Analepsis : Pertemuan yang mendatangkan perpisahan
Ini bukan soal mempertaruhkan waktu di usia muda tuk masa depan. Ini hanya tentang siapapun yang berusaha untuk bertahan hidup jauh lebih baik lagi.
Jika kita bisa sedikit menghargai kehadiran orang lain di hidup kita. Mungkin batin tidak akan merasa perih untuk merasakan penyesalan, karena sulit mempertahankannya tuk tetap menunggu esok hari.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon aytysz_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Analepsis ^ 28
Di mana pun diri ini berada, jemari lentiknya akan terus menari diatas layar handphone ataupun keyboard komputer. Untuk tetap update tentang artis perusahaan, agar para penggemar mereka tidak salah menerima informasi dari para pembenci.
Napas pendek keluar dari mulut Yumna kini menyenderkan kepalanya pada dinding bikin toilet, dengan ibu jari yang naik turun untuk membaca satu persatu komentar dari para penggemar.
Banyak dari mereka yang menulis kalimat dukungan untuk Malla. Ataupun memuji kecantikan Malla. Tapi satu kalimat dari akun anonim membuat bibir Yumna menipis. Dan detik itu juga Yumna menegakkan punggungnya. Menatap lurus pintu bilik.
"Kenapa dia tidak mengirim ku pesan? Apa dia tidak merasa bersalah sama sekali soal kejadian semalam? Pergi sendiri tanpa mengajak ku." Gerutu Yumna. Menahan kesal saat kejadian semalam terlintas lagi di kepalanya. Apalagi, pertemuannya dengan sang ayah membuat benak Yumna mendidih.
"Yumna__" suara dari bikin toilet membuat Yumna kening Yumna mengerut sekilas. "Keluarlah jika kau sudah selesai."
Tanpa menunggu kalimat itu di ucapkan dua kali, Yumna menampakkan diri untuk temannya yang terlihat sangat melas sekali. "Ada apa dengan wajah mu itu?" Tanya Yumna. Melangkah kearah wastafel untuk mencuci kedua tangannya.
"Sepertinya pekerjaan kita akan semakin banyak." Ucap Vallen kini berdiri disamping Yumna. Menatap dirinya sendiri dibalik pantulan kaca besar di depannya, sembari merapikan rambut panjangnya.
"Jika atasan memberi kita bonus itu tidak masalah, bukan?" Jika menyangkut realistis Yumna akan berpihak pada Vallen. Karena Yumna sendiri pun juga tidak mau bekerja di bawah tekanan yang membuat mentalnya hancur, dan uang gaji itu tidak bertambah.
"Benar, jika gaji kita tidak masalah itu akan aman." Setuju Vallen dengan kepala mengangguk kecil. "Ngomong-ngomong..."
Vallen diam sejenak, menatap Yumna dari samping. "...siapa pria yang kau posting semalam. Itu terlihat tidak asing. Tapi aku tidak tahu siapa orangnya. Apa aku kenal?"
Yumna diam, tenggorokannya merasa kering begitu saja. Tanpa membalas tatapan Vallen, kini Yumna melangkah keluar toilet yang diikuti Vallen dengan penuh rasa ingin tahu.
"Siapa? Kenapa kau diam? Apa benar aku mengenalnya?" Vallen terus mencerocoskan perkataannya kepada Yumna yang sesekali menyipitkan kedua matanya. Karena Vallen berkata tepat di telinga Yumna. Sedikit meringis, tapi tidak bisa memberi tanggapan untuk Vallen.
Hingga tubuh mereka dikejutkan akan seseorang yang baru saja keluar dari dalam toilet. Spontan membuat Yumna maupun Vallen mengangguk sekilas untuk menyapa.
Dan dengan cepat Yumna melangkah pergi lebih dulu, karena tidak lagi mau mendengar ucapan Vallen yang mungkin akan terus membahas siapa pria itu. Sedangkan Vallen sendiri, yang kini masih berada di tempat. Dengan kening bergelombang samar.
Melihat setiap inci wajah pria di depan matanya. Membuat Vallen sekilas memiringkan sedikit kepalanya, dengan rasa janggal yang menyelimuti jiwanya. Sebelum Vallen mengambil handphonenya disaku belakang celananya.
"Apa ini dirimu?" Tanpa ragu ataupun malu, Vallen mengatakan kalimat itu pada Yudha. Diam melihat satu postingan yang juga sempat Yudha lihat semalam.
"Jika pun wajah itu terlihat tidak begitu jelas. Tapi dia sangat tampan, bukan?" Penuh percaya diri. Yudha mencetuskan kalimat, yang langsung membuat wajah Vallen terlihat masam.
"Seharusnya aku tidak bicara dengan mu." Sesal Vallen kini menyimpan handphonenya kembali ke tempat semula. Menatap Yudha dengan sorot mata muak.
Waktu kerja yang belum usai, Yumna menyempatkan diri untuk singgah di mini caffe milik temannya. Dan Yumna juga membiarkan Vallen ikut dengannya. Karena Vallen terus mencari alasan untuk tidak tinggal di tempat kerja bersama anggota humas lainnya.
Entah apa alasannya, Vallen belum bisa sepenuhnya menerima rekan-rekan kerja lainnya. Padahal bagi Yumna sendiri, dua wanita itu tidak seburuk itu. Mereka selalu bersikap baik dengan Yumna maupun Vallen. Tapi kenapa Vallen masih menjaga jarak dengan mereka?
Sebenarnya Yumna ingin tahu alasan itu. Tapi sebisa mungkin Yumna menahan dirinya sampai Vallen sendiri yang mengatakannya. Karena Yumna tidak mau membuat Vallen meresa tertekan akan ucapannya.
"Sepertinya aku tahu tempat ini?" Rendah Vallen melihat bangunan sederhana tapi sangat nyaman
"Kau sempat bilang padaku jika belum pernah datang ke daerah seberang jalan perusahaan. Karena jarak disini dengan rumah mu sangat memakan waktu. Tapi kau tahu tempat ini." Heran Yumna melihat Vallen.
"Tahu bukan berarti aku pernah datang kesini. Aku hanya melihatnya di media sosial seseorang. Jangan bilang jika pemilik tempat ini orang yang aku kenal." Tanpa menunggu tanggapan dari Yumna. Vallen dengan berani masuk ke dalam dengan pandangan meliar yang tidak mendapati siapapun di dalam tempat itu.
Dan sikap Vallen tidak membuat Yumna merasa penasaran. Karena jikapun Vallen mengenal siapa pemilik tempat itu, adalah hal yang sangat wajar. Yumna tidak lagi heran dengan hal seperti itu.
"Kenapa tidak ada pengunjung disini?" Memberi komentar itu hal yang begitu jumlah bagi seorang manusia. Apalagi saat mengunjungi tempat yang tidak banyak pelanggan.
"Bukankah kita juga sama seperti pengunjung?" Yumna meralatkan perkataan Vallen.
"Bukan itu yang aku maksud. Hanya saja, kenapa tempat ini sepi?" Sedikit menurunkan nada bicaranya, Vallen duduk di hadapan Yumna. Karena Vallen tidak mau pemilik tempat itu mendengar perkataannya.
"Menjalankan bisnis tanpa investor itu tidak mudah seperti kau membalikkan halaman buku." Jelas Yumna yang tidak mendapat elakkan dari Vallen.
Karena itu memang benar. Memulai bisnis tanpa memiliki dukungan ataupun teman yang bersedia mempromosikan. Itu akan sulit membuat bisnis itu berjalan mencapai kejayaan.
"Tapi menurut ku__" kepala Vallen mengangguk kecil, pandangan mata masih mengamati setiap sudut tempat itu. "Tempat ini sangat nyaman. Apa karena tidak banyak orang?"
"Itu salah satu alasannya." Suara dari pemilik tempat itu, yang baru saja muncul. Membuat Yumna maupun Vallen mengeluh ke arah seorang pria dengan tampang datarnya. "Kenapa orang yang datang kesini selalu bilang, jika tempat ini sangat nyaman."
"Apa aku mengenal mu?" Cepat Vallen yang merasa familiar dengan wajah pemilik tempat itu.
"Apa aku pernah bertemu dengan mu?" Bukannya memberi jawaban. Pria itu malah melempar pertanyaan untuk Vallen, yang menipiskan bibirnya sebentar.
Apalagi saat Vallen ingat siapa nama pria itu, dan bagaimana tingkahnya dulu saat masih berada di bangku sekolah. Semakin membuat Vallen menampilkan wajah masamnya.
"Kalian saking kenal?" Tanya Yumna, melihat Vallen dan pria itu secara bergantian.
"Kita berada di sekolah yang sama." Balas Vallen dengan sedikit malas. Karena Vallen harus melihat pesan baru yang datang bertamu menyapa handphonenya.
"Benarkah!" Antusias Yumna begitu sangat jelas. Itu membuat sangat pria memilih untuk membuatkan minuman untuk mereka. Padahal Yumna dan Vallen belum mengatakan pesanan mereka.
"Jika kau satu sekolah dengannya. Berarti kita juga satu sekolah. Tapi kenapa aku tidak pernah melihat mu?" Yumna menimpalkan perkataannya. Menatap Vallen yang kini menyimpan handphonenya di atas meja, sembari membalas tatapan dari Yumna.
"Mungkin dirimu yang tidak pernah keluar kelas."