NovelToon NovelToon
CINTA YANG TAK SEPADAN

CINTA YANG TAK SEPADAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Dunia Masa Depan / Diam-Diam Cinta
Popularitas:429
Nilai: 5
Nama Author: Essa Amalia Khairina

Kepergian kekasihnya membuat Naya menyadari akan kehilangan yang begitu mendalam. Luka yang ditawarkannya pun begitu hebat hingga membuat Naya harus benar-benar pulih dari rasa sakit hati.

Dan seiring berjalannya waktu, Zaki datang dan mengubah kehidupannya yang dulu begitu terasa hampa penuh luka tersebut kini penuh kebahagiaan yang tak pernah ia miliki sebelumnya.

Namun sayangnya, kebahagiaan itu harus mereka perjuangkan bersama agar tetap bertahan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Essa Amalia Khairina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

KABAR PAGI UNTUK NAYA

Matahari belum sepenuhnya menampakkan sinarnya, namun sudah sepagi ini Naya terbangun dari tempat tidurnya. Bukan lagi karena kebiasaan pagi yang selalu diawali dengan menjawab panggilan Ibunya, Erna. Melainkan oleh derum suara mobil yang perlahan memasuki pekarangan rumahnya.

Naya menatap dirinya di cermin. Usia dua puluh tiga tahun telah mengubahnya menjadi wanita yang matang. Ia memoles kulitnya yang kusam menjadi lebih bercahaya, serta menjinakkan rambutnya yang dulu selalu kusut menjadi gelombang yang jatuh dengan anggun. Namun, perubahan itu tak lantas membuatnya tenang.

"Nay..." Panggil Erna sambil membuka kain gorden kamar anaknya yang selama ini mereka anggap pintu. Langkahnya tertatih pelan menghampiri anak semata wayangnya.

Naya berbalik. Melihat sang ibu yang tampak pucat dan ringkih, hatinya mencelos. "Ibu kenapa keluar kamar?" Katanya segera mendekat, merengkuh tubuh ibunya dengan lembut, lalu menuntun wanita itu keluar dari kamar mereka yang sempit.

"Nak Randi kayaknya sudah ada di depan. Ibu panggil kamu dari kamar, gak ada jawaban."

Naya tersenyum tipis lalu mengajak Ibunya duduk di kursi ruang tamu berbahan rotan yang sudah reot dan mulai kehilangan anyamannya itu. "Maaf Bu, Naya gak denger."

Erna terkekeh pelan, sebuah batuk kecil menyela tawanya yang terdengar sedikit parau. "Kalau Nak Randu yang mengetuk pintu, rasanya baru saja ketukan pertama, kamu sudah langsung menyambar gagang pintu," godanya dengan nada jenaka yang khas seorang ibu.

Wajah Naya memerah seketika. "Ibu, ih!" serunya, berusaha menutupi rona merah di pipinya dengan pura-pura merapikan bantal kursi.

​Tuk. Tuk. Tuk.

​Tiga ketukan berirama itu menggema di ruang tamu yang lengang. Belum sampai ketukan terakhir mendarat, Naya sudah lebih dulu beranjak, tubuhnya bergerak lincah menuju pintu depan seolah terdorong oleh magnet yang tak kasat mata.

​Erna hanya bisa menggelengkan kepala, menyandarkan punggungnya yang ringkih ke sandaran rotan. "Tuh, kan," gumamnya penuh kemenangan, suaranya sarat akan nada menggoda.

​Naya menoleh sejenak sebelum tangannya menyentuh knop pintu, matanya membelalak lucu ke arah ibunya. "Ibu, masa ada tamu dibiarkan menunggu? Tidak sopan, tahu!" sergahnya membela diri, meski langkahnya yang terburu-buru justru membuktikan bahwa ia tidak bisa lagi menyembunyikan rasa ketidaksabarannya.

Pintu perlahan di buka lebar. Tampak seorang pria berdiri tegap di ambang pintu dengan senyum hangat menyapa pagi yang masih berkabut. Tubuhnya berbalut kemeja hitam dengan celana panjang berwarna hitam yang memberikan kesan santai namun tetap rapi.

"Mas Randi!" sapa Naya. Bulat bola matanya yang sedikit sembab segera terkunci pada rahang tegas kekasihnya, memindai setiap detail garisnya. Seperti biasa, dalam situasi apapun hal itu ia lakukan untuk ia simpan lekat-lekat di dalam ingatan.

Pria itu terkekeh kecil melihat tatapan Naya yang intens. "Apa aku datang terlalu pagi?" tanyanya, memecah kekhawatiran gadisnya itu.

Randi mendesis, kerongkongannya bergerak naik turun saat dirinya menelan ludah. "Maaf, aku memang tamu yang tidak sopan, datang tanpa peringatan di jam sepagi ini."

Naya segera menggeleng cepat, jemarinya sedikit bergerak seolah ingin menepis ucapan Zaki. "Jangan bicara seperti itu, Mas," sahutnya lembut. "Ini bukan pertama kalinya kamu datang sepagi ini juga, bukan? Lagipula... aku gak pernah keberatan Mas."

"Naaaay..." Panggil Erna. Suaranya yang rapuh, cukup terdengar ke telinga Randi. "Katanya gak sopan kalau ada tamu harus nunggu lama di luar. Kenapa Nak Randi gak di suruh masuk?"

Naya terkekeh. Matanya yang masih terkunci pada Randi segera mempersilahkan pria berusia tiga puluh tahun itu masuk mendekati Ibunya.

Seperti biasa, Randi selalu datang bersama sopan santun yang melekat erat pada dirinya. Ia melangkah tanpa suara yang mengganggu, mengulas senyum tipis yang langsung memancarkan kehangatan nyata lalu mencium punggung tangan wanita paruh baya itu dengan khidmat.

"Bagaimana kabar Ibu hari ini?" suara Randi mengalun rendah, begitu tenang dan tertata, seolah setiap kata yang keluar dari bibirnya telah melewati penyaringan yang ketat.

Erna tersenyum lebar, binar di matanya yang sempat redup kini kembali menyala. Tangan keriputnya menepuk pelan bahu Randi. "Baik, Nak Randi. Meski kemarin Ibu habis pulang dari dokter di antar Naya untuk periksa."

Randi sekilas menoleh memandang Naya yang ada di belakangnya. Lalu, matanya kembali tertuju pada wanita ringkih itu. "Apa kata dokter, Bu?"

Erna menghela napas panjang, sebuah senyum pasrah terukir di bibirnya yang kering. "Dokter bilang, ini memang waktunya untuk beristirahat lebih lama, Nak. Tubuh Ibu sudah tidak sekuat dulu untuk diajak kompromi. Tapi... Ibu juga kasihan kalau Naya harus—"

"Ibu gak perlu mengkhawatirkan soal itu..." Potong Naya cepat namun tetap berusaha tenang. "... ini memang sudah kewajiban Naya untuk rawat Ibu."

Mendengar hal itu, Randi terdiam sejenak. Ia menyadari satu hal yang sudah lama ia simpan dalam hatinya, bahwa ia memang tidak salah pilih.

​Naya benar-benar berbeda dari wanita-wanita dari kalangan kelas atas yang selama ini mengelilingi dunianya. Wanita-wanita itu mungkin terbiasa dengan kemanjaan dan gaya hidup yang tersusun rapi, namun mereka tidak memiliki kedalaman jiwa seperti yang Naya tunjukkan saat ini. Naya memang tidak seberuntung gadis lain yang bisa menghabiskan masa mudanya dengan bersenang-senang atau sekadar memikirkan tren terkini, dan di balik kesederhanaannya itu, Naya memiliki kemuliaan yang jauh lebih mahal harganya.

"Nak Randi... Ibu boleh ke kamar?" Tanya Erna mengejutkan. "Takut mengganggu kalian ngobrol nantinya."

Randi hanya melempar senyum. Sementara, Naya yang sedari tadi berdiri di belakang, segera melangkah maju. "Naya antar ya, Bu?" Katanya cemas, menarik mata pria itu kini benar-benar sepenuhnya tertuju padanya.

Erna menggeleng. "Ibu bisa jalan sendiri ke kamar, Nay. Ibu gak separah itu," jawabnya penuh keyakinan. Tubuhnya yang terasa berat mulai beranjak dari kursi. Langkahnya tertatih, perlahan meninggalkan ruang tamu hingga sosoknya benar-benar hilang di balik pintu.

​"Naya..." Randi memulai dengan nada rendah yang tenang. Begitu memastikan Erna telah masuk ke kamarnya, ia melangkah mendekat tanpa sedikit pun melepaskan tatapannya dari manIk mata gadis itu. "Aku tahu kamu habis nangis semalaman. Iya, kan?"

"Katakan apa tujuan kamu hari ini datang ke rumah, Mas?" Sela Naya tegas. Manik matanya yang sedari tadi nampak rapuh kini berubah menjadi tatapan elang yang menuntut. "Aku tak ingin Ibuku tahu masalah kita, Mas. Jadi, sebelum Ibu keluar lagi dari kamar... apa jawaban dan keputusan kamu?"

Sejenak, Randi menundukkan kepala. Rahangnya mengeras, menyiratkan secuil rasa bersalah yang terlambat datang. Ia menghela napas berat. Pusing dan bingung menentukan pilihan bukan lagi jawaban yang Naya inginkan saat ini. Ia tahu persis hal itu.

​"Setelah aku menimbang ... aku ..."

​Hening mencekik ruangan. Jantung Naya berdegup kencang, memukul dadanya bertubi-tubi. Perasaan tidak enak mulai menjalar, merenggut pasokan udara di sekitarnya. Namun, ia tetap menatap wajah Randi lekat-lekat, mencoba mengemis pada takdir, berharap masih ada secercah harapan di sana.

​"Aku pilih dia."

​Naya membelalakkan matanya, napasnya tercekat. "Mas!"

​"Dua minggu lagi kami akan menikah," lanjut Randi, telanjur fatal. "Aku minta maaf, Nay. Aku minta maaf."

​Pertahanan Naya runtuh seketika. Bendungan di sudut matanya pecah, mengalirkan air mata hangat di pipinya yang kian sembab. Ia menangis dalam senyap, membekap mulutnya sendiri karena takut suara hancurnya itu terdengar sampai ke kamar ibunya.

Rasa sesak itu mendesak di dada, menyiksanya dengan keinginan kuat untuk berteriak tepat di depan wajah lelaki yang selama ini ia perjuangkan sendirian. Ia ingin menumpahkan seluruh amarahnya. Namun, bibirnya justru terkunci rapat—bukan karena takut riak kemarahan itu tertangkap oleh Erna, melainkan karena ia memang tidak pernah bisa, atau mungkin tidak pernah diizinkan, untuk marah di depan Randi.

Sejak awal, entah mengapa, kekuatannya selalu meluruh di hadapan pria itu. Dan kini, di titik nadir ini, amarahnya menguap, menyisakan kepasrahan yang teramat dingin pada luka yang kian mengalir dalam, perlahan mengikis habis sisa-sisa dirinya.

Naya hanya bisa menatap Randi dengan pandangan yang kian mengabur. Dunia di sekitarnya seolah bergerak lambat, menyisakan suara bising di kepalanya sendiri yang mendikte betapa bodohnya ia selama ini. Berjuang sendirian dalam sebuah hubungan itu layaknya memeluk kaktus, semakin erat ia mendekap, semakin dalam duri-duri itu menancap di dadanya.

​Randi masih di sana, mungkin sedang memikirkan kebohongan yang selama ini berusaha menyelamatkan dirinya sendiri. Dan kini, bagi Naya sosok Randi perlahan memudar. Pria yang dulu menjadi rumahnya, perlahan menjelma menjadi tempat paling asing sekaligus paling menyakitkan.

​"Kamu nggak apa-apa?" Suara Randi akhirnya memecah keheningan, terdengar begitu hambar di telinganya.

Kamu gak apa-apa? Pertanyaan bodoh macam apa itu? Batin Naya. Jelas-jelas hatiku hancur!

Namun, Naya tidak menjawab. Ia hanya tersenyum tipis—sebuah senyuman yang lahir dari rasa lelah yang teramat sangat. Menolak untuk berdebat, menolak untuk menuntut penjelasan yang ujung-ujungnya hanya akan berupa pembelaan diri yang manipulatif.

​Saat itu juga, Naya mengangguk dalam diam. Ia memilih untuk melepaskan jangkarnya. Biarlah luka ini mengalir hingga kering, karena kini ia sadar, menyerah terkadang bukan karena ia lemah, melainkan karena ia akhirnya tahu kapan harus berhenti menghargai seseorang yang sama sekali tidak pernah menghargainya.

****

1
Rahmi Mamimima
Typo ini.. Harusnya aku yg pduli sm kamu
Rahmi Mamimima
Kasian, naya udah g punya sahabat baik lagi

Kinan jug ksian krna uda g punya orang tua
Rahmi Mamimima
Wadduuhh gimana si kecil? Apa dy ikut dlm kcelakaan itu?
Rahmi Mamimima
Ah masa iya stlh obrolan itu tdk ad obrolan lgi ntara nya dan zaki
Mlah nay tu dr grup sekolahan, bkn dr zaki sendiri
Rahmi Mamimima
🤣🤣🤣😄Org lagi jatuh cinta kok malah mau d bw k psikiater
Rahmi Mamimima
Jatuh cinta beneran si naya sm muridnya
Rahmi Mamimima
Ibunya sdh mninggl? Apa krna anaknya g jdi mnikah?
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!