saja berkas di mejanya, berkas yang harus ia tanda tangani dan hanya menghayalkan wajah Rya. Mahendra benar-benar seperti seseorang yang kasmaran, namun Mahendra belum sadar akan hal itu dan belum bisa menyimpulkannya.
"Aku akan menjemputnya lagi sore nanti." monolog Mahendra sambil membayangkan kebersamaannya dan Rya dan terus tersenyum
****
sekian untuk bab ini...
jangan lupa likenya yahh.. 😊😊😊