"Luka terdalam seorang wanita bukanlah saat dia harus melepaskan, melainkan saat dia menyadari bahwa selama ini dia telah mempertaruhkan seluruh hidupnya untuk seorang pria yang bahkan tidak sudi melangkah satu senti pun untuk mempertahankannya."
Menikah dengan Arman membuat Aini Lidya paham rasanya terlantar secara mental. Nafkah pas-pasan, suami yang gemar pulang larut malam, hingga mertua dan ipar yang toxic, semuanya Aini telan bulat-bulat selama satu tahun.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ratika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 22: KABUT CEMBURU DI SET SYUTING
Waktu laksana anyaman takdir yang bergerak tanpa suara, merajut baris demi baris kisah baru di atas reruntuhan luka masa lalu.
Pagi itu, hari keempat proses syuting untuk web series"Luka dalam Rumah Tangga" berjalan dengan atmosfer yang cukup sibuk di bawah langit pusat kota yang cerah. Aini hadir di lokasi syuting dengan penampilan yang teramat rapi, segar, dan modis. Hari ini dia mengenakan setelan kasual yang elegan, memancarkan kearifan lokal dengan kulit kuning langsatnya yang bersih merona. Meskipun tubuhnya mungil dengan tinggi 155 sentimeter dan berat badan 50 kilogram, Aini memiliki pancaran aura tersendiri yang teramat memikat—sebuah perpaduan antara kecantikan yang bersahaja dan manisnya lesung pipi di sebelah kiri wajahnya yang berkedut halus setiap kali dia tersenyum profesional kepada jajaran kru film.
Namun, kedamaian di lokasi pengambilan gambar tersebut mendadak robek menjadi kehebohan yang luar biasa saat sebuah mobil sport mewah berwarna merah menyala perlahan memasuki area parkir khusus VIP produksi. Suasana di sekitar set syuting seketika berubah menjadi riuh penuh bisik-bisik kagum dari mulut ke mulut. Pintu mobil terbuka, dan melangkahlah turun seorang wanita muda yang penampilannya nyaris mendekati kata sempurna, sanggup membuat mata setiap pasang lelaki membelalak tanpa berkedip.
Wanita itu adalah Celine. Di usianya yang menginjak 28 tahun, Celine tampil memukau dengan postur tubuh yang teramat ideal setinggi 168 sentimeter dan berat badan 60 kilogram. Kulitnya putih bersih bagai porselen, berpadu sempurna dengan garis hidung mancung yang ayu dan anggun. Rambut pirangnya yang lurus terurai indah melambai ditiup angin sore, memancarkan pesona blasteran yang mewah. Di mata seluruh kru, sutradara, hingga masyarakat umum, sudah menjadi rahasia bersama bahwa Celine dan Arka Mahesa Pratama adalah sepasang sepupu yang memiliki ikatan rasa cinta dan kasih sayang yang teramat dalam, sebuah kedekatan keluarga yang begitu hangat dan dikenali oleh banyak orang.
Bagi seluruh wanita di luar sana, Celine dipandang sebagai sosok wanita yang paling beruntung di jagat raya karena bisa mendapatkan limpahan kasih sayang, kelembutan, dan perhatian penuh dari seorang Arka—lelaki tertampan, paling mempesona, dan pengusaha nomor satu di dunia yang terkenal memiliki hati sedingin es kutub pada wanita lain.
"Itukan nona Celine, aku dengar dia baru pulang dari luar negri" sahut salah satu kru di lokasi syuting dengan nada sedikit berbisik, beberapa orang memangut mangut paham.
Hanya Aini satu-satunya orang di lokasi tersebut yang sama sekali tidak mengetahui status hubungan kekeluargaan di antara mereka berdua. Aini yang tengah duduk di kursi penulis memantau monitor sutradara, mendadak merasakan dadanya dihantam oleh hantaman yang teramat sesak dan panas saat menyaksikan kedatangan Celine yang langsung disambut hangat oleh rombongan VIP Arka.
Pemandangan langka yang teramat mengejutkan seketika tersaji di depan mata Aini. Arka Mahesa Pratama, pria berusia 35 tahun dengan tubuh tegap 175 sentimeter, berkulit kuning langsat cerah dan berhidung mancung tegas yang biasanya selalu memasang wajah ketus, dingin, dan angkuh, mendadak mengubah seluruh garis wajahnya menjadi teramat lembut dan hangat saat menatap kedatangan Celine. Untuk pertama kalinya dalam sejarah tiga hari syuting, seluruh kru melihat sang presdir tertinggi bisa mengulas senyuman lebar dan tertawa lepas tanpa beban bersama seorang wanita.
Tak berhenti di sana, dengan gerakan tangan yang begitu peka dan penuh perlindungan, Arka mengusap lembut rambut pirang lurus milik Celine yang terurai ditiup angin, lalu melepaskan jas hitam mahalnya untuk dipasangkan ke atas kedua bahu Celine agar wanita cantik itu tidak kedinginan akibat cuaca sore yang mulai berangin kencang. Mereka berdua tampak begitu serasi, tertawa bersama seolah dunia luar tidak ada yang penting lagi di sekitar mereka.
Melihat adegan nyata yang teramat manis di depan matanya sendiri, ada gelombang rasa tidak rela dan samudra cemburu buta yang mendadak membakar hebat seluruh relung dada Aini. Dadanya terasa begitu pengap, sesak, dan gemuruh batinnya bergejolak panas tak karuan. Ego tingginya berusaha keras menolak dan menyangkal perasaan aneh tersebut, meyakinkan dirinya sendiri bahwa dia tidak berhak cemburu pada pria sekaku Arka.
Namun, rasa sakit yang menusuk di hatinya tidak bisa dibohongi oleh logika batinnya sendiri.
Saat waktu jeda istirahat tiba, Arka dengan sengaja membawa Celine berjalan melangkah mendekati meja sutradara untuk memperkenalkan adik sepupu kesayangannya itu kepada seluruh tim produksi, termasuk ke arah tempat duduk Aini. Celine menyapa semua orang dengan tutur kata yang sangat ayu, ramah, dan bersahaja. Dia sama sekali bukan sosok wanita yang sombong, melainkan wanita berkelas yang teramat menghargai sesama.
Arka melirik tajam ke arah wajah Aini dengan sepasang mata elangnya yang dingin, bermaksud ingin menguji mental wanita kampung tersebut dan melihat apakah Aini akan merasa terintimidasi atau minder melihat kecantikan sempurna milik Celine. Namun, Aini yang telah terlatih mengunci emosi dari badai masa lalu, langsung mengaktifkan akting muka datar andalannya dengan sempurna. Dia menatap balik Arka dan Celine dengan pandangan mata yang teramat tenang, cuek, dan acuh tak acuh, menyembunyikan rapat-rapat bara api cemburu yang sedang berkobar di dalam dadanya.
Aini mengulas sebuah senyuman formal yang teramat tipis, memperlihatkan kedutan lesung pipi kirinya yang dingin namun memikat.
"Wah, selamat sore, Pak Arka," ujar Aini, suaranya meluncur begitu mulus tanpa ada nada gemetar sedikit pun.
"Akhirnya hari ini saya berhasil mendapatkan kejutan yang luar biasa di lokasi syuting. Saya baru tahu kalau ternyata Bapak bisa tertawa lepas seperti manusia normal pada umumnya. Saya pikir selama tiga hari ini, Bapak hanya bisa merengut dan menekuk wajah seperti mesin kasir atau kalkulator rusak harian, hehe."
Uhuk!
Arga sang asisten pribadi yang berdiri di belakang Arka seketika memalingkan wajahnya ke samping, sekuat tenaga menahan tawa agar tidak meledak mendengar bos besarnya kembali diejek sebagai "kalkulator rusak" di depan wanita tercantiknya. Beberapa kru yang mendengar kalimat tajam bernada ledekan dari mulut Aini pun langsung menahan senyum geli mereka di balik kamera.
Mendengar sindiran berkelas dan blak-blakan dari wanita berusia 26 tahun di hadapannya, rahang Arka seketika mengeras menahan geram dan kesal yang luar biasa. Wajah kuning langsatnya yang cerah mendadak kaku mendapat serangan kata-kata pedas dari Aini di depan Celine. Arka menatap Aini dengan pandangan mata yang teramat tajam dan dingin, mencoba menekan harga diri wanita di depannya dengan wibawa kekuasaannya. Namun, di luar dugaan Arka, Celine justru melepaskan tawa renyahnya yang teramat anggun, merasa terhibur dan menyukai keberanian serta kejujuran mulut tajam milik Aini.
"Hahaha, kamu lucu sekali, Aini," puji celine
"Ternyata tebakanmu seratus persen benar. Kakakku yang satu ini memang biasanya sangat kaku dan membosankan jika di kantor." Sambung celine dengan muka ceria
Arka hanya bisa terdiam membisu dengan wajah ketus, mengunci pandangan matanya yang sedingin es tepat ke dalam manik mata teduh milik Aini dalam sebuah pertarungan gengsi tingkat tinggi yang sarat akan ketegangan batin yang intens di antara mereka berdua di bawah temaram lampu set syuting yang mulai menyala. Baik Arka maupun Aini saling melempar dinding topeng ketidakpedulian yang dingin, bersiap untuk perang urat syaraf yang jauh lebih seru di balik kabut cemburu yang kian pekat merampok kedamaian pikiran mereka masing-masing.
Sebab, benteng pertahanan terbaik dari sebuah hati yang mulai dirongrong oleh percikan cemburu bukanlah saat kamu meluapkan amarahmu dengan teriakan histeris yang murahan, melainkan saat kamu mampu menguncinya di balik topeng ketenangan yang anggun dan senyuman berkelas; membuktikan bahwa kemandirian batin seorang wanita tidak akan pernah bisa ditekuk oleh bayang-bayang pesona luar dari manusia mana pun.