DESKRIPSI CERITA: ILMU PENGLARIS (Ilmu Pemanggil Tamu)"Jangan pernah coba-coba untuk mengingkarinya..."
> Bagi Rahmat, kemiskinan adalah kutukan yang harus dihancurkan, bahkan jika ia harus bersekutu dengan iblis sekalipun. Melalui perantara Mbah Cahyo, kios baksonya mendadak berubah menjadi lautan manusia yang lapar. Namun, di balik kepulan asap dandang yang menggiurkan, ada aroma anyir darah dan hawa dingin yang mengurung tempat itu.
> Di saat Ratna, sang istri yang setia berjuang melayani pelanggan dengan peluh dan ketulusan, ia tidak pernah tahu bahwa suaminya sendiri telah menjual jiwanya ke penguasa kegelapan hutan fajar. Satu per satu keanehan mulai muncul. Angin yang berputar aneh, tatapan kosong para pembeli, hingga sekelebat wajah mengerikan yang mulai menggantikan wajah tulus istrinya.
> Sebuah kisah tentang keserakahan yang membutakan, kebohongan yang menumpuk, dan sebuah jebakan pesugihan searah yang tidak akan pernah membiarkan korbannya kembali ke jalan yang benar dala
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HERMAWAN 505, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bayang-bayang kliwon
##BAB 27 - Bayang-Bayang Kliwon
Setelah kepergian Bi Sumi, kesepian mendalam terasa menyelimuti seisi rumah mewah yang luas itu. Ratna kini tak lagi memiliki teman untuk berbagi cerita atau sekadar meluapkan perasaannya. Seharusnya masa kehamilan diisi dengan perhatian dan kenyamanan, namun kenyataannya ia justru harus mengurus segala keperluan rumah tangga sendirian. Mulai dari menyapu, mengepel, memasak, hingga membersihkan sudut-sudut ruangan yang luas, semuanya dikerjakannya dengan tenaga yang semakin terbatas.
Beban itu terasa berlipat ganda terutama saat hari pasaran Kliwon tiba. Sepanjang siang hingga malam, Ratna harus bekerja keras tanpa henti: di siang hari membereskan seluruh pekerjaan rumah yang menguras tenaga, dan di malam hari ia harus menuruti segala permintaan Rahmat demi kelancaran ritual gaib mereka. Meskipun sesekali Rahmat ikut membantu membersihkan rumah, beban fisik dan batin itu tetap terasa sangat berat bagi wanita yang sedang mengandung.
Pada sore itu, di ruang keluarga yang lengang, kelelahan fisik dan batin Ratna akhirnya mencapai puncaknya. Ia menatap suaminya dengan pandangan sayu yang memohon.
“Mas… Bisakah malam ini kita tidak melakukan ritual dulu? Aku sudah sangat lelah, Mas. Sejak pagi mengurus rumah sendirian tanpa henti,” pintanya dengan nada memelas.
Namun, keluhan itu sama sekali tak menggerakkan hati Rahmat. Wajahnya tetap tenang, bahkan terasa dingin, saat ia menjawab pelan.
“Tidak bisa begitu saja, Bu. Apa Ibu mau kita jatuh miskin lagi seperti dulu? Kalau sampai harta kita habis, nasib anak kita nanti bagaimana? Apakah harus tumbuh menderita?” ucapnya santai namun menusuk, seolah menancapkan duri tepat di hati istrinya.
“Ya ampun… Jangan bicara sembarangan begitu, Mas! Seolah-olah Mas malah mengutuk anak sendiri!” seru Ratna dengan ngeri. Ia buru-buru menutup mulutnya, lalu tangan kanannya beralih mengelus perut buncitnya yang kini sudah berusia lima bulan. Ia sangat takut, sekiranya ucapan buruk suaminya membawa dampak jahat bagi janin dalam kandungannya.
“Sudah, diam saja. Aku mau bersiap dulu untuk keperluan nanti malam,” potong Rahmat singkat tanpa rasa bersalah. Ia segera bangkit dan berjalan pergi menuju kamar, meninggalkan Ratna termenung.
Hati Ratna terasa remuk melihat sikap suaminya yang kini lebih mementingkan urusan gaib dan harta daripada keselamatan istri serta anaknya. Ia hanya bisa menghela napas panjang, berat dan penuh kepahitan. Air mata mulai menggenang di pelupuk matanya saat menatap punggung Rahmat yang hilang di balik pintu. Ia sadar, sosok suami yang dulu penuh kasih sayang kini telah berubah menjadi orang asing yang terperangkap dalam nafsu kekayaan.
Tak lama kemudian, Rahmat kembali ke ruang keluarga. Ia mendapati Ratna masih duduk diam, menatap kosong seolah sedang meratapi nasibnya sendiri.
“Bu… Sebaiknya kita segera berangkat ke pasar sore ini untuk membeli ayam cemani. Ibu ikut saja, biar nanti dari pasar kita langsung mampir ke kedai bakso. Jadi tak perlu pulang ke rumah dulu, lebih hemat waktu,” ujar Rahmat tanpa sedikit pun menampakkan rasa peduli pada wajah lelah istrinya.
“Harus berangkat sekarang juga, Mas? Aku belum sempat istirahat, baru saja selesai memasak dan membereskan dapur,” keluh Ratna dengan suara lemah, berharap suaminya mau sedikit mengerti kondisinya.
“Pokoknya Ibu harus ikut. Tak ada bantahan. Sekarang ganti baju sana, kita harus segera berangkat,” tegas Rahmat, nada bicaranya meninggi dan tak memberi ruang bagi Ratna untuk menolak.
Mendengar nada bicara yang keras itu, keberanian Ratna seketika hilang. Rasa takut menyergap kembali, mengingat kejadian saat Rahmat pernah membentaknya dengan kasar. Ia tak ingin hal itu terulang lagi hanya karena ia berani menolak kemauan suaminya. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, Ratna mengangguk pasrah. Dengan langkah berat dan lambat, ia bangkit menuju kamar untuk bersiap berangkat.
Perjalanan sore itu terasa begitu sunyi di dalam mobil. Sesampainya di pasar, mobil mewah milik Rahmat terparkir dengan mulus di salah satu sudut area parkiran yang sore itu sudah mulai tampak lengang. Sinar matahari senja kian meredup, menyisakan semburat merah keunguan di cakrawala yang perlahan mulai ditelan kegelapan malam, menandakan waktu magrib akan segera tiba.
“Bu… Ibu mau ikut Mas masuk ke dalam pasar atau mau tunggu di sini saja?” tanya Rahmat sembari mematikan mesin mobilnya.
“Ibu tunggu di dalam mobil saja, Mas. Badan Ibu rasanya lemas sekali,” keluh Ratna dengan suara yang teramat lirih, menyandarkan punggungnya yang letih ke sandaran jok mobil yang empuk.
“Ya sudah kalau begitu, Ibu tunggu saja di sini. Mas juga tidak akan lama kok di dalam,” sahut Rahmat sembari membuka pintu, lalu melangkah keluar dari mobil mewahnya dan berjalan cepat masuk ke dalam lorong pasar yang mulai temaram untuk mencari pedagang ayam cemani dan bahan-bahan lainnya untuk ritual malam ini.
Setelah pintu mobil tertutup rapat, keheningan yang pekat langsung menyergap Ratna. Ia memandangi deretan ruko pasar yang perlahan mulai menutup pintunya satu per satu. Aroma samar tanah kering dan bau amis khas pasar tradisional yang terbawa angin senja sesekali menyelinap masuk lewat sela ventilasi, menambah kesan sepi pada sudut parkiran tersebut.
Waktu merangkak pelan. Sekitar sepuluh menit Ratna menunggu seorang diri dalam lamunan yang melelahkan, hingga tanpa angin dan tanpa hujan, suasana di sekitar area parkiran tersebut mendadak berubah secara drastis. Hawa sejuk dari AC mobil yang semula nyaman, tiba-tiba terasa sedingin es yang menusuk kulit, membuat Ratna spontan memeluk tubuhnya sendiri karena menggigil.
Tepat saat ia merapatkan pakaiannya, pandangan mata Ratna mendadak tertuju pada sesosok bayangan yang mendekat dari balik kegelapan. Dari balik kaca jendela mobil yang tertutup rapat, ia dikejutkan oleh kemunculan nenek tua misterius yang tampak seperti seorang musafir. Wanita renta itu mengenakan pakaian yang amat kumal dan compang-camping, dengan sebuah tas kain tua yang melekat erat di punggungnya yang bungkuk.
Nenek tua itu tiba-tiba mengetuk kaca mobil dengan kuku-kukunya yang hitam, lalu menatap tajam tepat ke arah mata Ratna. Pandangannya begitu dalam, menyiratkan rasa iba sekaligus peringatan yang amat mendesak. Tanpa diduga, suara parau nenek tua itu seolah menembus kaca yang tebal dan menggema langsung di telinga Ratna, berbisik begitu jernih namun terasa dingin hingga ke tulang sumsum.
“Nduk… Jangan pernah lakukan lagi ritual terkutuk itu jika kamu tidak mau menyesal seumur hidup di kemudian hari! Dan gugurkan kandungan itu sekarang juga, jika kamu tidak mau melahirkan anak iblis ke dunia ini!” ujarnya dengan nada penuh penekanan yang mengerikan.
Segera setelah melontarkan kalimat itu, nenek tua itu langsung membalikkan badan. Ia melangkah pergi dengan tergesa-gesa, menghilang begitu cepat berbaur dengan temaramnya lorong pasar yang makin gelap. Ratna ditinggalkan dalam cekaman kengerian yang luar biasa, dengan seribu pertanyaan yang berkecamuk di pikirannya.
Mendengar perkataan yang mengerikan itu, Ratna sontak tersentak kaget dari lamunannya. Jantungnya berdegup kencang bagai ditabuh bertalu-talu, dan sekujur tubuhnya gemetar hebat dikepung rasa takut.
“Apa… Apa maksud perkataan nenek itu tadi? Bagaimana mungkin dia tahu kalau malam ini Mas Rahmat akan melaksanakan ritual gaib? Dan… anak iblis?” gumam Ratna dalam hati dengan bibir bergetar, sambil mengelus pelan perut buncitnya yang mendadak terasa bergejolak aneh — seolah janin di dalamnya ikut merespons ucapan tadi.
Tanpa disadari Ratna, sosok nenek tua yang baru saja ditemuinya itu adalah orang yang sama yang pernah ditemui Rahmat di pinggir jalan beberapa waktu lalu. Sosok misterius itu kala itu juga melontarkan peringatan keras, namun akhirnya diabaikan Rahmat karena tergoda janji kekayaan.
Bersambung
jangan lupa like back ke ceritaku 😁