"Duniaku gelap, tapi aku tidak butuh lampu. Aku hanya butuh seseorang yang tidak memalingkan wajah saat aku memanggil 'Papa'."
Di kediaman Tenggara yang megah, Aurora Alandriana adalah sebuah anomali. Di tengah kesuksesan sang Ayah dan dominasi keempat kakak laki-lakinya—Eros, Gavin, Juna, dan Arvin—Aurora hidup seperti hantu. Baginya, rumah itu bukan tempat berteduh, melainkan sebuah pengadilan yang menghukumnya atas kesalahan yang tidak pernah ia lakukan: lahir ke dunia.
Tiap sudut rumah adalah pengingat akan kebencian. Meja makan adalah tempat penghinaan, dan lorong sekolah adalah tempat ia harus berpura-pura tidak mengenal darahnya sendiri. Terutama Arvin, kakak keempatnya yang paling dekat jarak usianya, yang memilih untuk menjadi perundung paling kejam di sekolah hanya untuk membuktikan bahwa Aurora tidak punya tempat di hidupnya.
Namun, saat sebuah rahasia besar di balik kematian sang Ibu mulai terkuak, dan saat tubuh Aurora yang rapuh mulai mencapai batas kemampuannya untuk ber
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon canny***, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27: Pengkhianatan di Balik Dinding Marmer
Siang itu, setelah Bramantyo melangkah keluar dengan punggung layu dan hati yang hancur, keheningan kembali merayap di ruang rawat privat Aurora. Arvin masih duduk setia di sisi ranjang, sementara Juna sibuk menyeka butiran keringat dingin di kening adiknya yang mulai gelisah. Eros berdiri di dekat jendela besar yang buram oleh tempias hujan, menatap kosong ke arah jalanan kota A dari lantai atas rumah sakit.
Tiba-tiba, keheningan itu pecah. Pintu kayu jati yang berat itu diketuk tiga kali dengan ketukan yang konstan, lambat, namun terasa membawa beban yang amat sangat berat.
Pintu terbuka. Langkah kaki yang ringkih namun tegas terdengar memasuki ruangan steril tersebut.
Seorang pria tua mengenakan mantel abu-abu panjang yang basah di bagian bahunya melangkah masuk. Rambutnya sudah memutih seluruhnya, disisir rapi ke belakang. Di tangan kanannya, ia mendekap sebuah koper kulit tua berwarna cokelat usang yang terkunci rapat dengan sandi kuno.
Profesor Gunawan, yang kebetulan sedang memeriksa grafik tetesan imunosupresan di tiang infus Aurora, seketika membelalak. Botol ampul di tangannya nyaris terlepas.
"Profesor Kusuma?" suara Profesor Gunawan tercekat di tenggorokan. "Bagaimana bisa Anda... Anda sudah pensiun dari dunia medis lima tahun lalu dan memilih menetap di pengasingan di Swiss. Ada angin apa Anda kembali ke tanah air?"
Profesor Kusuma—mantan Kepala Tim Medis Pribadi Keluarga Tenggara belasan tahun yang lalu—tidak langsung menjawab sahabat sejawatnya itu. Tatapan matanya yang teduh namun dipenuhi rasa bersalah yang amat dalam langsung terkunci pada sosok Aurora. Gadis itu terbaring kaku, matanya yang buta menatap kosong ke langit-langit tanpa rona kehidupan.
"Aku datang bukan lagi sebagai seorang dokter yang mencari nama, Gunawan," suara Profesor Kusuma bergetar parau karena usia dan emosi yang tertahan di dadanya. "Aku datang untuk menyerahkan sebuah hutang masa lalu... hutang yang selama enam belas tahun ini membakar hati nuraniku hingga aku tidak pernah bisa tidur dengan tenang."
Tepat di saat itu, Bramantyo yang baru saja kembali dari koridor luar untuk menenangkan diri, membeku di ambang pintu. Wajah sang Tuan Besar Tenggara yang biasanya angkuh dan tak tersentuh seketika memucat pasrah.
"Kusuma... untuk apa kamu menginjaki tempat ini lagi? Aku sudah membayarmu lunas untuk menghilang."
"Untuk menghentikan kegilaanmu dan ibumu, Bramantyo!" ucap Profesor Kusuma, suaranya mendadak meninggi, menggelegar mengalahkan deru angin hujan di luar jendela.
Pria tua itu melangkah maju ke meja saji di tengah ruangan, meletakkan koper kulit tuanya dengan bunyi berdebam. Dengan jari-jarinya yang mulai keriput, ia memutar nomor kombinasi kunci kuno tersebut.
Cklek.
Tutup koper terbuka, menampakkan seberkas map plastik tebal berwarna merah menyala yang disegel dengan stiker holografik bertuliskan 'CONFIDENTIAL - MEDICAL RECORDS'.
Eros langsung membalikkan badannya dari jendela, matanya menatap tajam dokumen tersebut. Juna menghentikan ketikan laptopnya dan berjalan mendekat dengan insting analitisnya yang tajam, sementara Arvin yang memegangi jemari Aurora mulai merasakan firasat buruk yang teramat pekat hingga dadanya ikut terasa sesak.
"Ini adalah rekam medis asli dan analisis genetik prenatal milik mendiang Amalia Tenggara, serta data tumbuh kembang klinis milik Aurora saat dia masih berusia dua tahun," Profesor Kusuma menyerahkan berkas itu langsung kepada Juna, tahu bahwa putra kedua Tenggara itu yang memiliki kepala paling dingin untuk mencerna data medis terenkripsi.
Juna merobek segel holografik itu dengan cepat. Matanya bergerak liar memindai baris-baris dokumen kedokteran berbahasa Jerman dan Latin tersebut. Detik demi detik berlalu dalam keheningan yang mencekam.
Namun, perlahan-alasan, wajah Juna yang biasanya tenang bagai permukaan es di kutub mulai menunjukkan retakan keterkejutan yang luar biasa. Rahangnya jatuh, dan lembaran kertas di tangannya bergetar hebat hingga menimbulkan suara kresek yang mengganggu.
"Ini... ini nggak masuk akal. Ini nggak mungkin!" bisik Juna, napasnya mendadak memburu, dadanya kembang kempis menahan gejolak emosi.
"Apa isinya, Jun?! Baca yang jelas! Jangan bikin gue tebak-tebakan!" bentak Arvin dari sisi ranjang, tidak sabar menahan ketegangan.
Juna mendongak perlahan, menatap ayahnya, Bramantyo, dengan tatapan yang dipenuhi oleh rasa tidak percaya, muak, dan kemarahan yang mendalam yang belum pernah ia tunjukkan seumur hidupnya.
"Papa... penyakit jantung Aurora... ini bukan kelainan genetik murni yang tidak bisa disembuhkan. Dan Aurora... dia sama sekali bukan penyebab kematian Mama!" suara Juna meninggi di akhir kalimat, memecah kesunyian ruang steril.
Ruangan itu mendadak menjadi sedingin es.
"Maksudmu apa, Juna?! Sini, biar aku yang baca!" Eros merebut paksa berkas merah itu dari tangan adiknya, matanya langsung tertuju pada kesimpulan autopsi klinis belasan tahun lalu.
"Amalia Tenggara meninggal karena emboli cairan ketuban saat melahirkan, sebuah komplikasi persalinan fatal yang sangat langka dan murni kecelakaan medis. Itu tidak ada hubungannya sama sekali dengan kondisi bayi yang dilahirkannya!" Profesor Kusuma mengambil alih penjelasan, melangkah maju mendekati ranjang Aurora.
"Dan tentang anak ini... Aurora," lanjut Profesor Kusuma dengan suara yang bergetar menahan tangis. "Saat berusia dua tahun, dia didiagnosis memiliki kelainan katup jantung ringan. Kelainan katup yang sangat umum terjadi pada balita dan bisa disembuhkan secara total dan permanen melalui operasi koreksi dini sebelum dia menginjak usia lima tahun!"
"LALU KENAPA DIA TIDAK DIOPERASI?! KITA PUNYA SEMUA UANG DI DUNIA INI! KENAPA PAPA MEMBIARKAN DIA MEMBUSUK?!" teriak Arvin, suaranya pecah menjadi raungan histeris. Ia berdiri dari kursinya, menunjuk-nunjuk wajah Bramantyo dengan telapak tangannya yang masih terperban.
Profesor Kusuma tidak melihat ke arah Bramantyo. Pandangan matanya yang tajam justru bergeser ke arah pintu luar, di mana seorang wanita paruh baya berpenampilan anggun dengan kebaya sutra mahal sedang berdiri bersandar di pilar koridor. Wanita itu adalah Nenek Lastri. Ia menyusul ke rumah sakit setelah mendengar kabar kekacauan di rumah katering tempo hari.
"Tanya pada ibumu, Bramantyo. Atau lebih tepatnya, tanya pada wanita yang selama ini kalian panggil Nenek yang agung," ucap Profesor Kusuma dengan nada menghakimi yang paling kejam. "Enam belas tahun yang lalu, Nenek Lastri mendatangi klinik pribadiku di tengah malam. Dia membawa koper berisi uang tunai dalam nominal yang sangat besar untuk menyuapku dan memalsukan seluruh rekam medis Aurora. Dia memintaku menulis bahwa penyakit Aurora adalah kutukan genetik yang mematikan, menular, dan tidak ada obatnya di dunia ini!"
Eros membelalak sempurna, menoleh ke arah
pintu luar. "Nenek... kenapa?"
Nenek Lastri yang menyadari rahasianya terbongkar, tidak lagi bisa berdiri tegak. Wanita tua yang biasanya selalu memandang rendah Aurora itu kini berjalan tertatih masuk ke dalam kamar, lalu jatuh bersimpuh di lantai marmer yang dingin, menangis tersedu-sedu tanpa sisa-sisa keanggunan.
"Nenek hanya ingin keadilan untuk Amalia, Eros! Bramantyo!" rintih Nenek Lastri, suaranya melengking parau, memotong udara. "Amalia itu menantu pilihan Nenek! Dia sempurna untuk keluarga Tenggara! Tapi dia harus mati di atas meja operasi yang berdarah hanya untuk melahirkan anak cacat itu! Nenek tidak bisa menerimanya! Setiap kali Nenek melihat wajah Aurora, Nenek melihat pembunuh yang merenggut menantu kesayangan Nenek! Nenek sengaja menyembunyikan fakta bahwa dia bisa sembuh agar dia mati pelan-pelan di rumah ini sebagai penebusan dosa atas nyawa Amalia!"
Brak!
Arvin menendang kursi besi di samping ranjang dengan seluruh kekuatannya hingga kursi itu melayang dan menghantam dinding kaca hingga retak seumpama jaring laba-laba. Pria itu kehilangan seluruh akal sehatnya. Ia hendak berlari maju, mencengkeram kerah kebaya wanita tua yang selama ini ia hormati sebagai neneknya sendiri.
"Arvin, jangan gila! Tahan emosi lo, ada Aurora di sini!" Eros mendekap tubuh Arvin dari belakang dengan cengkeraman maut, mengunci pergerakan adiknya yang sudah mengamuk seperti singa terluka.
Arvin meronta-ronta hebat dalam dekapan Eros, air matanya menetes deras membasahi lengan kemeja abang sulungnya.
"Lepasin gue, Kak! Wanita tua itu iblis! Dia yang bikin kita semua jadi monster! Kita menyiksa adik kita sendiri karena kebohongan dia! Gue selalu bentak Aurora... gue selalu bilang dia pembunuh... padahal dia bisa sehat! Dia bisa punya hidup yang normal kalau bukan karena ego sakit jiwa kalian!" raung Arvin, suaranya terdengar begitu hancur hingga tenggorokannya mengeluarkan rasa hangat guratan darah.
Juna berdiri mematung di samping ranjang, tangannya mengepal begitu kuat hingga kuku-kukunya melukai telapak tangannya sendiri. Air matanya mengalir tanpa suara, membasahi pipinya yang kaku. Selama ini ia bangga dengan kejeniusannya, namun hari ini ia sadar bahwa ia hanyalah seorang idiot yang ikut menyiksa adiknya berdasarkan skenario palsu seorang nenek.
Bramantyo Tenggara melangkah mundur perlahan hingga punggungnya membentur pintu kaca koridor. Foto tua bernoda darah milik Aurora yang sejak tadi ia genggam erat di saku kemejanya terlepas, jatuh begitu saja di atas lantai marmer yang dingin. Pria yang mengira dirinya adalah hakim tertinggi yang berhak menghukum "pembunuh" istrinya, ternyata hanyalah boneka bodoh tak berotak yang digerakkan oleh tali kebencian ibunya sendiri. Dialah yang membiarkan putrinya membusuk di kamar gelap dan memakan makanan sisa, hanya karena sebuah ilusi kebohongan.
Di atas ranjang, di tengah-tengah badai kebenaran yang mengerikan dan mematikan itu, Aurora yang diselimuti kegelapan total mulai meraba-raba udara dengan tangannya yang bebas dari jarum infus. Saraf pendengarannya menangkap jerit tangis Arvin dan makian Eros yang begitu memilukan. Jiwanya yang polos bisa merasakan luka dan amarah yang luar biasa hebat sedang membakar ruangan itu.
"Kak Arvin... Kak Eros... Juna..." panggil Aurora lirih, suaranya sangat kecil dan bergetar hebat karena ketakutan di dalam dunianya yang hitam. "Kenapa... semuanya bertengkar? Kenapa ada yang menangis? Jangan marah-marah... Aurora janji... Aurora tidak akan merepotkan lagi di rumah besar... Tolong, jangan buang Aurora ke kamar gelap lagi..."
Mendengar kalimat polos yang keluar dari bibir pucat Aurora, ketiga abang Tenggara itu seketika terdiam. Amarah mereka menguap, digantikan oleh rasa sesak penyesalan yang seperti menghimpit dada mereka hingga hancur.
Secara bersamaan, Eros, Juna, dan Arvin menjatuhkan lutut mereka di sisi ranjang. Mereka berebut menggenggam jemari mungil Aurora yang sedingin es, menciuminya berulang kali dengan air mata yang membanjiri kain seprai rumah sakit.
Kebenaran telah terungkap dengan benderang, namun kebenaran itu justru menjelma menjadi pisau belati yang menguliti hati nurani mereka hidup-hidup.
Mereka menyadari satu hal yang paling kejam: penderitaan Aurora selama enam belas tahun ini bukanlah takdir buruk dari Tuhan, melainkan murni buatan tangan keji keluarga mereka sendiri.
Banyak pelajaran yg bisa kita ambil dari cerita kk
sungguh sangat sedih dan menguras air mata🥹🥹🥹
tapi gak kuat bacanya
soalnya sedih banget 😭😭🥹🥹