Aku pikir bekerja keras demi keluarga adalah bentuk cinta terbesar yang bisa kuberikan.
Setiap hari aku berangkat sebelum matahari terbit dan pulang saat langit telah gelap. Semua kulakukan agar suamiku hidup nyaman dan masa depan keluarga kami terjamin. Aku menahan lelah, mengubur keinginan pribadi, bahkan mengorbankan waktu bersama orang yang paling kucintai.
Namun, pengorbananku ternyata tidak dihargai.
Di saat aku sibuk bekerja dan berjuang untuk kami, suamiku justru sibuk memberikan perhatian, waktu, dan cintanya kepada wanita lain. Pengkhianatan itu menghancurkan kepercayaan yang telah kubangun selama bertahun-tahun.
Yang lebih menyakitkan, wanita itu bukanlah orang asing.
Saat rahasia demi rahasia mulai terungkap, aku dihadapkan pada pilihan sulit: mempertahankan pernikahan yang telah retak atau meninggalkan pria yang pernah menjadi seluruh duniaku.
Mampukah cinta bertahan setelah dikhianati? Atau ada luka yang memang tidak ditakdirkan untuk sembuh?
"Aku Sibuk
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Velin Agustiningtias, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 27 semakin murka
Malam mulai larut ketika mobil Adrian memasuki halaman rumah keluarga Mahendra. Sejak menikah dengan Bianca, mereka memang masih tinggal sementara di rumah itu karena keadaan ayahnya yang belum sepenuhnya pulih. Namun bagi Adrian, pulang ke rumah yang dulu terasa hangat kini justru menjadi beban. Setiap sudut rumah mengingatkannya pada Nadia, pada tawa yang pernah memenuhi ruang makan, pada perhatian kecil yang dulu selalu ia anggap biasa, hingga akhirnya semua itu benar-benar menghilang.
Begitu memasuki rumah, suasana terasa begitu sunyi. Hanya lampu ruang keluarga yang masih menyala, sementara para asisten rumah tangga mulai membereskan meja makan. Adrian tidak berniat berbincang dengan siapa pun. Wajahnya masih dipenuhi kekesalan setelah bertemu Nadia siang tadi. Bayangan tamparan dan penolakan wanita itu terus berputar di kepalanya, membuat suasana hatinya semakin buruk.
Ia langsung menaiki tangga menuju kamar. Saat membuka pintu, Bianca yang sedang duduk di tepi ranjang perlahan mengangkat kepalanya. Wajahnya masih pucat, tetapi ia berusaha tersenyum menyambut kepulangan suaminya.
"Kamu sudah pulang."
ucap Bianca pelan.
Adrian hanya mengangguk singkat sebelum melepas jasnya dan meletakkannya di atas kursi. Tidak ada senyum, tidak ada sapaan hangat, seolah ia terlalu lelah untuk sekadar berbasa-basi.
Bianca menggenggam ujung selimut di pangkuannya. Ia tahu suasana hati Adrian sedang tidak baik, tetapi ia juga sudah terlalu lama memendam perasaannya sendiri.
"Adrian..."
panggilnya hati-hati.
"Aku ingin bicara."
Adrian berhenti sejenak, tetapi tidak menoleh.
"Bicara saja."
jawabnya datar.
Bianca menarik napas panjang sebelum mengumpulkan keberanian.
"Menurutku... sebaiknya kita pindah."
ucapnya lirih.
"Aku merasa kita tidak benar-benar diterima di rumah ini."
Setiap hari aku merasa seperti orang asing. Ibumu hanya berbicara seperlunya, Anna bahkan hampir tidak pernah memandangku, dan Ayah..." suaranya mulai melemah, "aku tahu beliau belum bisa menerimaku."
"Aku hanya ingin kita punya rumah sendiri. Tempat kita membangun keluarga tanpa terus merasa dibandingkan dengan masa lalu."
Adrian menutup lemari dengan sedikit lebih keras dari biasanya. Ia mengusap wajahnya kasar, lalu mengembuskan napas panjang.
"Bukan sekarang."
jawabnya singkat.
Bianca terdiam.
"Tapi Adrian, kalau kita terus tinggal di sini..."
"Aku bilang bukan sekarang."
potong Adrian dengan nada lebih dingin.
"Aku sedang banyak masalah. Jangan tambah lagi."
Kalimat itu membuat Bianca membisu. Ia menundukkan kepala, berusaha menahan air mata yang mulai memenuhi pelupuk matanya.
Adrian sama sekali tidak menyadari tatapan kecewa istrinya. Pikirannya masih dipenuhi pertemuannya dengan Nadia, ucapan mantan istrinya yang terus terngiang di telinga, serta penyesalan yang semakin sulit ia abaikan. Tanpa berkata apa-apa lagi, ia masuk ke kamar mandi, meninggalkan Bianca yang masih duduk sendirian di tepi ranjang.
Suara pintu kamar mandi yang tertutup membuat Bianca akhirnya menundukkan wajah. Air mata yang sejak tadi ditahannya perlahan jatuh ke pangkuannya. Untuk pertama kalinya sejak menikah, ia merasa bahwa bukan hanya keluarga Mahendra yang tidak menerimanya.
Bahkan Adrian, pria yang ia perjuangkan dengan mengorbankan begitu banyak hal, perlahan mulai menjauh darinya.
Dan kesunyian di dalam kamar itu terasa jauh lebih menyakitkan daripada segala cibiran yang pernah ia dengar dari orang lain.
Malam semakin larut, tetapi percakapan di dalam kamar mereka belum juga berakhir. Bianca masih duduk di tepi ranjang dengan kedua tangan saling menggenggam erat. Sejak tinggal di rumah keluarga Mahendra, ia semakin yakin bahwa mereka tidak akan pernah benar-benar memulai kehidupan baru selama bayang-bayang Nadia masih mengelilingi mereka.
Dengan hati-hati ia kembali membuka pembicaraan.
"Kalau memang belum bisa pindah sekarang..."
ucap Bianca pelan.
"...bagaimana kalau kita menjual rumah yang dulu kamu tempati bersama Nadia."
Adrian yang sedang membuka beberapa berkas di meja kerja perlahan menghentikan kegiatannya.
Tatapannya berubah tajam.
"Maksudmu?"
Bianca menarik napas panjang.
"Aku hanya berpikir rumah itu sudah tidak ada gunanya."
lanjutnya.
"Daripada dibiarkan kosong, lebih baik dijual saja. Uangnya bisa kita gunakan membeli rumah baru."
"Rumah yang benar-benar menjadi awal kehidupan kita."
"Aku ingin membangun keluarga tanpa terus dibayangi masa lalu."
Belum sempat Bianca menyelesaikan kalimatnya, Adrian menutup map di tangannya dengan keras hingga suara benturannya memenuhi ruangan.
"Cukup."
ucapnya dingin.
Bianca terkejut.
Selama ini Adrian memang sering terlihat murung, tetapi belum pernah bereaksi sekeras itu hanya karena membahas sebuah rumah.
"Aku hanya memberi usul..."
katanya lirih.
"Itu bukan sekadar rumah."
potong Adrian.
Suara pria itu mulai meninggi.
"Itu rumah yang diberikan Ayah."
lanjutnya.
"Dan rumah itu sudah menjadi hak Nadia."
Bianca mengernyit.
"Tapi bukankah itu tetap milik keluargamu?"
Adrian menggeleng pelan.
"Tidak."
jawabnya tegas.
"Sertifikat rumah itu memang atas nama Nadia."
Kalimat itu membuat Bianca membeku.
Adrian mengusap wajahnya dengan kesal.
"Dulu Ayah memberikannya sebagai hadiah setelah kami menikah."
"Dan setelah perceraian, Ayah tidak pernah meminta rumah itu kembali."
Bianca mulai merasakan sesuatu yang tidak nyaman di dalam dadanya.
"Apalagi sekarang..."
Adrian terdiam sesaat sebelum melanjutkan.
"Nadia sedang mengandung anakku."
Suasana kamar mendadak menjadi sunyi.
"Aku tidak akan menjual rumah itu."
ucap Adrian mantap.
"Kalaupun suatu hari rumah itu menjadi milik anakku bersama Nadia, aku tidak akan mempermasalahkannya."
Mata Bianca langsung memerah.
"Jadi kamu masih memikirkan mereka?"
tanyanya dengan suara bergetar.
Adrian menatap Bianca cukup lama.
"Aku sedang memikirkan tanggung jawabku."
jawabnya pelan.
"Anak itu juga darah dagingku."
Jawaban itu terasa seperti pisau yang menusuk dada Bianca.
Selama ini ia selalu berusaha meyakinkan dirinya bahwa Adrian telah memilihnya sepenuhnya.
Namun malam itu ia menyadari ada sesuatu yang tidak akan pernah bisa ia rebut.
Bukan cinta.
Melainkan rasa tanggung jawab seorang ayah kepada anak yang sedang dikandung Nadia.
Air mata Bianca perlahan jatuh.
"Tapi anakku juga anakmu."
ucapnya lirih.
Adrian memejamkan mata.
"Aku tahu."
jawabnya.
"Dan aku akan bertanggung jawab kepada kalian juga."
"Tapi jangan pernah memintaku mengambil hak anakku yang lain."
Kalimat itu membuat Bianca kehilangan kata-kata.
Ia hanya mampu menundukkan kepala sambil menangis dalam diam.
Semakin hari ia semakin sadar bahwa kehadiran anak Nadia telah mengubah banyak hal.
Bukan hanya pembagian warisan.
Tetapi juga cara Adrian memandang masa depannya.
Dan untuk pertama kalinya sejak menikah, Bianca benar-benar merasa takut.
Takut bahwa penyesalan Adrian terhadap Nadia akan tumbuh semakin besar seiring lahirnya anak mereka, hingga suatu hari nanti dirinya dan anak yang dikandungnya hanya menjadi pengingat atas keputusan yang pernah menghancurkan begitu banyak kehidupan.
Bianca masih berdiri di sisi ranjang dengan air mata yang belum berhenti mengalir. Perkataan Adrian mengenai rumah yang akan menjadi milik anak Nadia terus terngiang di kepalanya. Untuk pertama kalinya, keyakinan yang selama ini ia bangun mulai runtuh sedikit demi sedikit. Ia selalu percaya Adrian memilihnya karena benar-benar mencintainya, tetapi kini setiap ucapan pria itu justru lebih banyak berbicara tentang Nadia dan anak yang sedang dikandung mantan istrinya.
Perlahan Bianca menundukkan kepalanya.
Di dalam hatinya mulai tumbuh ketakutan yang selama ini berusaha ia abaikan.
Jangan-jangan Adrian tidak pernah benar-benar berhenti mencintai Nadia.
Jangan-jangan semua perhatian dan rasa bersalah yang terus ditunjukkannya bukan sekadar tanggung jawab kepada anak, melainkan penyesalan karena telah kehilangan wanita yang selama ini selalu berada di sisinya.
Semakin ia memikirkannya, semakin sesak dadanya hingga napasnya terasa berat.
Sementara itu Adrian yang suasana hatinya sudah buruk sejak siang memilih keluar dari kamar. Ia mengusap wajahnya kasar sebelum menuruni tangga menuju dapur untuk mengambil segelas air dingin. Kepalanya terasa penuh dengan berbagai persoalan yang datang tanpa henti, membuatnya tidak mampu berpikir jernih.
Saat kembali menaiki tangga, langkahnya tanpa sengaja terhenti di depan kamar kedua orang tuanya.
Pintu kamar tidak tertutup rapat.
Dari dalam terdengar suara ayahnya yang sedang berbicara melalui video call dengan pengacara keluarga.
Awalnya Adrian tidak berniat mendengarkan.
Namun satu kalimat membuat tubuhnya membeku.
"...dokumen tanah dan vila di Bali juga sudah saya siapkan."
suara pengacara terdengar jelas dari layar laptop.
"Apakah tetap menggunakan nama penerima sesuai arahan Bapak?"
Ayah Adrian mengangguk tanpa ragu.
"Tetap."
jawabnya tegas.
"Itu semua akan menjadi milik cicitku... anak Nadia."
Adrian langsung mengepalkan tangannya.
Dadanya seakan dihantam sesuatu.
Ibu Adrian yang duduk di samping suaminya menghela napas panjang.
"Apa tidak terlalu banyak?"
tanyanya pelan.
Pria tua itu memejamkan mata beberapa saat.
"Warisan bukan hanya soal harta."
ucapnya lirih.
"Itu juga bentuk penebusan atas kesalahan yang terjadi."
Ibu Adrian perlahan menundukkan kepala.
"Aku masih merasa bersalah."
gumamnya.
"Andai dulu aku tidak terus menyalahkan Nadia karena belum memiliki anak..."
"Andai aku tidak terus mendorong Adrian..."
Suara wanita itu mulai bergetar.
"Mungkin rumah tangga mereka tidak akan berakhir seperti ini."
Ayah Adrian menggenggam tangan istrinya.
"Kita memang ikut bersalah."
katanya pelan.
"Karena kita gagal menjaga keluarga ini."
"Itulah sebabnya aku ingin memastikan anak Nadia tidak pernah kekurangan apa pun."
Kalimat demi kalimat yang terdengar dari balik pintu membuat wajah Adrian berubah semakin gelap.
Tangannya mengepal begitu kuat hingga urat-urat di punggung tangannya terlihat jelas.
Rahangnya mengeras.
Bukan karena bahagia mendengar orang tuanya memikirkan anaknya.
Melainkan karena amarah, kecewa, dan kebingungan bercampur menjadi satu.
Baginya, semua keputusan itu terasa seperti hukuman.
Seolah-olah seluruh keluarga telah menjatuhkan vonis bahwa dirinya adalah penyebab kehancuran rumah tangga mereka.
Seolah-olah semua yang dimilikinya perlahan dipindahkan kepada anak Nadia sebagai bentuk penebusan dosa.
"Kenapa..."
gumam Adrian lirih.
"Kenapa semuanya harus seperti ini..."
Tanpa sadar, gelas yang berada di tangannya terlepas dan jatuh ke lantai.
Prang!
Suara pecahan kaca menggema di lorong rumah.
Percakapan di dalam kamar langsung terhenti.
Ayah dan ibu Adrian menoleh ke arah pintu dengan wajah terkejut, sementara Adrian berdiri mematung dengan mata yang dipenuhi kemarahan dan kekecewaan, merasa bahwa dalam waktu singkat ia telah kehilangan bukan hanya istrinya, tetapi juga kepercayaan dan penghormatan dari keluarganya sendiri.
coba ada yg kasih klarifikasi tentang gosip di kantornya Nadia, paling ngga namanya bersih sebelum dia pindah