Emma Taylor terpaksa harus melunasi hutang pamannya kepada seorang pria asing kaya raya yang tinggal di rumah besar Anggrek Residen.
Jatuh tempo pembayaran sudah sangat dekat bagi paman Broeri untuk membayar hutang tersebut namun dia tidak mempunyai uang sepeser pun saat dia ditagih oleh pria asing kaya raya itu yang bernama Noah Jones.
Terpaksa Emma yang harus menanggung hutang tersebut kepada Noah Jones pemilik rumah Anggrek Residen.
Karena Emma Taylor juga tidak mempunyai uang buat melunasi hutang paman Broeri maka dia dipaksa membayar dengan rahimnya.
Bagaimana nasib Emma Taylor selanjutnya, sanggupkah dia melunasi hutang milik paman Broeri Goldman atau dia memilih melarikan diri.
Mari kita simak kelanjutan kisah ini dalam novel berjudul Rahim Bayaran Milik Emma.
Salam buat semua pemirsa 🎂
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Reny Rizky Aryati, SE., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27 Bencana Besar
Seseorang dari arah kejauhan melihat dengan sorot mata tajam ke arah Butik Dior.
Ia berdiri sejak dari tadi mengamati semua kejadian di sana.
"Siapa sebenarnya sosok wanita tua renta itu?" gumamnya.
Jade tanpa sengaja melihat pertemuan antara wanita tua renta dengan Juan, tapi dia tidak tahu siapa Juan maupun nyonya Charlotte.
Ia merasakan ada kejanggalan pada pertemuan tersebut.
"Bagaimana bisa nenek sekotor itu bersama seorang laki-laki tampan dan sekaya itu?" gumamnya penuh tanya.
Jade berdiri mematung seraya berpikir serius, isi kepala nya dipenuhi sejumlah pertanyaan-pertanyaan tentang wanita tua renta itu namun dia sama sekali tidak menemukan jawabannya.
"Apa mungkin yang dia katakan bahwa dia memiliki seorang cucu bernama Noah Jones?" gumamnya penasaran.
Jade mengetuk ujung dagunya, tetap berdiri di seberang jalan yang menghadap lurus ke arah Butik Dior.
"Jika itu benar maka Hermione dalam masalah besar sekarang karena dia telah berlaku kasar terhadap nenek dari Noah Jones dengan catatan Noah adalah calon tunangan Hermione." ucapnya. "Dan jika Noah sampai tahu kalau Hermione menjahati neneknya maka tamatlah dia."
Jade masih bergelut dengan pikirannya, termenung memikirkan kejadian di Butik tadi.
"Tentu saja, masalah besar ini tidak hanya akan terjadi pada Hermione saja sebab aku pun juga pasti terkena imbasnya dari masalah yang disebabkan oleh Hermione di butik."
Jade merasakan tubuhnya bergidik kuat, mendadak saja sekujur badannya jadi demam.
"Kalau papa ku tahu soal keusilan kami pada wanita tua itu maka papa pasti akan mengirimku ke asrama kesusteran dan aku tidak akan diijinkan oleh papa menjadi model lagi."
Jade buru-buru meraih ponsel pintar nya dari tas Dior-nya, lalu menelpon.
"Trrrt... Trrrt... Trrrt..."
"Angkat bodoh, kita dalam masalah besar! " gerutu Jade tidak sabaran.
Jade berniat menelpon Anita untuk memberitahu kan pada sahabatnya itu tentang wanita tua renta yang mereka kerjain di butik tadi.
Namun panggilan telepon nya tidak mendapatkan respon dari Anita bahkan sahabatnya itu tidak juga mengangkat telpon darinya.
"Aduh, sialan kau, Anita!" umpat Jade kesal. "Kau tidak tahu kalau kita dalam masalah besar malah bodoh amat."
Jade terus mencoba menelpon Anita, akan tetapi panggilan telepon nya berulang-ulang gagal terhubung. Ia semakin kesal bahkan uring-uringan karenanya dan hampir saja membuang ponsel miliknya.
"Kenapa kamu tidak mengangkat telpon ku, Anita???" pekik Jade emosi.
Jade mengatur nafasnya, mencoba tetap tenang, dan dia berusaha tidak terpancing emosi oleh situasi saat ini.
"Baiklah, aku tahu bahwa ini bukan hal yang sulit buatku karena aku akan mengambil keputusan dengan sikap tegas."
Jade berbicara pada dirinya sendiri, mencoba menenangkan hatinya meski itu bukan hal mudah bagi seorang Jade yang arogan.
Ia mencoba menelpon sekali lagi, dan menunggu dengan sabar.
"Trrrt... Trrrt... Trrrt..."
Lagi-lagi panggilan telepon nya tetap tidak terangkat oleh Anita, berlalu begitu saja tanpa ada jawaban pasti.
Jade menghela nafas panjang sembari mengulurkan lengannya ke depan.
"Sabar... Sabar... Jangan terpancing emosi..." ucapnya lalu tersenyum simpul.
Jade berlagak seperti orang tidak waras, bukan tanpa sebab dia bersikap demikian karena ia was-was dengan apa yang dia perbuat pada nyonya Charlotte jika papanya tahu kelakuan buruknya di luar rumah, tanpa banyak alasan lagi, Jade pasti dihukum berat atas perbuatannya.
"Trrrt... Trrrt... Trrrt..."
Masih panggilan telepon darinya belum terangkat oleh Anita.
"Klek... "
"Yah, Jade... Ada apa menelpon ku, bukannya kita baru ketemuan di butik? " suara Anita menyahut dari seberang sana.
"Gawat, Anita!" ucap Jade.
"Apanya yang gawat, Jade? " tanya Anita.
"Kita dalam masalah besar sekarang, dan aku tidak mau terlibat lebih jauh lagi. Aku memutuskan kabur ke luar negeri." sahut Jade.
"Sebentar Jade, memangnya ada apa ? Kenapa kau harus pergi ke luar negeri? "..." suara Anita terdengar ikut-ikutan panik.
Jade menggigit kuku jari tangannya, raut wajahnya terlihat cemas.
"Aku tidak tahu mengawalinya darimana, tapi ku tegaskan padamu kalau aku tidak mau lagi berurusan dengan Hermione." kata Jade.
"Iya, tapi katakan padaku dengan jelas, apa alasannya hingga kamu harus kabur ke luar negeri dan mengatakan bahwa kamu tidak mau berteman lagi dengan Hermione." sahut suara Anita dari seberang sana.
"Aku tidak tahu harus menjelaskan nya darimana, tapi kau perlu tahu bahwa kita dalam masalah besar, Anita." kata Jade.
"Aku benar-benar tidak mengerti dirimu, Jade. Tolong lah, jangan berbelit-belit." sahut Anita dari arah seberang sana.
"Kau tahu wanita tua yang kita temui di Butik tadi..." kata Jade.
"Ya, memangnya kenapa dengan dia?" tanya Anita.
"Dia bilang bahwa dia adalah nenek dari Noah Jones, kan." kata Jade.
"Ya, benar. Lantas apa hubungannya dengan kita?" sahut Anita datar. "
"Kau tahu tidak kalau yang dia katakan itu benar." kata Jade.
"Apa kau masih percaya padanya, kurasa wanita tua itu hanya omong kosong, mengaku-ngaku nenek Noah Jones pasti dia sedang bermimpi, Jade." tegas suara Anita.
"Tidak, Anita. Aku melihatnya sendiri, wanita tua bau itu tadi dijemput oleh seorang laki-laki tampan dan kau tahu, mereka naik apa tadi?! "
Jade terlihat sangat antusias saat menceritakan tentang Nyonya Charlotte bahwa dia melihatnya bersama Juan pada Anita melalui telepon.
Namun sulit meyakinkan Anita karena dia tidak akan mudah percaya sebelum dirinya melihat sendiri.
"Mungkin wanita tua itu pengasuhnya, wajar saja jika dia dijemput oleh majikannya." kata Anita. "Ayolah, Jade. Pakailah pikiran mu sedikit saja. Logikanya saja itu tidak benar, mana ada wanita tua compang-camping punya cucu kaya raya."
"Siapa tahu dia menyamar, seperti di kisah film-film. Tidakkah kau tahu itu, Anita." kata Jade.
"Secara kebetulan mungkin semua ada kesamaan, tapi logikanya kalau itu tidak benar, mengertilah dan berpikir lah cerdas, Jade." sanggah Anita.
"Kau tidak tahu, mobil apa yang dia naiki tadi, Anita." kata Jade.
"Memang nya itu hal penting buatku, tidakkan? Mana aku peduli dengannya." sahut Anita tak peduli.
"Jika kau melihatnya sendiri, pasti kau akan terkejut bahkan kau akan melompat tinggi karena terkejut, Anita." kata Jade.
"Ya, ya, ya, beritahu aku sekarang, mobil apa yang wanita itu naiki!" tegas Anita.
"Dia naik mobil Bentley Flying Spur senilai delapan milyar!" sahut Jade.
Terdengar suara benda jatuh dari arah seberang sana, sepertinya Anita menjatuhkan ponsel pintarnya.
"Anita... Kau masih di sana?" tanya Jade.
"Yah, aku masih di sini, mendengarkan bualan mu, Jade." sahut suara Anita terdengar kesal.
Jade menarik nafas pelan, mencoba bersikap tenang sebelum dia melanjutkan pembicaraannya dan Anita di telepon.
"Kalau seandainya yang dikatakan oleh wanita tua itu benar. Lantas bagaimana?" kejar Jade.
"Kurasa kau mulai pusing, dan aku sarankan padamu segeralah pulang ke rumahmu lalu beristirahat lah, Jade." kata Anita dari balik telepon menjawab.
"Ta-tapi..., Anita. Bagaimana kalau semua itu benar? " kejar Jade cemas.
"Ah, sudahlah, Jade. Aku malas bicara dengan mu lagi, buntut nya nanti kau cuma bicara omong kosong. Pulanglah ke rumahmu sekarang juga, dan segeralah tidur." sahut suara Anita asal-asalan.
"Tapi, Anita..." kata Jade. Sebelum Jade menyelesaikan ucapannya, Anita mengakhiri panggilan telepon darinya. "Tuuuut..."
Jade memekik kesal sebab Anita tidak memperdulikan ucapannya, ia sendiri sangat panik karena masalah wanita tua itu.
"Astaga, apa yang dilakukan Anita? Kenapa dia memutus telepon ku?" ucapnya kecewa.
Jade mencoba menelpon kembali Anita, rupanya Anita telah mematikan ponselnya sehingga Jade tidak bisa menghubunginya lagi.
Antara bingung serta galau, Jade melangkah gontai menuju mobil miliknya yang terparkir di halaman parkiran, pandangannya tertunduk dalam seperti dia masih memikirkan Nyonya Charlotte.
Hati Jade resah seakan dihantui rasa bersalah yang teramat besar terhadap Nyonya Charlotte atas perbuatan buruknya kepada wanita tua renta itu. Di samping itu, Jade juga takut mendapatkan hukuman dari orang tua nya jika mereka tahu kelakuan buruknya di luar rumah.