NovelToon NovelToon
The CEO'S Secret Architect

The CEO'S Secret Architect

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak
Popularitas:5.7k
Nilai: 5
Nama Author: Blaze Onyx

Aureline Vance mengira pernikahan kontrak dua tahun dengan Zayyan El-Ghazali—sang CEO berdarah dingin penguasa imperium bisnis terbesar—hanya sekadar transaksi demi keselamatan diri. Namun, yang tidak diketahui dunia adalah kehadiran Xavi, putra rahasia mereka yang berusia tujuh tahun dengan kecerdasan siber tingkat genius.
Saat ancaman dari kartel informasi global, *Valerius Syndicate*, dan intrik pengkhianatan dalam keluarga El-Ghazali mulai membidik Xavi sebagai target eliminasi, Zayyan dan Olin terpaksa meruntuhkan dinding pembatas di antara mereka. Di tengah desing peluru dan konspirasi tingkat tinggi, kertas kontrak dua tahun itu akhirnya dibakar menjadi abu. Kini, tidak ada lagi jalan mundur. Zayyan siap mengerahkan seluruh kekuatan imperiumnya demi melindungi takhta, wanita yang dicintainya, dan sang pewaris rahasia yang tak tersentuh.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Blaze Onyx, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 26: Pagi yang Beraroma Semen

Sisa-sisa hujan semalam meninggalkan aroma tanah basah dan daun pinus yang membusuk, menyelinap masuk melalui celah ventilasi paviliun barat. Ketika fajar Pekanbaru pecah menjadi garis-garis abu-abu pucat di cakrawala, ketenangan Olin terusik bukan oleh alarm gawai, melainkan oleh deru mesin bor hidrolik dan benturan palu godam yang bergema dari arah basemen bawah.

Olin bangkit dari sofa, merapikan mantel rajut kelabunya yang sempat dia gunakan sebagai selimut darurat sepanjang sisa malam. Cangkir porselen berisi sisa jahe madu yang mendingin masih bertumpu di atas meja kerja kayu ek, di samping buku sketsa hitam yang lembarannya agak melengkung karena kelembapan udara perbukitan.

"Mommy," cicit Xavi, muncul dari balik pintu kamar dengan rambut hitamnya yang mencuat ke segala arah. Piama rasi bintangnya tampak kusut, dan sepasang matanya yang bulat berkedip-kedip menyesuaikan diri dengan remang ruang tengah. "Frekuensi getarannya berada di angka empat puluh hertz. Mereka sedang meruntuhkan dinding beton non-struktural di bawah kita."

Olin berjalan mendekat, berlutut untuk merapikan kerah piama putranya sembari menahan rasa letih yang mengikat tengkuknya. "Pria itu tidak pernah menunda ucapannya, Xavi. Mandilah. Kita harus melihat apa yang sedang dia lakukan pada lantai bawah paviliun kita."

Dua puluh menit kemudian, setelah bertukar pakaian dengan blus katun kasual dan celana jins pipa lurus, Olin menuntun Xavi menuruni tangga melingkar besi yang menghubungkan ruang tengah paviliun langsung ke area utilitas bawah tanah. Semakin mereka turun, bau semen kaku, debu kapur yang beterbangan, dan aroma pelumas mesin kian pekat menusuk hidung.

Di ujung tangga, laboratorium bawah tanah yang semalam masih berupa gudang penyimpanan dokumen arsip tua bersuhu lembap kini telah berubah menjadi medan rekonstruksi yang sibuk. Empat orang pekerja berhelm kuning dan rompi neon jingga tampak cekatan mengangkut bongkahan batako ringan ke dalam wadah besi. Dinding pembatas setebal lima belas sentimeter yang memisahkan area utilitas dengan jalur pipa sentral telah jebol setengah, menyisakan lubang besar yang memperlihatkan ruang baru yang luas di baliknya.

Zayyan berdiri di tengah ruangan, tepat di bawah sorotan lampu kerja halogen yang terang benderang. Pria itu tidak lagi mengenakan setelan jas tiga potongnya yang kaku; kemeja abu-abu arang dengan lengan yang digulung hingga ke siku memperlihatkan guratan urat di lengan bawahnya yang kokoh. Selembar cetak biru digital berukuran besar menyala di atas meja kerja portabel di hadapannya.

"Geser panel server itu dua meter ke arah timur," perintah Zayyan pada seorang pengawas proyek tanpa menoleh, suaranya bariton datar namun mutlak menembus deru mesin bor yang mendadak mati. "Arsitek Kecil tidak suka kabel jaringannya bersinggungan dengan pipa pendingin AC. Itu menurunkan efisiensi transfer data."

Xavi melepaskan genggaman tangan Olin, melangkah maju melewati beberapa serpihan beton kecil di lantai dengan mata yang seketika berbinar di balik lensa kacamata bundarnya. Dia mendekati meja kerja portabel, lalu menumpukan kedua lengan mungilnya di tepi meja untuk mengamati cetak biru digital tersebut.

"Kau menggunakan arsitektur topologi bintang untuk susunan peladennya, Tuan CEO?" tanya Xavi, jemari mungilnya menunjuk pada diagram sirkuit yang berkedip hijau. "Itu bagus untuk isolasi kegagalan, tapi kau butuh kabel serat optik kategori delapan jika ingin kecepatannya stabil di angka sepuluh gigabita per detik."

Zayyan menurunkan pandangannya pada bocah tujuh tahun di sampingnya. Sudut bibirnya berkedut sangat tipis—sebuah gestur yang kini mulai Olin kenali sebagai tanda kepuasan terselubung sang pria penguasa. "Kabelnya sudah ada di dalam kotak kayu di sudut sana, Jagoan. Malikh mengimpornya langsung dari Singapura subuh tadi."

Olin melangkah mendekati perimeter meja kerja, melipat kedua lengannya di dada dengan tatapan yang tetap dingin dan berjarak. Debu kapur yang tipis tampak menempel di ujung sepatu kulitnya. "Kau mengubah lantai bawah tempat tinggal kami menjadi pusat kendali siber dalam waktu kurang dari enam jam, Zayyan. Apakah ini bagian dari taktikmu untuk memantau setiap ketukan kibor anakku?"

Zayyan menegakkan kembali tubuhnya, membiarkan postur tinggi besarnya kembali mendominasi atmosfer ruangan di bawah siraman lampu halogen. Dia menatap Olin, mengunci sepasang mata wanita itu dengan kedataran elangnya yang tak berkedip. "Aku tidak memantaunya, Aureline. Aku sedang membangun benteng untuknya. Setelah apa yang dia tunjukkan di lantai lima puluh sore kemarin, faksi Kakek Albert bukan lagi satu-satunya pihak yang akan mencoba mencari celah untuk masuk ke sini."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!