NovelToon NovelToon
Rebith: Gadis Beracun Kesayangan Bos Mafia.

Rebith: Gadis Beracun Kesayangan Bos Mafia.

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Mafia / Balas Dendam
Popularitas:10.8k
Nilai: 5
Nama Author: FT.Zira

Dikhianati... Kemudian dibunuh...

Siapa sangka, kematian menjadi awal bagi Lea La Bertha- seorang ahli racun- mengetahui kebenaran yang selama ini ditutupi sang kekasih.

Kehidupan kedua yang ia dapatkan membuat dirinya memilih jalan berbeda dengan bergabung dalam lingkaran dunia mafia.

"Jika aku memintamu membunuh seseorang, apa kau akan melakukannya?" Angkasa.

"Jadikan aku sebagai tangan kananmu. Maka, aku akan lakukan semua perintahmu tanpa terkecuali," Lea.

Dengan ingatan dari kehidupan sebelumnya yang ia bawa, Lea bertekad mengubah takdirnya. Tetapi ia tidak pernah menyangka, perubahan itu justru membuka rahasia besar dari kedua orang tuanya yang sudah tiada.

Lalu, bagaimana jika cinta hadir diantara mereka? Akankah Lea percaya pada 'Cinta'?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon FT.Zira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

26. Aku sudah tahu.

Hujan turun di tengah perjalanan Lea kambali ke mansion. Di dalam mobil, keheningan hanya dipecahkan oleh suara deru lembut dari mobil yang mereka tumpangi.

Vito duduk kaku di samping Lea, bahunya menempel pada pintu mobil, keringat dingin membasahi pelipis meski suhu mobil distel rendah. Ponsel di tangannya tak berguna, berapa kali pun ia mengecek ponsel, signal pada ponselnya tetap kosong.

Sejenak, Vito melirik ke arah Lea. Wanita itu duduk dengan pandangan ke depan, ekspresi wajahnya bagai air danau tak tersentuh, tenang namun bisa menenggelamkan siapapun kapan saja.

"Gio," suara Lea saat memanggil tidak tinggi, tetapi cukup untuk membuat Vito tersentak. "Percepat."

"Baik, Nona," sahut Gio dari belakang kemudi.

Gio.

Vito mengulang nama itu dalam benaknya. Ia mengenal nama itu. Sopir pribadi Angkasa. Usianya mungkin lebih muda dari Angkasa, tetapi memiliki kemampuan yang diakui Angkasa. Orang yang nyaris tidak pernah bicara kecuali untuk menjawab perintah Angkasa, dan sekarang pria itu menjawab perintah Lea untuk kedua kalinya dengan kesopanan yang sama. Ia menelan ludah.

Sekali lagi Vito melirik ke arah Lea. Otaknya memikirkan cara untuk melepaskan diri. Sayangnya, semua sia-sia saat detak jantungnya justru berpacu seiring mobil yang melaju lebih cepat.

"Dengar ..." suara Vito bergetar, nyalinya pergi entah ke mana. "Aku bisa berikan apapun yang kamu mau asalkan kamu melepaskanku. Aku punya uang, kekuasaan-..."

"Kekuasaan yang kau dapatkan dari mencuri," potong Lea cepat. "Dan kau ingin bernegosiasi denganku? Lucu sekali."

Vito kembali membeku, tertampar oleh fakta yang selama ini ia banggakan. Padahal ia bisa saja menyerang Lea. Dia hanya wanita, dan mereka berada di dalam mobil yang sama. Andaipun Gio ingin membantu, kesempatan ia untuk mencelakai Lea lebih besar.

Tapi kenapa? Tubuhnya kaku. Tangan yang sebelumnya ia gunakan untuk menyentuh paha wanita itu, kini terasa seperti ada ratusan jarum menancap di telapak tanganya.

Mobil berhenti, tetapi hujan belum mereda. Lea membuka pintu mobil, mengabaikan tubuhnya yang tersiram air hujan saat ia membawa langkahnya menuju pintu. Di belakangnya, Gio segera menarik Vito keluar dari mobil setelah gagal memberikan payung pada wanita yang sudah ia panggil dengan sebutan Nona.

Pintu mansion terbuka. Lea melangkah masuk dalam keadaan rambut sedikit basah. Gema heelsnya yang beradu dengan lantai mengundang Angkasa yang tengah duduk di sofa dengan wajah menunduk menatap layar tablet untuk mengangkat wajahnya.

"Belatiku telah kembali," batin Angkasa tersenyum.

Langkah Lea berhenti dalam jarak tiga langkah dari sofa yang Angkasa duduki. "Tugas selesai. Dia sudah kubawa."

Angkasa menatap Lea dalam diam selama beberapa saat, kemudian beralih pada Gio yang tengah menyeret Vito dan memaksa pria itu berlutut di depan Angkasa. Tepat di samping Lea berdiri.

"B-Bos ...s-saya bisa jelaskan. A-apa yang Anda dengar hanya salah paham, saya bersumpah," Vito terbata, berbicara bahkan sebelum Angkasa mengatakan apapun. "S-saya tidak pernah mengkhianati Anda."

"Bodoh," Lea terkekeh pelan, menggelengkan kepala dengan dramatis. "Kau berbicara sebelum dia mengatakan apapun sama saja kau mengakui sudah melakukan kesalahan. Cepat sekali kau menyerahkan diri," sindirnya diakhiri ejekan.

Vito membeku. Apa yang baru saja Lea ucapkan membuat ia baru tersadar sudah membuka kartunya sendiri tanpa diminta. Namun, bukan itu satu-satunya yang membuat dirinya terkejut, melainkan sikap Angkasa yang diam saja setelah ada yang berani menyela. Jika itu adalah dirinya, Angkasa sudah menodongkan pistol padanya..

"Vito," ucap Angkasa dengan suara rendah.

Vito menunduk, tidak berani menatap.

"Kau ingat apa yang kukatakan saat aku memintamu untuk mengelola Scarfers Bar?"

Wajah Vito terangkat, menemukan Angkasa masih tetap duduk di sofa. Posisi duduknya bahkan sedikitpun tidak bergeser dari saat ia melangkah masuk.

"S-saya ingat. Anda mempercayai saya," jawab Vito terbata.

"Dan itu membuatmu berpikir aku tidak tahu apapun hanya karena aku diam saja saat kau berbuat seenaknya menggunakan namaku?" tanya Angkasa.

Vito menggeleng kuat. "B-Bukan begitu ...saya ...saya salah. Saya-..."

"Marco," potong Angkasa cepat. "Bawa dia ke ruang bawah tanah. Buat dia bicara siapa saja yang ada di belakangnya. Patahkan kedua tangan dan kakinya jika perlu," perintahnya dingin.

"Baik." Marco

"B-bos ... Ampun. Beri saya kesempatan." Vito meronta saat dua pria berbadan besar mencekal kedua lengannya, memaksanya berdiri dan siap untuk membawanya pergi.

"Saya tidak akan mengulanginya," ratap Vito dalam usahanya melepaskan diri.

Namun, Angkasa mengabaikan semua ratapan itu. Seperti halnya Lea yang juga memilih diam tanpa memiliki keinginan untuk menghentikan aksi Angkasa.

Dalam benak Lea, terlepas dari itu bukan ranahnya ikut campur urusan Angkasa, ia memiliki alasan lain mengapa ia tidak menghentikan Angkasa saat mendengar pria itu akan menyiksa Vito.

Di saat yang sama, Angkasa justru berpikir tidak ingin membuat Lea melihat apa yang seharusnya tidak wanita itu lihat terlepas dari alasan sebenarnya adalah ia ingin menggali lebih dalam tentang kecelakaan kedua Lea dimana Vito terlibat di dalamnya. Siapa dalang sebenarnya dan mengapa? Itu yang perlu ia selidiki.

Keheningan masih menyelimuti sejak suara Vito menghilang beberapa saat lalu. Angkasa berdiri, meraih jaket yang ia sampirkan di sofa, lalu melangkah mendekat pada Lea.

"Kamu basah." ucap Angkasa datar seperti biasa sambil menutupi bahu Lea yang terbuka menggunakan jaketnya.

"Kau kesal padaku, mengapa?" tembak Lea tiba-tiba.

Gerakan tangan Angkasa saat membetulkan posisi jaketnya di bahu Lea terhenti. Netranya kini menatap lekat manik Lea. Tanpa senyum, tanpa sorot kepedulian-yang ia tutupi dengan sempurna-.

"Apakah aku terlihat sedang kesal padamu?" Angkasa balas bertanya.

"Ya," jawab Lea cepat. "Wajahmu mengatakan 'aku ingin mematahkan tangan Vito sebagai pelampiasan'."

Hening.

Tekanan udara di sekitar mendadak berubah. Ekspresi wajah Angkasa menjadi lebih dingin dari sebelumnya. Ia melangkah maju, menyisakan jarak satu jengkal antara dirinya dan Lea.

Lea tetap bergeming, menengadahkan wajah, yang membuat pandangan keduanya saling terkunci.

"Apa yang sebenarnya ada di dalam pikiranmu, Lea?" tanya Angkasa denga suara rendah. Wajahnya sedikit menunduk, hingga hidungnya nyaris menyentuh dahi Lea.

"Aku kesal karena aku tidak bisa membacanya."

"Hanya karena itu?" tanya Lea.

"Ada alasan lain. Akan kukatakan setelah kau menjawab pertanyaanku," jawab Angkasa.

"Tanyakan."

"Kenapa kau tidak menghentikanku saat aku meminta Marco mematahkan tangan dan kaki Vito?" tanya Angkasa.

Lea tergelak singkat. "Kau mengharapkan aku menghentikan aksimu? Manis sekali," sahut Lea sedikit menyindir.

"Lebih tepatnya ..." Angkasa mengapit rahang Lea, lalu mendekatkan wajahnya hingga jarak di antara mereka nyaris terkikis habis. "Reaksimu yang terlalu datar ini yang membuatku ingin tahu apa alasannya."

Hening.

Pandangan mereka saling terkunci, hembusan napas mereka berbaur diiringi detak jantung mereka yang berdetak seirama.

"Karena aku tahu wajah asli di balik topeng mafiamu, Aksa."

. . . .

. . . .

To be continued...

1
vania larasati
lanjut
Zhu Yun💫
Makanya jangan mata keranjang 🤣🤣🤣
Zhu Yun💫
Angkasa kebakaran jenggot nggak tuh ntar kalau lihat ini 🤭🤭🤭
Zhu Yun💫
Yah jiwa kepo Vito meronta-ronta 🤭🤭🤣🤣
Dewi Payang
Akupun akan bereaksi sama jika jadi Thalia😂
Dewi Payang
Mantap Lea👍🏻
🌸Sakura🌸
wow
Zenun
Vito sangat mudah dijebak karena dia pemain wanita
j4v4n3s w0m3n
rayuan mematikan bener bener lea ngeri ngeri sedep🤣🤭👍
aku
si Lea ngeri2 sedep 🙄🙄
vania larasati
lanjut
Zhu Yun💫
Yakin akan melepasnya pergi nih 🤧🤧🤧 nanti anu loh 🤣🤣🤣
Zhu Yun💫
Rugi kalau nggak bawa ke ranjang duluan, nanti nyesel loh 🤣🤣🤣🔥🔥🔥
〈⎳ FT. Zira: jangan ada anu dulu diantara kita🤧🤧
total 1 replies
Zhu Yun💫
Yang ada burung mu siap-siap dipotong iya 🤣🤣🤣
〈⎳ FT. Zira: hilanglah masa depan😭
total 1 replies
Zhu Yun💫
Angkasa mengalami reinkarnasi juga kah... /Slight//Slight//Slight//Slight/
〈⎳ FT. Zira: entahlah🤣🤣
total 1 replies
Zhu Yun💫
Kalau ingin naik ke atas ranjangmu dikasih ijin nggak 🤭🤭🤣🤣🤣
Zhu Yun💫
Maklum, Lea pengen ngintip kamu mandi 🤣🤣🤣✌️
Zhu Yun💫
Ya itu kan modusnya Angkasa juga 🤣🤣🤣
Zenun
hayolooo, nanti Lea dilirik sama bos lain
〈⎳ FT. Zira: hayolooo🤣
total 1 replies
〈⎳ 𝕄𝕠𝕞𝕤 𝕋ℤ ✍️⃞⃟𝑹𝑨
sepertinya mulai anuuuhhh
〈⎳ 𝕄𝕠𝕞𝕤 𝕋ℤ ✍️⃞⃟𝑹𝑨: 😂😂😂😂😂
total 4 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!