NovelToon NovelToon
AKU KEMBALI SETELAH MEREKA MENGHANCURKANKU

AKU KEMBALI SETELAH MEREKA MENGHANCURKANKU

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Action
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: SAPEI

**AKU KEMBALI SETELAH MEREKA MENGHANCURKANKU**

Aku pernah mencintai seorang pria sampai rela kehilangan diriku sendiri.

Aku percaya pada suamiku.
Aku percaya pada sahabatku.
Aku bahkan percaya pada keluargaku sendiri.

Ternyata, merekalah orang-orang yang menghancurkanku.

Malam itu, aku mengetahui sebuah rahasia yang seharusnya tidak pernah kutemukan.

Dan sebelum aku sempat mengungkap semuanya...

**suamiku sendiri membunuhku.**

Aku pikir kematian adalah akhir.

Ternyata, aku mendapatkan kesempatan kedua.

Ketika membuka mata, aku kembali ke masa sepuluh tahun yang lalu—saat aku masih berusia sembilan belas tahun.

Semua orang yang dulu menghancurkanku masih ada.

Suamiku masih belum menjadi suamiku.

Sahabat yang mengkhianatiku masih tersenyum di hadapanku.

Dan adikku yang dulu mati... masih hidup.

Kali ini aku tidak akan menjadi perempuan bodoh yang sama.

Aku tidak akan menikah dengan Ryan Arkana.

Aku tidak akan mempercayai Selena Marvia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SAPEI, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

27 - JEJAK KAKI DI LANTAI ATAS MENTENG

Roda pesawat jet pribadi Gulfstream G650ER mendarat mulus di landasan pacu Bandara Internasional Soekarno-Hatta saat fajar menyingsing di atas langit ibu kota. Asap tipis kabut pagi berpadu dengan polusi industri, membingkai siluet gedung-gedung pencakar langit Jakarta yang menjulang angkuh di kawasan Sudirman-Thamrin.

Di dalam kabin privat pesawat, aku duduk dengan tenang mengenakan setelan jas terstruktur berwarna navy gelap rancangan desainer Milan. Rambut hitamku disanggul rapi, memperlihatkan anting berlian hitam yang memantulkan cahaya lampu kabin. Di sebelahku, Adrian Varell melipat surat kabar bisnis pagi edisi internasional, sementara Bastian berdiri siaga di dekat pintu keluar membawa koper diplomatik berisi silinder kuningan dokumen rahasia dari Kastel Nice.

"Empat target utama kita di Jakarta sudah mulai bereaksi," ucap Adrian datar, memecah keheningan kabin. Ia menyodorkan sebuah tablet berlayar OLED yang menampilkan profil empat orang petinggi oligarki yang tertera di dalam dokumen arsip Arthur Valois. "Begitu berita penangkapan Julian Valois di Marseille tersiar di bursa keuangan internasional dini hari tadi, indeks saham konsorsium energi nasional langsung bergejolak turun tiga persen."

Aku menatap layar tablet itu satu per satu.

Nama pertama: Jenderal Purnawirawan Soedirdjo, mantan petinggi militer yang kini memegang kendali atas dewan pengawas logistik strategis nasional.

Nama kedua: Hario Baskoro, menteri senior bidang investasi yang dulu menandatangani izin konsesi pelabuhan fiktif untuk keluarga Arkana.

Nama ketiga: Hendrawan Tanuwijaya, taipan perbankan gelap yang mengalirkan dana pencucian uang sindikat Sembilan Teratai.

Dan nama keempat: Sofian Dharma, jaksa agung pensiunan yang bertindak sebagai pelindung hukum seluruh transaksi kotor mereka.

Empat nama ini adalah pilar utama yang menopang kekuasaan semu di balik layar politik dan ekonomi Indonesia. Mereka merasa aman karena mengira kuburan Helena Arlena di Jakarta dan komanya Arthur Valois di Prancis telah mengubur rahasia kelam sembilan belas tahun lalu untuk selama-lamanya.

"Mereka tidak punya banyak waktu untuk panik, Adrian," gumamku dingin, sudut bibirku terangkat membentuk garis tipis yang tajam. "Panik adalah awal dari kesalahan langkah. Dan kesalahan kecil di level mereka adalah celah bagi kita untuk merobohkan seluruh piramida."

"Apa rencana pertamamu?" tanya Adrian, menatapku dengan sorot mata kelam yang menyembunyikan ketertarikan intelektual yang mendalam. Di antara kami, tidak pernah ada kata bucin yang murahan; yang ada adalah persekutuan dua predator puncak rantai makanan yang saling menguji strategi.

"Kita mulai dari yang paling rapuh secara emosional dan paling serakah secara finansial," jawabku sambil berdiri dan merapikan kancing jas blazerku. "Hario Baskoro. Menteri investasi itu baru saja menjadwalkan pertemuan tertutup malam ini di sebuah restoran privat di kawasan Menteng untuk membahas penyelamatan aset sisa keluarga Arkana yang disita negara."

Adrian ikut bangkit berdiri, merapikan jas panjangnya dengan gerakan luwes yang mematikan. "Bastian, siapkan tim pengawas lapangan. Pastikan tidak ada satupun pergerakan Hario yang lolos dari radar pemantauan kita."

"Siap, Tuan Besar," jawab Bastian patuh.

Pintu kabin terbuka, menyambut terpaan udara tropis Jakarta yang lembap dan padat. Kami melangkah turun menuju iring-iringan mobil lapis baja Varell yang telah berbaris rapi menanti di hanggar khusus.

Pukul sembilan malam.

Kawasan Menteng, Jakarta Pusat, selalu menyimpan rahasia di balik deretan pohon rindang dan pagar-pagar rumah kolonial bergaya klasik yang megah. Di salah satu sudut jalan yang tenang, sebuah rumah makan privat berkedok galeri seni kuno menjadi tempat pertemuan para penguasa bayangan. Tempat itu dijaga ketat oleh petugas keamanan swasta bersetelan jas hitam dengan earphone di telinga mereka.

Di dalam ruang makan utama berpanel kayu jati tua, suasana terasa panas meskipun pendingin ruangan diatur pada suhu terendah.

Hario Baskoro, pria berusia enampuluhan tahun dengan perut buncit dan rambut beruban yang disisir klimis, mondar-mandir di dekat jendela kaca besar yang menghadap ke taman belakang. Wajahnya tampak pucat pasi. Di tangannya, gelas wiski kristal bergetar hebat hingga cairan ambar di dalamnya tumpah membasahi jari-jarinya.

"Kalian gila?!" bentak Hario dengan suara tertahan namun bergetar hebat kepada dua orang pria paruh baya yang duduk di kursi meja makan. "Julian Valois tertangkap di Prancis! Marcus di Marseille! Dan sekarang... gadis muda itu—Nadia Arlena—telah kembali ke Jakarta membawa seluruh arsip peninggalan ayahnya!"

Salah satu pria di meja—Hendrawan Tanuwijaya, si taipan perbankan gelap—menyesap teh tawar hangatnya dengan tangan yang relatif lebih tenang, meskipun rahangnya mengeras keras. "Duduklah, Hario. Kepanikanmu tidak akan menyelesaikan masalah. Kita berempat menguasai separuh perputaran modal di negeri ini. Apa yang bisa dilakukan oleh seorang gadis berumur sembilan belas tahun terhadap kita?"

"Dia bukan gadis sembarangan lagi, Hendrawan!" seru Hario panik, melemparkan gelas wiskinya hingga pecah berkeping-keping di atas lantai marmer. "Dia memegang hak veto atas Trans-Oceanic Logistics! Dia membekukan seluruh rekening Sembilan Teratai dalam waktu kurang dari dua puluh empat jam! Kalau dia membuka dokumen transaksi tahun 2007 di hadapan PPATK dan media asing, kita semua akan busuk di penjara Nusa Kambangan!"

Pintu ruang makan privat itu tiba-tiba terbuka tanpa suara.

Suara ketukan sepatu hak tinggi yang berdetak teratur di atas lantai marmer menghentikan perdebatan tegang di dalam ruangan seketika.

Tok... tok... tok...

Semua kepala di meja itu menoleh serentak ke arah pintu masuk bagai tersengat aliran listrik bertegangan tinggi.

Aku melangkah masuk ke dalam ruangan dengan kepala tegak dan tatapan mata sedingin es di kutub utara. Di belakangku, Adrian Varell melangkah menjulang dengan postur tubuh yang mengintimidasi, diikuti oleh Bastian yang membawa koper titanium di tangannya.

Wajah Hario Baskoro langsung kehilangan seluruh warna darahnya. Ia terhuyung mundur hingga punggungnya menabrak tirai jendela. Hendrawan Tanuwijaya berdiri mendadak dari kursinya, sementara dua orang pengawal pribadi yang berjaga di sudut ruangan mencoba merogoh jas mereka, namun gerakan mereka langsung terkunci oleh laras pistol senyap yang ditempelkan oleh operator Varell dari arah koridor gelap.

"Malam yang menyenangkan untuk membahas masa depan, para penguasa bayangan Jakarta," suaraku mengalun tenang, memecah keheningan ruangan dengan nada yang begitu santai namun mematikan.

Aku berjalan perlahan ke arah meja makan, menarik salah satu kursi berlapis kulit di seberang mereka, lalu duduk menyilangkan kaki dengan anggun. Adrian berdiri tepat di belakang sisi kursiku, meletakkan sebelah tangannya di atas sandaran kursi dengan sikap seorang pelindung sekaligus algojo.

"N-Nadia Arlena...?" bisik Hario Baskoro terbata-bata, tenggorokannya tercekat seolah ada tangan tak kasat mata yang mencekik lehernya.

"Ah, Anda masih mengingat nama saya dengan baik, Menteri Baskoro," kataku dengan senyuman tipis yang sangat sinis. "Saya sempat khawatir bahwa kesibukan Anda merampok anggaran negara dan mengatur pembakaran pabrik tekstil masa lalu membuat ingatan Anda mulai tumpul."

Hendrawan Tanuwijaya mencoba menguasai diri, merapikan kerah jasnya meskipun keringat dingin telah membasahi pelipisnya. "Nona Arlena, Anda memasuki area privat secara ilegal. Ini pelanggaran hukum. Kami bisa melaporkan tindakan intimidasi ini kepada aparat penegak hukum kapan saja."

Aku tertawa kecil—suara tawa renyah yang terdengar sangat mengerikan di tengah ketegangan ruangan itu.

"Hukum?" ulangku menatap tajam ke dalam manik mata Hendrawan. "Hukum yang mana yang hendak Anda panggil, Tuan Tanuwijaya? Hukum yang dibeli dengan uang suci hasil pencucian uang Sembilan Teratai? Atau hukum yang melindungi para pengecut penandatangan dokumen kematian ibu saya sembilan belas tahun lalu?"

Bastian melangkah maju atas isyarat mataku, lalu meletakkan silinder kuningan dokumen rahasia di atas meja makan tepat di hadapan mereka berdua. Segel timah yang telah pecah terpampang jelas di atas kayu mahoni.

Hario Baskoro menatap silinder kuningan itu dengan teror yang teramat sangat, seolah benda itu adalah kepala ular beracun yang siap mematuk mati dirinya kapan saja.

"Dokumen asli dari brankas kastel Nice, lengkap dengan tanda tangan basah dan catatan aliran dana ke rekening luar negeri Anda masing-masing," ucap Adrian Varell dengan suara baritonnya yang berat dan berwibawa, menghantam sisa-sisa mental pertahanan mereka tanpa ampun. "Kalian punya waktu dua puluh empat jam untuk meletakkan surat pengunduran diri dari seluruh jabatan publik dan menyerahkan seluruh aset korporasi kalian ke bawah pengawasan perwalian Arlena-Varell."

"Dan jika kami menolak?" tantang Hendrawan dengan suara bergetar meskipun berusaha disembunyikan.

Aku mencondongkan tubuhku ke depan, menatap lurus ke dalam mata Hendrawan tanpa berkedip sedikit pun.

"Maka esok pagi, bukan surat pengunduran diri yang akan Anda baca di halaman depan seluruh surat kabar nasional," bisikku pelan, suara desisannya menusuk langsung ke jantung pertahanan mereka. "Melainkan surat perintah eksekusi mati perdata dan pidana yang dikirimkan langsung oleh jaksa agung internasional atas tuduhan kejahatan kemanusiaan dan terorisme finansial global."

Ruangan itu jatuh dalam keheningan yang mematikan.

Tidak ada yang berani bersuara. Tidak ada yang berani membantah. Di hadapan seorang wanita muda yang telah meruntuhkan dinasti Arkana di Jakarta dan menumbangkan klan Valois di Eropa, keempat petinggi oligarki itu sadar bahwa hidup mereka kini sepenuhnya berada di bawah belas kasihan jemariku.

Aku berdiri perlahan dari kursi, merapikan jas navy milikku, lalu melangkah keluar dari ruangan itu tanpa menoleh lagi ke arah mereka yang terduduk lemas bagai mayat hidup.

Babak Ketiga bergerak semakin dalam ke jantung pertahanan musuh. Langkah pertama di Jakarta telah berhasil menancapkan tancapan kuku besi di leher para penguasa bayangan.

Bersambung...

1
REY ASMODEUS
ceritamu ini keren thor. aku suka adegan tabrakan nya... 🤣🤣🤣🤣🤣 coba saja si sirkus itu di dorong saja ke jurang beh mantapnya itu kembang api
One Pey: "Terimakasih Brad...iya ya padahalmah di dorong aja dia...
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!