Hanya karena menolong seorang pria Zuraida difitnah sampai diusir dari desa dan dinikahkan dengan pria itu. Pria yang menjadikannya seorang ibu bagi kedua anak laki-laki.
Bagaimana Zuraida yang dari desa menjalani hidup di kota di tengah rasa tidak suka anak-anak tiri dan pihak keluarga suaminya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kuswara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27
Zuraida dan Arfan sudah berada di Lombok, tempat honeymoon mereka. Satu pulau yang sangat indah dan cantik yang disewanya hanya untuk mereka berdua selama honeymoon.
"Kamu suka tempatnya sayang?," tanya Arfan sembari memeluk Zuraida dari belakang.
"Suka banget Mas." Air laut berwarna hijau begitu memanjakan matanya.
"Permisi Pak, Bu, makanan sudah siap." Seorang pelayan datang membawa troli berisi banyak makanan dan minuman.
"Terima kasih."
"Ada yang lain Pak, Bu?."
"Sudah cukup. Terima kasih banyak."
"Baik, Pak, Bu, sama-sama. Saya permisi."
Makanan yang baru ditemui Zuraida sangat menggugah selera.
"Mas mau makan sekarang?." Menatap suaminya.
"Kamu sudah lapar belum?." Arfan bertanya balik.
"Belum sih."
"Bagaimana kalau kita satu kali saja..." Arfan mulai melepas hijab lalu gamis Zuraida. Zuraida tersenyum patuh. Gerakan tubuhnya membantu Arfan melepaskan semua kain yang menempel pada tubuhnya.
"Aku udah nggak tahan sayang." Arfan langsung mencium bibir Zuraida. Pelan perlahan melumat namun lambat laun berubah menjadi ciuman yang menggebu kala Zuraida membalas ciuman Arfan.
Sambil terus berciuman Arfan menanggalkan pakaiannya sendiri. Menempelkan tubuh polos mereka.
Karena tak tahan lagi pada hasrat dan gairahnya Arfan segera membawa tubuh Zuraida naik ke atas ranjang. Pemanasannya cukup sampai ciuman saja karena pada detik selanjutnya Arfan sudah memasuki Zuraida.
Meski begitu tubuh polos Zuraida tetap tak luput dari absen mulut dan lidahnya. Arfan tak membuang kesempatan untuk menikmati tubuh istrinya.
"Aaahh..."
Suara Zuraida lolos begitu saja. Ia selalu sangat menyukai permainan suami yang mendominasinya dengan kekuatan full power. Sesekali terasa sakit tapi selebihnya terasa nikmatin.
Pengalaman dan sensi yang luar biasa mampu diciptakan Arfan di tempat itu. Sangat terasa berbeda dengan percintaan sebelumnya walau sebenarnya sama-sama nikmat. Zuraida juga selalu bisa mengimbangi permainan suaminya. Arfan selalu terpuaskan oleh istrinya.
Tubuh Zuraida sudah penuh dengan jejak kepemilikan yang sengaja ditinggalkan oleh Arfan. Arfan tersenyum puas saat keduanya sama-sama mencapai puncak.
"Terima kasih sayang." Sebelum Arfan menjatuhkan tubuhnya di sisi Zuraida. Menormalkan napas yang masih memburu. Zuraida segera memeluknya.
Dirasa napas sudah kembali normal. Arfan menggendong tubuh polos Zuraida ke kamar mandi. Niatnya untuk kembali memasuki rumah Zuraida harus diurungkan Arfan sebab suara perut Zuraida. Alhasil mereka mandi saja.
Sambil mengisi perut yang sudah menghisap mereka memanjakan mata dengan melihat hamparan air laut berwarna hijau. Sangat cantik. Kali ini penampilan Zuraida berubah drastis. Jika di rumah selalu mengenakan hijab dan gamis, di kamar sekali pun jika bukan pada saat tidur. Di sini Zuraida hanya boleh mengenakan lingeri yang sudah disiapkan suaminya.
"Aku maunya kamu di rumah pun pakaiannya seperti ini sayang." Iseng sekali tangan Arfan menyentuh ujung dada Zuraida yang terlihat menonjol.
"Mas..." protes Zuraida. Bulu kuduknya berdiri. Merinding dengan sensasi dari ujung jari suaminya pada tempat sensitif.
"Di rumah ada anak-anak dan mbak mas jadi nggak leluasa seperti di sini yang ada cuma kita berdua."
"Iya juga sih sayang. Tapi di kamar bisa kan sayang?."
"Nggak bisa juga mas, Sean sama Sena suka tiba-tiba masuk. Risih juga sayanya kalau Sean, Sean melihat saya dengan pakaian kurang bahan."
Arfan tertawa.
"Lingeri yang memang seperti itu sayang." Mengusap rambut panjang Zuraida.
"Puas-Puasin aja di sini ya."
"Iya sayang."
Habis makan jeda sebentar tak beranjak dari tempat makan. Sayang untuk melewatkan pemandangan secantik ini. Arfan tersenyum menyeringai sambil merapatkan duduknya mepet pada tubuh Zuraida.
"Kita coba di sini sayang."
Belum sempat Zuraida mengiyakan atau menolak Arfan sudah menarik tubuh Zuraida duduk di atas perutnya. Mata mereka bertemu.
"Mas ini di luar," protes Zuraida.
"Nggak ada siapa-siapa sayang."
"Pelayan yang tadi itu orang mas."
Arfan kembali tertawa.
"Datang kalau kita panggil sayang. Tenang aja cuma ada kita berdua." Lingeri itu sudah lepas dari tubuh Zuraida. Tangan Zuraida berfungsi menutup kedua aset kembarnya.
"Jangan ditutup sayang," Arfan menjauhkan tangan Zuraida dari dada.
Sebentar saja Arfan dapat memandanginya takjub lalu Zuraida menutupnya lagi.
"Sayang jangan ditutup," lalu membukanya lagi. Menahan kedua tangan Zuraida supaya tetap diam. Dan mulut Arfan dengan cepat menyambar salah satunya. Memasukkannya ke dalam mulut.
"Mas..." Zuraida memekik. Tangannya diarahkan Arfan di dadanya. Sehingga tangan Arfan bebas bergerak di aset Zuraida yang satunya dan tangan sebelahnya lagi berada di paha Zuraida. Mengelusnya naik turun dari betis sampai pangkal paha. Dilakukan berulang kali.
Kali ini Zuraida yang memimpin jalannya permainan. Berada di atas tubuh suaminya yang pasrah. Menerima perlakuan Zuraida terhadap tubuhnya. Ia pun selalu menyukai cara Zuraida memainkan dan memanjakan tubuhnya.
"Kamu luar biasa sayang, aku sangat menyukainya." Kata Arfan dengan suara parau sambil memainkan ujung dada Zuraida yang menegang menantang. Hingga tubuhnya Zuraida ditarik untuk memasukkan ujung itu ke dalam mulutnya lagi. Mengemutnya seperti permen.
Suara Zuraida dan Arfan saling bersahutan. Mengekspresikan apa yang dirasanya atas tubuhnya. Kenikmatan yang tak terhingga sampai mereka mencapai puncaknya. Zuraida tak dibolehkan Arfan turun dari tubuhnya. Pria itu masih sangat menikmati tubuh Zuraida yang tak pernah bosan dinikmatinya.
"Aku mencintaimu Zuraida." Kata Arfan penuh ketulusan.
"Mas mencintaiku?." Tanya Zuraida.
"Iya, aku sangat mencintaimu Zuraida, istriku."
"Saya juga mencintaimu mas."
Mereka berpelukan. Kebahagiaan itu benar-benar mereka rasakan seutuhnya.
Di luar resort ada pelayan baru menutup telepon. Matanya memindi sekeliling.
"Kenapa?." Tanya temannya menepuk bahu.
"Ada orang yang mau membayar mahal asal memberi tahu posisi Pak Arfan dan istrinya di resort ini."
"Siapa?."
"Nggak sebut nama. Tapi semua video bisa dikirim ke nomor ini."
"Berapa mahal bayarannya."
"50 jt."
Keduanya tampak berpikir.
"Aku nggak deh." Kata teman yang bertanya tadi.
"Kenapa?."
"Aku masih mau kerja. Bulan depan istriku melahirkan."
"Cocok lah kamu ambil pekerjaan ini. Bukan menolaknya."
"Resikonya terlalu besar. 50 jt nggak ada apa-apanya sama gaji dan hidupku di sini yang udah nyaman. Kamu mau ambil pekerjaan itu?." Bertanya balik.
"Bener sih, 50 jt nggak ada apa-apanya. Tapi katanya tadi kita bisa minta lebih kalau kurang."
"Maaf, aku nggak mau. Kamu aja kalau mau."
Temanya lalu pergi.
Pelayan yang tadi mengantar makanan dibuat galau. Ambil lalu minta bayaran tinggi atau lepas begitu saja.
Kring Kring
Pelayan menjawab panggilan telepon.
"Bagaimana?."
Maaf Bu aku nggak bisa ambil pekerjaan ibu."
"Kamu boleh minta bayaran berapa pun."
"Maaf Bu nggak bisa."
"Ah sial!."
Dari seberang sana Wilona melempar asal handphonenya. Kesal karena tak ada yang bisa membantunya.
"Sudah bersabar saja." Mama menenangkan.
"Nggak bisa, Ma." Wilona bersikeras.
Bersambung