NovelToon NovelToon
Menikah Karena Kasihan

Menikah Karena Kasihan

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: pipit fitriyani

Bagaimana jadinya jika hubungan yang telah dibina selama ini yang tampak begitu harmonis dan penuh kasih sayang ternyata hanyalah didasari rasa kasihan semata?

Wanita yang dinikahinya adalah seorang yatim piatu yang harus menanggung beban kehidupan kedua adiknya. Karena rasa iba , ia berinisiatif menikahi perempuan tersebut, padahal keduanya baru saling mengenal selama satu tahun. Namun, yang ada di dalam hatinya bukanlah istrinya, melainkan mantan kekasih yang pernah memutuskannya tanpa alasan yang jelas, namun masih sangat dicintainya hingga saat ini.

Apa yang akan terjadi jika kelak sang istri mengetahui kenyataan ini? Akankah ia tetap menerimanya, atau memilih untuk mundur, meski harus melepaskan kehidupan yang sudah terjamin?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon pipit fitriyani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tamu

Hari acara semakin dekat, namun Amira belum menerima undangan apa pun. Sudah hampir seminggu Amira tidak menunggu suaminya saat pulang kerja. Amira memutuskan untuk tidur lebih dulu dengan alasan kesehatannya yang baru pulih, padahal dia benar-benar sedang dilema dengan pernikahannya.

Hari ini hari Sabtu, kedua adiknya libur sekolah. Amira mengajak kedua adiknya untuk berlibur ke Puncak; mereka belum pernah melakukannya. Uang bulanan yang diberikan Farhan kali ini akan dia gunakan untuk bersenang-senang, karena sebelumnya dia selalu berhemat.

“Amara, Ammar, kalian berkemas ya, kita pergi liburan ke Puncak. Kakak sudah hubungi biro perjalanan yang akan mengantar kita ke sana. Semuanya sudah diatur, kita tinggal menikmati liburan saja,” ucap Amira pada kedua adiknya.

“Beneran, Kak?” tanya Amara gembira.

“Ya, bener dong. Ayo, bersiap-siap, habis zuhur kita berangkat.”

“Kita pergi bertiga saja, Kak?” tanya Ammar.

Amira mengangguk. “Iya, kita pergi bertiga saja. Mas sedang sibuk bekerja, sepertinya.”

“Tadi pagi Bi Sumi ikut Mas juga ya, Kak? Sayang sekali kalau ada Bi Sumi pasti lebih seru dan ramai,” sambung Amara.

“Dia kan pekerja di rumah utama, jadi sudah sewajarnya dia kembali ke sana. Nanti kamu bantu Kakak merapikan rumah ini, ya.”

“Siap, Kak!”

Setelah salat zuhur, mereka sudah dijemput oleh biro perjalanan wisata yang dipesan khusus Amira untuk liburan kali ini. Dia ingin melupakan segala beban pikirannya, termasuk kenyataan bahwa dia tidak diundang dalam acara keluarga Farhan.

Perjalanan mereka cukup lancar, sempat macet sedikit namun tetap mereka nikmati. Perjalanan wisata ini tidak hanya rombongan mereka saja, ada juga beberapa rombongan keluarga lain yang membawa anak-anak berlibur saat libur sekolah. Sesampainya di vila, mereka beristirahat. Nanti sore akan dilanjutkan dengan makan malam dan menikmati pertunjukan malam yang menghadirkan artis dari ibu kota.

Di tempat lain, Farhan baru saja pulang dari rumah orang tuanya. Dia berniat menjemput Amira untuk menghadiri acara ulang tahun pernikahan orang tuanya. Namun, saat sampai di rumah, suasana begitu sepi dan tidak ada siapa-siapa. Bahkan, Amira tidak meninggalkan pesan atau menghubungi melalui telepon.

“Amira, kamu di mana?” teriak Farhan setelah masuk ke dalam rumah yang sepi itu.

Berkali-kali memanggil namun tak ada jawaban, akhirnya Farhan memutuskan menelepon istrinya. Sudah dua kali Farhan menelepon namun tidak diangkat; saat mencoba yang ketiga kalinya, akhirnya Amira mengangkat. Suaranya terdengar serak, seolah baru bangun tidur.

“Amira, kamu di mana?” tanya Farhan.

“Mas… cari aku?” tanya Amira seolah linglung.

“Ya, jelas aku mencarimu. Kamu di mana?” sahut Farhan sedikit ketus.

“Mau apa mencariku? Biasanya juga tidak,” jawab Amira dengan pertanyaan yang membuat Farhan mulai kesal.

“Aku mau mengajak kamu ke acara keluarga! Acaranya jam tujuh nanti. Aku mau menjemputmu, tapi kamu tidak ada di rumah. Kita harus bersiap-siap.”

Amira tertawa getir. Dia sudah mengetahui hal ini sejak seminggu lalu; saat acara hampir dimulai, dia baru ‘diundang’. Benar-benar diperlakukan seperti tamu, bukan sebagai keluarga.

“Mas pergi saja sendiri. Aku takut memalukan Mas di depan keluarga Mas. Lagipula, tidak banyak yang tahu kita sudah menikah selain orang-orang tertentu, jadi kalau kamu datang sendiri pun tidak masalah, bukan?” sahut Amira.

Farhan terkejut mendengar ucapan Amira. Padahal selama ini Amira selalu ingin dekat dan ingin dikenalkan kepada keluarganya. Rencananya dia akan melakukannya sekarang, tapi justru Amira yang menolak datang.

“Amira, kamu itu istriku. Jadi, sudah sewajarnya kamu menemaniku ke acara keluarga.”

Amira tersenyum getir. “Maaf, Mas, aku tidak bisa menemanimu. Aku sedang di Puncak bersama Ammar dan Amara. Aku belum pernah mengajak mereka jalan-jalan, jadi kali ini aku ajak mereka. Oh iya, aku memakai kartu ATM keuangan rumah tangga untuk jalan-jalan kali ini. Maaf ya. Tapi kalau nanti Mas keberatan, aku akan buat catatan utang saja, nanti aku bayar ya. Ini pertama kali aku pakai kartu ATM dari Mas untuk keperluan pribadi.”

Farhan sebenarnya tidak masalah dengan uang yang dipakai Amira; itu adalah uang nafkah bulanan yang memang dia berikan untuk Amira. Masalah saat ini adalah bagaimana dia harus menjelaskan kepada keluarga besar mengapa Amira tidak ada di sana.

“Tapi Amira, bagaimana aku menjelaskan kepada mereka? Aku sudah bilang kalau aku mau mengenalkan kamu kepada mereka!” seru Farhan dengan frustrasi.

“Mas, maaf sekali kali ini aku tidak bisa membantumu. Seandainya kamu mengenalkanku seminggu yang lalu, mungkin sekarang aku ada di rumah. Aku kira kamu benar-benar tidak berniat mengenalkanku kepada mereka.”

“Kamu ngomong apa sih?” tanya Farhan bingung.

“Seminggu yang lalu aku ke rumah orangtuamu, membawa kue buatan tanganku. Tapi rumahmu sedang sibuk ada acara, dan aku juga melihat kamu ada di sana. Sudah dulu ya, Mas, aku mau mandi. Selamat menikmati acaranya. Sampaikan salam untuk Papa, ucapkan ‘selamat ulang tahun pernikahan, semoga bahagia dan langgeng’. Sudah ya, Mas, assalamualaikum.”

Farhan masih berusaha mencerna setiap kata yang diucapkan Amira, namun belum sempat dia menjawab, sambungan telepon itu sudah terputus.

Ketiganya menikmati liburan dengan nyaman dan melupakan setiap permasalahan yang terjadi, baik yang berat maupun yang ringan. Amira ingin melupakan semuanya sejenak.

Keesokan harinya, setelah salat zuhur, mereka harus kembali ke Jakarta. Amira akan kembali menjalankan kewajibannya sebagai istri dan berharap akan mendapat penjelasan dari suaminya, mengapa selama beberapa hari ini dia berbohong perihal lembur kerja. Namun, Amira tidak ingin memaksa mungkin Farhan memiliki alasannya sendiri.

Pukul empat sore mereka baru tiba di kediaman Farhan. Laki-laki itu tidak ada di rumah. Amira hanya menghela napas melihat keadaan rumah tangganya. Apakah saling diam seperti ini bisa menyelesaikan masalah?

"Mas Farhan belum pulang ya, Kak?" tanya Ammar.

Amira mengangguk. "Mungkin masih di rumah orang tuanya. Kalian bersih-bersih diri, lalu istirahat ya."

Keduanya mengangguk dan masuk ke ke kamar masing-masing.

Waktu makan malam tiba, namun Farhan tak kunjung kembali. Amira bahkan enggan mengirim pesan lebih dulu. Lagipula, ini adalah rumahnya jika sudah waktunya pulang, dia pasti akan pulang.

Malam semakin larut, Farhan baru pulang dengan penampilan lelah namun matanya tampak mencari-cari keberadaan istrinya. Ia bergegas masuk ke kamar dan mendapati Amira sedang duduk diam, seolah menunggu namun tatapannya terasa jauh.

"Maaf, aku pulang terlambat," ucap Farhan pelan, berniat mendekat.

Amira hanya menoleh sekilas tanpa senyum. "Lembur lagi, Mas? Atau ada alasan lain?" tanyanya tenang namun menusuk.

Bukan menjawab Farhan malah pergi ke kamar mandi, seolah menghindari perdebatan.

1
Lilis Yuanita
bgus
rasahaz
bnr2 nyesek kmu jdi amira,, jdi mnding go ja lh,,, 😤😤😤💪
Salsa Bilah
aku bolak-balik buat liat bab selanjutnya blom ada ihhh
Lilis Yuanita
sedih critay
rasahaz
nah kaan baru tau skrng gmn kelakuan laki mu amira,, mkany jgn polos2 bgt ahk, masa ngga bsa pke insting seorng istri sh,,, jdi udh mnding minggat ja minta pisah ngapain msh dpertahankn,, 😤😤😤😤
rasahaz
jgn trllu lemot amira,, masa ngga bsa pke insting sma skli sh,, 😄😄😄
rasahaz
mng dasar laki pengecut pecundang kau farhan,, 😡😡😡
rasahaz
ayo amira kmu hrus jdi wanita tanggung,, jgn menye2 yg dikit2 nangis,, 💪💪💪🔥
rasahaz
pergi amira pergi bwa adik2 mu,, mnding berdiri dkaki sndri dri pda brgntung sma laki modeln c farhan,,,
rasahaz
waaaahh bnr2 suami dzolim kau farhan,,, 😡😡
rasahaz
kau sprti menabur madu pdhal kau memberi racun,,, 😡😡
rasahaz
sikap mu bgtu manis tpi bnyak bgt mengandung racun ny,,,
rasahaz
dpt notif da cerita baru karya kak pipit,, langsung mlncur,🔥🔥🔥💪😄
Penikmat Sunyi: terima kasih, dukung terus ya kak biar semangat nulisnya😄😍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!