Arumi kehilangan segalanya dalam satu malam bayinya yang baru lahir tewas dalam kecelakaan tragis, dan ibunya kini kritis di rumah sakit tanpa biaya. Namun, takdir mempermainkannya; meski bayinya tiada, ASI Arumi tetap mengalir deras—sebuah pengingat menyakitkan akan kehilangan yang ia alami
Di sisi lain, Arlan Arkananta, seorang CEO dingin yang berkuasa, menyimpan rahasia besar. Ia memiliki seorang putra bayi bernama Leon yang keberadaannya disembunyikan dari dunia dan pihak keluarga besar. Leon menolak semua susu formula dan perawat, hingga hanya aroma tubuh Arumi yang mampu menenangkannya.
Terdesak oleh biaya rumah sakit, Arumi terpaksa menandatangani kontrak "Iblis". Ia bersedia menjadi ibu susu rahasia di mansion tersembunyi milik Arlan dengan aturan ketat: Dilarang mengungkap identitas bayi, dilarang keluar tanpa izin, dan yang paling berat—dilarang memiliki keterikatan emosional.
Namun, di balik tembok mansion yang dingin, Arumi menemukan bahwa Leon bukan sekadar bayi biasa
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon putri Sefira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 27: ANTARA PISAU BEDAH DAN DARAH MASA LALU
Pagi itu, Rumah Sakit Pusat Yayasan Salsabila tampak lebih sibuk dari biasanya. Arumi berdiri di depan wastafel ruang sterilisasi, menggosok tangannya dengan larutan antiseptik hingga ke siku. Ritual ini, yang telah ia lakukan ribuan kali sebagai mahasiswa, kini terasa berbeda. Di balik pintu geser otomatis itu, seorang pasien berusia sepuluh tahun bernama Banyu sedang menunggu. Banyu adalah salah satu korban sisa dari malpraktik "Arkananta-Plus" yang mengakibatkan tumor pembuluh darah langka di otaknya.
Ini adalah operasi bedah saraf mandiri pertama Arumi setelah mendapatkan pengakuan spesialisasi percepatan karena kontribusinya pada data riset nasional.
"Tenang, dr. Arumi," suara Profesor Hendra terdengar dari balik masker bedahnya. Pria tua itu kini menjadi mentor setia Arumi setelah ia menebus dosanya dengan membongkar sisa jaringan Victoria. "Tanganmu adalah instrumen paling berharga di ruangan ini. Fokus pada monitor, bukan pada beban namamu."
Arumi mengangguk. Ia mengatur napasnya, memejamkan mata sejenak untuk membayangkan anatomi otak Banyu yang sudah ia pelajari selama berhari-hari. Di ruang observasi atas, Arlan berdiri mematung, menatap istrinya melalui kaca transparan. Tangannya terkepal di saku jasnya. Ia tahu betapa besar arti hari ini bagi Arumi—ini adalah pembuktian bahwa ia bukan sekadar "istri CEO", melainkan seorang penyembuh yang berdaulat.
Namun, di saat Arumi memulai sayatan pertamanya dengan mikroskop bedah, sebuah kekacauan pecah di lantai dasar.
Sarah, suster kepala yang baru saja menyelesaikan sif malamnya, sedang berjalan menuju kantin saat tiga pria berpakaian kurir mencegatnya di lorong sepi dekat farmasi. Sebelum Sarah sempat berteriak, sebuah sapu tangan beraroma kloroform membekap mulutnya.
"Bawa dia ke unit mesin di rubanah!" perintah salah satu pria itu, yang ternyata adalah mantan ajudan keamanan Victoria yang kehilangan pekerjaan dan dendam karena asetnya disita negara.
Dante, yang sedang melakukan patroli rutin di ruang CCTV, melihat gerakan mencurigakan itu. Matanya menyipit saat melihat Sarah diseret masuk ke dalam lift barang. Amarah yang selama ini ia tekan di bawah topeng profesionalismenya meledak seketika.
"Raka! Kunci semua akses keluar di Sektor Barat! Jangan biarkan helikopter mana pun mendekat ke atap!" teriak Dante melalui radio, sambil berlari menuju tangga darurat dengan kecepatan yang menakutkan.
Dante tahu ini bukan sekadar penculikan. Ini adalah pesan dari pengikut Victoria: Jika Arlan mengambil harta mereka, mereka akan mengambil nyawa orang-orang di sekitar Arlan.
Ketegangan di Ruang Operasi
Di ruang operasi, suasana menjadi mencekam saat lampu indikator tekanan intrakranial Banyu mulai berbunyi nyaring.
"Pendarahan hebat di arteri serebri media!" seru asisten bedah. "Tekanannya turun drastis!"
Arumi tetap tenang. Keringat membanjiri dahinya, namun tangannya tidak gemetar sedikit pun. "Berikan suksinilkolin. Siapkan klip mikroskopis nomor empat. Aku harus menutup sumber pendarahannya dalam tiga puluh detik atau kita kehilangan dia."
Tiba-tiba, suara Raka terdengar melalui interkom ruang observasi kepada Arlan. "Tuan, kita punya situasi. Suster Sarah disandera di rubanah. Mereka meminta akses ke akun bank yayasan atau mereka akan meledakkan tangki oksigen sentral."
Arlan menatap Arumi yang sedang berjuang menyelamatkan nyawa anak kecil itu. Jika ia memberitahu Arumi sekarang, fokus istrinya akan hancur, dan Banyu akan mati. Jika ia tidak bertindak, Sarah dan seluruh rumah sakit berada dalam bahaya.
"Jangan beritahu dr. Arumi," perintah Arlan dingin. "Biarkan dia menyelesaikan operasinya. Aku akan turun menemui Dante."
Di rubanah yang gelap dan pengap, Dante berdiri di depan pintu besi ruang mesin. Di dalamnya, Sarah diikat di kursi dengan sebuah alat pemicu ledakan yang ditempelkan di tangki oksigen raksasa di sampingnya.
"Lepaskan dia, Lukman," suara Dante menggema, dingin dan tanpa emosi. "Kau punya masalah denganku, bukan dengan perawat itu."
Lukman, sang penculik, tertawa sinis dari balik bayang-bayang. "Kau pengkhianat, Dante! Kau merusak tatanan yang dibangun Nyonya Victoria demi secangkir cokelat panas dan senyum perawat ini? Kau memuakkan!"
"Aku tidak merusak tatanan," Dante melangkah maju perlahan, tangannya kosong—sebuah taktik untuk memancing lawan. "Aku hanya memilih untuk tidak menjadi anjing lagi. Dan sekarang, aku akan memastikan kau tidak akan pernah bisa menggonggong lagi."
Lukman menarik pelatuk pistolnya, peluru menyerempet bahu Dante yang baru saja sembuh. Namun Dante tidak berhenti. Dengan gerakan kilat, ia melemparkan pisau lipat yang tersembunyi di lengannya, tepat mengenai pergelangan tangan Lukman yang memegang detonator.
Dante menerjang. Pertarungan brutal terjadi di antara pipa-pipa uap panas. Dante tidak menggunakan teknik bela diri yang indah; ia bertarung untuk membunuh. Ia menghantamkan kepala Lukman ke pipa besi berkali-kali hingga pria itu terkulai lemas.
Dante segera berlari ke arah Sarah. Dengan tangan yang gemetar—sesuatu yang belum pernah ia alami sebelumnya—ia memotong ikatan tali Sarah.
"Kau tidak apa-apa?" bisik Dante, suaranya parau.
Sarah, yang masih gemetar karena syok, langsung memeluk Dante. "Aku pikir... aku pikir aku tidak akan melihatmu lagi."
Dante terdiam, tangannya perlahan membalas pelukan Sarah. Untuk pertama kalinya, sang mesin pembunuh itu merasa memiliki sesuatu yang benar-benar berharga untuk dilindungi.
Di atas, Arumi menarik napas panjang. Monitor jantung Banyu kembali stabil. Ia berhasil memasang klip pada arteri yang pecah dan mengangkat seluruh massa tumor tanpa merusak jaringan sehat di sekitarnya.
"Operasi selesai. Tutup lukanya," ucap Arumi pelan.
Ia melangkah keluar dari ruang operasi, melepaskan masker dan penutup kepalanya. Arlan sudah menunggu di sana, wajahnya tampak lelah namun lega. Ia segera memeluk istrinya.
"Kau melakukannya, Arumi. Kau menyelamatkannya," bisik Arlan.
"Ada yang terjadi, Arlan? Aku merasakan ketegangan di gedung ini," Arumi menatap mata suaminya dengan tajam.
Arlan menghela napas. "Dante baru saja menyelamatkan Sarah. Ada serangan kecil dari sisa-sisa keamanan Ibu, tapi semuanya sudah terkendali."
Arumi memucat, namun kemudian ia melihat Dante berjalan di koridor bawah, merangkul Sarah yang tampak lemas. Arumi tersenyum pahit.
"Perang ini tidak akan pernah benar-benar berakhir, kan?"
"Mungkin tidak," jawab Arlan, merangkul bahu Arumi. "Tapi kita tidak lagi bertarung sendirian. Dan kita tidak lagi bertarung untuk uang. Kita bertarung untuk hidup."
Malam harinya, di rumah Sentul, suasana terasa sunyi namun hangat. Ibu Arumi sudah tidur setelah mendengar kabar suksesnya operasi Arumi. Arlan duduk di ruang kerja, meninjau laporan keamanan dari Raka.
Arumi masuk membawa baki berisi teh hangat. "Arlan, aku ingin kita membuat pengumuman resmi. Bukan soal bisnis, tapi soal beasiswa kedokteran untuk anak-anak seperti Banyu. Aku ingin yayasan ini benar-benar menjadi tempat di mana 'kesalahan Arkananta' dihapuskan selamanya."
Arlan menarik Arumi ke pangkuannya. "Apapun yang kau inginkan, Dokter. Hartaku adalah alatmu."
"Dan cintamu adalah energiku," balas Arumi, mengecup hidung suaminya.
Di kejauhan, di paviliun tamu, Dante duduk di teras melihat bintang. Sarah datang membawakannya secangkir kopi, duduk di sampingnya tanpa banyak bicara. Mereka berdua tahu bahwa dunia luar masih berbahaya, namun di bawah naungan keluarga Arkananta yang baru ini, mereka akhirnya menemukan tempat untuk bernapas.