Kinara pergi ke Korea untuk menemui ayahnya tapi tiba-tiba dia dipaksa untuk menjadi pengantin pengganti oleh saudara tirinya, Winter. Karena Winter sedang sakit.
Dan penderitaan Kinara benar-benar dimulai saat menikahi Sian. Pria itu mengira bahwa Kinara adalah Winter...
Bagaimana nasib Kinara selanjutnya?
Update seminggu sekali
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arik Tri Buana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
27. Takut Dibenci
Kinara membuka matanya yang berat, lalu mendesah pelan. Ia membiarkan dirinya berbaring menikmati ranjangnya sedikit lebih lama sebelum bergegas untuk membersihkan badannya.
Beberapa kali, Kinara menyentuh cincin yang dijadikan bandul untuk kalungnya.
Bunyi singkat yang menandakan ada pesan masuk di ponselnya membuat Kinara tersentak. Ia mengeluarkan ponsel dan membuka pesan yang masuk. Alisnya terangkat heran ketika ia melihat bahwa pesan itu dari Sian.
Erik akan datang. Dia akan membawamu ke Restoran.
“Apa maksudnya? Hari ini aku benar-benar lelah." Kinara memberengut samar dan mendengus pelan
Kinara sedang berpikir apakah ia harus membalas pesan itu atau tidak ketika sebuah ketukan datang. Kinara buru-buru membuka pintu tersebut dan muncullah sosok Erik di sana.
Setelah syuting dan juga konferensi kemarin, ia menemui Nathan. Kinara benar-benar lelah, ia butuh tidur segera tapi sepertinya tidur adalah hal mustahil untuk saat ini.
“Erik, aku akan berganti pakaian dulu. Kamu tunggu di bawah.”
“Baik.”
Jalanan kota di sore hari masih padat merayap. Ia membutuhkan waktu tiga puluh menit untuk pergi ke tempat tujuan.
Kinara memandang tempat yang berada di tempatnya. Itu adalah restoran yang terkenal dan tentunya harganya mahal. Hanya orang-orang penting yang mampu makan di sana.
Kinara melihat terlihat bingung dan berjalan masuk. Itu adalah restoran yang di desain outdoor. Lampu berwarna-warni menghiasi setiap jengkal mata Kinara memandang.
Setelah berjalan sebentar, Kinara melihat Sian dan Lee Hyuk yang duduk. Saat Kinara menghampiri mereka. Lee Hyuk melihat kedatangan Kinara dan tersenyum.
“Kamu sudah datang.”
Kinara tersenyum dan mengangguk. Ia melihat Lee Hyuk lalu melihat Sian. Pria itu tak bermain dengan puntung rokok dan tidak mengangkat kepalanya. Acuh itulah sifatnya.
“Duduklah!”
Kinara duduk di samping Sian. Duduk di samping pria itu, ia dapat mencium aroma tembakau yang kuat.
“Berapa banyak rokok yang ia hisap?” batin Kinara.
“Jadi apakah ada acara khusus sore ini?”
Kinara bertanya pada Lee Hyuk karena sejak tadi, Sian selalu melihat ke bawah dan memainkan rokoknya. Pria itu tidak memandangnya, apalagi berbicara dengannya.
Lee Hyuk menatap Kinara lalu Sian. Ia sendiri juga tidak tahu apa yang diinginkan Sian. Dirinya hanya diundang tanpa penjelasan.
“Oh, ini hanya makan biasa.”
Setelah waktu yang lama, akhirnya Sian berbicara. Pria itu berbicara pada sambungan ponselnya.
“Masuklah.”
Tak berselang lama, banyak pria berjas hitam datang sambil membawa koper yang besar. Pria itu lalu menaruh koper tersebut di atas meja. Lalu disusul ada wanita di sana.
“Tuan Sian, semua yang anda inginkan ada di sini.”
Sian menatap deretan kotak yang berada di atas meja dan melihat Kinara. Ini adalah pertama kalinya ia melihatnya semenjak dia datang ke sini.
Sian melihat wajahnya dan tatapannya turun pada lehernya. Di kulitnya yang halus dan mulus terdapat sebuah kalung yang jika dilihat sekilas saja. Itu hanyalah barang murah. Namun bagaimana bisa Kinara bisa bahagia saat pria asing itu menaruhnya di lehernya.
“Pilihlah cincin yang kamu suka. Jika kamu tidak memilih, mereka akan berdiri di sini terus hingga kamu memilihnya.”
Kinara melihat berbagai cincin di sana dengan bertatahkan berlian, batu permata. Cincin-cincin itu berkilau cantik saat bertabrakan dengan cahaya lampu.
Setelah menatap kosong cincin-cincin di depannya dengan bingung. Kinara menatap Sian. “Kenapa dia memintaku ke sini? Apakah dia hanya memintaku ke sini untuk mengambil cincin-cincin ini?” Kinara membatin.
Kinara memeras otaknya dengan waktu yang lama.
“Sepuluh.” Tiba-tiba Sian berbicara. “Pilih sepuluh cincin yang kamu sukai.”
“Aku biasanya tidak...”
“Lima puluh cincin.”
“Huh? Apa yang terjadi padamu? Kenapa..."
“Jika kamu berkata lagi, aku akan menambahkan seratus cincin.”
Kinara menelan kata-katanya kembali. Ia melihat Lee Hyuk dan ingin mendengarkan pendapat namun pria itu menggeleng pelan. Kinara menggigit bibir dengan jengkel.
“Nona, boleh kah saya membantumu untuk memilih cincin?” suara itu dari seorang staf yang berdiri di samping Kinara.
Kinara malah terdiam di sana saking bingungnya.
“Mengapa kamu tidak memilih? Baiklah jika kamu tidak bisa memilih sekarang. Pilih nanti saja, kita makan dulu. Singkirkan ini dan ganti dengan makanan yang enak.”
“Baik tuan.”
Semua koper itu dipindahkan dan kini di atas meja tersaji berbagai jenis makanan dan beberapa minuman.
“Apakah kamu ingin makan itu?” tanya Sian.
Tangan pria itu terulur untuk mengisi piring Kinara yang kosong. Kinara bergumam pelan, lalu menunduk menatap piringnya. Sian mengikuti arah pandangnya dan tatapannya.
“Kamu tidak menyukai makanan yang aku ambilkan. Baiklah tinggalkan itu, yang mana yang kamu suka.”
Ketika Sian ingin mengambil makanan lagi untuk Kinara. Ia tiba-tiba teringat bahwa pria asing itu mengambilkan makanan ayam yakiniku dan menyuapkannya pada Kinara.
Ujung jari-jarinya menegang. Sian langsung melewati makanan itu dan beralih mengambil hidangan seafood.
“Makanlah!”
Kinara masih diam.
“Kenapa masih diam? Padahal makanan di sini sangat lezat dan mahal. Dari pada makanan yang kamu datangi dengan pria asing itu.”
“Apakah kamu penguntit?”
“Apakah aku penguntit? Apakah aku seburuk itu di pikirannya? Bagaimana bisa dia memiliki kepercayaan diri yang tinggi?” Sian membatin.
“Baiklah karena kamu tidak ingin makan. Kita singkirkan makanan ini dan mengambil seratus cincinmu.”
Otak Kinara terus berpikir. Memikirkan bagaimana Sian mengetahui tentang dirinya dan Nathan. Jadi dia mengikutinya? Kenapa dia tidak menyadarinya?
Semakin ia memikirkannya, semakin Kinara panik. Ia tidak tahu bagaimana reaksi Sian jika rahasia besarnya terbongkar.
“Sejak kapan kamu mengawasiku?”
“Aku mengawasimu? Kamu menyalahkanku? Bagaimana bisa kamu menyalahkanku di saat kamu berselingkuh dengan pria lain? Kamu...”
Sian tiba-tiba berhenti berbicara untuk memperbaiki emosinya dan berusaha untuk tidak menyakitinya. Sian memejamkan matanya dan mengambil napas panjang untuk meredam emosinya yang tidak stabil.
“Aku akan membiarkan apa yang kamu lakukan pada pria itu setelah memilih seratus cincin. Sekarang pilih lah!”
“Dia adalah...”
Kinara berhenti pada kata-katanya saat menyadari bahwa kini ia berperan sebagai Winter. Hampir ia ingin mengatakan pada Sian bahwa pria yang ia temui adalah Nathan, adiknya.
“Dia temanku. Jadi berhentilah berpikir yang buruk tentangku dan tentangnya.”
“Teman? Teman tapi begitu dekat. Apakah aku bodoh?” batin Sian.
Saat ini, amarah Sian begitu meningkat setelah mendengar ucapan Kinara yang seakan melindungi pria asing itu. Untuk beberapa saat, ia bisa menenangkan emosinya kembali.
Tangannya terulur untuk memilih cincin di depannya.
Lee Hyuk yang sedari tadi hanya menontonnya saja. Kini mulai bisa memahami. Semua reaksi yang ditunjukkan oleh Sian menunjukkan bahwa pria itu sedang cemburu.
“Kami tidak saling bertemu untuk waktu yang lama jadi ia memberiku hadiah. Dia teman berharga bagiku jadi kami tidak bisa dikatakan berselingkuh...”
“Diam! Aku tidak ingin mendengar apa pun tentangmu dan dia.”
Tubuh Kinara terlonjak kaget karena amarah Sian yang meledak.
Sian dengan perlahan menoleh ke arah Kinara dan melihat cincin itu. Matanya langsung berapi-api. Pria itu terlihat menakutkan.
Kinara secara naluriah menutupi lehernya karena sedari tadi pusat perhatian Sian selalu tertuju pada lehernya.
Tindakan Kinara seperti tamparan untuk Sian. Adegan Kinara dengan pria berputar begitu saja bagaikan film. Kinara dengan mudahnya memberikan senyum hanya padanya.
Sementara ia sendiri, ia sudah menghabiskan banyak uang untuk makanan ini dan ia juga memberikan banyak cincin tapi tidak ada senyum hangat untuknya. Sama sekali tidak ada.
Perbandingan yang sangar kontras membuat Sian kehilangan kendalinya. Amarah mengusainya. Ia dengan paksa menarik tangan Kinara lalu menarik kalung yang dipakai Kinara.
Sian langsung berdiri dan melemparkannya begitu saja.
Kalung beserta cincin itu terbang ke udara dan mendarat di kolam renang yang berada di sampingnya.
Sian melakukannya hanya sekejap mata.
“Apa yang kamu lakukan?”
Kinara berteriak di sana. Gadis itu lalu berdiri dan berlari menuju ke kolam renang. Keadaan di sekitar kolam sangat remang-remang apalagi di dasar kolamnya. Meskipun terdapat beberapa lampu hias namun itu benar-benar redup.
Kinara masuk ke dalam kolam. Ia berusaha mendapatkan cincinnya kembali. Tangannya terus meraba-raba di dasar kolam. Ia sesekali menenggelamkan kepalanya untuk mencari ke dasar kolam.
Cincin itu tidak mahal. Cincin itu murah sehingga itu tidak akan berarti bagi Sian. Tapi cincin itu sangat berharga baginya. Cincin itu pemberian dari ibunya. Ibunya memberikannya lewat Nathan.
Setelah melihat kejadian itu, Lee Hyuk langsung menendang kursinya ke belakang. Ia berlari menuju ke Kinara.
“Apa yang kamu lakukan di sana? Kamu bisa terkena flu!”
“Aku harus menemukan cincin itu.”
Lee Hyuk menatap Sian yang masih membeku di tempatnya, “Sial.”
Lee Hyuk langsung melepaskan jasnya dan melemparkannya begitu saja lalu membantu mencarinya.
Sian mendongakkan kepalanya lalu melihat Kinara yang sudah basah.
“Apakah setelah ini, dia membenciku?”
Sian tiba-tiba menjadi takut. Bahkan kepanikan muncul di dalam netranya.
“Dibandingkan melihatnya dengan pria lain, aku lebih takut dia membenciku.”
Tiba-tiba ia berlari ke arah kolam, tanpa melepas sepatunya. Sian ikut masuk di sana. Sian meraih lengan Kinara dan menarik gadis itu ke atas.
“Jangan menyentuhku!”
Sian melingkari pinggangnya dengan lengannya dan mengeluarkan Kinara dari kolam.
“Lepaskan aku! Lepaskan aku!”
Kinara meronta-ronta di sana. Disaat tangannya sedikit bebas dengan kekuatan penuh ia menampar pipi Sian.
Lee Hyuk yang melihatnya melerai mereka. Ia tidak ingin melihat mereka terus bertengkar.
“Sebaiknya kamu pulang. Aku akan mencoba menemukannya.”
“Aku tidak mau.”
tp lakon Yo tetep lakon