NovelToon NovelToon
PERNIKAHAN 2 RAHASIA : Antara Ceo Dan Bos Mafia

PERNIKAHAN 2 RAHASIA : Antara Ceo Dan Bos Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Mafia / Identitas Tersembunyi
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: indah yuni rahayu

Kinan dan Darwin bertemu pada malam hujan yang penuh bahaya. Untuk menghilang dari masa lalu mereka, keduanya pindah ke sebuah desa dan berpura-pura menjadi suami istri.

Di balik kehidupan sederhana sebagai guru TK dan petugas kebersihan puskesmas, mereka menemukan berbagai kejanggalan yang merugikan warga. Saat berusaha mengungkap kebenaran, perasaan yang awalnya hanya sandiwara mulai berubah menjadi nyata.

Namun tidak ada yang tahu bahwa Kinan adalah bos mafia yang ditakuti, dan Darwin adalah CEO yang sengaja menghilang dari dunia bisnis.

Ketika rahasia mereka terbongkar, mana yang lebih sulit dipertahankan: penyamaran, atau perasaan yang terlanjur tumbuh?

Pernikahan 2 Rahasia: Antara CEO dan Bos Mafia

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon indah yuni rahayu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Darwin Dalam Masalah

Sore itu, rumah kontrakan mereka terasa tenang.

Darwin duduk di ruang tamu sambil menikmati teh hangat. Kinan baru saja menyelesaikan lembar evaluasi perkembangan anak didiknya.

Jemarinya berhenti di atas kolom "Catatan Guru".

Sudut bibirnya terangkat tipis.

Dulu, yang ia nilai adalah laporan penyelundupan, jalur distribusi senjata, dan kesetiaan anak buah. Satu kesalahan kecil bisa berakhir dengan pengkhianatan... bahkan kematian.

Sekarang, yang ia tulis justru kalimat sederhana.

"Alya sudah berani berbagi mainan dengan teman."

"Rafa mulai percaya diri saat bercerita di depan kelas."

Rasanya aneh. Tak pernah terlintas dalam hidupnya bahwa suatu hari ia akan menghabiskan sore dengan menilai hasil mewarnai, menggunting, dan menghafal doa harian.

Namun anehnya, pekerjaan itu membuat dadanya jauh lebih tenang daripada saat memimpin ratusan anggota Black Viper.

"Capek?" tanya Darwin.

Kinan menggeleng pelan.

"Hari ini bagaimana di kelas ?" tanya Darwin.

Kinan menatapnya. "Lumayan. Tadi ada tamu."

"Tamu?"

"Kepala desa datang. Sama seorang pengusaha, namanya Tuan Sanjaya."

Darwin menghentikan gerakan tangannya. Tidak asing dengan nama itu. "Sanjaya?"

"Iya."

"Kamu sempat bicara dengannya?"

"Sedikit. Dia menyerahkan bantuan untuk anak-anak. Setelah itu langsung pulang."

Darwin terdiam beberapa saat.

"Ada yang aneh?" tanya Kinan.

Darwin menggeleng pelan. "Nggak tahu. Mungkin cuma perasaanku."

"Perasaan apa?"

"Pria seperti itu biasanya nggak datang ke desa cuma buat bagi-bagi bantuan."

Kinan tersenyum kecil. "Kamu terlalu curiga sama orang."

"Bisa jadi." Darwin ikut tersenyum, tetapi pikirannya belum lepas dari nama yang baru saja disebut Kinan. Ia lalu mengganti pembicaraan. "Di puskesmas juga ada yang aneh."

Kinan menoleh.

"Sejak pagi beberapa mobil keluar masuk. Mereka menurunkan banyak kardus ke gudang."

"Obat-obatan?"

"Itu yang bikin aku heran."

"Kenapa?"

"Kalau memang obat, biasanya langsung dicek petugas. Yang ini malah buru-buru disimpan. Nggak ada yang boleh mendekat."

Kinan memandang Darwin beberapa saat. "Kamu jangan macam-macam."

Darwin tertawa pelan. "Aku cuma petugas kebersihan. Mau macam-macam apa?"

Petugas. Darwin mengulang kata itu dalam hati sambil tersenyum tipis. Kalau orang-orang di kota mendengar ada yang memanggilnya petugas kebersihan, mungkin mereka akan mengira itu lelucon.

Dulu, setiap pagi ia disambut deretan direksi yang menunggu keputusan darinya. Jadwal rapatnya padat, telepon genggamnya nyaris tak pernah berhenti berdering, dan satu tanda tangannya bisa menentukan nasib sebuah perusahaan.

Sekarang, ia justru lebih akrab dengan sapu, pel, dan gerobak peralatan kebersihan. Namun hidup sederhana seperti ini memberinya sesuatu yang dulu tak pernah ia miliki, yakni ketenangan.

"Justru itu."

Darwin tidak menjawab. Ia menyeruput teh yang mulai dingin. Entah kenapa, sejak melihat kardus-kardus itu pagi tadi, perasaannya tidak pernah benar-benar tenang.

Darwin kembali menuangkan teh ke cangkir Kinan. "Masih panas, " Kinan mengangguk pelan.

Setelah beberapa saat, Darwin mengeluarkan beberapa lembar uang dari sakunya lalu meletakkannya di atas meja. "Ini buat kamu."

Kinan menggeleng. "Aku masih punya." Rasanya enggan untuk menerima.

"Pegang saja."

"Kamu lebih butuh."

Darwin tersenyum kecil. "Aku masih bisa cari."

Kinan akhirnya mengambil uang itu. "Baik. Aku akan simpan uang ini. Terima kasih."

Darwin mengangguk pelan. Suasana kembali hening. Entah kenapa, Darwin tiba-tiba berkata,

"Kin..."

"Hm?"

"Kalau nanti keadaanmu sudah aman..." Kinan menatapnya. "...apa yang akan kamu lakukan?"

Kinan berpikir sebentar. "Mungkin pergi."

"Ke mana?"

"Belum tahu."

Darwin mengangguk pelan. "Terus... kita?"

Kinan tersenyum tipis. "Kita memang dari awal cuma saling membantu, kan?"

Kalimat itu membuat Darwin terdiam. Ia menunduk, memainkan cangkir di tangannya. "Iya..."

Beberapa detik berlalu. "Lalu kamu?" Kali ini giliran Kinan yang bertanya.

Darwin mengangkat wajahnya. "Aku?"

"Iya."

"Kalau boleh memilih..." Ia tersenyum kecil. "...aku ingin semuanya tetap begini."

Kinan tidak menjawab. Ia mengira Darwin hanya ingin kehidupan mereka tetap tenang, tanpa masalah. Padahal yang dimaksud Darwin... Bukan desa ini. Melainkan tetap hidup bersama perempuan yang kini duduk di hadapannya.

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

Kinan baru saja merapikan selimut ketika melihat Darwin mengenakan jaketnya. "Kamu mau ke mana?"

Darwin berhenti sebentar. "Ke puskesmas."

Kinan menoleh ke arah jam dinding. "Jam segini?"

"Iya."

"Ada apa?"

"Pak Darto ngajak pasang lampu di gudang. Katanya dari kemarin mati, siang nggak sempat dibenerin."

Kinan mengernyit. "Besok pagi aja nggak bisa?"

Darwin menggeleng. "Besok gudangnya dipakai lagi. Sekalian malam ini."

Kinan menghela napas pelan. "Ya sudah."

Darwin mengambil senter yang tergantung di dekat pintu. "Kamu tidur dulu. Nggak usah nunggu."

"Jangan pulang terlalu malam."

"Iya." Darwin mulai membuka pintu.

"Darwin." suara Kinan memanggil. Pria itu menoleh. "Hati-hati."

Sudut bibir Darwin terangkat membentuk senyum tipis. "Tenang saja."

Pintu kembali tertutup. Kinan menggeser gorden, memastikan Darwin benar-benar sudah berjalan menjauh dari rumah. Setelah bayangannya hilang di tikungan, barulah ia mematikan lampu dan masuk ke kamar.

.

Darwin masuk lewat pintu belakang. Ia sengaja kembali malam itu dan berbohong pada Kinan karena sejak pagi ada sesuatu yang mengganjal pikirannya.

Gudang.

Saat kardus-kardus baru diturunkan, salah satunya sempat robek. Dari celah kecil itu, Darwin melihat tumpukan map, bukan obat-obatan.

Darwin mengarahkan senter nya. Ia menghampiri kardus yang tadi pagi sempat dilihatnya.

Pisau lipat kecil keluar dari saku celananya. Lakban cokelat dipotong pelan. Isinya benar.

Map-map berwarna cokelat tersusun rapi.

Darwin membuka salah satunya. Fotokopi sertifikat tanah.

Nama di halaman pertama membuat dahinya berkerut. Pak Sukri. Map berikutnya. Bu Linda.

Lalu satu lagi. Semuanya milik warga yang sedang menolak menjual tanah mereka.

Darwin mengeluarkan ponsel. Beberapa lembar ia foto satu per satu. Setelah itu ia membuka sebuah aplikasi yang tampilannya hanya berupa kolom percakapan kosong.

Dokumen. Prioritas. Ia menekan tombol kirim.

Layar memperlihatkan tulisan terkirim.

Baru saja ponsel itu masuk ke saku, terdengar suara dari kejauhan.

Suara mesin mobil berhenti tepat di depan gudang.

Darwin sontak menoleh.

Sial...

Tanpa pikir panjang, ia menyelinap ke balik rak besi paling ujung.

Pintu gudang terbuka. Dua orang masuk. Seorang petugas administrasi berjalan lebih dulu, disusul Roni yang membawa senter. "Cepat cari. Besok berkas ini dipakai audit."

Cahaya senter bergerak menyapu ruangan. Darwin menahan napas.

Tep.

Sepatunya tanpa sengaja menyenggol potongan kayu. Suara kecil itu membuat Roni langsung mengarahkan senter ke belakang rak. "Siapa di sana?"

Darwin tidak bergerak.

1
Zed Analytical Number Nine
ngeri kalo ada yang tiba-tiba ada yang mencurigai
Kayla Rane
suka sama aksi kinan
Kayla Rane
lanjut thor penasarrrn😤
Kam1la
iya e...
Tumpuk Kertasin 😉: Semangat Thor gue gabung /Determined/dukung gue juga Thor
total 1 replies
Kayla Rane
😍🤭 Darwin romantis kali kali atuh🤭
Kayla Rane
Kinan salam bahaya
Kam1la: tenang saja, Kinan kan juga jago
total 1 replies
Kayla Rane
bener tuh Bu Ratih, kayaknya Darwin dan Kinan perlu refresing (honeymoon) terlalu serius di kerjaan lupa nyenengin hati. pasangan ini kebangetan sifatnya sama² dingin 😤🤭
Kayla Rane
tambah seruuu lihat aksi Kinan. kak indah mau masuk grup author gak. kalau mau chat japri yuk. tukeran no wa
Kayla Rane
lanjutt Thor tmbah seru
Kayla Rane
tuh kan bener. keukehh waeee... 🤨
Kayla Rane
huuuh dsr Roni rese. mau nyulik Sasa, ntar jd jaminan lagi nyuruh Linda kudu nandatangani surat lahan 😤
Kam1la: terimakasih kak...sudah berkomentar 👍👍
total 1 replies
Kayla Rane
Yee Kinan pahlawan wanita. gak nyangka ih Thor Kinan trnyata ahli bela diri /Joyful//Bye-Bye/
Kam1la: kan bos dia...😄
total 1 replies
Kayla Rane
Kinan ayo bantu Sasa! kasian ibunya
Kayla Rane
kesel si Roni, maksa pisan heuuh
Kayla Rane
bagus Linda lawan aja suamimu yg TDK tanggungjawab tapi sok tanggung jawab 😤
Kayla Rane
kasar ih s Roni, GK tau diri ga tau malu🤨
Kayla Rane
🥺 ya kasian linda
Kayla Rane
Andika siapa tiba2 Dateng, jahat apa baik ga ya orangnya /Scream/
Kayla Rane
yee keren banget kinan🤭💪
Kayla Rane
lanjut seru 🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!