Terperangkap dalam sangkar emas Aethelgard, Putri Aurelia mendambakan dunia di balik dinding istana yang megah. Beruntung, ada Lucas, seorang pemuda logistik istana yang tampak biasa namun menjadi satu-satunya orang yang berani membuka jalan bagi sang putri untuk menggapai kebebasan yang ia impikan. Namun, perjalanan mereka tak semudah yang dibayangkan. Reruntuhan dunia luar menyimpan kejutan dan bahaya tak terduga. Bersama Lucas, Aurelia harus mengungkap misteri yang telah lama terkubur di Aethelgard. Salah satunya adalah rahasia di balik kematian ibunda tercinta yang ternyata menyisakan plot twist mengejutkan. Akankah ia berhasil menemukan kebenaran yang sesungguhnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon minttea_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kesaksian di Balik Debu
Aurelia mengepalkan tangannya di dalam saku jubah, meremas lencana manset emas berbentuk kepala banteng yang baru saja ia temukan. Logikanya berputar cepat. Jika pria militer tadi adalah eksekutornya, maka Lord Varick adalah penyandang dananya. Semuanya terasa begitu gamblang, hampir terlalu mudah untuk dipercaya. Namun, di istana yang penuh dengan duri ini, bukti yang terlalu nyata sering kali merupakan jerat yang paling mematikan.
Aurelia tidak langsung kembali ke kamarnya. Ia tahu, jika ia membawa bukti-bukti ini ke Elara atau Lucas sekarang, ia hanya akan membahayakan mereka. Ia harus memastikan satu hal lagi: ke mana emas yang dibawa pria militer tadi pergi, dan apakah benar Lord Varick yang menerima pembayaran itu di dalam ruangannya.
Alih-alih menuju paviliun kesehatan, Aurelia memutar arah menuju koridor sempit yang menghubungkan ruang kerja menteri dengan kediaman pribadi para pejabat istana. Ia menyelinap di balik bayangan rak-rak kayu besar yang menyimpan arsip tua, menahan napas setiap kali mendengar derap langkah penjaga di kejauhan.
Pikirannya kembali pada ayahnya, Raja Valerius. Selama ini, ayahnya menganggap Lord Varick sebagai sahabat setia, orang yang membantu menjaga stabilitas kerajaan saat sang Raja tenggelam dalam duka. Jika benar Varick pengkhianatnya, maka pengkhianatan ini jauh lebih dalam daripada sekadar perebutan kekuasaan; ini adalah penghinaan terhadap kepercayaan seorang pria yang sudah kehilangan segalanya.
Aurelia sampai di sebuah pintu kecil yang tersembunyi di balik tirai beludru—pintu keluar pribadi bagi para menteri. Di sana, ia melihat Lord Varick keluar dengan terburu-buru. Wajah sang menteri tampak pucat pasi, matanya melirik ke kiri dan ke kanan dengan gelisah. Ia memegang sebuah tas kecil yang tampak berat, dan saat ia menaiki kereta kuda pribadinya, Aurelia melihat noda serbuk perak yang samar tertinggal di lengan bajunya.
"Sudah cukup," bisik Aurelia. "Kancing manset ini, noda perak itu, dan catatan di buku besar... semua jari menunjuk ke arahmu, Varick."
Begitu kereta itu menghilang di kegelapan malam, Aurelia menyelinap masuk kembali ke dalam gedung administrasi melalui jendela yang masih sedikit terbuka. Ia harus menemukan catatan medis lama. Ia tidak bisa pergi ke Elara sekarang karena Elara sedang dalam pengawasan ketat setelah insiden di perpustakaan semalam. Aurelia harus bergerak sendiri.
Ia menuju ruang arsip bawah tanah yang pengap. Di sana, di sudut yang hampir tak pernah tersentuh, tersimpan catatan harian kesehatan para anggota keluarga kerajaan dari belasan tahun lalu. Dengan bantuan korek api kecil, Aurelia menelusuri barisan buku berdebu hingga ia menemukan satu jilid berjudul Catatan Medis Ratu Seraphina - Tahun Ke-10 Pemerintahan.
Ia duduk di lantai yang dingin, membuka lembaran kuning yang rapuh itu. Matanya bergerak cepat, membandingkan tanggal pengeluaran dana "Taman Rahasia" yang ia salin dari buku besar Varick dengan catatan harian ibunya.
Jantungnya seakan berhenti berdetak.
14 Maret: Varick mencatat pengeluaran besar untuk 'dekorasi ulang'. Tiga hari kemudian, catatan medis mencatat Ratu mengalami sesak napas pertama.
28 Maret: Pembayaran rutin kedua dilakukan. Empat hari kemudian, kondisi Ratu memburuk drastis hingga tidak bisa meninggalkan tempat tidur.
Pola itu berulang secara sempurna, seperti sebuah mesin yang bekerja dengan presisi maut. Lord Varick tidak hanya mencuri uang kerajaan; ia sedang membiayai kematian ibunya langkah demi langkah. Dan yang lebih mengerikan, di halaman paling belakang buku logistik harian yang ia temukan tadi, ada entri baru untuk bulan ini.
Dua hari yang lalu, dana keluar lagi. Artinya, mawar perak itu sudah ada di dalam istana, dan kali ini sasarannya adalah ayahnya.
Aurelia menutup buku itu dengan tangan gemetar. Ia merasa mual. Bagaimana mungkin seseorang bisa begitu tenang menyantap hidangan di meja raja sambil merencanakan cara untuk menghentikan napas raja tersebut? Ia ingin segera berlari ke kamar ayahnya, membuang semua bunga di sana, dan berteriak bahwa mereka sedang dikhianati.
Namun, ia tahu ayahnya yang sekarang—yang sudah mulai terpengaruh aroma manis racun itu—tidak akan mempercayainya tanpa bukti yang tak terbantahkan di depan dewan menteri.
Aurelia memasukkan kancing manset emas itu ke dalam bungkusan kain bersama salinan catatan buku besar. Ia akan menyimpannya di tempat yang paling aman, di tempat yang bahkan para serigala itu tidak akan mencarinya.
Saat ia berjalan keluar dari ruang arsip, ia merasakan sensasi aneh di tengkuknya. Seolah-olah ada mata yang mengawasinya dari kegelapan rak-rak tinggi itu. Ia berhenti, menajamkan pendengarannya. Hanya ada suara tetesan air dari atap batu yang lembap. Namun, saat ia melangkah pergi, ia melihat sebuah bayangan yang tidak seharusnya ada di sana—siluet tegap yang ia lihat di ruang Varick tadi, berdiri mematung di ujung koridor yang gelap.
Aurelia tidak menunggu. Ia berlari secepat mungkin menuju kamarnya, mengunci pintu, dan bersandar di sana dengan napas terengah-engah. Ia memiliki buktinya. Besok, saat matahari terbit, ia akan memulai permainannya sendiri. Lord Varick mungkin berpikir dia adalah pemain catur yang hebat, tapi ia lupa bahwa putri yang selama ini ia anggap lemah telah melihat noda darah di atas emasnya.
Satu hal yang tidak disadari Aurelia adalah kancing manset itu tidak jatuh karena kecerobohan. Benda itu sengaja diletakkan di sana agar ia menemukannya. Sang pembunuh sedang tersenyum dalam kegelapan, menunggu Aurelia menggiring permainan yang dia laakukan, sementara dia sendiri seakan-akan tetap menjadi bayangan yang tak tersentuh.