NovelToon NovelToon
Diantara Kita

Diantara Kita

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Dunia Masa Depan
Popularitas:305
Nilai: 5
Nama Author: MonAmour19

Diantara kita hanya ada kebaikan saja? tidak ada harapan untukku?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MonAmour19, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

seseorang mulai menjadi istimewa (14)

Pagi itu, matahari bersinar lebih hangat dibanding beberapa hari terakhir. Suasana SMA Bintang Nusantara kembali ramai. Di lapangan, beberapa siswa berlatih untuk upacara peringatan Hari Kemerdekaan, sementara panitia Festival Seni sibuk membawa berbagai perlengkapan ke aula. Naya baru saja memasuki gerbang sekolah ketika suara motor berhenti di sampingnya.

"Berangkat pagi juga." Naya menoleh ketika ada yang mengatakan itu.

"Kak Arga?" Arga membuka kaca helmnya sambil tersenyum tipis.

"Biasanya kamu datang sebelum aku." Naya terkekeh pelan.

"Takut telat." ucapnya membuat Arga terkekeh kecil.

"Kamu nggak pernah telat."

"Iya juga, ya." Mereka berjalan berdampingan menuju gedung sekolah. Di belakang mereka, beberapa siswa saling berbisik.

"Itu Kak Arga, kan?"

"Iya."

"Sekarang sering banget bareng Naya."

"Kayaknya emang deket."

Naya tidak mendengar bisikan itu. Namun Arga sempat menoleh sekilas, lalu kembali berjalan seperti biasa.

 

Jam pelajaran berlangsung hingga siang. Begitu bel istirahat berbunyi, Naya memilih tetap di kelas untuk menyelesaikan revisi jadwal gladi bersih.

"Nggak ke kantin?" tanya Tasya membuat Naya menoleh ke arahnya.

"Nanti aja." ucapnya

"Masih ada yang harus diperbaiki." tasya menggeleng mendengar ucapan sahabatnya.

"Kamu tuh kebanyakan kerja."

"Awas sakit lagi." Naya hanya tersenyum.

"Sebentar kok." Tak lama kemudian, seseorang mengetuk pintu kelas.

"Naya?" Seluruh isi kelas menoleh. Arga berdiri di depan pintu sambil membawa dua kotak susu dan sepotong roti.

"Eh, Kak Arga."

"Kamu belum makan, kan?" Naya tampak bingung.

"Kok tahu?"

"Tadi ke kantin nggak kelihatan." Arga mengangkat kantong plastik yang dibawanya.

"Nih."

"Buat kamu."

Ruangan mendadak sunyi. Beberapa teman sekelas Naya saling bertukar pandang. Tasya sampai menahan senyum. Naya menerima kantong itu dengan ragu.

"Kak... nggak usah repot-repot padahal ."

"Bukan repot."

"Nanti maag kamu kambuh lagi." Naya terdiam. Ia bahkan tidak ingat pernah bercerita soal maag kepada Arga. Padahal beberapa minggu lalu, saat rapat malam, ia memang sempat menolak makanan pedas karena lambungnya sedang tidak enak.

Ternyata...

Arga mengingatnya.

"Makasih..." ucap Naya lirih, sambil membawa makanan itu.

"Iya."

"Jangan lupa dimakan." Arga pun pergi begitu saja. Baginya, itu hanyalah perhatian kecil.

Namun bagi Naya...

Perhatian itu kembali membuat hatinya berdebar dan lagi lagi dia berharap.

 

Sore harinya, latihan di aula berlangsung cukup melelahkan. Panitia harus membantu para penampil berpindah panggung sambil memastikan seluruh perlengkapan berjalan sesuai jadwal. Saat sedang membawa tumpukan map, salah satu kertas terjatuh tertiup oleh angin.

"Nay!" seru Steven.

"Kertasnya!" Belum sempat Naya mengejar, Arga lebih dulu berlari dan menangkap lembaran itu sebelum masuk ke selokan.

"Nih." Arga menyerahkannya sambil tersenyum.

"Hampir aja." Naya menghela napas lega.

"Untung Kakak cepat."

"Kalau hilang, bisa revisi lagi." Arga terkekeh mendengarnya.

"Makanya lain kali jangan kebanyakan bawa sendiri." Ucapan itu terdengar seperti teguran.

Namun nadanya tetap lembut, Naya menatap Arga dengan diam, Arga mungkin tidak akan tahu perasaannya yang semakin hari semakin membuatnya berharap.

 

Dari kejauhan, Talia menyaksikan semua itu. Ia sedang membantu bagian dekorasi ketika tanpa sadar pandangannya terus mengikuti Arga. Beberapa hari terakhir, ia mulai melihat pola yang sama.

Arga selalu memperhatikan Naya. Hal-hal yang bahkan tidak disadari oleh Naya sendiri. Talia menggigit bibir bawahnya pelan. Ia masih mencoba meyakinkan dirinya bahwa semua itu hanyalah kebiasaan Arga.

Namun semakin lama...

Semakin sulit baginya untuk mempercayai pikirannya sendiri.

 

Menjelang pulang sekolah, hujan kembali turun. Tidak terlalu deras. Hanya gerimis yang membasahi halaman. Naya berdiri di bawah teras sambil menunggu hujan reda.

"Kamu nunggu?" Suara Arga kembali terdengar.

"Iya."

"Hujannya belum berhenti." jawab naya

Arga melihat ke langit sejenak. Lalu tanpa banyak bicara, ia membuka tasnya dan mengeluarkan payung lipat berwarna hitam.

"Nih." Naya menggeleng cepat.

"Lho?"

"Kakak pakai aja."

"Rumahku deket."

"Nggak apa-apa." Arga menyodorkan payung itu.

"Aku masih bisa lari ke parkiran."

"Tapi..."

"Nggak usah dipikirin." Naya akhirnya menerima payung itu.

"Makasih..."

"Sampai besok." Arga berlari kecil menuju parkiran tanpa menunggu jawaban. Naya berdiri mematung beberapa saat. Tangannya menggenggam gagang payung itu erat, Tasya yang sedari tadi melihat dari belakang hanya menghela napas panjang.

"Nay..." panggilannya membuat Naya menoleh.

"Hm?"

"Kamu yakin masih kuat buat nganggep semua ini biasa?" Naya tersenyum tipis. Tatapannya masih tertuju pada sosok Arga yang semakin jauh.

"Aku justru takut..."

"Ternyata semua ini memang biasa." Kalimat itu menghilang bersama suara hujan yang kembali turun perlahan.

Sementara di sisi lain halaman sekolah, Arga mengenakan helmnya tanpa sedikit pun menyadari bahwa perhatian-perhatian kecil yang ia anggap sederhana telah menjadi alasan seseorang terus berharap.

Dan harapan...

Sering kali tumbuh dari hal-hal yang bahkan tidak pernah kita sengaja berikan.

......................

soon to bee

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!