NovelToon NovelToon
Stempel Tua Penyelamat Duda Ganteng

Stempel Tua Penyelamat Duda Ganteng

Status: tamat
Genre:Duda / Diam-Diam Cinta / Cinta Seiring Waktu / Trauma masa lalu / Tamat
Popularitas:573
Nilai: 5
Nama Author: DeeSCe

Cuti untuk menjual rumah warisan berubah menjadi awal kisah yang tak pernah dibayangkan Honami Yukari. Setelah menemukan kembali koleksi stempel peninggalan kakeknya, ia justru dipertemukan dengan seorang pria misterius yang nyaris kehilangan nyawa. Anehnya, pria itu tidak ingin diselamatkan. Sejak hari itu, setiap stempel mulai menjadi saksi perjalanan mereka menyembuhkan luka, membuka masa lalu, dan menemukan arti pulang yang sesungguhnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DeeSCe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

SIAPA HIROSHI

Sinar matahari pagi menyelinap masuk melalui celah jendela, menghangatkan dapur rumah kayu di desa Oki-Niko. Aroma mentega yang meleleh bercampur bawang putih perlahan memenuhi seluruh ruangan.

Yukari keluar dari kamar dengan penampilan yang segar setelah mandi tepat saat Akira baru menuangkan dua porsi nasi goreng mentega yang masih mengepul ke atas piring.

"Wah, sudah selesai memasak? Kebetulan sekali," ujar Yukari dengan mata berbinar melihat sarapannya.

Sebuah senyum kecil muncul di bibir akira "Iya, pas sekali. Ayo makan."

"Itadakimasu", mereka mulai menikmati sarapan pagi itu dengan tenang. Rasa gurih makanan langsung membuat suasana pagi itu terasa begitu nyaman.

Di sela-sela kunyahannya, Yukari mendongak menatap pria di hadapannya. "Akira-san, apa kau jadi ikut ke ladang apel bersama Daiki pagi ini?"

Akira mengangguk "Mungkin sekitar lima belas menit lagi Dia sampai" Pria itu menjeda sejenak, menatap Yukari lurus. "Kau ingin sesuatu saat aku pulang nanti?"

Yukari tampak berpikir sebentar, lalu tersenyum manis hingga matanya menyipit. "Emm... bawakan aku buah apel yang manis ya!"

"Baiklah," jawab Akira, sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman hangat yang tulus.

Tidak lama setelah sarapan usai, suara deru mesin pikap hijau milik Daiki terdengar berhenti di depan rumah. Akira yang sudah bersiap dengan kaus, topi dan sepatu bot karet segera melangkah keluar bersama Daiki.

Yukari ikut berjalan mengantar mereka sampai ke ujung pintu pagar, mengangkat tangannya dan melambai ceria melepas keberangkatan Daiki dan Akira.

Namun, sebelum Daiki menekan pedal gas mobilnya, pria itu sengaja menurunkan kaca jendela. Ia melirik Yukari lalu beralih ke Akira

"Hei, Yukari...kau seperti sedang melepas suamimu pergi bekerja saja, hm?" goda Daiki dengan nada usil yang kental.

Wajah Yukari seketika merona merah padam karena malu. Ia mendelik kesal ke arah sahabat masa kecilnya itu. "Daiki! Berisik! Cepat pergi sana!" seru Yukari setengah berteriak menutupi salah tingkahnya.

Tin!

Daiki tertawa puas melihat respons Yukari, lalu menekan klakson mobilnya sekali sebagai tanda pamit. Mobil pikap hijau tua itu pun perlahan bergerak menuju perkebunan apel di ujung perbukitan.

***

Angin pagi yang segar segera merangsek masuk, menerbangkan beberapa helai rambutnya. Pandangan Yukari jatuh pada pagar putih halaman yang kemarin sempat dia cat bersama Akira. Sebuah senyuman manis kembali mengembang di bibirnya saat mengingat momen itu.

Waktu berlalu dengan begitu cepat tanpa terasa. Menjelang pukul lima sore, langit di atas desa Oku-Niko mulai berubah warna menjadi jingga keemasan yang cantik. Setelah menghabiskan waktu seharian untuk membersihkan rumah, Yukari mengambil sapu lanjar di sudut teras untuk membersihkan halaman depan.

Saat Yukari sedang menyapu sisa-sisa daun kering, sebuah mobil SUV hitam mewah yang tampak asing mendadak bergerak pelan dan berhenti tepat di depan pintu gerbang kayu pekarangannya.

Yukari menoleh dengan kening berkerut, "Siapa ...!" batinnya ia sama sekali tidak tahu itu mobil siapa.

Pintu kemudi terbuka. Ketika seorang pria bertubuh tinggi dengan setelan kemeja rapi dilapisi jas kota turun dari sana, mata Yukari seketika membelalak. Tubuhnya membeku karena terkejut.

"Hiroshi-san..." desisnya tak percaya.

Pria itu melangkah masuk dengan raut wajah yang tampak sangat tenang dan ramah. Senyumnya terkontrol rapi.

"Apa kabar, Yukari?" sapa Hiroshi lembut begitu sampai di depan teras. "Aku sempat mencarimu ke toko dan ke perpustakaan kota tempatmu bekerja, mereka bilang kau mengambil cuti panjang."

Yukari mencengkeram gagang sapunya, menatap pria itu waspada. "Ada apa? Untuk apa kau mencariku jauh-jauh ke sini?"

"Aku Ingin mengatakan sesuatu, Yukari," jawab Hiroshi, suaranya terdengar begitu tulus. Pria itu menjeda sebentar. "Apakah kau mau ikut berlibur ke swiss denganku?"

Yukari tersentak kaget, langsung menggeleng cepat. "Kita sudah tidak ada hubungan apa-apa lagi, Hiroshi-san."

"Ya, aku tahu," potong Hiroshi dengan nada santai dan memaklumi. "Aku tidak memintamu untuk kita berhubungan kembali. "

"Aku akan bekerja di Swiss. Dan saat mempersiapkannya, aku teringat kalau di Swiss ada sebuah tempat terbaik yang penuh dengan koleksi buku-buku klasik. Aku hanya ingin kau ikut berlibur sebentar di sana."

Hiroshi merogoh saku jas mahalnya, lalu mengeluarkan sebuah kertas lipat tebal. "Ini, aku membawakan brosur tentang tempat itu untukmu. Aku akan berangkat minggu depan." Pria itu menyodorkannya ke arah Yukari.

Yukari menatap brosur itu dengan sangsi, enggan menerimanya. "Ini tidak benar. Tolong pulanglah."

"Hanya melihat brosurnya saja, Yukari. Setelah itu aku akan pergi," bujuk Hiroshi dengan raut memohon yang meyakinkan. " Mungkin... sambil ditemani segelas teh? Bisakah kau memberiku sedikit waktu untuk bicara?"

Yukari tidak bersuara, Mengingat sepertinya hanya ingin berpamitan secara baik-baik sebelum pindah ke luar negeri, Yukari akhirnya mengembuskan napas panjang.

"Baiklah. Kau duduk saja di teras, aku akan buatkan teh," ujar Yukari dingin.

Yukari melangkah masuk ke dalam rumah Namun, tanpa disadari Yukari, ketenangan di wajah Hiroshi lenyap seketika. Mengikuti dari belakang dengan langkah tanpa suara, Hiroshi menyelinap masuk ke dalam rumah.

Brak!

Pintu depan ditutup kasar dari dalam, disusul suara selot besi yang dikunci rapat.

Klik.

Yukari berbalik, jantung berdegup kencang. Hiroshi sudah berdiri tegak di depan pintu, mengantongi kuncinya. Saat Yukari mundur perlahan dengan rasa takut yang mulai merayap, Dia sedikit menyeringai—sebuah senyuman mengerikan yang membuat bulu kuduk berdiri.

"Apa yang kau lakukan, ini gak lucu?!" pekik Yukari, suaranya mulai bergetar.

"Tidak ada..." Hiroshi melangkah maju dengan santai, mengintimidasi ruangan. "Hanya ingin memberikan sedikit tanda sebelum aku pergi ke Swiss."

"Apa maksudmu?!"

Hiroshi berhenti melangkah, lalu mengangkat tangannya untuk memijat pangkal ujung hidungnya pelan "Kau masih saja bodoh seperti dulu" Tatapan mata Hiroshi mendadak turun, menatap tajam ke arah pinggul dan lekuk tubuh Yukari dengan kilat penuh nafsu. "Apa kau masih menjaganya dengan baik selama ini?"

Menjaga apa maksudnya? batin Yukari menjerit ngeri. Membaca arti tatapan menjijikkan itu, kesadaran Yukari tersentak sepenuhnya.

"Kau gila!!!" teriakan Yukari pecah.

Gadis lari sekencang menuju pintu selasar samping rumah untuk kabur. Namun, gerakan tangan Hiroshi lebih cepat dan brutal. Pria itu menyentak lengan Yukari hingga tubuh gadis itu berputar balik, lalu dengan kasar Hiroshi mencengkeram kuat rahang Yukari, memaksa wajahnya mendongak sebelum mendaratkan ciuman yang sangat kasar dan memuakkan di bibirnya.

Plak!!

Dengan sisa tenaga yang dimilikinya, Yukari berhasil merenggut tangannya dan melayangkan tamparan keras tepat di pipi pria itu.

Hiroshi terhuyung mundur satu langkah. Dia memegangi pipinya yang terasa cukup perih, napasnya memburu. Sorot mata pria itu kini berubah total menjadi iblis yang murka karena tidak terima ditampar.

"Gadis sialan!" geram Hiroshi kasar.

Sebelum Yukari sempat melangkah lagi, kedua pergelangan tangan Yukari ditarik secara paksa dan dikunci ke belakang tubuhnya. Hiroshi mendorong tubuh mungil itu hingga terpojok erat di dinding ruang tengah. Dengan sebelah tangannya yang bebas, Hiroshi mulai bergerak agresif menguasai dan menciumi garis leher Yukari dengan paksa.

Yukari hanya bisa meronta hebat, menangis histeris dengan seluruh tubuh gemetar. "Daiki!! Tolong aku... Daiki!!"

"Hah! Si bodoh itu tidak berguna sekarang!" bisik Hiroshi jahat di telinga Yukari, diiringi tawa meremehkan. "Kemana dia sekarang saat kau berada di bawah kendaliku, hah?!"

Cuh!

Yukari meludahi wajahnya, Tindakan itu membuat Hiroshi terkejut dan refleks melepaskan pegangan tangannya untuk mengusap wajahnya.

Memanfaatkan celah sempit itu, Yukari langsung berlari kencang menuju pintu selasar. Namun baru beberapa langkah, kaki Hiroshi dengan sengaja menjegal langkahnya.

Braaaak!

Yukari jatuh tersungkur di atas lantai kayu dengan keras. Sebelum dia sempat bangkit, Hiroshi sudah menerkamnya dari belakang. Pria itu menarik paksa cardigan kesayangan Yukari dari atas hingga kancing-kancingnya terlepas dan berhamburan di lantai. Tidak berhenti di sana, kemeja putih yang dikenakan Yukari dirobek dengan satu sentakan kasar hingga bagian bahunya yang mulus terekspos jelas. Rok nya disibak.

"Lepaskan aku!! Kumohon lepaskan!!" jerit Yukari histeris di sela tangisnya yang pecah total.

"Apa kau berniat untuk menikah dengan buku-buku sialanmu itu?!" bentak Hiroshi yang sudah sepenuhnya kesetanan.

"Lepaskan aku...!" Yukari meringis, kini posisinya benar-benar telah terkunci di bawah kungkungan tubuh Hiroshi. Dia menangis sejadi-jadinya, merasa sangat tidak berdaya.

"Jika sejak awal kau bersikap baik dan penurut, aku tidak akan bertindak sekasar ini," desis Hiroshi. Pria itu menahan kedua tangan Yukari ke lantai, lalu menggunakan jemarinya untuk menyapu dan mengusap wajah Yukari dengan paksa, menikmati ketakutan korbannya. Yukari hanya bisa memejamkan mata erat-erat, menangis pilu merutuki nasibnya.

***

Di saat yang bersamaan... sekitar seratus meter dari halaman rumah keluarga Honami.

"Maaf, Akira-san!" seru Daiki setengah berteriak dari balik kemudi mobil. "Aku harus membawa buah apel panen ini ke tempat pengepul besar di ujung desa sebelum mereka menutup gerbangnya sore ini!"

Akira turun dari pintu penumpang sembari mendekap kantong yang berisi buah apel segar hasil peluhnya seharian di kebun.

"Tidak apa-apa, Daiki," Akira mengangguk kecil dengan raut wajah yang tampak jauh lebih segar. "Terima kasih banyak atas tumpangan dan apelnya."

Daiki melambaikan tangannya dari jendela mobil sembari menyunggingkan cengiran khasnya. "Sip! Sampai ketemu !"

Mobil pikap hijau itu kembali melaju membelah jalanan desa, menyisakan kepulan debu tipis yang beterbangan di udara sore.

Akira berjalan dengan langkah santai menyusuri jalan setapak desa menuju rumah. Seluruh tubuhnya memang terasa sangat lelah dan pegal setelah seharian penuh mengangkat puluhan keranjang besi berisi apel yang berat. Namun hatinya sore ini terasa begitu ringan dan damai.

Dia membayangkan bagaimana ekspresi wajah Yukari yang berbinar senang saat melihat apel segar yang dibawanya ini.

Namun, langkah santainya langsung berubah saat melihat sebuah mobil SUV hitam terparkir tepat di depan gerbang rumah.

"Mobil siapa?"batin Akira

Namun... begitu langkah kakinya melewati gerbang kayu dan memasuki halaman pekarangan rumah... seluruh tubuh Akira mendadak berhenti bergerak.

Suara samar dari dalam rumah menembus indra pendengarannya.

"Lepaskan aku!!"

Suara jeritan histeris yang sarat akan ketakutan itu seketika membuat Wajahnya pucat seketika

"Suara itu..." Akira menggertakkan rahangnya. "Yukari-san!"

Kantong Yang dipegangnya jatuh menghantam tanah. Puluhan buah apel merah menggelinding dipekarangan. Akira mengerahkan seluruh sisa tenaganya untuk berlari kencang menuju pintu depan rumah.

"Yukari-san!" Akira mengguncang gagang pintu besi itu dengan kasar menggunakan kedua tangannya.

Terkunci rapat dari dalam.

Yang terdengar di telinga Akira saat ini hanyalah suara isak tangis tertahan Yukari yang ketakutan, disusul oleh suara seorang pria asing yang tidak dia kenal.

Seketika itu juga, seluruh ekspresi kepanikan di wajah Akira menguap tanpa bekas. Amarah yang luar biasa besar mendadak meledak di dalam dadanya, membakar seluruh akal sehatnya.

Akira melangkah mundur dua langkah ke belakang dari pintu.

BRAAAAKKK!!

Akira menghantamkan seluruh berat tubuh dan bahu tegapnya ke arah pintu kayu itu dengan kekuatan penuh yang dia miliki. Hantaman pertama itu membuat kayu pintu berderit keras, namun selot besinya masih bertahan.

BRAAAAKK

Pintu itu hanya ringsek, Bahu Akira terasa nyeri, namun fokusnya tidak teralih sedikit pun. Sebuah jeritan parau yang memilu hatinya terdengar dari arah dalam rumah.

"Akira-san..!! Selasar samping...!!"

Mendengar namanya disebut dalam jeritan penuh keputusasaan itu, Detik itu juga, dia langsung berputar arah dan berlari kencang memutari rumah menuju area selasar samping.

Suara jeritan Yukari yang melengking histeris memutus sisa kesabaran Akira. Akira sudah berdiri di ambang selasar samping. Napasnya memburu, memompa amarah yang sudah naik ke ubun-ubun. Di depannya, pintu kayu itu sedikit terbuka. Melalui celah sempit itu, matanya menangkap siluet Yukari yang telentang tak berdaya.

BRAKKKK!!!

Pintu selasar samping terbuka paksa dengan sangat keras, Akira merangsek masuk, dan pemandangan mengerikan di ruang tengah langsung menyambut kedua matanya.

Yukari lemas di atas lantai kayu dengan kondisi pakaian yang robek berantakan di bagian bahu, kancing kemeja bagian atas sudah terlepas, Rok nya tersibak, wajahnya sembap oleh air mata. Hiroshi yang berada di atasnya refleks terkejut dan langsung bangkit berdiri, mundur beberapa langkah.

1
Putri Ayu/PqxxyZ
Halo kak... mari kita saling dukung dalam berkarya 😊😊
Putri Ayu/PqxxyZ: sama aja kak 😄 baru coba coba di sini
total 4 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!