Rhea adalah seorang pengacara muda idealis yang harus menelan pahitnya kehidupan setelah di-PHK secara sepihak dari firma hukum ternama. Musibah Rhea tak berhenti di situ, sore setelah pemecatannya, dia mengalami kecelakaan lalu lintas parah yang membuatnya koma selama hampir sebulan. Tak ingin menyerah pada nasib, Rhea bangkit dari keterpurukannya. Menggunakan sisa uang pesangon yang pas-pasan, dia nekat mendirikan biro bantuan hukum mandiri di sebuah ruko kecil daerah Tebet bersama Zora, sahabat karibnya yang selalu setia mendampingi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon diana mainur, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27. Rasa Sebuah Kemenangan
Langkah kaki bersepatu kulit milik pengacara Hendra menghentak-hentak kasar di lorong marmer. Pria itu berjalan cepat dengan wajah merah padam, merapikan dasinya yang mendadak terasa mencekik leher.
Kekalahan telak di ruang sidang hari ini benar-benar meremukkan reputasinya sebagai advokat elit bayaran tinggi. Kliennya Rika dan Fadel bukan hanya dijatuhi hukuman seumur hidup, tetapi juga bertengkar dan saling menuduh seperti orang gila di hadapan majelis hakim.
"Pengacara Hendra," sebuah suara yang tenang dari arah belakang memanggil.
Pengacara Hendra menghentikan langkahnya, memutar badan dengan napas gusar. Di sana, Rayven Mahesa melangkah santai menyusuri lorong dengan tiga yang sudah dilipat rapi di lengannya.
"Ya, pengacara Rayven. Tampaknya anda sangat menikmati pertunjukan drama hari ini," desis Hendra, menyunggingkan senyum miring yang dipaksakan.
Rayven menghentikan langkahnya, tepat dia meter dihadapan pengacara Hendra, membetulkan kancing kemejanya dengan gerakan elegan.
"Pertunjukkan yang memuaskan pengacara Hendra. Kebenaran selalu punya cara tersendiri untuk menelanjangi kebohongan, bahkan jika kebohongan itu dibungkus dengan bayaran mahal," kata Rayven tenang.
Pengacara Hendra terkekeh sinis, menyilangkan dadanya. "Jangan berpuas diri dulu pengacara Rayven. Di dunia hukum kebenaran itu relatif. Hari ini anda menang karena saksi kunci itu berpihak pada anda. Boleh saya tau, berapa banyak yang dijanjikan sama pihak Bima sampai membela kasus ini tanpa uang?"
Rayven menatap pengacara Hendra dengan pandangan merendahkan yang sangat dingin.
"Tidak semua orang mengukur keadilan dengan tebalnya amplop atau pundi-pundi uang pengacara Hendra," ujar Rayven lambat namun menusuk.
"Saya membela Bima karena dia korban, bukan karena uang. Lagipula bukankah anda sendiri yang menerima bayaran fantastis dari Ibu Rika dan Fadel, hanya untuk melihat kedua klien anda saling teriak dan membusuk di dalam penjara seumur hidup?" lanjut Rayven.
Wajah pengacara Hendra seketika berubah pucat, kehilangan kata-kata. Sindiran Rayven tepat menghantam harga dirinya.
Pengacara Hendra menarik napas dalam-dalam, mengatupkan rahangnya rapat-rapat sebelum akhirnya menghembuskan pasrah.
"Selamat atas kemenanganmu, pengacara Rayven. Kamu memang luar biasa di meja hijau," kata pengacara Hendra akhirnya.
"Terima kasih, pengacara Hendra. Sampai jumpa di kasus berikutnya," Rayven menyunggingkan senyum tipis.
Tanpa menunggu balasan lagi, Rayven berbalik dan melangkah pergi, meninggalkan pengacara Hendra yang berdiri mematung di lorong pengadilan yang sepi.
Keesokan harinya.
Sinar matahari pagi menembus kaca jendela biro bantuan Rhea. Suasana kantor hari ini lebih santai dan hangat dibandingkan minggu-minggu sebelumnya yang penuh tekanan.
Di sudut ruang tamu biro, Zora sedang berdiri di depan ring light dan tripod ponselnya. Sebagai seorang content creators dan paralegal, Zora sedang melakukan siaran langsung dan merekam konten video untuk saluran youtube miliknya.
"Nah, guys. Jadi itulah akhir dari persidangan kasus restoran Restu Ibu. Keadilan akhirnya berpihak pada Bima. Dua dalang utamanya resmi divonis penjara seumur hidup. Jadi ingat ya, kejahatan sekecil apa pun pasti bakal terbongkar juga," seru Zora ke arah kamera dengan penuh semangat.
"Zor, penonton live lu udah tembus berapa?" tanya Rhea tanpa mengalihkan pandangan dari tabletnya.
"Udah sepuluh ribu orang yang nonton, Rhe. Gila, netizen pada puas banget sama hasil vonis kemarin," sahut Zora antusias.
Tiba-tiba dari arah lorong belakang biro yang tenang...
"Bagus..."
Sebuah suara yang familiar menyela dari balik punggung mereka.
Rhea dan Zora seketika terlonjak kaget. Rhea hampir saja menjatuhkan tabletnya dari pangkuannya, sementara Zora refleksi mematikan tombol record di ponselnya.
Rayven berdiri di belakang mereka. Sambil membawa tiga cangkir kopi beraroma harum yang ada ditangannya.
"Aduh, Mas Rayven. Kalo masuk itu ketuk pintu dulu napa. Bikin jantung mau copot aja," seru Zora sambil mengelus dadanya.
Rayven terkekeh tipis, sebuah pemandangan langka yang membuat suasana mendadak terasa begitu hangat. Rayven melangkah mendekat dan meletakkan cangkir-cangkir koli itu di atas meja ruang tamu.
"Ya, akan pintu depan tidak dikunci," sahut Rayven tenang, lalu mengambil tempat duduk di sofa tinggal sebelah Rhea.
Rhea tertawa kecil, meletakkan tabletnya dan mengambil salah satu cangkir kopi.
"Maklumlah, Zora kan emang seksi publikasi di biro ini. Tapi makasih ya kopinya," kata Rhea.
"Sama-sama," jawab Rayven lembut, menatap Rhea sejenak dengan binar mata yang hangat.
Ketiganya kemudian menikmati kopi pagi itu seraya mengobrol santai. Mereka membicarakan kehebohan media, rencana pemulihan nama baik restoran Restu Ibu, hingga candaan ringan khas sahabat yang membuat ruangan biro itu dipenuhi tertawa lepas.
BZZ... BZZ
Di tengah obrolan itu, ponsel pribadi Rayven yang tergeletak di meja bergetar nyaring. Rayven melirik layarnya lalu menggeser tombol hijau.
"Ya, Bima?" sapa Rayven.
Rhea dan Zora seketika menghentikan obrolan mereka, menyimak percakapan tersebut.
"Mas Rayven, malam ini saya mau mengundang kalian semua makan malam di restoran. Restoran sudah kembali dibuka, dan saya sendiri yang bakal masak menus spesial buat merayakan kenangan kita. Kalian harus datang ya."
Rayven menoleh dan menatap Rhea dan Zora, seolah meminta persetujuan. Rhea dan Zora langsung mengangguk mantap dengan senyum lebar.
"Baik, Bima. Kami bertiga pasti datang malam ini," jawab Rayven mantap sebelum mengakhiri panggilan.
"Wah, makan gratis. Ini sih wajib tancap gas," seru Zora kegirangan.
Di meja utama, Thea, Rayven dan Zora duduk bertiga berdampingan. Di hadapan mereka Bima berdiri dengan senyum di dampingi oleh Pak Yudi.
Bima membungkuk hormat ke arah mereka bertiga. "Mas Rayven, Mbak Rhea dan Mbak Zora... makasih banyak ya atas semua bantuan kalian. Tanpa kalian, saya mungkin gak akan pernah bisa dapat keadilan buat papa dan menemukan restoran ini lagi."
Pak Yudi yang berdiri di sebelah Bima ikut tersenyum haru dan mengangguk pelan.
"Betul, Mas dan Mbak sekalian. Saya atas nama seluruh staf restoran Restu Ibu mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya. Kami sangat berutang budi," kata Pak Yudi.
"Aduh, Bima... Pak Yudi santai aja kali. Ini udah jadi kewajiban kami kok, yang penting sekarang Bima udah bisa tenang dan restoran ini bisa buka lagi," sahut Zora sambil tersenyum.
Bima tertawa lega, lalu menunjuk aneka hidangan lezat beraroma rempah yang sudah tersaji penuh di atas meja.
"Ayo dimakan, Mas, Mbak! Kali ini saya sendiri yang masak buat kalian semua. Makan yang banyak ya, ini semuanya saya yang traktir," puji Bima antusias.
"Wah kalo chefnya sendiri yang masak dan traktir begini sih gak bakal nolak. Sumpah aroma masakannya bikin lapar," celetuk Zora cerewet seperti biasanya. Dan Zora pun mengambil piringnya tanpa ragu.
Suasana makan malam pun berlangsung sangat ceria dan hangat.