Ini kisah lanjutan #LuckyDaisy yang bercerita keluarga Buwono setelah kelahiran Kenzie. Bagaimana dokter Lucky dan istrinya dokter Daisy menikmati kehidupan rumah tangganya bersama dengan pebinor nya, Winston. Belum kasus dengan divisi kasus dingin termasuk dokter Lucky masih saja takut dengan tim arwahngers. Kemungkinan sampai kehamilan Elina dan kelahirannya yang penuh warna.
Generasi ke 8 klan Pratomo
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hana Reeves, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Spiderman Berhelm
"Aku pulaaaanngggg! Assalamualaikum! Tadaima!"
Dokter Lucky masuk ke dalam rumah dengan disambut Winston yang langsung berdiri. Dokter Lucky meletakkan tasnya dan langsung menguyel-uyel anjing Belgian Malinois kesayangan istrinya yang dibawa jauh-jauh dari Turin.
"Oh Winston, kenapa kamu yang menyambut aku dengan mesra. Kan kita sama-sama pebinor tapi aku yang sah," ucap dokter Lucky random sambil menggosok-gosok leher anjing bermata coklat itu.
"Apaan sih mas. Kok malah rebutan jadi pebinor?" kekeh Daisy sambil menggendong Kenzie.
Dokter Lucky tersenyum sambil menurunkan Winston. "Sebentar, aku cuci tangan dulu." Pria berkacamata itu menuju kamar mandi tamu yang ada di dekat pintu masuk. Rumah yang dipilih Daisy memang nuansa Jepang jadi ada kamar mandi kecil untuk tamu di depan agar bersih sebelum masuk. Di Jepang disebut genkan.
Daisy melihat ada kantong belanja cukup besar. Dia merasa curiga suaminya membeli Gundam atau Lego.
"Mas, kamu beli Gunpla?" tanya Daisy.
Dokter Lucky keluar dari kamar mandi. "Gunpla?"
Gunpla adalah singkatan dari Gundam Plastic Model, yaitu model kit plastik yang merepresentasikan robot ( mecha ) dan karakter dari seri anime Mobile Suit Gundam.
"Itu." Daisy menunjuk ke kantong belanjaan yang agak besar.
"Yah, Jeng Daisy. Mana sempat aku rakit Gunpla ... Tuh, lima kotak Lego yang aku beli dengan kekhilafan penuh karena emosi lebih main daripada logika, masih belum diapa-apain," jawab dokter Lucky.
Daisy tersenyum karena saat mereka jalan-jalan ke Kuala Lumpur Malaysia, suaminya khilaf membeli Lego Stadion Old Trafford, Black Pearl dari Pirates of the Carribean, X-Wing dan Millenium Falcon dari Star Wars dan Enterprise dari Star Trek. Dan lima kotak besar-besar itu masih di lemari ruang kerja dokter Lucky.
"Lha terus, Mas Lucky beli apa?"
Dokter Lucky tersenyum lebar lalu mengeluarkan isi dari kantong belanjanya. "Taraaaaaa!"
Daisy dan Kenzie menatap kepo. "Apa itu?"
"Helm bayi buat Kenzie! Kan anak kita sudah mulai ala Peter Parker dan Solid Snake. Jadi, daripada benjol, mending pakai ini!" senyum dokter Lucky dengan wajah sumringah.
Daisy melongo. "Darimana Mas Lucky tahu ukuran kepala Kenzie?"
"Ya aku bilang, putraku yang comel berusia sembilan bulan dan ukurannya segini." Dokter Lucky memeragakan ukuran kepala Kenzie dengan kedua tangannya.
Daisy auto terbahak melihat gaya suaminya yang bodo amat yang penting dapat barangnya. "Ya Allah Mas ...."
"Nanti kita coba ya Kenz!"
***
Dokter Lucky melihat Daisy meletakkan Kenzie duduk di kursi bayi yang berada di sebelahnya. Bayi comel itu makan dengan tangannya menu MPASI berupa pasta, salmon dan sayuran kukus seperti wortel, brokoli dan kembang kol serta buah-buahan.
Daisy membiarkan Kenzie makan dengan kedua tangannya agar motoriknya semakin kuat. Kenzie tampak senang bersama dengan kedua orang tuanya.
"Ken, Papa tahu kamu ada darah Jowonya tapi mbok ya pakai sendok maemnya. Makan pakai tangan itu kalau makan nasi Padang atau nasi ayam penyet atau seafood," celetuk dokter Lucky.
"Biarin mas. Aku selalu kasih Kenzie sendok garpu juga. Tapi ini kan menunya finger food. Kalau pagi atau siang kan tetap harus pakai alat makan," senyum Daisy. "Jadi, sepatu Prada kamu dibuang?"
"Buang lah Jeng! Tahu sendiri kan bau anyir darah yang keluar banyak itu lebih susah dibersihkan. Lagipula kan sudah tipis solnya."
"Sepatu kamu juga masih banyak kan?" senyum Daisy. "Atau mau beli lagi?"
"Besok aja ya Jeng. Sekalian jalan-jalan. Weekend kan aku libur ... Kenzie udah mendingan kan?" tanya dokter Lucky.
"Alhamdulillah udah. Eh, iya Mas. Tadi Tante Nyes datang, nawarin baby sitter buat Kenzie. Wanita ini mau resign dari PRC Hospital dan mau jadi pengasuh. Dia janda mati tanpa anak. Kata Tante Nyes, orangnya nggak neko-neko."
"Umur berapa?"
"Lima puluhan."
Dokter Lucky menatap Daisy. Dia tahu istrinya pasti pusing memikirkan pekerjaan dan Kenzie. Apalagi tim gabut lebih suka kalau Daisy atau dokter Wayan yang melakukan autopsi jika ada kasus.
"Kita wawancara dulu ya. Kalau kamu cocok, aku sih dukung saja Jeng. Bukan apa-apa, jangan memaksakan sesuatu karena situasi. Ini menyangkut Kenzie, Jeng," ucap dokter Lucky.
"Aku juga paham mas. Atau kita pakai serum kejujuran dari divisi Steven? Daripada dipakai buat cari maling Snack diantara mereka?" Daisy tersenyum manis.
"Boleh tuh! Nanti aku minta sama Piktor. Sekarang, setelah makan, kita cek helm Kenzie."
***
Kenzie tampak cuek saat Daisy memakaikan helm bayi agar kepalanya tidak terbentur. Sementara kedua orang tuanya lebih heboh melihatnya semakin comel.
"Harusnya aku bikin royalti baru ke Marvel," ujar dokter Lucky.
"Apaan mas?"
"Spiderman berhelm!"
Daisy menggelengkan kepalanya. "Kamu tuh lho!"
Kenzie, Spiderman berhelm
***
Divisi Kasus Dingin Polda Metro Jaya Jakarta
"Kamu minta apa?" tanya AKP Victor. ( settingnya sebelum GD 3 ya ).
"Serum kejujuran. Daripada dipakai sama mbak Nana cari maling Snack yang sudah pasti diantara dua, Oom Rayyan atau Tole, makanya aku minta satu ampul," jawab dokter Lucky.
"Buat apa dik? Buat junior kamu?" tanya AKP Nana yang hendak naik pangkat menjadi Kompol.
"Bukan. Jeng Daisy ditawari baby sitter buat Kenzie sama Tante Nyes. Katanya sih pegawai gizi PRC Hospital yang mau resign. Jadi sebelum wawancara, kita persiapan dulu. Bukan apa-apa, ini menyangkut Kenzie soalnya."
"Sepertinya masih ada. Atau kamu kasih tahu siapa namanya biar aku cari backgroundnya," tawar AKP Victor.
"Boleh deh. Nanti setelah aku dapat nama lengkapnya. Eh, Chagee aku mana Tor?" tanya dokter Lucky.
AKP Victor menatap sebal. "Bangkrut gue tiap hari beliin Chagee dan kopi mahal lu!"
"Eh? Kalian taruhan?" tanya AKP Nana.
"Nggak! Buat nyogok dia sih benarnya ... tidak disangka malah aku jadi boncos!" adu AKP Victor.
***
RS Bhayangkara
Dokter Lucky datang ke rumah sakit tempatnya bekerja dengan wajah sumringah karena Daisy membelikan ketoprak favoritnya via online dan dititipkan ke resepsionis. Hari ini Daisy sudah masuk kantor sementara Kenzie berada di day care PRC Hospital. Para pengasuh di sana sudah hapal bayi gemoy itu. Disaat dia mau masuk lift, Suster Lia menjejeri dirinya.
"Rasanya aku kangen di IGD deh," gumam dokter Lucky ke Suster Lia yang berada di sebelahnya.
"Yakin? Dok Lucky di IGD saja macam dokter Tirta kalau sudah ngamuk," kekeh Suster Lia.
"Lha kan taruhannya nyawa, Suster Liliput," balas pria itu.
"Dih! Seram tahu!"
"Masih seram Jeng Daisy. Dia anak Mafioso."
Keduanya pun keluar dari lift dan menuju ruang kerja tim bedah. Tanpa mereka tahu, ada sepasang mata bening menatap punggung lebar dokter Lucky penuh minat.
"Susana, ayo masuk ke kamar," ucap seseorang sambil memegang pegangan kursi roda.
"Papa, aku mau dia!" ucapnya sambil menunjuk ke arah dokter Lucky.
"Apa kamu yakin, Susana?"
Wanita bernama Susana itu mengangguk.
***
Yuhuuu up Pagi Yaaaaaa
Thank you for reading and support author
Don't forget to like vote and gift
Tararengkyu
kasihan banget flint, padahal dia nggak tau apa-apa
ayahnya itu ampun deh...
ibunya juga kurang aware😓😓😓
lgian,spa jg yg bkln sbar kl ktmu orng ga wrs ky gt....bgus bgt idenya dok gabut yg mau bkin dia gatal2,biar kapok....
yang dikhawatirkan sama kan.... pispot🤣🤣🤣🤣