"Jangan berharap terlalu tinggi, Aruna. Mahasiswi seperti kamu hanya akan menjadi sampah di industri ini."
Kata-kata tajam dari Baskara Dirgantara, dosen jenius yang berhati es, masih terngiang jelas di telinga Aruna. Di London, Baskara adalah hakim yang menghancurkan kepercayaan dirinya. Namun, sebuah tragedi besar memaksa Aruna kembali ke tanah air dengan rahasia yang ia simpan rapat-rapat, jantungnya sedang perlahan berhenti berdetak.
4 Tahun Kemudian, Aruna bukan lagi mahasiswi yang bisa diremehkan. Ia adalah pewaris tunggal yang siap mengambil alih kekuasaan. Namun, tepat saat ia mencoba berdiri tegak, sosok Baskara kembali muncul. Bukan lagi sebagai pengajar, melainkan sebagai pria yang mendadak muncul di setiap sudut hidupnya mengawasi setiap geraknya, memonitor setiap helaan napasnya, dan menunjukkan dominasi yang tidak masuk akal.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ra H Fadillah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11 Luka yang Bertambah
Devan dan Theo saling lirik, lalu kembali berbisik sambil melirik tajam ke arah meja dosen. "Sepertinya 'Pangeran Es' itu menguping obrolan kita, Aruna. Lihat saja wajahnya, sudah seperti mau menerkam orang," bisik Devan sangat pelan.
Aruna menggeleng cepat, memberikan kode agar mereka diam. "Jangan keras-keras, nanti dia dengar dan kita kena masalah lagi," bisiknya penuh kekhawatiran.
Baskara masih menekuni lembaran tugas milik Aruna. Matanya menyisir setiap baris kalimat dengan teliti, mencari celah sekecil apa pun untuk menjatuhkan nilai gadis itu. Namun, semakin ia membaca, semakin ia merasa tidak percaya. Analisis hukum yang dituliskan Aruna terlalu matang, terlalu tajam untuk ukuran mahasiswi tahun pertama.
"Aruna Prawijaya, maju ke depan," suara Baskara menginterupsi kegaduhan kecil di kelas.
Aruna bangkit dengan perlahan, tangannya refleks menekan perutnya yang terasa berdenyut nyeri. Ia berdiri di depan meja Baskara, sementara mahasiswa lain masih asyik mengobrol, tidak terlalu memedulikan mereka.
Baskara masih menatap kertas di tangannya tanpa mau melihat wajah Aruna. "Tugas ini... kamu yakin tidak menyalin dari jurnal mana pun? Kalimatnya terlalu bagus. Saya tidak yakin otakmu yang berasal dari pelosok itu bisa merangkai kata-kata seperti ini."
Aruna menelan ludah, menahan rasa panas di dadanya. "Itu hasil pemikiran saya sendiri, Pak. Bapak bisa menguji saya sekarang kalau tidak percaya."
Baskara mendongak, menatap Aruna dengan pandangan meremehkan. Ia melontarkan sebuah pertanyaan teknis yang sangat rumit tentang perbedaan kompensasi dalam hukum kontrak Inggris dan Indonesia. Sialnya, Aruna menjawabnya dengan sangat lancar, tepat sasaran, dan tanpa ragu sedikit pun.
Rahang Baskara mengeras. Ia merasa kalah telak secara intelektual. "Jawaban yang cukup... lumayan. Tapi jangan sombong."
Baskara kemudian meletakkan kertas itu dan bersandar di kursinya, tatapannya beralih menjadi sinis. "Dan soal impianmu... suami dokter? Kamu pikir dokter mau dengan gadis yang bajunya bahkan tidak disetrika dengan benar seperti kamu? Dokter itu mencari pasangan yang setara, bukan beban yang harus mereka obati setiap hari."
Aruna hanya diam, tidak berniat membela diri dari hinaan yang sudah di luar konteks pelajaran itu. Namun, gerakan tangan Aruna yang sejak tadi terus memegang perutnya membuat Baskara menghentikan makiannya. Ia melihat Aruna sedikit meringis saat mencoba berdiri tegak.
"Perutmu kenapa? Kenapa dipegangi terus?" tanya Baskara. Ia memajukan tubuhnya, lalu dengan nada yang sangat rendah dan sangat menghina, ia berbisik, "Apa kamu sedang hamil? Jangan bilang kamu berbuat macam-macam di asrama demi mencari uang tambahan."
Wajah Aruna mendadak pucat. Rasanya sangat sakit dituduh seperti itu. Untungnya, suara riuh mahasiswa lain menutupi bisikan kejam Baskara sehingga tidak ada yang mendengar.
"Saya tidak hamil, Pak," jawab Aruna dengan suara bergetar namun jujur. "Semalam... ada orang yang tidak sengaja menyenggol saya sangat kuat sampai saya terjatuh dan terluka. Hanya itu."
Mendengar kata "menyenggol", ingatan Baskara langsung melayang ke kejadian di tempat parkir semalam. Ia ingat betul bagaimana ia menyenggol bahu Aruna dengan kasar hingga gadis itu terdorong ke arah pagar besi.
Baskara terdiam. Ada rasa bersalah yang menusuk dadanya sekejap, namun ia segera menepisnya dengan rasa benci yang lebih besar. Ia merasa terpojok oleh kejujuran Aruna yang seolah menyalahkannya tanpa bicara.
"Sudah, jangan banyak alasan. Kembali ke tempat dudukmu!" bentak Baskara kasar, seolah ingin mengusir rasa tidak nyaman di hatinya sendiri. "Dan perbaiki postur tubuhmu, jangan terlihat seperti orang lemah di kelas saya!"
Aruna berbalik tanpa kata, melangkah kembali ke bangkunya dengan perih yang semakin nyata, baik di perut maupun di hatinya. Ia tidak menyadari bahwa di balik meja dosen, tangan Baskara sedikit gemetar saat kembali memegang pulpennya. Pria itu benci karena mulai merasa terusik oleh luka yang ia ciptakan sendiri pada gadis yang paling ia benci itu.
Setelah masa ujian tengah semester yang melelahkan berakhir, Aruna merasa tubuhnya sudah mencapai batas. Luka di perutnya memang mulai menutup, namun rasa nyeri di dadanya kian menjadi-jadi. Setiap kali ia menarik napas dalam, ada sensasi seperti ditusuk ribuan jarum.
Sore itu, dengan sisa tenaga yang ada, Aruna melangkah menuju sebuah rumah sakit kecil di pinggiran London. Ia sengaja tidak memilih rumah sakit besar agar tidak meninggalkan jejak medis yang bisa dilacak oleh ayahnya.
Di dalam ruang periksa yang tenang, seorang dokter wanita senior dengan kacamata yang bertengger di ujung hidung memeriksa luka di perut Aruna.
"Kenapa Anda baru datang sekarang? Luka ini seharusnya dibersihkan secara medis sejak hari pertama," tegur dokter itu dengan nada bicara khas London yang tegas namun keibuan.
Aruna menunduk, meremas ujung bajunya. "Saya sedang minggu ujian, Dok. Saya tidak punya waktu untuk izin."
Dokter itu menghela napas, membersihkan sisa luka itu dengan sangat hati-hati. "Beruntung tidak terjadi infeksi serius, meski jaringannya sedikit kaku karena penyembuhan yang dipaksakan. Tapi..." Dokter itu terdiam saat tangannya beralih memeriksa bagian dada Aruna yang dikeluhkan sakit.
Saat Aruna membuka sedikit kancing kemejanya, dokter itu tertegun. Di sana, di bagian atas dadanya, terdapat memar kebiruan yang cukup lebar.
"Ini sangat serius, Aruna," suara dokter itu merendah. "Apa Anda sering begadang? Dan bagaimana dengan pola makan Anda? Apakah Anda mengonsumsi makanan bergizi?"
Aruna mengangguk pelan, nyaris tak terlihat. "Beberapa bulan ini saya memang sering tidur hanya dua atau tiga jam karena tugas, dan... ya, saya lebih banyak makan roti atau mi instan untuk menghemat waktu dan biaya."
Dokter itu mengusap wajahnya, tampak prihatin melihat mahasiswi muda di depannya yang tampak sangat abai pada kesehatan. "Dada Anda membiru karena kelelahan yang ekstrem dan kurangnya asupan nutrisi yang membuat pembuluh darah Anda rapuh. Tubuh Anda berteriak minta tolong. Jangan sesekali memijat bagian yang biru itu, atau Anda akan memperburuk kondisinya."
Aruna diberikan beberapa botol obat dan vitamin dosis tinggi. "Istirahatlah. Jika Anda terus seperti ini, Anda tidak akan sampai ke hari kelulusan."