Bunga Lestari bukan siapa-siapa.
Yatim piatu dari desa kecil di Jawa Timur, dia datang ke Jakarta dengan satu tujuan: membalas dendam kepada orang yang menghancurkan keluarganya. Tanpa uang, tanpa koneksi, tanpa pendidikan — yang dia punya hanya tinju dan tekad.
Tapi malam itu, di sebuah gala dinner yang dia coba susup, seorang pria asing menabraknya. Dan tiba-tiba, suara pria itu ada di dalam kepalanya.
Rangga Wicaksana — pewaris keluarga konglomerat, jenius hukum, tampan dingin — jiwanya terjebak di tubuh Bunga. Dia bisa merasakan apa yang Bunga rasakan. Mendengar apa yang Bunga pikirkan. Dan yang paling parah: dia tidak bisa keluar.
"Bantu aku menjatuhkan musuhku," kata Rangga.
"Bantu aku naik ke puncak," kata Bunga.
Perjanjian dimulai. Tapi bagaimana caranya menjaga rahasia, ketika dia bisa merasakan detak jantungmu setiap kali kamu berbohong?
🔥 Ikatan jiwa. Dendam. Cinta yang tak seharusnya. Dan satu gadis kampung yang bertekad meraih bintang — dengan caranya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Indah Pramana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 15
Bab 015
Gedung Wicaksana
Bunga menatap pantulan dirinya di pintu stainless yang buram. "Mulai sekarang, hidupmu juga masuk daftar tugasku, mau atau tidak."
Tuan Misterius tidak menjawab sampai lift berhenti di lantai dasar.
Diamnya kali ini tidak mengganggu Bunga. Setelah apa yang terjadi di toko diskon, ia membiarkan suara di kepalanya beristirahat seperti orang yang baru selesai berkelahi dengan air laut. Ia keluar dari mal lewat pintu samping, membawa kantong kecil berisi blouse hijau tua, lalu naik angkot menuju laundry.
Blazer Melati masih harus dicek. Dress biru masih belum tentu selamat. Hidup tetap menagih bahkan setelah krisis besar.
Di jalan, ponsel pinjaman bergetar. Anindya mengirim alamat baru untuk kunjungan lapangan besok.
`Kita kumpul di dekat kantor partner dulu. Kamu bisa datang sendiri?`
Bunga membuka lokasi. Jaraknya jauh, tetapi masih bisa dicapai dengan kombinasi angkot dan ojek. Ia memperbesar peta, mencoba mengingat rute.
"Jangan lewat jalur itu," kata Tuan Misterius tiba-tiba.
Bunga hampir menjatuhkan ponsel. "Kukira kamu tidur."
"Saya tidak tidur."
"Kenapa jangan lewat situ?"
"Macet."
Bunga menatap peta. "Jakarta semua macet. Alasan lain?"
"Tidak ada."
Jawaban terlalu cepat. Bunga menyimpannya.
Besok paginya, ia berangkat lebih awal. Ia memakai blouse hijau tua barunya, celana bahan bekas, dan sepatu yang tumitnya sudah ia ganjal dengan kapas. Ia menolak jalur yang disarankan Tuan Misterius dan memilih rute yang menurut aplikasi lebih pendek.
"Bunga."
"Apa?"
"Rute ini tidak efisien."
"Aku ingin lihat macet yang kamu takuti."
"Keras kepala."
"Kamu baru sadar?"
Angkot berhenti di dekat kawasan perkantoran yang jauh lebih rapi daripada area kosnya. Gedung-gedung kaca berdiri seperti kotak dingin yang memantulkan langit. Orang-orang berjalan cepat dengan kartu akses tergantung di leher, kopi mahal di tangan, dan wajah yang tampak sudah lelah sebelum hari dimulai.
Bunga turun untuk pindah ojek.
Saat itulah ia melihat gedung itu.
Tinggi, gelap, dengan garis logam tegas dan halaman depan yang dijaga ketat. Di atas pintu masuk utama, huruf besar berwarna perak memantulkan matahari.
WICAKSANA GROUP.
Langkah Bunga berhenti.
Di dalam kepalanya, Tuan Misterius menghilang.
Bukan diam biasa. Bukan menolak bicara. Ia seperti menarik seluruh keberadaannya ke ruang paling jauh, menyisakan Bunga sendirian dengan suara lalu lintas dan detak jantung yang mendadak terlalu keras.
"Tuan?"
Tidak ada jawaban.
Bunga menatap gedung itu lagi. Wicaksana Group. Nama itu sering muncul di obrolan socialite, di berita ekonomi, di daftar keluarga besar yang dibisikkan Tuan Misterius. Keluarga Wicaksana termasuk Empat Keluarga Besar, tua, kaya, terlalu berpengaruh untuk disentuh orang biasa.
"Kamu tahu tempat ini," bisik Bunga.
Rasa yang datang dari Tuan Misterius bukan jawaban, tetapi tubuh Bunga menangkapnya. Dingin. Marah. Rindu yang langsung dicekik sebelum sempat bernapas. Dan di bawah semuanya, rasa kecil yang membuat dada Bunga ikut sesak: takut pulang.
Ia menelan ludah.
"Kamu dari sini?"
Hening.
Seorang satpam di pos depan melihat Bunga berdiri terlalu lama. Tatapannya mulai curiga. Bunga pura-pura membuka peta di ponsel, lalu berjalan ke halte kecil di seberang gedung. Namun matanya tetap kembali ke lobi kaca.
Di dalam, orang-orang berjas keluar masuk. Salah satu layar LED menampilkan video profil perusahaan: proyek infrastruktur, kantor cabang, penghargaan kepatuhan, wajah-wajah keluarga yang terlalu jauh untuk dikenali dari tempat Bunga berdiri.
Tiba-tiba napasnya tercekat.
Bukan karena dirinya.
Tuan Misterius kembali sedikit, tetapi bukan untuk bicara. Emosinya menerobos seperti air dari dinding retak. Bunga merasakan bau rumah sakit yang tidak ada, dingin lantai marmer, suara seseorang berkata `tanda tangan`, dan rasa lelah yang berubah menjadi kebencian pada kata `keluarga`.
"Hei." Bunga menggenggam ponsel. "Jangan hilang lagi."
"Pergi," kata Tuan Misterius akhirnya.
Suaranya sangat rendah.
"Jadi benar."
"Pergi dari sini."
"Kamu orang Wicaksana?"
Tidak ada jawaban.
Angkot lewat, menutup pandangan sebentar. Ketika jalan terbuka lagi, Bunga melihat mobil hitam berhenti di depan lobi. Seorang pria berumur keluar, disambut dua staf yang membungkuk hormat. Wajahnya tidak asing, meski Bunga belum pernah bertemu. Ia pernah melihat foto keluarga Wicaksana dalam artikel bisnis yang dibagikan di grup Melati.
Prabu Wicaksana.
Tuan Misterius menegang begitu kuat sampai Bunga hampir mual.
"Itu siapa?" tanya Bunga.
"Tidak penting."
"Reaksimu bilang sebaliknya."
"Bunga, pergi."
Kali ini tidak ada kesombongan dalam suaranya. Hanya permintaan yang terdengar seperti luka terbuka.
Bunga memandang pria itu masuk ke gedung. Ia bisa saja memaksa. Ia bisa bertanya sampai Tuan meledak. Ia bisa membuka berita, mencari nama, menghubungkan semua titik.
Namun ia teringat lift kemarin. Protokol. Jangan sendirian. Jauh dari pagar. Bicara keras. Jangan mendorong orang yang sedang berada di tepi sesuatu.
"Oke," katanya akhirnya. "Kita pergi."
Ia memesan ojek dari titik yang agak jauh. Sambil menunggu, ia berdiri membelakangi gedung Wicaksana Group, meski kaca gedung itu masih memantulkan tubuhnya dari belakang.
"Aku tidak akan tanya sekarang," kata Bunga.
Tuan Misterius tetap diam.
"Tapi jangan kira aku tidak lihat."
Motor ojek datang. Bunga naik dan memakai helm. Saat motor bergerak meninggalkan kawasan itu, barulah suara Tuan Misterius terdengar lagi, nyaris habis.
"Terima kasih."
Bunga menatap jalan di depan. "Kamu berterima kasih kalau aku berhenti tanya. Kamu minta maaf kalau hampir mati. Pola komunikasimu buruk sekali."
Tidak ada tawa kali ini.
Namun rasa dingin di dada Bunga sedikit berkurang.
Di lokasi kumpul Anindya, Bunga hampir terlambat. Ia turun dari ojek dengan rambut berantakan dan wajah terlalu pucat. Anindya menatapnya, lalu bertanya, "Kamu baik-baik saja?"
Bunga membuka mulut, tetapi Tuan Misterius belum sepenuhnya kembali. Untuk pertama kalinya, Bunga tidak punya suara penasihat di kepalanya.
Ia menjawab dengan suaranya sendiri.
"Tidak sepenuhnya. Tapi saya masih bisa jalan."
Anindya mengangguk, tidak memaksa. "Kadang itu cukup untuk mulai."
Bunga menoleh sekali lagi ke arah jalan yang tadi ia lewati. Gedung Wicaksana sudah tidak terlihat, tetapi namanya terasa menempel di belakang mata.
Sambil menunggu rombongan lain datang, Bunga membuka notes di ponsel. Di bawah protokol krisis Tuan, ia menulis satu kata baru: `Wicaksana`.
Lalu ia menambahkan poin-poin kecil.
`Tuan melarang lewat gedung itu.`
`Reaksi saat lihat logo: hilang.`
`Prabu Wicaksana muncul, Tuan hampir muntah lewat tubuhku.`
`Kata kunci: keluarga, tanda tangan, rumah sakit.`
Ia menatap daftar itu. Tidak ada kesimpulan, tetapi cukup banyak serpihan untuk membuat luka berbentuk nama.
Tuan Misterius boleh diam.
Namun Bunga sudah punya nama baru untuk dicari, pelan-pelan, tanpa membuat Tuan kembali jatuh terlalu dalam hari ini.