NovelToon NovelToon
Dari Perjodohan Yang Salah, Lahir Cinta Yang Benar

Dari Perjodohan Yang Salah, Lahir Cinta Yang Benar

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Diam-Diam Cinta / Perjodohan
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: Uzumaki Amako

Sejak ibu kandungku meninggal, aku hidup sebagai orang asing di rumahku sendiri. Saat perjodohan datang, harapanku hancur ketika kakak tiriku merebut segalanya dan aku dipaksa menikah dengan pria lumpuh yang tak kukenal. Namun, dari perjodohan yang tidak adil itu, aku justru menemukan ketulusan dan cinta yang selama ini tak pernah kudapatkan. Ketika kebenaran terungkap dan masa laluku ingin mengklaimku kembali, aku harus memilih—kembali pada yang seharusnya, atau bertahan pada cinta yang telah menjadi rumahku.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Uzumaki Amako, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 22

Pagi itu suasana rumah sakit terasa sama seperti biasanya—dingin, rapi, dan terlalu tenang.

Namun kali ini… ada sesuatu yang berbeda.

Bukan dari tempatnya.

Tapi dari suasananya.

Dari kami.

Aku berjalan di samping Adrian, mendorong kursi rodanya dengan pelan. Tanganku sudah terbiasa sekarang—tidak lagi kaku, tidak lagi ragu.

Kami langsung menuju ruang pemeriksaan seperti jadwal sebelumnya.

Dokter yang sama sudah menunggu.

“Silakan,” katanya singkat.

Kami masuk.

Seperti biasa, Adrian diposisikan untuk pemeriksaan. Aku berdiri tidak jauh, memperhatikan setiap gerakan dokter dengan lebih fokus dari sebelumnya.

Karena aku tahu—

Hari ini mungkin tidak sama.

Dokter mulai dengan pemeriksaan dasar.

Refleks.

Tekanan.

Respons otot.

Semua berjalan seperti biasa…

Sampai—

“Coba tahan di sini,” kata dokter sambil memberi instruksi.

Adrian mengikuti.

Dan kali ini—

Gerakannya tidak sepenuhnya pasif.

Ada sedikit usaha.

Sangat kecil.

Tapi nyata.

Dokter berhenti.

Benar-benar berhenti.

Ia menatap kaki Adrian lebih lama dari biasanya.

“Ulangi,” katanya.

Perawat membantu.

Tes dilakukan lagi.

Dan lagi—

Respons itu muncul.

Lebih jelas.

Lebih stabil.

Aku langsung menahan napas.

Mataku tidak lepas dari situ.

“Itu bukan refleks biasa…” gumam dokter pelan.

Jantungku berdetak cepat.

Sangat cepat.

Dokter berdiri tegak, lalu menatap Adrian.

“Kamu mencoba menggerakkannya?”

Adrian diam beberapa detik.

“…Iya,” jawabnya akhirnya.

Satu kata.

Tapi cukup.

Dokter langsung menoleh ke arahku.

“Sejak kapan ini terjadi?”

Aku sedikit gugup.

“Tiga hari terakhir… mulai terasa ada perubahan kecil,” jawabku pelan.

Dokter kembali menatap Adrian.

“Kamu merasakannya juga?”

“Iya.”

Jawaban kali ini lebih tegas.

Ruangan mendadak sunyi.

Tapi bukan sunyi yang kosong.

Lebih seperti… menahan sesuatu yang besar.

Dokter mengambil catatan, menulis beberapa hal dengan cepat.

Lalu berkata,

“Ini bukan sekadar respons saraf pasif lagi.”

Aku langsung menatapnya.

“Maksudnya…?”

Dokter menatap kami berdua.

“Ada kontrol.”

Kalimat itu membuat dadaku terasa sesak.

“Kontrol…?” ulangku lirih.

“Iya,” katanya. “Masih sangat lemah. Tapi ini tanda bahwa koneksi saraf mulai aktif kembali.”

Aku hampir tidak percaya.

Tanganku langsung mengepal pelan.

Aku menoleh ke Adrian.

Ia masih diam.

Tapi kali ini—

Tatapannya tidak kosong.

Ada sesuatu di sana.

Sesuatu yang selama ini tidak pernah muncul.

Dokter melanjutkan pemeriksaan lebih detail.

Memberikan beberapa instruksi tambahan.

“Coba angkat sedikit,” katanya.

Adrian mencoba.

Butuh waktu beberapa detik.

Dan—

Ada gerakan.

Tidak sempurna.

Tidak tinggi.

Tapi jelas—

Itu bukan bantuan.

Itu usahanya sendiri.

Aku langsung menutup mulutku dengan tangan.

Air mataku hampir jatuh.

“Ini… luar biasa,” kata dokter pelan.

Aku menunduk, mencoba menahan emosiku.

Aku tidak boleh menangis di sini.

Tapi sulit.

Sangat sulit.

Dokter menatap Adrian dengan serius.

“Ini perkembangan yang sangat jarang terjadi dalam waktu secepat ini.”

Adrian tidak menjawab.

Tapi aku bisa melihat—

Ia juga merasakannya.

Dokter kemudian menoleh ke arahku.

“Rutinitasnya tidak berubah, kan?”

Aku menggeleng.

“Tidak… masih sama.”

Tidak perlu dijelaskan.

Ia sudah tahu.

Pijatan.

Perawatan.

Semua yang kami lakukan.

Dokter mengangguk pelan.

“Pertahankan.”

Satu kata.

Tapi berat.

Aku mengangguk cepat. “Iya, Dok.”

Setelah pemeriksaan selesai, kami keluar dari ruangan.

Lorong rumah sakit terasa berbeda.

Orang-orang masih lalu lalang.

Suara langkah masih sama.

Tapi dunia terasa… lebih ringan.

Aku berjalan di belakang Adrian.

Tanganku masih di pegangan kursi roda.

Tapi kali ini—

Aku tidak hanya mendorong.

Aku… gemetar.

Karena terlalu banyak yang terjadi.

Tiba-tiba—

Adrian menghentikan kursi rodanya.

Aku ikut berhenti.

“Ada apa?” tanyaku pelan.

Ia tidak langsung menjawab.

Beberapa detik berlalu.

Lalu—

“Coba.”

Aku mengerutkan kening.

“Coba apa?”

Ia menatap ke depan.

“Lepaskan.”

Aku terdiam.

“Lepaskan kursinya,” ulangnya.

Aku ragu.

“…Tapi—”

“Coba saja.”

Nada suaranya tenang.

Tapi tegas.

Aku perlahan melepaskan pegangan kursi roda.

Jantungku berdetak cepat.

Sangat cepat.

Adrian menggerakkan tangannya.

Mengontrol kursinya sendiri.

Pelan.

Tapi stabil.

Ia maju sedikit.

Berhenti.

Lalu bergerak lagi.

Tanpa bantuanku.

Aku menatapnya.

Tidak percaya.

“…Kamu bisa,” bisikku.

Ia tidak menoleh.

Tapi aku bisa melihat—

Rahangnya menegang.

Seperti menahan sesuatu.

“Kamu sudah bisa dari tadi?” tanyaku.

“…Tidak.”

Jawabannya pelan.

“Tapi sekarang… lebih mudah.”

Aku menggigit bibir bawahku pelan.

Air mataku akhirnya jatuh juga.

Satu.

Aku cepat-cepat mengusapnya.

Tidak mau terlihat terlalu emosional.

Namun—

Adrian menoleh.

Dan melihatnya.

Ia diam beberapa detik.

Lalu berkata pelan,

“Kenapa kamu yang menangis?”

Aku tertawa kecil di sela tangis.

“Karena aku senang…”

Jawabanku jujur.

Tanpa ditahan.

Ia menatapku lebih lama.

Lalu—

Untuk pertama kalinya sejak aku mengenalnya—

Ekspresinya berubah dengan jelas.

Bukan hanya tipis.

Bukan hanya sekilas.

Tapi nyata.

“…Aneh,” katanya.

Aku tertawa kecil lagi.

“Iya… aku memang aneh.”

Sunyi.

Tapi kali ini—

Sunyi yang hangat.

Ia memutar kursi rodanya sedikit.

“Kita pulang.”

Aku mengangguk cepat.

“Iya.”

Namun kali ini—

Aku tidak langsung mendorongnya.

Aku berjalan di sampingnya.

Sejajar.

Dan untuk pertama kalinya—

Kami tidak lagi terlihat seperti seseorang yang membantu…

Dan seseorang yang dibantu.

Kami terlihat seperti—

Dua orang yang berjalan bersama.

Menuju sesuatu yang baru.

Pintu utama terbuka perlahan saat aku dan Adrian baru saja kembali dari rumah sakit.

Aku masih berdiri di samping kursi rodanya, tanganku refleks berada di pegangan belakang—kebiasaan yang tanpa sadar mulai terbentuk. Namun langkahku terhenti ketika melihat dua sosok yang sudah lebih dulu duduk di ruang tamu.

Celine Pratama.

Dan di sampingnya tunangannya—Nathaniel Santoso.

Aku sedikit tertegun.

Mereka berdua terlihat… sangat serasi.

Celine mengenakan dress elegan berwarna merah marun, rambutnya ditata rapi, makeup-nya sempurna seperti biasa. Sedangkan Nathaniel duduk santai dengan jas mahal, aura percaya diri yang hampir berlebihan terpancar jelas dari caranya bersandar.

Namun ada satu hal yang langsung terasa—

Suasana di ruangan itu tidak hangat.

Lebih seperti… menunggu sesuatu.

“Oh,” suara Celine terdengar lebih dulu. “Akhirnya datang juga.”

Senyumnya tipis.

Bukan senyum rindu.

Aku menelan pelan, lalu mendorong kursi Adrian sedikit ke depan.

Adrian tidak langsung bicara. Tatapannya hanya tertuju pada Nathaniel—tajam, dingin, dan penuh arti yang tidak bisa kubaca sepenuhnya.

Nathaniel tersenyum kecil.

“Sudah lama tidak bertemu,” katanya santai.

Nada suaranya terdengar ringan.

Tapi… tidak bersahabat.

“Tidak lama,” jawab Adrian datar.

Singkat.

Tegas.

Aku berdiri di samping mereka, merasa seperti orang luar lagi—meskipun ini rumahku sekarang.

Celine berdiri, melangkah mendekat ke arahku.

“Alina,” katanya manis, tapi matanya… tidak berubah. “Lama tidak bertemu ya.”

Aku mengangguk kecil. “Iya.”

Ia memandangku dari atas ke bawah.

Menilai.

Seperti biasa.

“Kelihatannya… hidupmu berubah banyak,” lanjutnya.

Aku tidak menjawab.

Nathaniel kemudian berdiri perlahan, berjalan mendekat. Langkahnya santai, tapi sorot matanya langsung tertuju pada Adrian.

Ia berhenti beberapa langkah di depan kami.

Lalu—

Tatapannya turun.

Ke kursi roda itu.

Senyumnya melebar sedikit.

“Masih sama, ya.”

Sunyi.

Aku langsung merasakan perubahan di udara.

Adrian tidak bergerak.

Tidak marah.

Tapi diamnya… terasa lebih berat.

“Aku pikir dengan semua uangmu,” lanjut Nathaniel santai, “setidaknya ada sedikit… kemajuan.”

Tanganku tanpa sadar mengepal di belakang kursi Adrian.

Celine tertawa kecil, seolah itu hanya candaan ringan.

“Sudahlah, Nathan,” katanya. “Jangan terlalu jujur.”

Namun jelas… itu bukan teguran.

Lebih seperti… dukungan.

Aku menatap mereka.

Perasaan tidak nyaman mulai naik.

Namun sebelum aku sempat mengatakan apa-apa—

Adrian berbicara.

“Masih sama,” katanya pelan. “Dan kamu juga.”

Nathaniel mengangkat alis. “Oh?”

“Masih suka bicara tanpa berpikir.”

Sunyi.

Senyum Nathaniel tidak hilang.

Tapi matanya… berubah.

Lebih tajam.

Menantang.

“Setidaknya aku masih bisa berdiri,” katanya ringan.

Kalimat itu jatuh begitu saja.

Seolah tidak ada beban.

Namun aku merasakannya—

Berat.

Menusuk.

Aku langsung melangkah sedikit ke depan.

Refleks.

Namun sebelum aku bisa membuka suara—

Adrian mengangkat tangannya sedikit.

Isyarat.

Untuk berhenti.

Aku terdiam.

Menahan diri.

Adrian lalu menatap Nathaniel lurus.

“Kalau kamu datang hanya untuk mengatakan itu,” katanya tenang, “kamu bisa pulang.”

Nada suaranya datar.

Tapi jelas—

Ini batasnya.

Nathaniel terdiam beberapa detik.

Lalu tertawa kecil.

“Tenang saja,” katanya. “Aku tidak datang untuk itu.”

Ia memasukkan tangan ke dalam jasnya, lalu mengeluarkan sebuah amplop elegan.

Celine langsung tersenyum lebar.

“Akhirnya ke inti,” katanya manja.

Nathaniel menyerahkan amplop itu ke meja.

“Undangan pernikahan kami,” katanya santai.

Aku sedikit terkejut.

Pernikahan…?

Bukankah mereka sudah lama bersama?

Kenapa baru sekarang?

Seolah membaca pikiranku, Celine berkata,

“Kami memutuskan untuk meresmikannya.”

Nada suaranya terdengar bangga.

Aku mengangguk pelan.

“Selamat,” kataku singkat.

Namun Celine menatapku lebih lama.

“Aku harap kamu datang,” katanya. “Walaupun… mungkin tidak terlalu nyaman untukmu.”

Aku mengerutkan kening sedikit.

“Maksudnya?”

Ia tersenyum tipis.

“Tempatnya cukup luas,” katanya santai. “Tapi mungkin agak sulit untuk… akses tertentu.”

Tatapannya melirik ke kursi roda.

Aku langsung mengerti.

Dadaku terasa panas.

Namun sebelum aku menjawab—

Adrian lebih dulu bicara.

“Kami akan datang.”

Aku menoleh kaget ke arahnya.

Ia tidak menatapku.

Tatapannya tetap pada Nathaniel.

Nathaniel tersenyum puas.

“Bagus,” katanya. “Aku ingin melihat… seberapa jauh kamu bisa bertahan.”

Kalimat itu terdengar seperti tantangan.

Adrian hanya diam.

Namun aura di sekitarnya berubah.

Lebih dingin.

Lebih tajam.

Celine kemudian melangkah mendekat lagi ke arahku.

“Dan kamu…” katanya pelan, “jangan sampai mempermalukan keluarga ya.”

Aku menatapnya.

Untuk pertama kalinya…

Tanpa menghindar.

“Sejak kapan aku bagian dari keluarga itu?” jawabku tenang.

Celine sedikit terkejut.

Hanya sesaat.

Lalu ia tersenyum lagi.

“Terserah kamu mau menganggapnya apa,” katanya. “Tapi tetap saja… kamu berasal dari sana.”

Aku tidak membalas.

Karena aku tahu—

Perdebatan ini tidak akan ada ujungnya.

Nathaniel menepuk bahu Celine ringan.

“Ayo,” katanya. “Kita sudah selesai.”

Namun sebelum pergi, ia menoleh sekali lagi ke arah Adrian.

Tatapannya turun lagi—

Ke kursi roda itu.

“Jangan terlambat,” katanya.

“Kalau kamu bisa sampai ke sana.”

Lalu ia berbalik.

Pergi begitu saja.

Celine mengikutinya.

Namun saat melewatiku, ia berbisik pelan—

“Hati-hati ya… dunia itu tidak seperti dapurmu.”

Langkahnya berhenti sebentar.

“Di sana… orang-orang tidak akan sebaik itu padamu.”

Lalu ia pergi.

Pintu tertutup.

Sunyi kembali memenuhi ruangan.

Aku berdiri diam.

Napas terasa berat.

Tanganku masih sedikit gemetar.

Beberapa detik tidak ada yang bicara.

Lalu aku menoleh ke Adrian.

Ia masih diam.

Tatapannya kosong ke depan.

Namun aku bisa merasakan sesuatu.

Ia tidak terluka.

Ia… marah.

Tapi bukan marah yang meledak.

Lebih seperti…

yang disimpan.

“Aku—” aku mencoba bicara.

Namun ia memotong pelan,

“Kamu tidak perlu mengatakan apa-apa.”

Aku terdiam.

Ia menarik napas pelan.

Lalu akhirnya menoleh ke arahku.

Tatapannya bertemu denganku.

Tenang.

Tapi dalam.

“Kita akan datang,” katanya lagi.

Aku ragu sejenak. “Apa tidak lebih baik… kita tidak datang?”

Ia menggeleng kecil.

“Tidak.”

Singkat.

Tegas.

“Beberapa orang,” lanjutnya, “perlu diingatkan… bahwa aku belum selesai.”

Kalimat itu membuat jantungku berdegup lebih cepat.

Bukan karena takut.

Tapi karena…

Untuk pertama kalinya—

Aku melihat sisi lain dari Adrian.

Bukan pria yang menjauh.

Bukan pria yang dingin.

Tapi seseorang yang…

tidak akan mundur.

Aku menatapnya beberapa detik.

Lalu mengangguk pelan.

“Iya,” kataku.

Dan untuk pertama kalinya sejak Celine datang—

Aku tidak merasa kecil.

Karena kali ini…

Aku tidak sendirian.

1
Siti Jubaedah
trima kasih karyanya semoga lebih semangat membacanya...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!