Warning! Reverse Harem!!
Ratu Ahimsa Yunanda hanya ingin menjadi siswi SMA biasa. Di tahun ajaran barunya, Yuna sudah membuat satu keputusan sederhana:
Jangan mencolok.
Jangan sampai orang lain menyadari bahwa cara berpikirnya tidak seperti kebanyakan orang.
Bagi Yuna, menjadi terlalu berbeda hanya akan membuatnya sulit diterima. Maka ia belajar menahan diri.
Menahan analisis yang terlalu dalam.
Bahkan menahan komentar-komentar yang sebenarnya sudah berdesakan di kepalanya.
Ia hanya ingin menjalani masa SMA seperti remaja lainnya.
Namun ternyata, menyembunyikan dirinya sendiri jauh lebih sulit daripada yang ia bayangkan.
Sebab tanpa disadari Yuna, justru sisi dirinya yang paling berusaha ia tutupi mulai menarik perhatian tiga orang pemuda. Dan terpaksa menghadapi satu masalah yang tidak pernah masuk dalam perhitungannya.
Bagaimana jika orang-orang yang selama ini ingin ia jauhi justru menjadi orang-orang yang paling memahami dirinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon See You Soon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kericuhan setiap kelas
Angga membalik halaman notebook-nya.
"Oke, jadi gini..."
Ia berdiri sedikit lebih tegak di depan kelas.
"Dalam waktu dekat ini, sekolah bakal ngadain class meeting."
Seketika beberapa kepala terangkat.
"Dan seluruh kelas wajib ikut berpartisipasi."
Hening sepersekian detik.
Lalu—
"YOOOOO!"
Suasana kelas langsung pecah. Beberapa siswa bahkan sampai menepuk-nepuk meja.
"Langsung bantai-bantai nggak sih kita?!" seru Michel penuh semangat.
"Yoi! Nggak sabar gue pengen lawan kakak kelas!" Rio ikut menyahut.
Melody bahkan langsung berdiri setengah badan dari kursinya.
"Ada lomba musik nggak?!"
Tangannya mengepal di depan dada. Memperagakan cara memainkan alat musik biola.
"Kalau ada, bakalan langsung gue kasih paham sama permainan biolaku!"
Keributan kembali pecah:
Ada yang sudah membicarakan kemungkinan lomba olahraga.
Ada yang mulai menyebut permainan yang ingin diikuti.
Bahkan beberapa siswa sudah membayangkan dirinya menjadi juara sebelum tahu lombanya apa.
Andito pun tak mau kalah.
"Yoi! Kalau ada basket, langsung ikutan gua!"
Semangatnya meledak begitu saja. Yang membuat Yuna langsung menutup telinga kanannya saking kerasnya.
Setelahnya—tanpa rasa bersalah sama sekali—Andito menoleh ke samping sembari tersenyum polos. Menghadap Yuna yang masih menutup telinga kanannya.
"Oh iya."
Andito menurunkan suaranya.
"Kamu mau ikutan apaan, Yun?"
Yuna menurunkan tangannya perlahan. Sebenarnya ia tidak punya pilihan yang benar-benar ia inginkan.
Olahraga?
Kemampuannya biasa saja.
Cerdas cermat?
Terlalu banyak orang yang memperhatikannya.
Lomba pidato?
Lebih buruk lagi.
Akhirnya ia hanya tersenyum kikuk.
"Mungkin... aku akan ikut pertandingan tim saja nanti."
Andito mengangguk percaya. Kemudian kembali menghadap ke depan.
Sementara itu, Angga yang sedari tadi berdiri di depan kelas hanya tersenyum.
Atau mungkin...
Senyum seseorang yang sedang mencoba memaklumi sesuatu.
Ia kemudian merogoh kotak spidol di dekat papan tulis.
Mengambil satu.
Kemudian mulai menulis tiap perlombaan yang akan ditandingkan nantinya.
BENTENGAN
Spidol berhenti. Angga menunduk sekilas untuk melihat permainan berikutnya.
LOMPAT TALI
Beberapa obrolan siswa mulai berhenti.
CATUR
SENI
Hingga ke nomor 10—nomor terakhir—permainan yang Angga tuliskan langsung membuat penghuni kelas hening.
Benar-benar hening.
PETAK UMPET
Rendy yang duduk di belakang sampai bangkit sedikit dari kursinya. Hingga terdengar suara gesekan antara kaki kursi dengan keramik.
"Bentengan?"
Ia menunjuk tulisan pertama.
"Lompat tali?"
Tatapannya berpindah ke tulisan terakhir.
Kemudian—
"PETAK UMPET?"
Rendy menatap Angga dengan ekspresi tidak percaya.
"Yang bener aje, Ga?"
Beberapa siswa ikut menggaruk tengkuknya. Rachel sampai mengusap lensa kacamatanya dengan tisu, memasangnya kembali, seolah ada embun yang menempel hingga membuat tulisan pada papan tulis membias keliru.
"Class meeting apa lomba tujuh belasan dah?"
"Petak umpet segala!"
"Ini serius?"
Angga yang berdiri di depan kelas hanya mengangkat kedua bahunya. Sembari mengangkat kedua tangannya seolah tak ikut-ikutan bertanggung jawab atas keputusan tersebut.
"Mana kutahu?"
Ia menunjukkan tulisan pada notebooknya yang tertulis sedikit miring.
"Pengumumannya gitu."
Kelas kembali riuh.
Andito sampai menggaruk kepala.
"Petak umpet..."
Ia menatap tulisan itu lama.
"Bakalan jadi lomba buat class meet?"
Yuna justru memicingkan mata ke papan tulis. Entah mengapa, satu pertanyaan langsung muncul di kepalanya.
"Tak mungkin permainan itu akan sesederhana yang kita kira..."
Andito yang tak sengaja mendengar gumamannya menoleh.
"Kenapa, Yun? Ada sesuatu?"
Yuna langsung membetulkan bingkai kacamatanya, dan berpaling.
"Tak ada. Lupakan."
Namun di dalam kepalanya, pertanyaan lain mulai bermunculan.
Karena kalau permainan itu hanya dilakukan di lapangan...
Tidak ada yang aneh.
Tapi kalau batas permainannya akan melingkup hampir satu sekolahan, itu yang akan menjadikannya sedikit merepotkan.
.....
Di kelas 11 IPA 2, reaksi para siswa justru menunjukkan reaksi yang berbeda:
Tidak ada teriakan.
Tidak ada meja yang digebrak.
Tidak ada pula siswa yang langsung menganggap pengumuman itu sebagai lelucon.
Ruangan yang dikenal sebagai salah satu kelas paling aktif dalam kegiatan ekstrakurikuler itu malah mendadak hening. Hampir seluruh penghuninya merupakan anggota Pramuka, PMR, paskibra, klub lingkungan, hingga beberapa ekstrakurikuler lain.
Mereka terbiasa menerima instruksi, membaca situasi, dan bekerja dalam kelompok.
Raizel yang berdiri di depan kelas untuk menyampaikan pengumuman hanya tersenyum formal.
"Petak umpet?"
Beberapa kepala terangkat.
"Di sekolahan?"
Raizel mengangguk pelan.
Tidak ada yang tertawa.
Tidak ada yang protes.
Justru beberapa siswa mulai saling melirik.
Rangga, sang ketua PMR, yang duduk di bangku paling depan mengangkat tangannya ke dagu.
"Ini bukannya jadi kayak simulasi evakuasi, nggak sih?"
Raizel langsung menjentikkan jarinya.
"Tepat sekali!"
Rangga menatapnya.
Raizel pun membalas tatapan itu.
"Kalau batasnya seluruh sekolahan..." Rangga mulai berpikir.
"...berarti kita bisa memanfaatkan pengetahuan tentang tata letak gedung."
Kinan yang ada di bangku sebelahnya langsung mengangguk.
"Bener banget tuh."
Ia membenarkan posisi duduknya menjadi lebih serius. Lalu menoleh ke teman-temannya.
"Kalau satu sekolah jadi arena, ini malah kayak simulasi."
Beberapa teman anggota PMR mulai mengangguk-angguk.
Rian—seorang anggota Pramuka—yang duduk di pojok kelas bahkan langsung membuka laci mejanya. Lalu mengeluarkan sebuah denah sekolahan yang sudah kusut dan usang. Yang entah sejak kapan tersimpan di dalam sana.
"Ini denah yang ku pake tahun lalu untuk memetakan area Diklatsar adik-adik kelas..."
Jemari Rian menyisir tiap koridor selatan, aula, bahkan area parkir murid dan guru seolah ingin mencari spot persembunyian yang begitu efektif.
Beberapa siswa yang duduk di sekitar bangku Rian refleks mendekat.
"Belakang aula cocok tuh. Bisa sembunyi di bawah podium yang biasa buat pertemuan."
"Gudang olahraga bisa juga nggak sih? Murid-murid cewe mana mau menelusur ke ke sana."
"Biasanya dikunci itu. Tapi nggak tahu juga kalo peraturannya diubah."
Percakapan mulai mengalir.
Pelan.
Teratur.
Tidak ada satu pun yang terdengar seperti sedang mengeluh. Justru semakin lama, semakin banyak suara yang muncul.
"Yang jadi pencari, mending dibagi beberapa tim untuk terjun ke berbagai sektor."
"Kalau jadi yang sembunyi, manfaatin pengetahuan kalian akan area-area dan sudut yang kurang bisa dilihat mata sama CCTV."
Raizel memperhatikan mereka dengan senyum tipis.
Awalnya ia mengira kelas ini akan menjadi salah satu kelas yang paling keras mempertanyakan keputusan OSIS. Tapi ternyata tidak.
Karena hampir semua orang di kelas itu mulai memikirkan hal yang sama. Bahwa permainan yang akan diagendakan sebagai class meet sudah berubah menjadi tantangan.
Dan untuk kelas 11 IPA 2...
Tantangan seperti itu justru sulit ditolak.
.....
Kelas 12 IPS 3 memiliki suasana yang sama sekali berbeda.
Bahkan sebelum seseorang memasuki kelasnya, suara tawa, bunyi sepatu yang diseret, dan percakapan para siswa sudah terdengar dari koridor.
Mayoritas penghuninya merupakan anggota ekstrakurikuler olahraga: basket, futsal, voli, atletik, hingga bela diri.
Tubuh mereka rata-rata tegap. Beberapa bahkan memiliki postur yang terlalu atletis untuk ukuran siswa SMA.
Dan ada satu hal lain yang sudah menjadi bagian dari kehidupan kelas itu.
Yaitu bau keringat.
Setiap jam pelajaran, aroma pengharum ruangan seolah harus berjuang mempertahankan eksistensinya.
Sayangnya... sering kali ia kalah telak.
Namun anehnya, tidak ada satu pun penghuni kelas yang terlihat terganggu. Seolah sudah kenal akan aroma khasnya.
Dika yang sedang menyandarkan punggung di kursinya dengan posisi agak melorot. Topi putih abu-abu yang sudah menguning warnanya sedikit miring ke kanan—menjadi orang pertama yang mengangkat suara.
"Kirain bakalan ada futsal?"
Liam yang duduk di sebelahnya langsung menoleh.
"Ya nggak bakalan lah, Dik!"
Dika mengernyit.
"Kenapa?"
"Lu mau bikin cedera? Adik-adik kelas satu dengan permainan kasar lu?"
"Mana ada?"
Dika langsung duduk tegak. Suara kaki bangku berderit singkat ketika ia bergerak.
"Gue juga bisa kali nyesuaiin gaya permainan gue."
Liam hanya menggeleng.
"Tapi..."
Sebelum perdebatan itu berlanjut, Ringgo yang duduk di atas meja dekat papan tulis justru melangkah mendekat. Tatapannya menyapu daftar perlombaan yang baru saja ditulis oleh Galang.
Ia menyipitkan mata. Memastikan dirinya tidak salah membaca.
"Bentengan?"
Beberapa kepala langsung menoleh. Lalu mendapati Ringgo yang tiba-tiba tersenyum.
"Ini bakalan seru nggak sih, Cok?"
Dika ikut mengangkat alis.
"Seru? Maksudnya?"
Tanpa sadar tubuhnya mendadak condong ke depan.
Ringgo langsung menunjuk tulisan itu.
"Maksud gue, bentengan itu pelanggarannya apaan sih?"
Ia mulai menghitung menggunakan jemarinya.
"Nggak ada hands ball."
Jari berikutnya terangkat.
"Nggak ada ball in."
Jari ketiga.
"Nggak ada out."
Ia kemudian mengangkat kedua bahunya.
"Semuanya bebas."
Ringgo tersenyum semakin lebar.
"Paling kalau nubruk terus bikin musuh jatuh doang pelanggarannya?"
Mas Jabrik (nama samaran) yang duduk di lantai pada belakang kelas sembari mengusap tongkat bisbol milik ekstrakurikulernya kepalanya langsung mendongak. Kemudian menyahut.
"Berarti fisik masih kepake tuh."
Ia bangkit. Lalu menyandarkan tongkat bisbol itu pada sudut ruangan dengan perlahan. Seolah meletakkan sebuah barang yang berharga.
"Kalau begitu..."
Ia meretakkan buku-buku jarinya.
"...beneran bakalan asik sih."
Ia berjalan menuju ke depan kelas. Matanya menyisir bangku-bangku temannya.
"Si Boreng yang jadi penjaga, soalnya dia kiper futsal. Dan si Prenges jadi defender atau back. Dan seterusnya..."
Liam langsung menatapnya dengan wajah khawatir.
"Lu mau ngapain itu, Jir?"
"Apaan?"
"Gue tahu muka lu."
Mas Jabrik malah tertawa.
"Tenang aja. Kita main bentengan kok. Bukan tawuran."
"Itu yang bikin gue takut, Kocak."
Beberapa siswa lain ikut tertawa. Tidak ada seorang pun di ruangan itu yang menyadari satu hal sederhana:
Bagi mereka, bentengan hanyalah permainan tradisional.
Tetapi bagi siswa kelas-kelas bawah yang nanti harus berhadapan dengan mereka, permainan itu mungkin akan terasa seperti olahraga kontak fisik tanpa seragam pelindung.
Sebab ketika anak-anak yang terbiasa berlari, mengejar, melakukan sprint, menjaga keseimbangan, dan membaca pergerakan lawan mulai memainkan permainan yang hanya mengandalkan kecepatan serta keberanian...
Bentengan tidak lagi terasa seperti permainan anak-anak.
Ia berubah menjadi perburuan.
Dan kelas 12 IPS 3 baru saja menemukan permainan yang mungkin paling cocok untuk mereka.
....
Bel pergantian pelajaran belum juga berbunyi. Namun koridor sekolah sudah dipenuhi suara-suara yang tidak biasa.
Bukan suara siswa berlarian.
Bukan pula suara guru yang sedang menegur.
Melainkan suara protes yang saling bersahutan dari beberapa kelas.
"PETAK UMPET?!"
"Seriusan, WOI?!"
"Ini class meeting, bukan acara tujuh belasan!"
Teriakan itu bahkan terdengar sampai ke ujung koridor lantai dua.
Di beberapa kelas, para ketua kelas yang baru saja menyampaikan pengumuman harus menghadapi tatapan tidak percaya dari teman-temannya.
Ada yang tertawa.
Ada yang mengeluh.
Ada pula yang justru mulai mendiskusikan strategi.
Namun tidak ada yang benar-benar berkata,
"Gue nggak mau ikut."
Karena bagaimanapun juga, meski permainannya terdengar konyol, permainan itu cukup menarik untuk mereka tolak.
Apalagi kalau benar-benar dilakukan dengan aturan yang sedikit berbeda dari petak umpet biasa.
Kelas 12 IPA 1.
"PETAK UMPET?!"
Suara seorang siswa dari barisan belakang bahkan membuat beberapa kepala spontan menoleh ke arahnya.
Azka yang menyampaikan pengumuman itu hanya tersenyum tanpa rasa bersalah.
Ia sebenarnya sudah menduga. Begitu pengumuman class meeting disebarkan, sekolah pasti akan ribut.
Jeremy yang duduk di bangkunya tidak ikut bereaksi berlebihan.
"Sudah kuduga."
Azka menyeringai.
"Apanya?"
"Sekolah bakal heboh gara-gara usulan lu."
Azka malah tertawa kecil.
"Ya emang kenapa?"
"Basket, futsal, voli, estafet..."
Azka menghitung menggunakan jemarinya.
"Setiap tahun itu-itu lagi."
Kemudian ia menunjuk ke arah koridor yang masih dipenuhi suara protes.
"Yang ini beda kan?"
Jaka yang mendengar pembicaraan mereka ikut menyahut.
"Tapi kalau beneran seluruh sekolah jadi arena, bukannya bakalan susah ya, Az?"
Azka menoleh.
"Gue udah mikirin planning-nya kok. Tenang aja."
Senyumnya melebar.
"Permainan ini, bukan cuma soal siapa yang paling cepat."
Ia mengetuk pelipisnya.
"Yang dicari itu siapa yang paling pintar nyari tempat."
Asna melanjutkan.
"Dan siapa yang paling pintar kabur dari pengejar."
"Exactly, Yes!"
"Dan siapa yang paling kuat menahan diri buat nggak teriak ketika ketemu."
Jaka terdiam. Kemudian mengangguk mantap.
"Betul juga."
Beberapa siswa mulai tertawa.
Miranda bahkan sudah mengambil ponselnya sembari tersenyum sinis.
"Kalau boleh satu sekolah..."
"Kayaknya gue mau sembunyi di gedung laboratorium."
"Kenapa gitu?" Asna langsung menyela.
"Anak-anak IPS sama Bahasa, mana pernah main kesana? Toh ruangan itu bakalan jadi area keunggulan kita."
Asna menatapnya.
"Kamu sudah mikirin sampai sana?"
Miranda mengangkat bahu.
"Sedikit."
"Sedikit?"
Asna hanya menghela napas.
Namun perlahan, suara-suara protes di kelas mulai berubah.
Bukan lagi tentang mempertanyakan mengapa permainan itu dipilih.
Melainkan—
"Kalau gue jadi pencari, enaknya mulai dari mana?"
"Kalau gue jadi yang sembunyi, gue udah tahu tempatnya."
Azka mendengar percakapan itu.
Senyumnya kembali muncul.
Tepat seperti dugaannya.
Tidak perlu memaksa mereka menyukai permainan itu. Cukup beri sesuatu yang awalnya terasa konyol. Biarkan mereka membayangkan sendiri bagaimana serunya.
Dan ketika imajinasi mereka mulai bekerja, mereka akan menerima tantangannya dengan sukarela.
Azka memasukkan kedua tangannya ke saku celana. Kemudian berjalan duduk ke arah bangkunya.
"Kan gue bilang..."
Ia terkekeh.
"Boring kalau cuma lomba biasa."
sebelumnya lebar lapangan