NovelToon NovelToon
Lux In Winter

Lux In Winter

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa
Popularitas:374
Nilai: 5
Nama Author: Ryn Takumi

Kinan harus memilih antara dua pilihan yang ada. Apakah dia akan terus bersembunyi dalam musim dingin yang damai atau berani melangkah menghadapi kenyataan yang sempat ia sangkal dan merasakan sesuatu yang baru. Karena terkadang, kita harus kehilangan segalanya agar kita bisa benar-benar menemukan jati diri.

Lux in Winter yang akan berisi 40 chapter ini, bukan hanya sekedar kisah tentangnya semata. Ini adalah sebuah perjalanan panjang melepaskan, mencintai dan menemukan cahaya di tempat yang paling tidak terduga.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ryn Takumi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 3 - Lembayung

Habis gelap terbitlah terang. Setidaknya begitulah yang terbesit di pikiran Kinan, senyuman cerah di wajahnya dan semangat penuh mengawali paginya, seolah semua mimpi buruk serta kenangan pahit yang datang kembali menggali luka lamanya hanya sekedar menyapanya.

Semua hal di dunia ini bisa datang dan pergi lalu menghilang begitu saja. Orang lain serta seisi dunia tak mau tahu yang ada dan sedang terjadi di dalam hatinya, karena yang terpenting adalah pagi ini Kinan masih ada, masih mampu berdiri sendiri dengan kedua kakinya dan juga masih sanggup memancarkan sinarnya.

Kinan melangkah perlahan dan bersiap melihat kenyataan dunia dari pintu depan rumah. Ia terdiam sejenak, sorot matanya menatap dari ujung ke ujung hingga akhirnya ia menghela napas panjang sembari meregangkan kedua tangannya ke atas.

"Ahhh, kampungku yang damai. Suasana dan hawa pagi hari emang terbaik. Belom ada kebisingan, udara masih terasa sejuk, tenang dan..."

Bahkan sebelum suara hati Kinan sempat menyelesaikan satu lantunan dari sekian nikmat yang sedang ia rasakan, terdengar kokokan dari ayam-ayam tetangga. "Nyanyian merdu yang selalu berhasil memberi semangat pagi."

Kinan langsung beranjak mengambil sapu lidi yang ada di pojok teras rumahnya. Tampak cukup banyak gundukan daun-daun gugur berserakan di semua sisi halaman, yang disebabkan oleh hembusan angin kemarin malam yang kencang di puncak musim kemarau.

"Kayaknya mulai siang nanti dan seterusnya bakal berasa panas banget. Dan yah, liburan kuliah cuman sisa beberapa hari lagi." Kinan kembali menghela nafas panjang, mencoba memantapkan hatinya. "Tapi harus tetep semangat. Ayo, Kinan. Ayo!"

Ia selalu menyemangati dirinya sendiri sebelum memulai melakukan apapun agar tak ada rasa malas yang masih tertinggal. Begitulah salah satu hal yang sering ibunya katakan kepadanya sewaktu masih kecil.

Kinan mulai menyisir daun demi daun kering dari ujung ke ujung. Namun, terkadang beberapa daun berguguran kembali. Ia terdiam, menatap daun-daun itu sejenak sembari menghela napas lalu kembali melanjutkan aktivitasnya. Hingga beberapa saat, tampak satu tumpukan tinggi daun kering di depannya.

"Akhirnya, halaman udah bersih, sekarang tinggal merapikan tanaman di depan," ucap Kinan sembari menyeka dahi dan pelipisnya yang dibasahi keringat.

Bangun pagi, mencuci piring kotor, mengepel lantai, menyapu halaman serta membantu pekerjaan ibunya sudah menjadi rutinitas baginya. Kinan adalah orang yang suka dengan kebersihan serta memperhatikan kerapian. Ia termasuk yang tak tahan jika ada sesuatu yang berantakan serta berserakan di depan matanya.

Selanjutnya, seluruh daun kering itu Kinan buang ke tempat sampah. Lalu setelah urusannya dengan tumpukan daun kering selesai, ia beranjak mengambil sebuah gunting tanaman dan bersiap merapikan semak kecil yang ada di depan rumah.

Di sela aktivitasnya, kedua matanya memperhatikan beberapa orang yang sedang lari pagi serta ibu-ibu yang sedang berbelanja di tukang sayur keliling. Jalan mulai terasa hidup dan ramai dengan orang-orang berlalu-lalang. Kinan berhenti sejenak, lalu kembali memangkas daun yang mulai memanjang tak beraturan.

Di seberang jalan tampak beberapa anak yang duduk di atas sepedanya masing-masing. Terdengar obrolan-obrolan ringan dan canda tawa mereka. Kinan menengok dan anak-anak itu melambaikan tangannya.

"Pagi, Mbak Kinan!" seru salah satu anak.

"Pagi," jawab Kinan sembari tersenyum kecil dan membalas lambaian itu. "Kalian mau kemana rame-rame gini? Mana masih pagi."

Salah satu anak cewek menjawab. "Mau sepedaan ke taman, Mbak Kin. Mumpung hari ini libur."

"Ohhh."

Kemudian terdengar salah satu anak mulai menggerutu dikarenakan ada satu teman mereka yang belum datang. "Angga kemana sih? lama banget. Kan janjiannya jam enam."

"Tau deh."

"Mungkin aja dia belum bangun. Apa kita samperin aja ke rumahnya?"

Tak berselang lama, anak itu akhirnya datang lengkap dengan raut wajah yang tak berdosa. "Ayo berangkat. Keburu panas nanti."

"Kemarin kita janjiannya jam berapa? Dan sekarang udah jam berapa?"

"Hehe... maaf, maaf. Tadi perutku mendadak mules. Jadinya ya, ke kamar mandi dulu bentar," ucap Angga tersenyum sambil menggaruk kepalanya.

"Huuuu..." Semua anak serentak menyorakinya.

"Yaudah, ayo kita berangkat!"

"Ayo, ayo."

"Kami duluan, Mbak Kin," ucap salah satu anak berpamitan sambil melambaikan tangannya disusul anak-anak lainnya.

"Kalian hati-hati di jalan. Awas banyak kendaraan lho. Kalo mau nyebrang tengok kanan kiri dulu," tutur Kinan sembari membalas lambaian-lambaian itu dengan penuh senyuman. Setelah mereka semua menghilang dari pandangannya, sesaat kemudian Kinan tertegun sejenak serta ekspresinya sedikit berubah.

Ia ikut merasa senang melihat anak-anak itu bisa bermain serta menghabiskan waktu bermain bersama teman-temannya penuh tawa. Namun disaat yang bersamaan, Kinan merasa ada sesuatu yang bergejolak di dalam hati, sesuatu yang pernah terbesit di dalam ingatan terdalamnya. Pikirnya, memang seperti itulah masa kecil seharusnya. Bebas bisa kemana saja, punya banyak teman dan waktu untuk bermain bersama.

Kinan mencoba membuyarkan lamunannya sendiri dan melanjutkan pekerjaannya agar segera selesai. Akan tetapi, tiba-tiba terdengar langkah anak kecil yang berlari mendekat ke arahnya.

"Mbak Kin. Mbak Kin."

Kinan menoleh dari arah asal suara itu, lalu ia tersenyum ketika melihat dan tahu siapa seorang anak kecil yang memanggil namanya dengan penuh semangat.

"Mbak Kin, coba tebak. Kemarin aku di kelas dapat peringkat berapa?" seru Elka, anak tetangga yang cukup sering datang ke rumah Kinan untuk dibantu mengerjakan PR atau sekedar pindah tempat belajar.

"Hhmm... sebentar, biar Mbak tebak." Kinan berpura-pura sedang berpikir serius.

"Berapa? Hayooo, berapa?"

"Paling Sepuluh. Atau mungkin...," jawab Kinan dengan sengaja menunda sambil tersenyum jahil.

Elka sudah tertawa duluan sebelum menimpali jawaban Kinan. "SALAAAAAH!"

"Terus berapa dong?"

"Kali ini aku dapat peringkat tiga," jawab Elka dengan bangga. "Dan ayah bilang, kalau aku nanti di kelas empat bisa dapat peringkat tiga besar lagi, katanya aku mau dibelikan sepeda baru."

"Widih..."

"Hebat, kan aku?"

"Hebat pol," ucap Kinan sambil mengacungkan kedua jempolnya sembari senyuman tak lepas dari wajahnya.

"Selain aku selalu dengerin dengan baik penjelasan Bu guru di kelas, itu semua juga berkat sering diajarin sama Mbak Kinan."

Kinan hanya bisa tersenyum tanpa mengeluarkan sepatah kata pun. Ia terharu karena merasa hal kecil yang ia lakukan ternyata mempunyai dampak baik untuk orang lain, apalagi untuk anak kecil seusia Elka.

"Udah ah, aku mau pulang dulu. Dadaaa, Mbak Kin."

Elka mulai berlari melewati Kinan dengan wajah sumringah sambil melambaikan jemarinya. Kinan masih terdiam, namun kali ini ia tersenyum bangga dalam hati. Meskipun sederhana, momen-momen kecil seperti itu kadang berhasil membuat hati dan pikirannya lebih damai.

Kinan tak pernah mau serta tak pernah ingin merasa iri dengan kehidupan orang lain, karena Kinan percaya bahwa ia juga pasti akan punya kebahagiaannya sendiri. Ia begitu yakin dengan hal itu, yakin bahwa kebaikan akan selalu menciptakan sesuatu yang positif bagaimanapun bentuknya bahkan hanya dalam pikiran. Tapi, dibalik semua luka yang ia simpan sendiri dalam diamnya, dunia tetap mengenalnya sebagai Kinan yang kuat dan ramah.

Matahari mulai mengintip tanpa malu-malu. Dan setelah urusan dengan di halaman depan selesai, Kinan beranjak masuk ke dalam rumahnya. Dari balik tirai dapur, tampak ibunya yang sudah menyiapkan sarapan sambil sesekali melirik ke arah jam dinding dengan ekspresi yang sedikit gusar.

"Nak, ini sarapan sudah ibu siapkan. Ada telur dan tempe goreng, tumis kangkung dan juga sambal tomat. Jangan lupa makan dulu sebelum belajar nanti."

Kinan hanya mengangguk pelan.

"Oh, iya. Dan cucian basah di sebelah mesin cuci tolong nanti dijemur ya," pinta ibunya sambil menenteng tas belanjaannya.

"Iya, Bu." Mata Kinan mengikuti gerak ibunya yang terlihat tergesa-gesa. "Ibu mau pergi kemana? Mau belanja ke pasar? Tumben, biasanya agak siangan."

"Iya. Ada urusan mendadak dengan Pak RT, makanya ibu mau ke rumahnya dulu. Setelah itu sekalian ibu langsung ke pasar buat beli stok sayur minggu ini."

"Ohh..."

"Jadi, mungkin nanti ibu pulangnya agak siangan. Kamu mau titip sesuatu di pasar?"

"Gak ada, Bu."

"Yaudah, kalau gitu Ibu berangkat dulu."

"Hati-hati, Bu," ujar Kinan dengan lembut.

Begitu ibunya keluar dan menutup pintu, Kinan seolah membatu sejenak. Yang terdengar hanyalah suara jam dinding berdetak pelan yang membuatnya sadar bahwa rumah ini terasa begitu sepi tanpa kehadiran ibunya. Meski begitu, Kinan menghela napas dalam-dalam dan meneguhkan semangat untuk menjalani harinya.

Ia langsung melangkah ke belakang rumah sambil membawa keranjang yang penuh berisi cucian basah. Jemuran dari tali yang terbentang antara dinding rumah dan pohon mangga yang akarnya sudah menancap kokoh bahkan sebelum Kinan lahir.

Kinan memutar beberapa lagu pop lokal dari ponselnya, lalu mulai menjemur baju-baju basah itu satu persatu di bawah sinar matahari yang sudah mulai terik dan angin semilir yang berhembus hangat. Alunan musik mendayu pelan, memecah keheningan dan kesendiriannya di pagi ini. Kinan tak ikut bernyanyi, hanya sesekali bergumam mengikuti lirik, membiarkan pikirannya sedikit beristirahat diantara rutinitasnya.

Setelah semua cucian sudah dijemur dengan rapi, Kinan menepuk-nepuk telapak tangannya, membersihkan sisa-sisa air dan buih yang menempel. Lalu ia membawa keranjang yang sekarang sudah kosong dan beranjak masuk kembali ke dalam rumah. Kemudian ia memutuskan untuk duduk di kursi dapur, sambil menunggu sejenak hingga keringat di tubuhnya hilang sepenuhnya.

Beberapa saat berlalu, Kinan kini sudah duduk santai di sofa ruang tamu membelakangi jendela dengan laptop, beberapa tumpuk buku serta tak lupa sepiring nasi lengkap dengan lauk dan sayur di atas meja. Namun sebelum menyentuh sarapannya, ia membuka laptop dan menyalakannya.

Sembari menyuapkan nasi perlahan ke mulutnya, layar laptop mulai menampilkan tab-tab modul, bahan ajar serta contoh rancangan pembelajaran untuk praktik mengajarnya di semester ini. Sesekali Kinan menggulir halaman demi halaman, lalu kembali mengunyah makannya dengan tenang.

Pagi menjelang siang kali ini juga tak ada sesuatu yang terasa istimewa. Hanya sebuah rutinitas yang sudah akrab dengan diri Kinan selama liburan dan mungkin, sedikit demi sedikit sudah menjadi bentuk sederhana dari perjuangannya.

Setelah suapan terakhirnya, Kinan melirik ke arah ponselnya yang berdering. Ada sebuah panggilan tekepon dan nama Mika yang terpampang di layar. Kinan segera mengangkat panggilan itu.

"Halo, Mik?"

"Nanti siang ke perpustakaannya jadi, kan?" tanya Mika memastikan.

"Jadilah. Emang kenapa?"

"Aku mau ke salon dulu ditemenin sama Alya. Jadi, nanti sepertinya agak telat sedikit datengnya." Suara Mika terdengar ceria, diiringi cekikikan Alya dan suara gaduh di latar belakang.

"Ah, oke kalo gitu," jawab Kinan sambil tertawa kecil mendengar suara kedua sahabatnya.

"Hehe... Makasih Kin. Nanti aku bawain sesuatu deh buat kamu."

"Hmm. Siap."

"Oh, iya. Kata Alya, jangan lupa bawa buku yang dimintanya buat dipinjam nanti."

"Udah aku siapkan kok."

"Oke kalo gitu. Bye," sahut Mika dengan semangat, lalu menutup panggilan telepon.

Kinan menaruh kembali ponselnya di atas meja, menghela napas ringan sembari merebahkan lurus badannya. Terdengar riuh jalan di depan rumahnya terasa semakin banyak kendaraan berlalu-lalang, menandakan dunia terus berjalan dan mungkin saja ada hal-hal tak terduga yang mungkin menantinya.

Waktu berlalu begitu saja. Beberapa kali Kinan juga sampai ketiduran sebentar, membiarkan laptopnya masih dalam keadaan menyala redup. Dan saat ini, Kinan berbaring miring sembari satu tangannya menopang kepalanya. Semua hal perlu ia lakukan sudah selesai dan hanya melamun kosong menghabiskan waktu. Lalu kemudian pintu berderit pelan membuat Kinan terbangun dalam posisi duduk.

"Assalamualaikum," salam lembut ibunya terdengar, diiringi langkah yang pelan

"Waalaikumsalam, Bu," jawab Kinan sembari menatap ibunya dengan penuh senyum. "Kayaknya sedikit lebih banyak belanjaannya dari minggu kemarin."

"Iya. Ibu rencananya besok mau nyoba masakan baru. Enak deh pokoknya."

Ibu Kinan membawa satu kantong plastik besar penuh belanjaan dan juga di tas belanja lainnya, lalu ditaruhnya di atas meja sambil mengusap dahinya.

"Tadi belanjaan Ibu hampir jatuh semua gara-gara kantong plastiknya tiba-tiba sobek. Mungkin karena belanjanya kebanyakan," ucapnya sambil duduk di sebelah Kinan. "Untung ibu selalu bawa kantong plastik lain dari rumah."

"Loh... terus gimana?" tanya Kinan dengan nada penasaran.

"Yah, syukur saja tadi ada anak muda baik hati yang nolongin Ibu, bantu ambilin belanjaan Ibu yang jatuh. tak cuma baik, tapi ia juga cakep anaknya."

"Terus? Gak sekalian ibu tanyain siapa namanya, dimana rumahnya gitu?" goda Kinan sambil tertawa lepas.

"Sayang sekali Ibu cuma sempet berterima kasih. Anaknya buru-buru pergi, jadinya tidak sempat tanya. Tapi... sepertinya Ibu pernah melihatnya beberapa kali sebelumnya deh, tapi Ibu lupa kapan dan dimananya," ujar Ibunya, mencoba mengingat-ingat kembali perihal anak muda itu.

"Aduh, ibu ini sok kenal." Kinan terkekeh sembari menggelengkan kepala.

"Kamu ini dibilangin tak percaya," kata ibunya sembari terkekeh juga.

Kinan merasa sangat bahagia saat melihat ibunya tersenyum dan tertawa. Wajah yang selalu berhasil memberi warna dalam hidupnya, meski kemudian pandangannya mendadak kosong sesaat seakan ada sesuatu di hatinya yang abstrak yang tak mampu ia ungkapkan dengan kata-kata atau enggan ia utarakan.

1
Rey
Panjang bener chapter kali ini 😄
Crestfall
Mika favoritku sih
Crestfall
👍👍👍
Rey
Cukup menarik. sepertinya aku bakal stay ngikutin ini
Ryn Takumi: Makasih, Kak.
Jangan bosen bacanya 🤭
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!