NovelToon NovelToon
SEPHIA

SEPHIA

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen / Diam-Diam Cinta / Slice of Life
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: Azkaqia

Sephia tidak pernah menyangka, kehadiran tetangga baru itu akan mengubah segalanya.
Berawal dari pertemuan-pertemuan tak sengaja, satu sekolah, hingga satu kelas—mereka perlahan menjadi dekat. Terlalu dekat, sampai Sephia mulai merasakan sesuatu yang seharusnya tidak ada.
Sayangnya, perasaan itu datang di waktu yang salah.
Dia sudah memiliki seseorang.
Sephia memilih diam, menyimpan semuanya sendiri.
Hingga sebuah kejadian memaksa mereka untuk saling mendekat, lebih dari yang seharusnya.
Namun, bahkan setelah jarak memisahkan, waktu tetap tidak pernah berpihak.
Dan saat mereka dipertemukan kembali…
segalanya sudah berbeda.
Kali ini, justru Sephia yang harus belajar melepaskan.
Karena tidak semua yang hampir, akan benar-benar menjadi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Azkaqia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Gangguan di Jam Sebelas Malam

Malam harinya, sekitar jam sembilan lewat, Sephia masih belum bisa fokus belajar untuk kuis sosiologi besok. Pikirannya terus berputar pada bisikan Alan di depan pagar sore tadi.

​“Jangan harap lo bisa makan cokelat itu bareng cowok lain malam ini.”

​Sephia menyembunyikan wajahnya di bantal, menendang-nendang kasurnya dengan gemas. "Arghhh! Dasar Alan mesum, tengil, kulkas dua pintu! Kenapa coba dia harus pakai jaminan cokelat segala? Kan itu oleh-oleh buat gue!" rutuk Sephia kesal, meskipun dalam hati dia gak bisa memungkiri kalau dadanya masih terasa berdesir aneh.

​Klek.

​Suara pintu kaca di seberang jalan yang terbuka membuat Sephia refleks menegakkan badannya. Jendela kamarnya kebetulan sedang dibuka setengah untuk membiarkan angin malam masuk. Sephia melongok ke luar windows gordennya.

​Di balkon lantai dua rumah seberang, Sagara sudah berdiri memakai kaos santai hitam, melambaikan tangan ke arahnya sambil memegang ponsel.

​"Piaaa! Sini keluar!" panggil Sagara setengah berbisik tapi suaranya lantang menyeberangi jalan kompleks yang sepi.

​Sephia langsung tersenyum lebar. Dia bangkit dari belajar dan melangkah ke pembatas jendelanya. "Kak Saga! Belum tidur?"

​"Belum. Nih, aku mau nunjukin foto pas di Kyoto kemarin. Aku kirim lewat WhatsApp ya, tapi kamunya liat ke sini dong, biar kayak dulu lagi," ujar Sagara sambil terkekeh, mengangkat ponselnya tinggi-tinggi.

​Sephia membuka ponselnya. Memang benar, Sagara mengirimkan beberapa foto dirinya yang memakai mantel tebal di tengah hamparan salju Jepang dengan hidung yang merah merona. Sephia tertawa lepas, bersandar di kusen jendela sambil menatap Sagara di seberang sana.

​"Ya ampun, Kak Saga! Hidungnya beneran kayak badut Ancol! Hahaha, kasihan banget sih!" ledek Sephia kencang.

​Sagara ikut tertawa, menopang dagunya di pembatas balkon sambil menatap Sephia lekat-lekat. "Biarin. Oh iya, cokelatnya udah dicobain belum? Enak gak?"

​Pertanyaan Sagara langsung bikin tawa Sephia lenyap seketika. Sephia menepuk jidatnya, mendadak bingung mau jawab apa. Masa dia harus jujur kalau cokelatnya disita sama cowok baru yang galak di kelasnya?

​"A-anu... itu, Kak... cokelatnya..."

​Ting!

​Belum sempat Sephia menyelesaikan kalimat bohongnya, sebuah suara notifikasi pesan masuk bernada nyaring memotong pembicaraan mereka. Sephia melihat layar ponselnya. Ada nomor tidak dikenal yang mengirimkan pesan singkat.

​[0812-xxxx-xxxx]: Berisik. Masuk kamar sekarang atau gue bakar cokelat lo.

​Sephia mengerjap. Dia menatap layar HP-nya dengan dahi berkerut. Siapa nih orang? Tapi begitu membaca kata "bakar cokelat", mata Sephia langsung melotot sempurna.

​Alan?!

​Sephia refleks melemparkan pandangannya ke arah kiri—ke arah rumah nomor empat yang jaraknya cuma beda tiga rumah dari rumahnya. Benar saja. Di depan pagar rumah minimalis itu, di bawah temaram lampu jalan kompleks, sosok jangkung Alan sedang berdiri bersandar di tiang listrik.

​Cowok itu memakai celana pendek hitam dan hoodie abu-abu yang kupluknya sengaja dipasang di kepala. Tangannya memegang ponsel, dan matanya... menatap lurus ke atas, tepat ke arah jendela kamar Sephia dengan pandangan mengintimidasi.

​Sephia menelan ludah. Nih anak ngapain malam-malam nongkrong di tiang listrik kayak setan kompleks sih?! pekik batin Sephia merinding sekaligus salah tingkah.

​"Pia? Kok malah bengong? Kenapa?" panggil Sagara dari seberang rumah, menyadari perubahan ekspresi Sephia. Sagara ikut melihat ke arah bawah, mengikuti arah pandang Sephia, dan matanya langsung menangkap sosok Alan yang sedang berdiri di sana.

​Tensi malam yang tadinya hangat langsung berubah dingin seketika. Sagara melipat tangannya di dada, menatap Alan dari atas balkon dengan pandangan tidak suka. Sementara Alan di bawah sana, perlahan menurunkan ponselnya, membalas tatapan Sagara dengan binar menantang yang super tenang.

​Sephia yang berada di tengah-tengah dua kubu ini berasa mau pingsan aja di tempat.

​Ting! Pesan kedua dari Alan masuk lagi.

​[0812-xxxx-xxxx]: Gue hitung sampai tiga. Gak masuk kamar, besok gue beneran bilang ke nyokap lo kalau lo punya utang berondong setahun lalu.

​"Licik banget, astaga!" umpat Sephia tertahan. Dia benar-benar dibuat skakmat oleh ancaman absurd Alan.

​"Kak Saga! Pia masuk duluan ya, tiba-tiba ngantuk banget nih! Dadah Kak Saga!" teriak Sephia panik tanpa menunggu jawaban dari Sagara. Dia langsung menutup jendela kamarnya dengan cepat, lalu menarik gordennya rapat-rapat.

​Di luar, Sagara cuma bisa menghela napas pendek melihat jendela Sephia yang tertutup rapat. Dia melirik sekali lagi ke arah Alan di bawah sana, sebelum akhirnya masuk ke dalam kamarnya sendiri dengan perasaan dongkol.

​Sementara di bawah tiang listrik, Alan menurunkan kupluk hoodienya, menatap gorden kamar Sephia yang sudah tertutup. Seulas senyum tipis kemenangan terukir di bibir gantengnya.

​Alan mengetik pesan terakhir sebelum berbalik berjalan pulang ke rumahnya.

​[Alan]: Good night, Tetangga Galak. Besok pagi jam 6 kurang lima, gue udah di depan pagar.

​Di dalam kamar, Sephia yang membaca pesan itu langsung melempar ponselnya ke atas kasur dengan muka yang sudah sewarna tomat matang. Jantungnya berdegup luar biasa kencang, menyadari kalau "hukuman" Alan tampaknya tidak hanya berlaku di sekolah, tapi sudah mulai menjajah kehidupan malamnya.

1
Ayunda
judulnya bikin inget lagu Sheila on seven yg viral pd jamanya
Arya Suluran
wahh adapakah ini??😄
Arya Suluran
plenger juga sih Sephia ini ya😄
Azkaqia Ratna: ya gugup soalnya doi hehe
total 1 replies
Arya Suluran
apakah jatuh cinta pandangan pertama??
Azkaqia Ratna: belum kyknya, cuma awal mengagumi 😆
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!