Sepuluh tahun lalu, Rani rela mengubur mimpinya menjadi dokter spesialis anak demi memilih cinta. Ia menikahi Roy, seorang duda dengan tiga anak, dan berusaha menjadi istri serta ibu tiri terbaik bagi keluarga yang kini menjadi dunianya.
Namun saat membuka mata di ranjang rumah sakit setelah percobaan bunuh diri yang nyaris merenggut nyawanya, Rani terkejut mendapati dirinya telah berusia tiga puluh sembilan tahun.
Bagi Rani, hari terakhir yang ia ingat adalah saat dirinya masih berusia dua puluh sembilan tahun, penuh ambisi, penuh mimpi, dan belum mengetahui seperti apa masa depannya.
Saat kembali ke rumah, bukannya menemukan keluarga yang mencintainya, Rani justru mendapati suami dan ketiga anak tirinya berdiri di sisi wanita lain. Mereka menuduhnya kejam, manipulatif, bahkan menjadi sumber penderitaan keluarga itu.
Akankah ia kembali menjadi wanita yang selama ini mengorbankan segalanya demi keluarga yang tak pernah memilihnya atau memilih dirinya sendiri?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Puji170, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23
Roy yang sudah enggan memperpanjang perdebatan dengan Rani memilih mengakhiri semuanya. Ia segera meminta asistennya menyiapkan surat perjanjian. Isinya jelas, mulai hari itu Rani berhak mendidik ketiga anak mereka, dan Haikal harus tinggal bersamanya.
Rani membaca setiap baris dalam surat itu dengan saksama. Semakin lama, alisnya justru semakin berkerut. Ia hampir tidak percaya Roy menyetujui syarat tersebut semudah ini, tapi di menit selanjutnya ia menyadari jika di dunia ini tidak ada makan gratis.
"Kamu yakin mau Haikal tinggal bersama?" tanyanya sambil mengangkat pandangan.
Roy menatapnya tanpa ekspresi.
"Bukankah ini yang kamu inginkan sejak dulu? Sampai kamu berani memberontak seperti sekarang." Ia berhenti sejenak, lalu menambahkan, "Tapi kalau kamu tidak mau, aku tidak masalah."
Rani tidak langsung menjawab. Tatapannya masih mengunci wajah Roy, berusaha mencari sesuatu yang tersembunyi di balik keputusan yang terasa terlalu mudah itu.
"Apa sebenarnya yang sedang kamu rencanakan?" tanyanya penuh selidik.
Ucapan itu membuat Hani mendecak kesal.
"Kamu ini, Rani. Selalu saja curiga," tegurnya. "Sudah untung suamimu mengabulkan keinginanmu, masih saja berpikir macam-macam."
"Benar, Kak Rani," sambung Sintia. Bibirnya memang tersenyum, tetapi sorot matanya sama sekali tidak menunjukkan kehangatan. "Mas Roy hanya ingin yang terbaik untuk keluarga ini. Menurutku ini sudah menjadi jalan tengah yang paling baik."
Rani sama sekali tidak menggubris ucapan keduanya. Pandangannya tetap tertuju pada Roy. Semakin pria itu terlihat tenang, semakin besar pula kecurigaannya.
"Kamu diam artinya setuju. Keputusan sudah dibuat," kata Roy mengakhiri pembicaraan. "Sekarang cabut laporanmu."
Rani menggenggam surat perjanjian itu erat. Ada perasaan ganjil yang terus mengusik pikirannya. Ia memang berhasil mendapatkan apa yang selama ini diinginkan, tetapi entah mengapa kemenangan itu terasa terlalu mudah. Meski masih diliputi keraguan, akhirnya ia mengangguk pelan.
"Baik."
Bagaimanapun, semua ini berawal dari keputusannya sendiri. Ia tidak mungkin menarik ucapannya sekarang.
***
Setelah laporan terhadap Aksan, Arlan, dan Arjun resmi dicabut, Rani langsung menemui Rico dan Sekar di sebuah kafe yang sudah mereka sepakati sebelumnya.
Begitu mendengar seluruh cerita dari awal hingga akhir, kedua sahabatnya hanya saling berpandangan. Keputusan yang diambil Rani benar-benar di luar dugaan mereka.
"Ran, kamu yakin mau membawa Haikal kembali ke rumah itu?" Sekar mengembuskan napas panjang sambil mengusap dahinya. "Menurutku ini sama saja mengeluarkan Haikal dari mulut buaya, lalu memasukkannya ke mulut singa."
Rani menundukkan pandangan sesaat.
"Mau bagaimana lagi?" katanya pelan. "Statusku masih istri Roy. Aku tidak mungkin terus keluar masuk rumah Rico tanpa menimbulkan masalah baru. Lagi pula, kalau Haikal ada dalam pengawasanku, aku masih merasa lebih tenang. Kalau dia terus bersama Rico, Roy pasti tidak akan tinggal diam."
Sejak tadi Rico hanya duduk bersandar dengan wajah dingin. Kedua tangannya terlipat di depan dada. Setelah beberapa saat terdiam, akhirnya ia angkat bicara.
"Aku kira kamu sudah berubah."
Rani mengangkat kepalanya.
"Aku bahkan sempat berpikir akhirnya kamu mau berhenti memikul semuanya sendirian dan membiarkan kami mendukungmu." Rico tersenyum hambar. "Ternyata kamu tetap Rani yang keras kepala."
Rani menggigit bibir bawahnya.
"Ric, aku tahu kamu kecewa. Tapi aku benar-benar tidak ingin menyeretmu lebih jauh ke dalam masalahku."
Rico terkekeh pelan, tetapi tidak ada sedikit pun nada geli dalam tawanya.
"Menyeretku?" ulangnya. "Sejak kamu memintaku menyelidiki semua yang berkaitan dengan hidupmu, sejak saat itu juga aku sudah terlibat. Jadi jangan bilang kamu tidak ingin melibatkanku."
Tatapannya semakin tajam.
"Yang membuatku kesal bukan karena aku ikut terseret. Tapi karena setiap kali ada masalah, kamu selalu memilih menghadapinya sendirian."
Suasana mendadak menjadi canggung.
"Ric, jangan emosi dulu," sela Sekar sambil mengangkat kedua tangannya. "Rani pasti punya alasan."
Ia kemudian melirik Rani, memberi isyarat agar segera mengatakan sesuatu. Sayangnya, Rani hanya terdiam. Ada banyak hal yang ingin ia jelaskan, tetapi tidak satu pun mampu keluar dari bibirnya.
Melihat keheningan itu, Rico akhirnya mengembuskan napas panjang. Nada bicaranya mulai melunak meski wajahnya masih tampak kesal.
"Sudahlah."
Ia menyandarkan tubuhnya ke kursi sebelum kembali menatap Rani.
"Sekarang katakan rencanamu. Kamu tidak mungkin bisa mengawasi Haikal selama dua puluh empat jam penuh. Cepat atau lambat, Roy pasti akan mencari celah. Jadi, apa yang akan kamu lakukan?"
Rani terdiam beberapa saat. Jemarinya saling bertaut di atas meja, sementara tatapannya kosong menatap gelas di hadapannya.
"Itu yang masih kupikirkan," ucapnya pelan. "Selama ini target mereka hanya aku. Tapi sekarang Haikal akan tinggal bersamaku. Aku tidak bisa lengah sedikit pun."
"Berarti kamu sadar kalau rumah itu bukan tempat yang aman?" tanya Rico.
Rani mengangguk. "Sadar."
"Lalu kenapa tetap kembali?"
"Karena di luar rumah itu aku tidak punya kuasa apa pun." Rani menatap Rico bergantian dengan Sekar. "Selama statusku masih istri Roy, dia bisa memakai hukum untuk mengambil Haikal kapan saja. Kali ini dia mengancammu. Besok mungkin dia akan mencari alasan lain."
Rico mengepalkan rahangnya. "Kalau begitu, kita lawan saja."
"Bukan semudah itu."
"Kenapa tidak?"
"Karena aku belum cukup kuat." Jawaban Rani membuat Rico terdiam.
"Aku baru bisa bersama Haikal. Kalau sekarang aku gegabah, Roy bisa saja membalikkan keadaan. Aku tidak mau mengambil risiko."
Sekar yang sejak tadi mendengarkan akhirnya ikut berbicara.
"Jadi... kamu sengaja memasukkan Haikal ke rumah itu untuk memancingnya?"
Rani mengangguk pelan.
"Aku sudah terlalu lama menjadi bidak mereka." Tatapannya perlahan berubah tajam. "Sekarang aku ingin tahu permainan apa yang sebenarnya sedang Roy sembunyikan. Aku yakin dia tidak mungkin memberikan semua ini cuma-cuma."
Rico memperhatikan wajah Rani beberapa saat sebelum akhirnya mengembuskan napas panjang.
"Nah, ini baru Rani yang ingin kulihat."
Rani mengernyit.
"Jangan hanya bertahan. Mulai sekarang, kumpulkan semua bukti. Cari kelemahan Roy, Sintia, dan Hani. Kalau memang mereka sedang merencanakan sesuatu, biarkan mereka merasa sudah menang."
Sekar ikut mengangguk. "Benar. Orang yang merasa berada di atas biasanya akan lengah. Di situlah kesempatanmu."
Rani tersenyum tipis. "Aku juga berpikir begitu."
"Kalau begitu, ada satu hal yang harus kita lakukan mulai hari ini," ujar Rico.
"Apa?"
Rico mengeluarkan sebuah alat perekam baru dari tasnya lalu meletakkannya di atas meja.
"Mulai sekarang, apa pun yang terjadi di rumah itu, rekam. Percakapan, ancaman, atau perlakuan mereka. Jangan bertindak dulu. Kumpulkan bukti sebanyak mungkin."
Rani menatap rekaman itu tanpa berkedip.
"Kalau mereka sadar?"
"Jangan sampai sadar." Rico tersenyum tipis. "Kamu letakkan perekam ini di tempat biasa mereka sedang berbicara dan yang satunya kamu letakkan di tempat kerja Roy. Agar mereka tidak sadar sedang diawasi."
Rani menggenggam dua alat itu beberapa saat sebelum akhirnya mengembalikannya kepada Rico.
"Apa ini tidak kelewatan."
"Kenapa?" tanya Rico.
"Karena melanggar privasi," jawab Rani.
Sekar dan Rico saling melirik, lalu bertanya secara bersamaan, "Kamu serius Ran?"
merekam untuk bukti itu perlu mang km bisa lawan tanpa bukti aneh.
kl sadar lemah hrse jd wanita Pinter tak tik atau gk ya licik biar bisa cari celah bukti.
itu kriminal ga buat main" kalau tidak di tindak lanjuti akan sangat berbahaya OMG ,,Rani ayo buka kedok si Kunti bogel be smart don't be stupid ran kan dah tau akan seperti apa dirimu kalau ga sat set
nunggu dua hari lagi
amnesia itu lupa ingatan aduh bodoh nya kamu
ran lebih Mak jleb lagi dong kamu kan tau alur nya
suami bego
lanjutkan 🙏🙏