Petik pelajaran dari setiap isi cerita
...
1. Kamu hanya mencintai seragamku dan bukan diriku. Dua tahun pernikahan dengan istriku hanya penuh pertikaian, hingga karenanya kamu memintaku memiliki anak dengan dengan seorang gadis anak almarhumah mantan pengasuhmu sejak kecil.
Dengan kacaunya aku menuruti keinginanmu karena aku sayang kamu Bianca. Namun semakin lama, sebagai seorang suami, aku tidak bisa memaafkan kesalahanmu
Tahukah kamu.. keegoisanmu ini membuat cerita baru dalam rumah tangga kita Bianca.
...
Kamu sungguh menghancurkan isi hatiku Bianca.. Pecah dan hancur sampai ke akarnya tapi aku masih mencintaimu hingga kesalahan fatal itu terjadi memporak porandakan rumah tangga kita.
Dan akhirnya aku berkali-kali merasakan kenangan pahit karenamu Bianca hingga sosok itu datang didalam hatiku tanpa sengaja. Dia......... ( by Ghara )
#
2. Dan disisi lain kamu berbeda dengan dia. Dirimu sudah membalikan seluruh duniaku.
Awalnya aku hanya bermain-main, tapi semakin kusadari.. ada rasa berbeda dalam hatiku. Perasaanku pun bukan sekedar permainan.
Nindy bayangan terindah masa laluku. Jujur memang caraku mendapatkan mu adalah sesuatu yang salah. Hanya aku yang tau itu semua di sengaja atau tidak. Hanya kamu.. hanya kamu saja di hati ini. Diajeng Amarilys Sahna . Kamu hidup matiku, sehidup sesurga ku. ( by Bayu )
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NaraY, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
27. Sayang istri.
Ghara sedang sholat subuh. Nada masih tidur dan Ghara tidak tega untuk membangunkan Nada yang baru bisa tidur menjelang pagi hari.
Pagi buta pintu kamar rawat Nada terbuka. Seorang perawat mengantar Bianca untuk masuk ke dalam kamar rawat Nada dan meninggalkan Bianca disana.
Bayi Bianca menangis kencang dan suara itu membangunkan Nada. Bang Ghara usai sholat dan usai mengucap salam ke kanan lalu ke kiri.
"Aawwhh.. kepalaku sakit sekali" ucap Nada mengeluh.
Bang Ghara berdiri dan mengusap punggung Nada.
"Apa yang sakit? Abang panggilkan dokter ya..!!"
Belum sampai Nada menjawabnya.. Bianca sudah menyahut.
"Mas, apa mas benar sama sekali nggak mau menyentuh anak ini? Anak ini nggak berdosa mas. Bukankah setiap anak di dunia ini tanpa dosa meskipun dia bukan darah daging Mas"
"Saya hanya ingin anak saya sendiri tanpa kecuali. Masa lalu saya sudah habis sama kamu. Jangan pernah bahas ini lagi" ucap Bang Ghara.
"Mas, buka mata dan pikiranmu. Dunia ini sudah modern. Jangan hanya karena masalah sepele seperti itu lalu mas anggap masalah besar. Itu hanya selingan dan hiburan"
"Oohh begitu. Ya sudah.. Nada adalah selingan saya. Lalu kenapa kamu marah saat saya punya selingan berarti ini hanya masalah sepele. Dan karena ini hanya masalah sepele, saya tidak mau tau tentang kamu lagi.
Bianca mendekati Bang Ghara.
"Mas.. apakah hubungan kita selama ini tidak ada artinya buatmu? Di bandingkan dengan Nada.. aku yang tau kamu mas" sambil menggendong bayi kecil, ia mencoba memeluk Bianca.
"Saya rela menukar lebih dari lima tahun kebersamaan kita daripada harus menikahi wanita sepertimu" ucap Bang Ghara begitu menusuk hati Bianca.
Bianca sangat marah dan hendak menampar Nada tapi Bang Ghara menepis tangan Bianca.
"Jangan sentuh istri saya sedikitpun. Dia ibu dari anak saya" Bang Ghara memberikan ketegasannya pada Bianca.
"Bay..!!!!!!!!!!!" Bang Ghara berteriak memanggil Bayu.
Bayu yang tidur di kursi tunggu koridor segera bangun saat Abangnya memanggil. Nyawa belum genap pun tetap berjalan masuk ke kamar rawat Nada.
"Kenapa Ghar???"
"Tidur sudah seperti orang mati aja kamu. Apa nggak lihat Bianca masuk kesini??" tegur Bang Ghara.
"Sorry, aku nggak tau" jawab Bayu.
"Bawa dia keluar..!!" perintah Bang Ghara.
"Iya.." Bayu segera menarik lengan Bianca yang sedang menggendong bayinya.
"Jangan usir aku....!!!!!!!" teriak Bianca.
"Saya hanya jalankan perintah" jawab Bayu tak mau tau.
"Awas saja kamu Nada. Kamu akan dapat karma karena sudah merebut suamiku"
#
"Nggak usah nangis, Abang disini..!!" Bang Ghara menghapus air mata Nada.
"Nada nggak nangis Bang" jawab Nada dengan tangan gemetar.
"Pintar.. istri Abang nggak nangis. Cuma mewek" ledek Bang Ghara sambil menghapus air mata Nada.
"Kamu harus kuat..!! Jangan menangis hanya karena Bianca. Itu hanya akan membuatmu semakin lemah di hadapannya. Kamu istri Abang dan tidak ada yang bisa mengingkari itu"
Nada mengangguk tidak pasti tapi Ghara berusaha memahami perasaan Nada. Memang bukan hal mudah berada di posisi Nada saat ini.
-_-_-_-_-
Frans dan Tisa datang menjenguk Nada. Sepanjang jalan mereka berdebat.
"Apa tidak bisa mbak Bianca di jauhkan dari Abangku?" tanya Tisa saat mendengar kabar Bianca selalu mengganggu kehidupan rumah tangga Bang Ghara dan Nada lagi.
"Tanyakan saja langsung pada Bianca. Abang pun malas setiap ada Bianca, selalu saja ada perdebatan" jawab Frans.
"Lama-lama mbak Nada bisa gila. Mana ada istri yang tahan selalu di goda masa lalu suaminya" gerutu Tisa.
"Bagaimana kalau suatu saat nanti mantan Abang mengganggumu?" tanya Frans.
"Pertanyaannya.. Abang punya mantan atau tidak??" Tisa balik bertanya.
" Itu tanya atau menghina??????" jawab Frans.
"Ya jelas lah.. nggak punya"
"Gitu aja congkak Bang" Tisa memakin mempercepat langkahnya meninggalkan Frans.
...
"Yang benar aja kamu Frans, istriku sakit malah kamu bawakan seblak ceker dan kawan-kawannya" tegur Bang Ghara.
"Kalau nggak mau ya kasih aja ke Bayu. Perut Bayu khan seperti bak sampah. Segala apa dia tampung" kata Frans.
"Ada apa? Kenapa namaku disebut-sebut??" tanya Bayu yang baru saja kembali dari menebus obat Nada.
"Ini ada seblak ceker, tahu jeletot, nasi mercon" Bang Ghara menunjuk buah tangan Frans.
Bayu menjitak ubun-ubun Tisa.
"Kamu kenapa nggak tegur Frans waktu dia beli makanan pembawa penyakit ini???"
"Maaf Bang. Tadi waktu Bang Frans jemput, makanan ini sudah di belinya. Mana Tisa tau kalau isinya begitu" jawab Tisa ikut menyesal.
"Ya sudah daripada mubadzir.. kita makan saja" ajak Bang Ghara pada Tisa, Frans dan Bayu.
"Kamu mau makan apa dek, nanti biar Abang pesankan..!!" tanya Bang Ghara saat Nada seperti masih tidak ada gairah.
"Nada pengen makan ikan asin pakai sambal mangga muda, tapi Abang yang suapi" pinta Nada lirih.
Bang Ghara menelan ludahnya dengan kasar. Ikan asin tidak masalah buatnya, tapi kemana ia harus mencari mangga saat tidak musim mangga.
"Sabar.. nanti Abang carikan ya..!!" bujuk Bang Ghara meskipun ia sendiri tidak tau bagaimana cara menyelesaikan janjinya.
#
Disaat semua sedang menikmati makanannya, Bang Ghara memutar otak bagaimana caranya agar Nada bisa makan ikan asin dengan sambal mangga muda.
"Bay.. temanmu yang bekerja di pertanian itu, punya stok mangga muda nggak?" tanya Bang Ghara.
"Coba aku tanyakan dulu. Biasanya dia punya buah yang tidak pada musimnya karena cangkok tanaman" jawab Bayu lalu mengambil ponselnya dan segera menghubungi temannya.
...
"Terima kasih ya" Bang Ghara menerima mangga muda yang di ambil Jeri ke tempat teman Bayu.
"Sama-sama Dan" jawab Jeri kemudian bergabung dengan Bayu dan Alex.
"Abang pulang dulu siapkan permintaanmu ya?" Bang Ghara mengusap kening Nada.
"Kamu sama Bayu dulu disini, cepat hubungi Abang kalau kamu merasa nggak nyaman dalam hal apapun"
"Iya Bang. Cepat pulang dulu..!! Nada lapar"
"Iya.. iya.. ya sudah Abang siapkan dulu"
-_-_-_-_-
Ghara menghubungi Mama Dira untuk menanyakan bagaimana caranya memasak ikan asin dan sambal mangga muda melalui video call.
"Apalagi ma?" tanya Ghara.
"Ikan asin yang sudah di rendam tadi, goreng dalam minyak panas..!! Minyaknya sedikit saja, api kecil" perintah mama Dira.
Bang Ghara menyambung gagang spatula dengan bambu sepanjang satu meter agar percikan minyaknya tidak berhamburan ke tangan.
"Hwaaa... astaga..!!!!!" Bang Ghara berjingkat-jingkat karena minyak goreng panas memercik ke kakinya.
"Nggak usah lompat Ghar.. nggak sesakit saat di berondong peluru" Papa Arben ikut menimpali putranya yang gugup saat terkena percikan minyak.
"Jangan meledek pa"
"Terus resep sambal mangga mudanya apa ma?" tanya Ghara pada Mama Dira.
"Mama biasa pakai mangga, cabai merah, gula merah, terasi bakar sama garam. Papa suka sambal mangga muda itu" jawab Mama Dira.
"Oke ma.. terima kasih banyak. Ghara sayang mama. Assalamualaikum..!!!!"
"Wa'alaikumsalam.." jawab Mama Dira dan Papa Arben.
"Waduuuhh.. Astagfirullah..!!!!!!" Ghara berjingkat-jingkat lagi saat kakinya kembali terkena percikan minyak.
"Sabar-sabar.. demi anak bojo apa aja OK meskipun papanya KO" gumamnya sambil kemudian bersiul-siul semangat menyiapkan pesanan istri tercinta.
.
.
.