NovelToon NovelToon
Istri Rahasia Seorang Perfeksionis

Istri Rahasia Seorang Perfeksionis

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Perjodohan
Popularitas:16.8k
Nilai: 5
Nama Author: Brilliante Brillia

Daniela Arden Atmaja terpaksa masuk ke dunia malam demi bertahan hidup.

Darren Arkhanio Callister adalah pria perfeksionis yang menilai segalanya dari apa yang terlihat. Baginya, Daniela tidak pantas berada dalam hidupnya, apalagi ia sudah memiliki Crissiana, kekasih sempurna.

Namun di ujung napasnya, sang kakek memohon Darren menikahi Daniela, cucu dari almarhum sahabatnya.
Pernikahan pun akhirnya terjadi secara diam-diam. Tanpa cinta. Tanpa pengakuan. Tanpa diketahui siapa pun.

Darren tetap merendahkan Daniela dan tidak pernah ingin mengenalnya. Sementara Daniela memilih cuek dan tak perduli. Mau menikah pun karena permintaan terakhir dari sahabat almarhum kakeknya.

Hingga sebuah insiden terjadi.
Harga diri Daniela direnggut.
Saat Darren akhirnya menyadari bahwa Daniela tidak seperti yang ia kira, semuanya sudah terlambat.

Daniela pergi tanpa penjelasan dan tanpa jejak.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Brilliante Brillia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Dua Puluh Sembilan

Taksi melaju dengan kecepatan tinggi membelah jalanan kota menuju rumah bersalin terdekat. Di kursi belakang, Harsiwi terus memangku kepala Daniela dengan perasaan yang campur aduk. Napas Daniela tersengal, kedua tangannya meremas ujung kemeja ujung kemejanya sendiri dengan amat kuat demi menyalurkan rasa sakit yang tak tertahankan.

Begitu mobil berhenti tepat di lobi rumah bersalin, Darren langsung bergerak cepat. Ia segera turun dari mobil dan membula pintu penumpang. Lalu kembali menggendong tubuh Daniela dan bergegas masuk ke dalam gedung.

"Suster! Tolong, ada yang mau melahirkan!" seru Darren lantang, membuat beberapa petugas medis segera berlarian membawa brankar.

Dengan hati-hati, Darren membaringkan tubuh Daniela di atasnya. Petugas medis langsung mendorong brankar itu dengan cepat menuju ruang tindakan, diikuti oleh Harsiwi yang melangkah setengah berlari di sampingnya.

Darren hendak ikut melangkah, namun seorang perawat menahan lengannya dengan lembut.

"Mohon maaf, Bapak silakan urus administrasi pendaftaran terlebih dahulu di bagian depan," ucap perawat itu ramah sebelum bergegas masuk dan menutup pintu ruang tindakan.

Darren memandangi pintu yang kembali tertutup itu sesaat, lalu membalikkan badan menuju meja administrasi di bagian depan. Di sana, ia menyerahkan black card nya untuk menjamin seluruh biaya persalinan Daniela serta memilihkan kamar perawatan terbaik yang tersedia di rumah bersalin tersebut.

Setelah semua urusan administrasi selesai dan tagihan terbayar, Darren kembali ke lorong di depan ruang tindakan. Ia melihat jam tangan mewahnya yang sudah menunjukkan angka yang kian larut. Keberadaannya di sini sebenarnya sudah selesai. Tugas kemanusiaannya pun telah tuntas.

Tepat saat itu, pintu ruang tindakan terbuka sedikit dan seorang bidan keluar. Darren segera melangkah mendekat.

"Sus, bagaimana kondisi pasien di dalam?" tanya Darren memastikan.

"Kondisi Ibu dan janinnya stabil, Pak. Tapi persalinannya masih lama, ini baru pembukaan tiga. Untuk anak pertama biasanya butuh waktu belasan jam sampai pembukaan lengkap. Jadi pihak keluarga harap bersabar menunggui," jelas bidan tersebut ramah sebelum berjalan menuju meja perawat.

Mendengar penjelasan itu, Darren mengangguk paham. Ia tahu tidak ada alasan lagi bagi dirinya untuk tetap tinggal di tempat ini. Ia bukan siapa-siapa bagi Daniela, dan ada Harsiwi yang juga yang mendampingi di dalam.

Darren kemudian menghampiri salah satu perawat jaga dan menitipkan pesan.

"Suster, tolong sampaikan pada ibu-ibu tadi yang bersama wanita hamil, kalau seluruh administrasi sudah beres. Saya harus pergi sekarang karena ada urusan lain," ucap Darren dengan nada tenang namun tegas.

"Baik, Pak. Nanti akan saya sampaikan kepada Ibu Harsiwi," jawab perawat itu sopan.

Darren memberikan anggukan kecil sebagai tanda terima kasih, lalu berbalik dan melangkah mantap meninggalkan koridor rumah bersalin. Begitu keluar dari pintu lobi, embusan angin malam kota Medan langsung menyambut wajahnya, perlahan menenangkan debaran aneh yang sejak tadi mengusik dadanya.

Sembari berjalan menuju taksi yang sudah menunggunya, Darren kembali menatap telapak tangannya. Rasa penasaran itu masih ada, namun ia sadar bahwa saat ini yang terpenting adalah keselamatan wanita itu dan bayinya. Mengenai urusan bisnis dan bakat brilian Daniela, Darren bisa membicarakannya lagi nanti setelah kondisi wanita itu pulih sepenuhnya.

"Tapi kemana suaminya? Kenapa dia tak bertanggung jawab?" Batinnya. Tapi cepat-cepat ia membuang pikiran itu dan kembali bersikap tak perduli.

***

Semalaman tidur Darren diganggu oleh mimpi. Baru beberapa menit matanya terpejam, tiba-tiba sebuah mimpi aneh mendatangi.

Dalam mimpi itu ia tengah berada di rumah bersalin sedang menunggui seseorang yang akan melahirkan. Namun di mimpi itu, ia merasa sedang menunggui istrinya sendiri.

Saat pintu ruang bersalin terbuka, seorang suster menghampirinya.

"Silakan masuk, Pak. Anda sudah bisa mendampingi istri Anda melahirkan," ucap suster itu.

Tepat saat akan melangkah, Darren keburu terbangun dengan keringat dingin membasahi keningnya.

"Astaga... kejadian tadi sampai terbawa mimpi," gumamnya sambil tersenyum kecut.

Ia kembali memejamkan mata dan mencoba melanjutkan tidurnya. Namun setelah beberapa saat, tidurnya kembali diusik oleh mimpi yang lebih aneh lagi. Kali ini ia bermimpi didatangi seorang gadis kecil yang memanggilnya Papa.

"Kenapa Papa pergi? Kenapa Papa tak menunggui aku lahir?" ucap anak perempuan itu. Ia menatap lekat Darren dengan sorot kecewa dan mata yang berkaca-kaca.

"Kamu siapa?" tanya Darren heran.

Anak itu hanya menggeleng sambil terisak. Saat Darren ingin menyentuhnya, anak itu malah menghilang.

Darren tersentak, lalu matanya terbuka seketika.

Darren langsung terduduk di ranjang hotelnya. Ia melirik jam digital di atas nakas yang baru menunjukkan pukul empat pagi.

Pria itu mengusap wajahnya dengan kasar. Mimpi pertama mungkin karena kejadian darurat tadi saat mengantar Daniela ke rumah bersalin. Tapi mimpi kedua, panggilan Papa dari anak perempuan itu, terasa mengganjal di pikirannya.

Darren berjalan menuju kamar mandi dan membasuh wajahnya dengan air dingin untuk mengusir sisa mimpi tadi.

Saat menatap cermin, Darren terdiam dengan kening berkerut dalam.

"Kenapa harus memimpikan anak kecil itu? Dan kenapa rasanya sangat mengganggu sekali?" tanya Darren pada diri sendiri.

Darren terus termenung sambil menatap bayangan dirinya di cermin. Tapi tiba-tiba menjadi kesal sendiri, karena merasa konyol.

***

Keesokan paginya sekitar pukul sepuluh, Darren sudah bersiap dan memutuskan untuk kembali ke rumah bersalin. Setidaknya ia masih merasa penasaran dengan mimpi anehnya semalam. Namun, tepat sebelum ia melangkah keluar kamar, ponselnya di atas meja bergetar. Di layar tertera nama Reymond.

Darren segera menggeser tombol hijau dan menempelkan ponsel itu ke telinganya.

"Ada apa, Rey?" tanya Darren langsung.

"Halo, Bos. Maaf mengganggu waktunya, tapi Anda harus segera kembali ke Jakarta sekarang juga. Ada pertemuan mendadak yang sangat penting dengan investor utama dari Jepang di kantor pusat, dan mereka meminta kehadiran Anda secara langsung siang ini," lapor Reymond dari seberang telepon dengan nada mendesak.

Darren mengernyitkan keningnya, sempat terdiam sejenak untuk menimbang keputusannya.

"Apa tidak bisa dijadwal ulang atau diwakilkan pada tim direksi dulu?" tanya Darren mencoba mencari celah.

"Tidak bisa, Bos. Pihak mereka menegaskan kalau kerja sama ini hanya akan ditandatangani jika bertemu langsung dengan Anda. Saya sudah pesankan tiket pesawat dari Medan untuk penerbangan paling awal satu jam lagi. Begitu Anda mendarat di Jakarta, mobil jemputan sudah siap di bandara," jelas Reymond lagi.

Darren mengembuskan napas berat. Pada akhirnya, tanggung jawab pekerjaan tetap menjadi prioritas utamanya sebagai seorang pemimpin perusahaan.

"Baiklah, siapkan semua dokumennya jangan sampai ada yang terlewat! Aku langsung ke bandara sekarang," ucap Darren tegas.

"Baik, Bos. Anda tidak usah khawatir, semua persiapan sudah final dan tak ada yang terlewat," sahut Reymond sebelum sambungan telepon itu terputus.

Dengan berat hati, Darren terpaksa membatalkan niatnya untuk menjenguk Daniela. Ia memasukkan ponselnya ke dalam saku celana, lalu melangkah keluar dari kamar hotel menuju bandara untuk kembali ke Jakarta.

***

Sementara itu, tepat pukul empat dini hari, Daniela berhasil melahirkan seorang putri dengan selamat. Setelah proses persalinan yang melelahkan, ia kini sudah dipindahkan ke kamar perawatan. Di dalam dekapannya, bayi mungil itu sedang tertidur pulas dibalut selimut merah muda.

"Hidungnya mancung sempurna. Seperti ada keturunan asing," ucap Harsiwi spontan sambil memandangi wajah sang bayi dari tepi ranjang.

Daniela hanya tersenyum tipis sembari mengusap pipi anaknya. Rasa lelahnya perlahan sirna, berganti dengan kehangatan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Namun, rasa penasaran yang mengganjal, terlihat jelas di wajah lelahnya yang tetap terlihat cantik.

"Mak Tua, ada yang ingin aku tanyakan."

"Apa itu, nak?"

"Aku merasa, kemarin ada yang mengangkat tubuhku? Apa ada yang mengantar kita?" Tanya Daniela penasaran.

Harsiwi tersenyum lembut dan mengangguk mendengar pertanyaan keponakannya itu.

"Iya nak, beruntung orang itu datang tepat pada waktunya jadi kamu bisa cepat ditolong."

Daniela mengernyitkan dahinya.

"Siapa orang baik itu Mak?"

"Dia bilang katanya atasan kamu. Dia juga loh, yang membayar semua biaya persalinan kamu."

Daniela tersentak. Pikirannya langsung tertuju pada Gusti, manajernya. Selain merasa syukur dan berterima kasih ada juga terselip perasaan khawatir, bagaimana kalau seandainya tindakan Gusti itu diketahui oleh Sukma, pacarnya, Daniela tak bisa membayangkan bagaimana kemarahan wanita itu nantinya.

Namun, ada juga ingatan samar tentang postur tubuh pria semalam. Meski tidak jelas, tapi ia merasa bayangan yang menolongnya itu sama sekali tidak cocok dengan fisik Gusti.

Rasa penasaran dan tanda tanya besar pun kini mulai mengusik benaknya.

1
Nasya
bagus daniela hempaskan ulat bulu
Nasya
🥰🥰🥰🥰 ini yang dinanti
mimief
semangat dan..Darren Dateng dengan versi terbarunya itu
Muft Smoker
meweek aq tuuuh ,,
mungkin di masa lalu Darren org yg arogan Daniela ,,
tp saat ni Darren sosok ayah yg merindukan keluarga kecil ny ,,
mungkin sulit tuk melupakan masa lalu yg menyakitkan ,, tp fikirkan juga daphnee ,, dy juga merindukan papa ny ,,
olyv
lanjut thor 😍😍👍👍
Neng Nosita
gak perlu adaptasi donk karena udh pernah bertemu/kenal
olyv
wah akhirnya mereka bertemu lanjut thor
Neng Nosita
waah..jangan² nanti ketemu Darren dsana
Ivy
anakmu darren ahh thor padahal dikit lagi ney sebut nama ibunya 😁
olyv
empat tahun masa ngak ketemu jejaknya daniella, percuma jadi orang berkuasa payah kamu darren
olyv
kasihan darren semangat terus y
olyv
kelamaan darren, aluna sudah pergi lagi
Muft Smoker
lanjuuut. kak ,,



ayooo darreeen berusaha teruus ,, bukti kan klo km uuddh berubah
mimief
ayoo garcep ren,bisa ditikung lagi Lo sama yg lain🤣🤣
Nasya
semoga aja darren sampai daniela belum pergi bersama anaknya
Nasya
diihh ngarep selina
olyv
lanjut thor
Nasya
Rey auto kaget dengarnya, semoga rey jujur pd darren kalo daniela istrinya
Nasya
yah gagal nemanin 😌
Muft Smoker
lanjuuut kak ,,
belum waktu ny mereka ketemu niih ,, ad aj halangan ny ,, 🤭🤭🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!