Dunia Aiswa runtuh saat Devan Argian, investor berkuasa yang dingin, mengklaimnya secara sepihak. Bukan sekadar lamaran, ini adalah jeratan. Demi ambisinya, Devan tak segan mengancam nyawa orang-orang tercinta Aiswa. Nasib adiknya yang bekerja sebagai operator alat berat di Kalimantan kini di ujung tanduk; satu perintah dari Devan bisa menghancurkan masa depan, bahkan nyawanya.
Terjepit antara rasa benci dan keselamatan keluarga, Aiswa terpaksa tunduk dalam "penjara emas" sang tuan muda. Namun, di balik dominasi gelap Devan, hadir Zianna, putri kecil sang investor yang sangat menyayanginya. Akankah ketulusan Zianna dan pesona posesif Devan mampu mengikis kebencian Aiswa hingga setipis tisu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ai_Li, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27: Ruang Kedap Suara dan Hadiah yang Tertunda
Setelah melewati drama siraman kopi yang menghebohkan lobi lantai bawah, Devan membawa Aiswa masuk ke dalam ruangan kerjanya yang luas dan mewah. Aroma maskulin bercampur wangi kayu cedar langsung menyambut indra penciuman Aiswa.
"Duduk di sana," perintah Devan singkat sambil menunjuk sofa kulit berwarna hitam di sudut ruangan.
Aiswa menurut tanpa membantah, tubuhnya masih sedikit lemas pasca-demam dan emosinya yang terkuras habis. Sementara itu, Devan berjalan menuju meja kerjanya, meraih ponsel, dan mengetik sesuatu di sana dengan ekspresi serius.
Aiswa hanya diam memperhatikan. Tatapannya tertuju pada kemeja putih Devan yang kini ternoda hitam pekat akibat ulah Dewi tadi. Rasa bersalah sempat menyelinap di hatinya, namun ego Aiswa buru-buru menepisnya.
Lagian, siapa suruh sok jadi pahlawan? batin Aiswa ketus.
Tak lama kemudian, Devan berjalan menuju lemari eksklusif di pojok ruangan. Pria itu mengambil selembar kemeja bersih, lalu tanpa aba-aba dan tanpa dosa, ia mulai membuka kancing kemejanya yang kotor tepat di hadapan Aiswa.
Satu... dua... tiga...
Mata Aiswa membelalak. Sontak, ia langsung menutup wajahnya rapat-rapat dengan kedua telapak tangan.
"Ih! Ganti di kamar mandi kek! Anda menodai mata suci saya, ya!" protes Aiswa setengah berteriak dari balik jemarinya.
Meskipun mulutnya memprotes, ingatan visual Aiswa telanjur menangkap siluet perut Devan yang terbentuk sempurna dan atletis, tipikal hasil olahraga teratur pria kaya. Wajah Aiswa mendadak terasa panas.
Devan yang sedang memakai kemeja barunya hanya menyunggingkan senyum tipis. Reaksi Aiswa benar-benar menghiburnya. Jika wanita lain di luar sana akan menatap tubuhnya dengan pandangan lapar dan memuja, Aiswa justru bertingkah seolah baru saja melihat penampakan makhluk gaib.
Perbedaan itulah yang membuat Devan semakin dibuatnya jatuh cinta.
"Buka matamu. Saya hanya mengganti kemeja, bukan yang lain," ujar Devan dengan suara baritonnya yang tenang.
"Lagipula ini ruangan saya, tidak akan ada yang berani protes."
Aiswa menurunkan tangannya perlahan, lalu menatap Devan dengan pandangan tidak santai.
"Ya emang ini ruangan Bapak! Tapi kan di sini ada manusia lain! Seenaknya saja pamer aurat!" Protes Aiswa lagi, bibirnya mengerucut kesal.
Mendengar gerutu itu, Devan bukannya menjauh, malah melangkah mendekat. Langkah kakinya yang konstan membuat Aiswa otomatis memundurkan posisi duduknya hingga benar-benar terpojok di sudut sofa.
Jarak mereka mengikis drastis. Tatapan mata Devan yang tajam dan intens sanggup membuat Aiswa meneguk ludahnya sendiri dengan susah payah.
"Mau... mau ngapain?" ucap Aiswa.
Ia berusaha keras menjaga nadanya agar tetap terdengar ketus meski jantungnya mulai beritme tidak karuan.
Devan tersenyum miring, menumpu satu tangannya di sandaran sofa, mengurung tubuh mungil Aiswa.
"Menurut kamu, saya mau ngapain? Di ruangan kerja saya yang kedap suara ini, hanya ada kita berdua... dan tidak akan ada satu orang pun yang berani mengganggu."
Aura menggoda sekaligus intimidasi yang kuat menguar dari sosok pria di hadapannya.
Mata Aiswa langsung melotot sempurna. Ia mengerahkan sisa tenaganya untuk mendorong dada bidang Devan agar menjauh.
"Jangan macam-macam ya, Bapak Devan yang terhormat!"
Aiswa mulai tersulut emosi. Dia ke sini berniat untuk melabrak perkara kiriman bunga dan makanan, kenapa sekarang situasinya malah berbalik menjadi film romantis yang berbahaya?
"Saya bisa laporin Bapak atas tuduhan pelecehan, lho!" ancam Aiswa gertak sambal.
Devan hampir terkekeh geli. Pria itu menyandarkan kepalanya di atas telapak tangannya yang bertumpu pada sofa, terus mengunci pandangan Aiswa.
"Kamu yakin mau melapor? Saya bisa membalikkan semua faktanya di depan hukum. Saya tinggal menjelaskan kalau kamu yang menggoda saya. Karena jelas-jelas, kamu yang datang sendiri ke kantor saya, membuat keributan di lobi, dan... memancing perhatian saya sampai saya terpaksa membawa kamu ke ruangan pribadi ini."
Aiswa bungkam seketika.
"Bapak ini..." Ucapannya menggantung di udara karena ia benar-benar merasa terskakmat.
Nih duda emang pintar banget ya memutarbalikkan fakta! batin Aiswa kesal setengah mati.
Berdebat dengan seorang Devan Argian tampaknya adalah kemustahilan untuk menang.
Karena terlanjur gemas dan kesal, Aiswa meremas kedua tangannya di udara tepat di depan wajah Devan, seolah-olah sedang menjambak tak kasat mata.
Tindakan kekanak-kanakan itu justru membuat Devan terkekeh kecil sebuah suara tawa yang jarang sekali didengar oleh karyawan Argian Group.
Aiswa akhirnya memilih memalingkan wajahnya ke arah lain dan menyilangkan dada dengan ekspresi cemberut.
Melihat gadis itu merajuk, dengan gerakan yang sangat lembut, tangan Devan bergerak menyentuh dagu Aiswa, memutar wajahnya perlahan agar kembali menatapnya. Begitu mata mereka bertemu kembali, Aiswa terpaku oleh kehangatan yang mendadak muncul di manik mata pria itu.
"Saya sudah menolong kamu dari siraman kopi tadi. Harusnya, saya mendapatkan hadiah," ucap Devan dengan nada rendah yang berbisik.
Bulu kuduk Aiswa mendadak meremang.
Kok berasa ada setan lewat ya di badan gue? Apa-apaan nih duda! batin Aiswa panik.
"Hadiah?" tanya Aiswa sinis sambil menepis tangan Devan dari wajahnya.
"Nih, lihat muka saya. Ini barang antik, Pak! Jangan asal pegang. Kalau lecet, emang Bapak mau tanggung jawab?"
Devan dibuat tersenyum lagi oleh jawaban ajaib itu.
"Saya mau mengambil hadiah saya sekarang."
Aiswa menatap Devan dengan kening berkerut dalam.
"Hadiah apa sih, Pak? Lagian saya kan nggak minta ditolong tadi! Saya bisa kok nolong diri saya sendiri dari Mbak Cupang itu," protesnya bertubi-tubi.
Devan tidak mempedulikan protes tersebut. Ia kembali memegang pipi Aiswa, kali ini dengan sentuhan yang jauh lebih lembut dan penuh afeksi. Dengan gerakan perlahan yang penuh deliberasi, ibu jari Devan bergerak mengusap bibir bawah Aiswa.
"Saya mau ini untuk hadiah saya," bisik Devan, tatapannya turun ke bibir gadis itu.
Seketika mata Aiswa membulat sempurna karena syok. Sebelum hal-hal yang lebih jauh terjadi, ia langsung mengerahkan seluruh kekuatannya untuk mendorong dada Devan dengan cukup keras. Dorongan mendadak itu berhasil membuat Devan sedikit mundur, memberi celah bagi Aiswa untuk langsung bangkit berdiri dan meloloskan diri dari kungkungan sang CEO.
"Wah, si Bapak Zianna ini fiks makin nggak waras!" seru Aiswa sambil merapikan pakaiannya yang terkena noda kopi.
"Jangan dikira karena saya perempuan dan ini kantor Bapak, Bapak bisa bertindak macem-macem ya!"
Devan hanya kembali ke posisi duduk tegaknya di sofa, melipat kaki, dan menatap santai ke arah Aiswa yang mulai mengomel panjang lebar seperti kereta ekonomi.
"Sumpah ya, Pak! Saya itu keselnya dobel, bahkan tripel sama Bapak hari ini! Pertama, karena kiriman bunga dan makanan Bapak ke rumah saya tadi pagi! Pake kartu ucapan segala lagi! Alhasil, saya diceng-cengin habis-habisan sama Bunda dan sahabat-sahabat saya. Dan parahnya, mereka semua malah pro ke Bapak! Sumpah itu kesel banget, rasanya saya pengen jambak rambut Bapak, serius!"
Devan tetap diam, menyimak setiap kalimat yang keluar dari bibir Aiswa dengan saksama. Padahal, biasanya Devan adalah tipe pria yang paling tidak suka mendengar orang banyak bicara di depannya. Hidupnya selama ini selalu terstruktur, perfeksionis, dan teratur. Segala hal yang dianggap tidak efisien biasanya akan langsung ia pangkas. Namun anehnya, celotehan emosional Aiswa justru terdengar seperti melodi yang menyenangkan di telinganya.
"Kedua!" Aiswa melanjutkan dengan napas yang memburu, menggebu-gebu.
"Bapak nolongin saya di lobi tadi malah bikin saya jadi pusat perhatian satu kantor! Itu malu banget, Pak, serius ya Allah! Dan ketiga, sikap Bapak yang barusan ini... sangat, sangat tidak mencerminkan seorang pria terhormat tahu nggak?!"
Ketika Aiswa masih membuka mulutnya hendak melanjutkan omelan keempat, Devan dengan gerakan cepat meraih pergelangan tangan Aiswa dan menariknya lembut hingga gadis itu kembali terduduk di sampingnya.
"Pertama," Devan menjeda, menatap Aiswa lekat-lekat.
"Saya mengirimkan makanan dan bunga kepada calon istri saya sendiri. Apa itu sebuah kesalahan?"
Ucapan itu sukses membuat Aiswa terpelongo, mulutnya sedikit terbuka karena tidak percaya dengan tingkat kepercayaan diri pria di hadapannya.
"Kedua," lanjut Devan tanpa memberi celah.
"Saya tidak pernah peduli dengan tatapan dan tanggapan orang lain tentang diri saya, bahkan tanggapan kamu sekalipun. Yang saya tahu pasti, saya tidak suka jika milik saya diusik oleh orang lain."
Aiswa menggeleng-gelengkan kepalanya frustrasi.
Dikira gue barang pajangan kali ya, main klaim milik dia aja! batin Aiswa masih dongkol.
"Dan ketiga, saya hanya meminta hadiah kecil dari calon istri saya, apa...."
Aiswa yang mendengar poin ketiga itu sudah siap-siap menarik napas untuk melayangkan protes keras. Namun, suara ketukan pintu yang tegas dari luar seketika membuat ucapannya mengambang begitu saja di udara.
Devan menghela napas pendek, melepaskan jaraknya dari Aiswa, lalu berjalan menuju pintu untuk membukanya, pria itu memang sengaja mengunci pintu ruangannya sejak mereka masuk tadi. Begitu pintu terbuka, sosok Lucas berdiri di sana dengan wajah formal seperti biasa, menenteng sebuah paper bag bermerek terkenal.
"Ini baju ganti yang baru untuk Nona Aiswa, Tuan," ucap Lucas dengan nada sopan.
Devan menerimanya lalu mengangguk pelan.
"Terima kasih, Lucas."
Setelah tugasnya selesai, Lucas segera undur diri dan kembali menutup pintu.
Devan berjalan kembali menghampiri Aiswa, lalu menyodorkan paper bag tersebut ke depan wajah gadis itu.
"Ganti baju kamu dulu. Nanti saja lanjut mengomelnya setelah pakaianmu bersih."
Aiswa menyambar paper bag tersebut dengan cepat. Ia kemudian celingukan, memutar pandangannya ke setiap sudut ruangan yang didominasi dinding kaca dan kayu tersebut.
"Cari apa?" tanya Devan heran melihat tingkah Aiswa yang seperti agen rahasia sedang mengintai.
"Kamar mandinya di mana, Pak?" tanya Aiswa ketus.
Devan menunjuk sofa tempat mereka duduk tadi dengan dagunya.
"Ganti di sini saja. Seperti saya tadi."
Seketika Aiswa melemparkan tatapan tajam yang saking sengitnya seolah-olah siap melahap Devan hidup-hidup saat itu juga.
Dasar duda sinting, mesum pula! umpat Aiswa dalam hati, wajahnya kembali memerah menahan gemas.
Melihat tatapan tidak santai dari Aiswa yang sudah seperti singa siap menerkam, Devan akhirnya terkekeh kecil. Ia mengulurkan tangannya, menunjuk ke sebuah pintu kayu berkamuflase di sudut ruangan yang merupakan akses menuju kamar istirahat pribadinya.
"Kamar mandinya ada di dalam kamar tidur itu. Masuklah."
Tanpa membuang waktu dan tanpa mengucapkan terima kasih, Aiswa langsung melosok pergi dengan gerakan cepat, menghentakkan kakinya menuju pintu kamar tersebut lalu membantingnya pelan. Lama-lama berada di dekat Devan Argian, Aiswa merasa penyakit darah tingginya bisa mendadak naik ke stadium akhir.