"Suuut" lelaki itu membekap Garima dengan telapak tangan besarnya, mereka saat ini tengah berada gang kecil penuh dengan kupu - kupu malam yang dengan gamblang menjajahkan tubuhnya.
Tubuh Garima bergetar karena ketakutan, matanya menatap lelaki misterius didepannya itu dengan melotot "siapa dia ?, apa dia seorang penjahat ?" gumam Garima dalam hati.
"Tuhan tolong aku" jerit batin Garima kembali, tidak berapa lama terdengar suara langkah kaki yang banyak membuat seluruh gang sempit dan kumuh itu menjadi ramai.
Para wanita yang sedang menjalankan pekerjaannya lari terbirit - birit karena kehadiran beberapa orang yang sedang mencari seseorang.
Lelaki itu mendorong tubuh Garima membuat rumah kecil milik Garima terbuka dan dia dengan sengaja mencium bibir Garima saat salah satu lelaki berambut gondrong memperhatikan mereka.
Garima terkejut dengan aksi lelaki didepanya itu hingga dia tidak bisa berkata apa - apa dan bingung akan melakukan apa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sukapena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Loka mulai perhatian
Loka mengepalkan kedua tangannya dan terlihat otot yang menonjol pada leher Loka karena melihat seorang wanita menarik Rima dengan kasar keluar dari restoran tersebut.
Sementra Rima yang baru menginjakkan kaki pada restoran tempat dia bekerja seketika ditarik paksa oleh seorang wanita yang tidak lain adalah atasan rima sendiri.
"Bu saya mohon, saya membutuhkan pekerjaan ini" wanita itu tidak perduli dengan permintaan Rima "bu saya minta maaf membuat keributan kemarin tapi tolong jagan pecat saya" wanita itu masih tidak perduli dan saat ini tengah menyeret Rima yang masih belum terima jika dirinya diberhentikan dari pekerjaannya.
"Karena kau tidak sadarkan diri membuat banyak orang menilai jelek tentang restoranku, mereka memberikan ulasan jelek tentang aku selaku pemilik restoran ini tidak memiliki hati sehingga membuat pegawaiku bekerja tanpa henti dan tidak sadarkan diri" Rima menggelengkan kepala tidak percaya dengan berita hoax yang orang sebar begitu saja.
"Saya minta maaf bu, tapi tolong jangan pecat saya" Rima sekali lagi memohon namun keputusan wanita pemilik restoran sudah bulat dan tetap memecat Rima.
Rima yang masih memegang tangan wanita itu dengan cepat didorong begitu saja membuat Rima limbung kebelakang "hati - hati" ucap Loka yang saat ini sudah berada dibelakang Rima.
Rima terkejut melihat Loka maish berada disini "apa kau tidak bisa berbicara baik - baik padanya ? Hingga kau mendorongnya begitu saja" wanita pemilik restoran tertawa muak.
"Restoranku diambang kehancuran karena dia, mereka membuat berita bodoh sehingga aku kehilangan pelanggan" Loka mengangkat satu alisnya bingung mendengar penuturan wanita baya didepannya itu.
"Sebaiknya kau cepat pergi dadi sini, dan ini uang gajimu bulan ini" setelah wanita itu melemparkan amplop putih berisi uang gaji Rima, dia kembali memasuki restoran tanpa melihat Rima dan Loka.
Loka menarik tangan Rima memasuki mobil miliknya setelah itu Loka menyalakan mesin mobil meninggalkan restoran tersebut, Rima hanya dian dengan air mata yang tidak berhenti luruh dari kedua bola matanya.
Suara deringan ponsel terdengar membuat Loka berhenti dipinggir jalan yang sedikit lenggang untuk menerima panggilan telfon tersebut.
"Halo Bim" Bima disebrang telfon memberitahu Loka bahwa dirinya sudah menemukan tempat penyekapan anak - anak korban penculikan untuk dijual organ dalamnya.
"Iya aku aka kesana sekarang" Loka memutus panggilan telfon yang masih terhubung dengan Bima, sementara Rima hanya diam bertanya - tanya didalam hati.
Mobil tidak lama berhenti disebuah tanah kosong yang ditumbuhi banyak ilalang dan tempatnya sangat sepi "untuk apa kita kemari ?" Loka mematikan mesin mobil kemudian melepas sabuk pengamannya.
"Kau tunggu saja aku disini, ada hal penting yang harus ku urus" Loka membuka pintu mobilnya saat dia mulai bersiap turun tangannya ditarik begitu saja oleh Rima.
Membuat Loka terkejut kemudian melihat Rima yang terlihat panik "aku takut" Loka mengangkat satu alisnya seraya bertanya "aku ikut" lanjut Rima namun Loka dengan tegas menggelengkan kepala.
"Akan lebih berbahaya jika kau ikut, tunggu saja didalam mobil" Rima dengan terpaksa melepas tangannya yang masih memegang erat lengan Loka.
Loka menutup pintu mobil kemudian berjalan sedikit buru - buru, sementara Rima melihat punggung Loka dengan rasa takut dan cemas "shit" umpat Loka kemudian berhenti berjalan.
Loka berbalik badan berlari kecil kearah mobil dan membuka pintu mobil Rima "ada apa ?" Loka menatap Rima sebentar kemudian menarik tangan Rima membuat Rima turun dari mobil.