NovelToon NovelToon
PENGHIANAT

PENGHIANAT

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Dunia Masa Depan / CEO
Popularitas:391
Nilai: 5
Nama Author: nila edrina

Cinta pertama seharusnya indah.

Tapi milik Lay Amelty Ranza berubah jadi neraka.

Ahber Mazchar, ketua OSIS paling dingin, bilang dia cinta Lay.
Andkay, si badboy posesif, berteriak "LO HANYA MILIK GUE!"
Eskay, sahabat terbaik Ahber, tiba-tiba mendekati Lay diam-diam.

Tapi di balik senyum mereka... ada darah.

15 tahun lalu, keluarga Ahber membantai satu keluarga di Gudang B-09.
Sekarang balas dendam itu datang. Melalui cincin perak bergambar burung.

Cincin pertama: Milik Burung, si pembunuh.
Cincin kedua: Milik Nayla, adik yang pura-pura mati.
Cincin ketiga: Sekarang ada di tangan Ahber.

Di dalamnya tersimpan 3 Triliun dan rahasia yang bisa menghancurkan 2 keluarga besar.
Keluarga Mahesa dan Keluarga Dirga mengincar mereka.
Dan ada "A"... dalang yang mempermainkan semuanya dari awal.

Lay diculik. Dikhianati. Dipaksa memilih.

Sampai pesan terakhir itu masuk ke HP Ahber:
"Maaf gue salah."

Salah mencintai?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nila edrina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 35

l

BAB 35

TARGET BERIKUTNYA

Pagi itu terasa jauh lebih mencekam daripada biasanya.

Ahber masih berdiri di depan rumahnya sambil menatap layar ponsel. Foto Lay yang dikirim dari nomor misterius membuat dadanya dipenuhi amarah sekaligus ketakutan. Di foto itu Lay sedang keluar dari minimarket, membawa kantong belanjaan, dan sama sekali tidak menyadari ada seseorang yang memotretnya dari balik kaca mobil.

Jantung Ahber berdetak tidak karuan. Tangannya gemetar.

"Mereka benar-benar mengawasiku..." bisiknya. Suaranya pecah.

Ia menarik napas panjang, mencoba menenangkan diri, lalu segera menghubungi Lay.

"Nomor yang Anda tuju sedang tidak dapat dihubungi."

Dahi Ahber mengerut. Ia mencoba lagi.

Tetap gagal.

Keringat dingin mulai mengalir di pelipisnya. Pikiran-pikiran buruk berputar di kepalanya. Bagaimana kalau Lay sudah diculik? Bagaimana kalau ini semua jebakan untuk memancingnya keluar?

Tanpa membuang waktu, ia berlari menuju garasi dan menyalakan motornya. Mesin meraung.

"Aku harus menemukan Lay."

Dengan kecepatan tinggi, Ahber melaju keluar dari perumahan. Matanya terus menyapu setiap sudut jalan, mencari keberadaan Lay.

---

*Di sisi lain...*

Lay sedang berada di sebuah minimarket untuk membeli beberapa kebutuhan rumah. Ia memilih sabun, beras, dan beberapa sayur. Wajahnya tampak tenang. Sejak pagi ia merasa sedikit tidak enak hati, tapi ia menganggap itu hanya karena kurang tidur.

Ia sama sekali tidak menyadari bahwa sejak keluar dari rumah, sebuah mobil abu-abu terus mengikutinya dari kejauhan. Mobil itu parkir tidak terlalu dekat, tidak terlalu jauh. Cukup untuk memantau setiap gerak-geriknya.

Di dalam mobil itu duduk dua pria. Satu menyetir, satu lagi memegang ponsel dan mencatat.

"Target belum curiga," lapor pria di kursi penumpang.

"Jangan bertindak sekarang," jawab suara dari telepon. "Perintah bos hanya mengawasi."

Pria di kursi belakang menatap foto Lay di tangannya. Foto itu sudah sedikit kusut karena sering dipegang.

"Kalau Ahber tetap keras kepala..." gumamnya pelan, "...barulah kita bergerak."

Ia tersenyum tipis. Senyum yang tidak punya kehangatan sama sekali.

---

*Sementara itu, di pinggir kota...*

Bram dan Arka sudah lebih dulu tiba di sebuah rumah sederhana. Cat temboknya mengelupas. Halaman depannya penuh rumput liar. Rumah itu tampak tua dan tidak terawat selama bertahun-tahun.

"Ini tempat Pak Seno?" tanya Arka, suaranya ragu.

Bram mengangguk. Matanya menyipit mengamati sekitar. "Kalau beliau masih di sini."

Arka menelan ludah. Ia sudah lima tahun tidak bertemu gurunya itu. Dulu Pak Seno adalah penyidik paling disegani di kepolisian. Sampai akhirnya menghilang setelah kasus Andkay ditutup paksa.

Tok...

Tok...

Tok...

Tidak ada jawaban. Hanya suara angin dan daun kering yang bergesekan.

Saat hendak pergi, engsel pintu berderit.

Pintu terbuka perlahan.

Seorang pria tua berusia sekitar enam puluh tahun muncul dengan tongkat di tangan kirinya. Rambutnya sudah memutih semua. Punggungnya sedikit bungkuk. Tetapi sorot matanya... masih setajam dulu. Mata yang bisa membaca kebohongan hanya dari satu kedipan.

"Arka..." suara itu serak, tapi tegas.

Arka tersenyum tipis. Ada lega di wajahnya. "Pak Seno."

Pria tua itu memandang Bram dari atas sampai bawah, menilai. Lalu tanpa banyak kata, ia membuka pintu lebih lebar.

"Aku sudah menunggu kalian," katanya. "Masuk."

Di dalam rumah, baunya apek. Ada tumpukan koran lama dan buku-buku hukum. Di tengah ruang tamu ada meja kayu dengan laptop tua yang masih menyala.

Pak Seno duduk perlahan, dibantu tongkat. "Aku tahu kalian akan datang setelah tujuh orang itu mati satu per satu."

Bram dan Arka terdiam.

"Sekarang," lanjut Pak Seno, "kalian datang karena Ahber, kan?"

---

*Di perjalanan...*

Ahber akhirnya melihat Lay keluar dari minimarket. Kantong belanjaan di tangan kanannya. Ia menghela napas lega. Bahunya yang tadinya tegang sedikit mengendur.

"Syukurlah..." gumamnya.

Namun, beberapa detik kemudian wajahnya berubah tegang.

Dari seberang jalan, mobil abu-abu yang sejak tadi ia perhatikan perlahan bergerak. Tidak cepat. Hanya mengikuti irama langkah Lay.

Jantung Ahber kembali mencelos.

"Siapa mereka?"

Ia memutar motornya dan mengikuti dari jarak aman. Dua rumah. Tiga rumah. Mobil itu tidak pernah menjauh.

Ahber langsung menelepon Bram.

"Bram! Lay sedang diikuti!"

Suara Bram di seberang terdengar tenang. "Jangan bertindak gegabah. Cari tahu dulu siapa mereka. Plat nomornya berapa?"

"Tapi kalau mereka menculik Lay?" suara Ahber meninggi. "Aku tidak bisa diam!"

"Percaya padaku," kata Bram. "Mereka pasti punya tujuan. Kalau kau menyerang sekarang, kau justru masuk ke dalam rencana mereka."

Ahber menggertakkan giginya. Ia membanting setang motornya. "Sialan..."

Ia tetap mengikuti. Jaraknya kini hanya lima meter dari mobil itu.

---

*Di rumah Pak Seno...*

Suasana hening. Hanya suara jam dinding tua yang berdetak.

Pak Seno mengeluarkan sebuah kotak besi kecil dari bawah lantai kayu. Catnya sudah mengelupas. Gemboknya berkarat.

"Selama lima belas tahun..." katanya pelan sambil mengelap debu di atas kotak itu, "...aku menyimpan ini."

Klik.

Kotak terbuka.

Di dalamnya terdapat sebuah flashdisk hitam, beberapa foto lama yang sudah menguning, dan sebuah buku catatan kulit dengan tulisan tangan.

Arka membelalak. "Ini semua bukti?"

Pak Seno mengangguk. "Sebagian besar. Aku tidak berani menyerahkannya ke kantor. Terlalu banyak orang di dalam yang sudah dibeli."

Bram mengambil flashdisk itu dengan hati-hati, seolah barang itu bisa meledak kapan saja. "Apakah isinya masih aman?"

"Sangat aman," jawab Pak Seno. "Aku simpan di tiga tempat berbeda. Ini salinan terakhir."

Pak Seno lalu menatap mereka satu per satu. Matanya berkaca.

"Lima belas tahun lalu..." suaranya bergetar, "aku sempat merekam percakapan seseorang. Di gudang pelabuhan. Perekamannya jelek, tapi cukup jelas."

Jantung Arka berdegup lebih cepat. "Berarti suara pelakunya ada?"

Pak Seno mengangguk pelan. "Ada. Tapi..."

"Tapi apa?" tanya Bram cepat.

"Aku tidak pernah berhasil mengetahui identitasnya," jawab Pak Seno. "Karena pria itu selalu memakai penyamaran. Suaranya diubah. Dan dia hanya disebut 'Tuan'."

Arka mengepalkan tangan. "Tuan... julukan yang sama di pesan-pesan ancaman itu."

"Benar," kata Pak Seno. "Dan satu hal lagi. Di akhir rekaman, dia menyebut satu nama. Nama yang membuatku bersembunyi selama ini."

"Siapa?" tanya Bram.

Pak Seno menarik napas panjang. "Nama keluargamu, Arka."

Arka terdiam. Dunia di sekelilingnya mendadak senyap.

---

*Di jalan raya...*

Lay mulai merasa ada yang aneh. Mobil abu-abu itu masih berada di belakangnya. Bahkan ketika ia menyeberang, mobil itu ikut pelan.

Ia mempercepat langkah. Jantungnya mulai berdebar.

Mobil itu tetap mengikuti.

Lay akhirnya berhenti di depan toko baju dan menoleh.

"Kenapa mobil itu terus mengikutiku?" pikirnya.

Belum sempat ia berpikir lebih jauh...

BRAK!!!

Sebuah motor sport melaju kencang dari arah berlawanan dan hampir menabraknya. Lay terkejut dan refleks mundur.

"Ah!"

Tubuhnya terjatuh ke trotoar. Belanjaannya berserakan. Apel menggelinding ke selokan.

Orang-orang di sekitar langsung panik. "Hati-hati!" "Ada yang jatuh!"

Namun anehnya... pengendara motor itu tidak berhenti. Ia justru tancap gas dan menghilang di tikungan.

Saat semua perhatian tertuju pada Lay yang meringis kesakitan, pintu mobil abu-abu perlahan terbuka.

Dua pria berpakaian hitam turun. Topi menutupi sebagian wajah mereka. Langkah mereka tenang. Terlalu tenang.

Dari kejauhan, Ahber yang melihat kejadian itu langsung berteriak,

"LAY!!"

Tanpa berpikir panjang, Ahber memacu motornya secepat mungkin, menerobos kerumunan. Klaksonnya meraung.

Kedua pria itu saling berpandangan. Yang satu mengangguk kecil.

"Dia datang," kata salah satunya.

"Jalankan rencana kedua," jawab yang lain.

Salah satu dari mereka mengeluarkan sebuah suntikan kecil dari balik jaketnya. Cairan di dalamnya bening.

Ahber mengepalkan tangan. Napasnya memburu. "JANGAN SENTUH DIA!"

Jarak mereka kini tinggal beberapa meter. Tiga. Dua. Satu.

Dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya...

Ahber harus memilih.

Mengejar dua pria itu dan merebut suntikan dari tangan mereka...

Atau mengangkat Lay yang masih terbaring di trotoar dengan lutut berdarah dan mata ketakutan.

Waktu seakan berjalan lambat.

Ahber melihat mata Lay. Ada air mata di sana. Ada rasa takut. Ada kepercayaan.

Ia juga melihat punggung dua pria itu yang mulai berlari ke arah mobil.

Di kepalanya terngiang suara Pak Seno: `Mereka punya tujuan.`

Di hatinya terngiang suara dirinya sendiri 15 tahun lalu: `Lindungi orang yang kau sayang.`

Dengan rahang mengeras, Ahber membanting setang motornya dan...

BERSAMBUNG...

1
Alia Chans
Hadir thor
like + bunga biar semangat deh/Smile/
nila edrina: terimah kasihh 🥰😘😭
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!