NovelToon NovelToon
Godaan Mahasiswi Nakal

Godaan Mahasiswi Nakal

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Dosen / Diam-Diam Cinta / Gadis nakal
Popularitas:19.3k
Nilai: 5
Nama Author: Pannery

"Mahasiswi nakal harus dihukum!" Suara dinginnya menggelegar dan mengancam. Dia Gabriel, dosen killer yang terkenal kejam dan tidak suka digoda wanita.

Ivy, seorang primadona kampus memiliki nilai yang buruk dan nakal. Akibat kenalakannya, Mr. Gabriel ditugaskan untuk mengurus Ivy.

"Kerjakan soalnya atau aku akan menghukummu."

Karna tersiksa, Ivy mencoba membuat Mr. Gabriel menjauh berdasarkan rumor yang beredar. Tapi bukannya menjauh, Mr.Gabriel malah balik mendekatinya.

“Cium aku dong Mister~” Ivy selalu menggoda dosennya duluan agar risih.

Cup!

Bibirnya seketika dicium dalam dan membuat Ivy kewalahan. Saat pagutan dilepas, Ivy merasa bingung.

“KOK DICIUM BENERAN, MISTER?!”

“Loh kan kamu yang minta, kok di gas malah takut?”

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pannery, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Hukum aku

Suara hujan di luar semakin pelan, tapi di dalam mobil, suasana terasa begitu intens.

Ivy masih bisa merasakan bekas sentuhan tangan Mr. Gabriel di pipinya. Kata-katanya tadi—bisikan yang lembut tapi penuh arti—membuat jantung Ivy seakan ingin melompat keluar.

Wajahnya merah padam, dan dia mendadak gugup. "A-Ah..." Ivy kehilangan keseimbangan tubuhnya, hampir jatuh ke sisi kursi.

Melihat itu, Mr. Gabriel langsung bergerak. "Ivy, hati-hati," ujarnya, suaranya terdengar khawatir. Ia menahan bahu Ivy agar tetap tegak, matanya memperhatikan gadis itu dengan saksama.

Mr. Gabriel berdehem pelan, berusaha mengembalikan fokusnya. "Maaf, aku tidak bermaksud membuatmu tidak nyaman," ucapnya sambil mengalihkan pandangan ke depan.

Namun, dalam hatinya, ia sadar betul kenapa kata-kata itu keluar dari mulutnya tadi.

Ivy masih gugup, tapi ia mencoba mengumpulkan keberanian. Sambil memegang ujung bajunya yang masih sedikit basah, ia melirik ke arah pria itu.

"T-Tapi... hari ini aku benar-benar cantik, kan, Mister?" Tanyanya, suara pelannya penuh harap.

Mr. Gabriel tidak langsung menjawab. Ia terdiam sejenak, tatapannya kembali mengarah pada wajah Ivy.

Ada sesuatu dalam dirinya yang bergolak, seperti badai besar yang mencoba ia redam.

Matanya menelusuri wajah Ivy—tatapan yang penuh dengan perhitungan.

"Ya," jawabnya akhirnya, dengan suara yang hampir seperti bisikan. Senyum tipis muncul di wajahnya, seolah ia menyerah pada gejolak dalam hatinya.

Perlahan, pria itu mendekat lagi ke arah Ivy, seakan jarak di antara mereka mulai menghilang.

TRINGG!! 

Namun tiba-tiba, suara dering dari ponsel Mr. Gabriel memecahkan momen itu. Ivy sedikit terkejut, dan Mr. Gabriel buru-buru meraih ponselnya.

"Maaf," gumamnya sebelum melihat layar ponsel. Wajahnya langsung berubah serius.

Pria itu mengangkat panggilan tersebut, dan nada bicaranya menjadi formal dan singkat. "Ya, nanti aku akan ke sana."

Ivy memperhatikan pria itu dengan cermat. Setelah panggilan berakhir, ia mencoba menyembunyikan kekecewaannya.

Perlahan, Ivy bertanya dengan hati-hati, "Ada apa, Mister?"

"Tidak ada apa-apa," jawab Mr. Gabriel singkat, tapi suaranya terdengar dingin.

Seketika, Ivy merasa ada tembok tinggi yang kembali dibangun oleh pria itu, membuatnya merasa terhalang.

Namun, Ivy bukan tipe gadis yang mudah menyerah. Ia mengatur nafasnya dan tersenyum kecil. "Mister, nanti jalan-jalan kedua, kita ke pantai saat cuaca sedang terik, ya?" Katanya dengan nada ceria, mencoba mencairkan suasana.

Mendengar itu, Mr. Gabriel menoleh padanya. Seolah tanpa sengaja, ingatannya melayang ke pakaian renang Ivy yang pernah dilihatnya sebelumnya—membuatnya malu, meski hanya sesaat.

"Baiklah," jawabnya akhirnya dengan nada pelan.

Pria itu menunduk sejenak, lalu kembali menatap Ivy. "Sekarang, mari kita pulang. Kamu akan masuk angin kalau terlalu lama di sini," ucapnya, menunjukkan kepeduliannya.

Ivy mengangguk dengan senyum manis. "Oke, Mister."

Selama perjalanan pulang, Ivy diam, tapi pikirannya penuh dengan bayangan tentang siapa sebenarnya pria ini.

Ada sisi dari Mr. Gabriel yang terasa begitu dekat, namun ada juga bagian dari dirinya yang masih terasa misterius.

Di sisi lain, Mr. Gabriel mencuri beberapa pandangan ke arah Ivy. Dalam diam, ia merasa ada yang berubah dalam hatinya.

Namun, seperti biasanya, ia tetap menjaga jarak—tembok yang tinggi itu masih ada, meski perlahan mulai retak.

...****************...

Sudah beberapa hari berlalu, tapi Ivy merasa pikirannya penuh oleh sosok Mr. Gabriel.

Ada sesuatu tentang pria itu yang membuatnya gelisah. Sikap pria itu suka berubah-ubah dan Ada banyak hal yang belum diketahui Ivy.

"Kalau cintaku bertepuk sebelah tangan, gimana?" Gumam Ivy sambil menghela nafas panjang di kamarnya.

Namun, Ivy segera menguatkan diri. "Aku harus cari cara buat mendekatkan diri lagi."

Di kelas, sikap Mr. Gabriel akhir-akhir ini terasa lebih dingin dari biasanya. Dulu, ia sesekali menyisipkan komentar santai atau sarkastis yang membuat Ivy terhibur.

Tapi kini, pria itu lebih banyak diam dan sibuk dengan ponselnya.

"Ivy," panggil Mr. Gabriel tiba-tiba di akhir sesi bimbingan. "Sudah selesai untuk hari ini."

Namun, Ivy tidak ingin sesi mereka berakhir begitu saja. Ia segera mendekat dengan senyumnya yang mania. "Mister, mau minum kopi bareng?" Tanyanya, penuh harap.

Pria itu tampak terdiam sesaat, lalu mengangguk singkat. "Boleh."

Di kedai kopi, Ivy memilih jus jeruk, sementara Mr. Gabriel memesan kopi hitam tanpa gula.

"Katanya minum kopi, kok malah minum jus jeruk?" Ejek Mr. Gabriel.

"Aku lebih suka jus, kopi pahit.." Jawab Ivy sambil tersenyum lebar.

Mr. Gabriel menghela nafas, terkadang keceriaan gadis ini selalu membebaninya.

Ivy lalu berusaha mencairkan suasana, mencoba topik baru. "Tipe cewek Mister seperti apa?" Tanyanya dengan nada pura-pura santai.

Mr. Gabriel meletakkan cangkir kopinya, menatap Ivy dengan pandangan datar. "Tidak banyak bicara, anggun, dan pintar."

Jawaban itu membuat Ivy merasa seperti baru saja ditampar.

Tipe itu sangat jauh dari dirinya. "Kenapa kamu menanyakan hal seperti itu?" Tanya Mr. Gabriel, suaranya terdengar penuh selidik.

Ivy memaksakan tawa. "Nggak apa-apa. Penasaran aja," jawabnya, meski hatinya sedikit sesak.

Sejak saat itu, Ivy mulai mencoba mengubah dirinya. Ketika sesi bimbingan berikutnya tiba, ia tampil dengan rambut yang tertata rapi, pakaian formal, dan nada bicara yang sopan.

Ivy mencoba mengikuti tipe wanita yang disebutkan Mr. Garbriel.

"Selamat siang, Mister Gabriel," sapanya dengan nada anggun.

Mr. Gabriel, yang sedang membaca dokumen, mendongak dan menatap Ivy dengan alis terangkat.

"Apa yang kamu lakukan?" Tanyanya langsung.

"Aku cuma mencoba menjadi wanita berkelas, Mister," jawab Ivy sambil tersenyum kecil.

Pria itu menghela nafas, lalu mendekat. Dengan gerakan lembut, ia kembali mengetuk dahi Ivy.

"Aneh sekali kamu hari ini, jadilah dirimu sendiri. Itu lebih baik," ucapnya dengan suara rendah.

Ivy terdiam. "Aku sedang mencoba gaya baru Mister, Mister suka kan?"

"Aku lebih suka kamu yang biasa," jawabnya singkat, tapi penuh arti.

Kata "suka" itu membuat Ivy terdiam lagi, kali ini dengan jantung yang berdegup kencang. Ia benar-benar sudah jatuh hati pada dosennya, meskipun pria itu tetap terasa jauh dan sulit diraih.

"Ya.." Gumam Ivy pelan dan menatap ke arah lain, menyembunyikan degup jantungnya yang keras.

"Ayo buka catatan kemarin, kita akan membahasnya kembali." Mr. Gabriel kembali fokus pada materinya di papan tulis.

Tapi, di sisi Ivy, ia merasa aneh. Ada sesuatu hal yang tertahan, pertanyaan tentang bagaimana perasaan dosen itu padanya..

'Kalau kita udah sejauh ini.. apa dia masih menganggapku sebagai peliharaannya yang nakal?'  Batin Ivy bimbang.

Gadis itu ingin Mr. Gabriel hanya melihat kepadanya. Sebuah perasaan egois itu kini muncul bahkan sekarang, Ivy ingin bimbingan ini berlangsung selamanya.

Hanya berdua dengan pria itu, Ivy sangat menyukainya.

...****************...

Malam itu, Ivy berjalan pulang sendirian setelah mengunjungi perpustakaan kampus.

"Ah.. capek banget.."

Jalan setapak yang biasanya ramai terasa lebih sunyi dari biasanya. Hanya ada desiran angin malam dan gemerisik dedaunan yang menemani langkahnya.

Tiba-tiba, sebuah suara langkah berat terdengar di belakangnya.

Ivy menoleh, tapi tak ada siapa-siapa. Namun, firasatnya mulai tak enak. Ia mempercepat langkah, tapi suara langkah itu semakin mendekat.

Tiba-tiba, seorang pria dengan penutup wajah muncul dari bayangan.

“Hwaa! Jangan macam-macam denganku!” Ivy berteriak panik, tapi tubuhnya gemetar.

Pria itu hanya tertawa kecil sebelum mencoba meraih tasnya. Ivy melawan, tapi tenaganya tak cukup kuat.

"Hei!" sebuah suara tegas memecah ketegangan. Pria itu menoleh, tapi sebelum ia sempat bereaksi, pukulan keras mendarat di wajahnya.

BUGH! 

Ivy melihat sosok Mr. Gabriel berdiri di sana, matanya penuh amarah.

"Pergi sebelum aku buat hidupmu lebih sulit," ancam Mr. Gabriel dengan suara rendah, namun sangat berwibawa.

Pria itu melirik Ivy yang berlindung di belakang Gabriel, lalu memutuskan untuk kabur.

Setelah yakin pria itu pergi, Mr. Gabriel berbalik dan menatap Ivy. "Kamu baik-baik saja?" Tanyanya, suaranya lembut kali ini.

Ivy tidak bisa menjawab. Tubuhnya gemetar hebat, dan sebelum ia bisa menahan diri, air matanya mengalir.

Ivy melangkah maju dan memeluk Mr. Gabriel erat, seperti anak kecil yang ketakutan.

"M-Mister..." isaknya pelan. "Aku takut..."

Mr. Gabriel terdiam sejenak, tubuhnya kaku. Namun, perlahan ia mengangkat tangannya, membelai kepala Ivy dengan lembut. "Sudah... semuanya sudah aman," ucapnya menenangkan.

Di balik ketenangan suaranya, hati pria bergejolak. Ia merasa dinding yang selama ini ia bangun untuk menjaga jarak mulai runtuh.

Pelukan Ivy, isak tangisnya, dan kepercayaannya pada dirinya membuat Mr. Gabriel merasa seperti orang yang berbeda.

"Ivy," gumamnya pelan, hampir seperti berbicara pada dirinya sendiri. "Kamu harus lebih berhati-hati. Jangan berjalan sendirian malam-malam, sekarang sedang musim copet."

Ivy mengangguk pelan, matanya masih basah. "Terima kasih, Mister... Kalau tadi tidak ada Mister, aku nggak tau apa yang akan terjadi."

Mr. Gabriel menatap wajah Ivy yang masih pucat, lalu tanpa sadar ia merapikan rambut gadis itu yang berantakan karena angin. "Sudah, mari kuantar kamu ke parkiran."

Ivy tidak langsung menuju parkiran seperti biasanya. Langkahnya terhenti, matanya menatap tajam pria yang baru saja hendak berlalu pergi.

Keberanian tiba-tiba menguasai dirinya, dan sebelum ia sempat berpikir dua kali, tangannya sudah mendorong tubuh pria itu hingga punggungnya menempel ke dinding koridor.

"Mister, tunggu sebentar," ucap Ivy dengan nada yang penuh tekanan.

Mr. Gabriel menatapnya dengan alis terangkat. "Ada apa lagi, Ivy?" Tanyanya, meskipun terlihat sedikit bingung dengan tindakannya.

Ivy tidak menjawab segera. Perlahan, ia meraih dasi pria itu, menariknya lebih dekat. Jarak mereka semakin tipis, hingga ia bisa merasakan nafas pria itu menyentuh kulitnya.

"Bagaimana perasaanmu selama ini, Mister?" Tanyanya dengan suara pelan tapi menusuk.

Mr. Gabriel mengerutkan kening. "Maksudmu?"

"Bagaimana perasaanmu saat menciumku? Apakah Mister menyukainya?" Ivy mengucapkannya dengan penuh keyakinan, meski hatinya berdebar keras seperti drum.

Pertanyaan itu menghantam Mr. Gabriel seperti badai. Seluruh pertahanannya, yang ia bangun dengan susah payah, perlahan retak.

Nafas pria itu tercekat, dan ia menatap gadis di depannya dengan intensitas yang tak biasa.

"Ivy, kamu..." Ia tidak bisa menyelesaikan kalimatnya.

"Mister belakangan ini aneh," Ivy melanjutkan. "Kadang Mister peduli, kadang juga cuek dan menjauhiku. Mr. Gabriel yang asli itu yang mana?"

Mr. Gabriel meneguk ludahnya, perasaan bercampur aduk di dalam dirinya.

Gadis ini membuatnya gila. Dengan segala godaan di dunia ini, Ivy adalah satu-satunya yang paling membuatnya lemah dan kehilangan kendali.

"Kenapa kamu jadi banyak bertanya? Mari ke parkiran dan pulang, ini sudah malam, Ivy." Pria itu mencoba mengalihkan pembicaraan.

Ivy memiringkan kepala, bibirnya melengkung membentuk senyum nakal. "Memangnya susah ya untuk menjawab?"

Mr. Gabriel terkekeh, mencoba menahan dirinya.

"Kamu ternyata kembali menjadi nakal, ya. Tidak mau mendengarkan orang lain. Apapun sikapku, itu bukan urusanmu, Ivy. Kamu hanya perlu menurut padaku."

"Aku tidak mau menurut," Ivy menepis pernyataan itu dengan tegas. Ia menarik dasi Mr. Gabriel lebih keras, membuat pria itu semakin dekat.

Dalam hatinya, Ivy tau pria ini adalah candu, sesuatu yang membingungkan tapi juga membuatnya ingin terus berada di sisinya.

Keberaniannya meningkat. Ivy, tanpa ragu, mendekatkan wajahnya dan mencium pria itu lebih dulu.

Kali ini, hal itu terjadi dengan penuh semangat dan tergesa-gesa, seperti melampiaskan semua keinginannya yang tertahan selama ini.

Mr. Gabriel mundur sejenak, mencoba menghentikan dirinya. Tapi dorongan untuk membalas hal itu terlalu kuat.

Rambut Ivy ditariknya, membuat mereka saling bertatap muka dengan intensitas yang membara.

"Kenapa kamu menjadi nakal seperti ini lagi, Ivy?" Tanyanya dengan suara rendah, hampir seperti sebuah bisikan.

"Ayo pulang, Ivy," perintah Gabriel akhirnya.

"Tidak," jawab Ivy tanpa ragu.

Pria itu bukannya menarik Ivy pergi, malah terdiam di tempat. Gadis itu semakin mendekat, membuat jarak di antara mereka semakin tipis.

"Kenapa diam, Mister?" Ivy menantangnya. "Mau lagi ya?"

Mr. Gabriel mengertakkan giginya. Ia tak bisa lagi mengelak. Pria itu kembali nyosor ke Ivy.

Hal itu terjadi lagi dan kali ini lebih dalam, lebih menuntut. Tangannya mencengkeram pinggang gadis itu, seolah memastikan bahwa ia tidak akan ke mana-mana.

Di sela-sela aktivitas mereka, Mr. Gabriel menggeram, "Kamu harus dihukum, Nona Ivy. Kamu sangat nakal hari ini."

Ivy tersenyum di antara nafasnya yang tersengal. "Silahkan hukum aku, sebanyak yang Mister mau."

"Kamu suka sekali dihukum, ya?" Tantang Mr. Gabriel, matanya menyiratkan godaan yang sulit ditolak.

"Ya, Mister," jawab Ivy, suaranya serak tapi penuh tekad. "Kalau bisa, hukum aku setiap hari... karena aku memang menyukainya."

1
Elmi Varida
hi, thor!! kpn nich kelanjutannya??
ayo dong up lg..
semangat💪
Elmi Varida
Ivy msh seperti anak2.
Elmi Varida
hadeeeuh...baru dicium aja udah kayak diperawanin si Gabriel wkwkwkwk...
ikut nyimak novelmu thor..
Siti Zulaikha
lanjut thor
Azriel Baxter
suka banget... aku gatau kapan ini dirilis, tapi bagus bangetttt lanjut ya kak.. lope banget deh, sesuai genre,
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!