Simura Seorang pangeran yang diasingkan dinegeri asing karena difitnah saudaranya. Dia menonjol dalam bidang strategi dan politik namun disisi lain ada sebuah kekuatan magis didalam tubuhnya yang sengaja ia sembunyikan...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon LukmanÆ, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Naga di balik Awan
Setelah titah Sifeng berkumandang, genderang perang seakan ditabuh di barisan kavaleri. Dengan satu niat keji mencari praktisi tingkat tinggi yang merusak rencananya serta menghapus keberadaan desa terpencil itu dari peta, Kavaleri Sifeng mulai bergerak.
Di sudut lain, fajar menyingsing dengan muram. Semburat merah di langit seolah memantulkan bekas tragedi berdarah semalam yang masih menyisakan anyir di udara. Isak tangis penduduk desa pecah, meratapi sanak saudara yang tak lagi bernyawa. Di kediaman kepala desa, Yan Shao terbaring pucat pasi di atas dipan kayu. Yan Daiyu duduk di sampingnya, menggenggam tangan adiknya dengan cemas, menunggu nyawa sang adik kembali sepenuhnya ke raga.
Simura, Liusan, dan Kepala Desa menatap pemuda itu dengan iba. Namun, ketenangan itu hancur seketika saat gemuruh langkah kaki dan teriakan penuh amarah mendekat.
"Bunuh dia! Serahkan pembawa sial itu! Dia adalah malapetaka! Darah harus dibayar darah!"
Penduduk desa yang kalap mengepung rumah itu. Kepala Desa segera keluar, mencoba meredam amuk massa dengan telapak tangan terbuka. Namun, duka telah berubah menjadi kegilaan. Mereka tidak lagi mengenal logika. pintu didobrak, jendela dihancurkan. Simura dan Liusan berdiri sebagai benteng terakhir, menahan arus manusia yang ingin menghakimi Yan Shao tanpa pengadilan.
Di tengah kekacauan itu, kelopak mata Yan Shao bergetar. Ia terbangun dengan kepala yang berdenyut hebat. Pandangannya kabur, hanya melihat wajah cemas kakaknya.
"Apa yang terjadi... aku di mana?" tanya Yan Shao dengan suara parau yang hampir tak terdengar.
"Dasar iblis! Pura pura lugu setelah membantai keluarga kami!" sahut seorang penduduk yang berhasil menerobos masuk dan mengayunkan Sebuah kapak tinggi tinggi ke arah Yan Shao.
TAK!
Dengan gerakan kilat, Simura mencengkeram pergelangan tangan pria itu. Yan Daiyu memeluk erat adiknya, melindungi tubuh lemah itu dengan raga sendiri. Tepat saat sejengkal maut itu ditahan Simura, sebuah dentuman memekakkan telinga mengguncang bumi.
Duar!
Suara teriakan di luar berubah dari amarah menjadi jeritan ketakutan. Deru derap kuda ratusan kavaleri Sifeng menggetarkan tanah. Tanpa peringatan, panah panah api menghujani desa, membakar rumah rumah jerami. Pasukan kavaleri itu merangsek bak badai, menebas siapa pun yang menghalangi jalan mereka.
Desa itu luluh lantak dalam sekejap, menyisakan kediaman Kepala Desa yang kini terkepung ratusan busur panah. Kepala Desa, dengan sisa keberaniannya, melangkah maju untuk memohon pengampunan. Namun, sebuah anak panah melesat, menembus dadanya tanpa ampun. Ia ambruk di pelukan Liusan yang terpaku diam.
Melihat kekejian itu, sesuatu dalam diri Simura patah. Amarah yang selama ini ia tekan meledak hebat. Manik matanya berubah, berbinar emas dengan kilatan yang mematikan. Aura kematian yang pekat keluar dari tubuhnya, membuat udara terasa berat dan dingin.
Di langit, awan hitam berputar membentuk pusaran raksasa disertai petir emas menyambar nyambar. Di balik kegelapan awan, siluet seekor naga purba bergerak meliuk. Tekanan spiritual yang begitu dahsyat turun dari langit, membuat kuda kuda kavaleri berlutut dan tingkat kultivasi para prajurit merosot tajam seolah terhisap bumi.
Naga itu mengaum tanpa memperlihatkan wujudnya. Satu getaran suara yang sanggup merobek dimensi.
Wuss!
Separuh dari pasukan kavaleri Sifeng lenyap menjadi debu, menguap tanpa sisa.
Saat maut siap menjemput sisa pasukan, sebuah retakan cahaya muncul di langit. Seorang pria tua berjubah putih menapak langit dengan langkah tenang berwibawa. Auranya mutlak, mampu menahan tekanan naga tersebut.
"Siapa yang berani membuat keonaran di tanah ini?" suaranya menggelegar namun tenang.
"Guru!" teriak Yan Daiyu dengan mata berkaca kaca.
Pria tua itu adalah Guru Chen, sang legenda dari Dinasti Yan. Ia menatap Yan Daiyu, lalu beralih pada Yan Shao yang lemah.
"Beraninya kalian melukai muridku. Pergi, atau nyawa kalian menjadi tumbal tanah ini!" ancam Guru Chen kepada seluruh kavaleri.
Melihat Guru Kekaisaran berdiri di sana, nyali pasukan Sifeng menciut. Mereka mundur teratur, melarikan diri dari murka sang tetua. Setelah keadaan tenang, Guru Chen menatap langit, ke arah awan petaka yang perlahan pudar. Ia bertanya tanya dalam hati, kekuatan purba macam apa yang sanggup menciptakan fenomena sedahsyat itu.
Dengan lambaian tangan, Guru Chen menyalurkan energi murni ke tubuh Yan Shao, memulihkan luka batin dan fisiknya. Tak hanya itu, Guru Chen merapal mantra, membalikan realita yang membuat rumah rumah kembali ke asalnya dan memberikan ketenangan pada jiwa penduduk desa yang tersisa.
"Kenapa Guru bisa sampai di tempat terpencil ini?" tanya Yan Daiyu heran.
Guru Chen menyesap teh yang tiba tiba muncul di tangannya, matanya tetap menatap langit.
"Hanya kebetulan lewat," jawabnya santai. Padahal, jantungnya masih berdegup kencang. ia tahu awan tadi adalah pertanda bangkitnya sesuatu yang seharusnya tetap tertidur.
Sementara itu, di markas rahasianya. Sifeng mengamuk. Meja hancur berkeping keping di bawah kepalannya. para panglimanya hanya diam terpaku melihat kemarahan itu.
"Guru gadungan itu berani menghalangiku? Jika dia ingin bermain pahlawan, maka paviliunnya akan menjadi kuburannya!" geramnya
"Siapkan pasukan, kita ratakan Paviliun Langit milik Chen!" perintah Sifeng kepada semua panglimanya.
(Bersambung)
semangat thor ✍️🤭😉🌹
kalo berkenan mampir juga ya thor😉🤭