Lama mengasingkan diri di Pulau Kesepian membuat Pendekar Tanpa Nyawa tidak tenang. Sebagai legenda tokoh aliran hitam sakti, membuatnya rindu melakukan kejahatan besar di Tanah Jawi.
Karena itulah dia mengangkat budak perempuannya yang bernama Aninda Serunai sebagai murid dan menjadikannya sakti pilih tanding. Racun Mimpi Buruk yang diberikan kepada Aninda membuatnya tidak akan mengenal kematian. Dia pun diberi gelar Ratu Abadi.
Satu-satunya orang yang pernah mengalahkan Pendekar Tanpa Nyawa adalah Prabu Dira Pratakarsa Diwana alias Joko Tenang tanpa melalui pertarungan. Karena itulah, target pertama dari kejahatan yang ingin Pendekar Tanpa Nyawa lakukan melalui tangan Aninda adalah menghancurkan Prabu Dira.
Aninda kemudian membangun kekuatan dengan menaklukkan sejumlah pendekar sakti dan menjadikannya anak buah.
Mampukah Aninda Serunai menghadapi Prabu Dira yang sakti mandraguna? Temukan jawabannya di Sanggana 8 yang berjudul "Dendam Ratu Abadi".
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rudi Hendrik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Raab 27: Tipuan Cempaka Air
*Ratu Abadi (Raab)*
“Loyo, apakah kau butuh bantuan? Aku kuat mengangkatmu,” tanya pendekar berotot dan bertato yang bernama Tangpa Sanding.
Aji Ronggoloyo yang terduduk di atas panggung menengok kepada Tangpa Sanding. Jujur, dia tidak kenal dengan lelaki separuh abad itu.
Sebenarnya Aji Ronggoloyo sangat anti minta tolong kepada orang tak kawan. Namun, adiknya saat ini sedang tidak bisa berjalan juga, apalagi membantunya berjalan.
Melihat Aji Ronggoloyo terdiam sejenak seolah-olah sedang berzikir, Pandan Duri pun menyahut.
“Sepertinya kau membutuhkan aku, Loyo Sombong,” kata Pandan Duri sambil berjalan mendekati panggung.
Terbeliak Aji Ronggoloyo melihat pergerakan Pandan Duri yang dipeluk oleh ular hijaunya.
“Kisanak, bantu aku!” panggil Aji Ronggoloyo kepada Tangpa Sanding.
“Hahaha!” Sembari tertawa rendah, Tangpa Sanding melompat naik ke panggung dan menghampiri Aji Ronggoloyo.
Tangpa Sanding yang memiliki badan lebih besar lalu membantu Aji Ronggoloyo untuk berdiri. Dia mengalungkan satu lengan Aji pada belakang lehernya, kemudian memapahnya dalam berjalan. Aji Ronggoloyo berjalan selangkah demi selangkah dengan kaki kanan yang dia seret.
“Selanjutnya, pertarungan antara Cempaka Air melawan Abon Rentaaak!” teriak Wadi Mukso.
“Heaaakrrrrr…!” teriak seorang pendekar lelaki berbadan besar seperti Tangpa Sanding, tetapi ototnya lebih melar. Dia melompat jauh sekali genjot dengan membawa golok besar model hamil, sambil memamerkan bahwa dia pandai menyebut huruf “r”. Dialah yang bernama Abon Rentak.
Lelaki berusia empat puluh tahun itu segera memamerkan sedikit ilmu tebasan goloknya yang besar. Dia menebas beberapa kali udara kosong.
Tidak pakai lama, Cempaka Air naik ke panggung dengan cara yang memukau karena cantik. Dia naik ke atas panggung dengan terbang melayang seperti seekor burung yang terbang berdiri tegak. Dia pun mendarat di lantai papan dengan sangat lembut, tanpa suara.
“Hahaha! Cantik-cantik,” ucap Abon Rentak senang sambil tertawa-tawa. Perasaannya berbunga-bunga melihat sosok cantik di depannya.
“Kau mau bertarung denganku, Abon?” tanya Cempaka Air dengan tatapan dingin, tetapi dia memainkan satu alisnya menggoda si lelaki besar.
Terkejut dan seketika tertawa Abon Rentak.
“Jangankan di panggung ini, bertarung di ranjang pun aku sangat mau,” kata Abon Rentak.
“Hahaha!” tawa rendah sebagian penonton mendengar godaan Abon Rentak.
“Sebagai pembayaran di muka untuk tarung ranjang, aku beri kau hadiah. Ulurkan tanganmu, Sayang!”
Tersentuh hati Abon Rentak sampai mengharu biru hijau kelabu karena disebut “Sayang”. Dengan perasaan berbunga kembang, Abon Rentak mengulurkan tangan besarnya dengan telapak terbuka.
Tangan kanan Cempaka Air yang tergenggam, sepertinya menggenggam sesuatu, lalu diletakkan di telapak tangan kasar Abon Rentak. Tangan halus Cempaka Air kemudian meninggalkan sesuatu pada tangan Abon Rentak.
“Aku berharap kau mimpi indah, Kakang Abon,” kata Cempaka Air, lalu melesat mundur seperti merpati terbang.
Cempaka Air mendarat di bibir panggung. Sementara itu, Abon Rentak yang diberi sesuatu jadi terbeliak terkejut.
Ctar!
“Uaaakk!”
Ternyata yang diberikan Cempaka Air di tangan Abon Rentak adalah sebulat kecil sinar merah redup. Sinar sebesar buah duku itu meledak nyaring di telapak tangan Abon Rentak.
Lelaki itu terjajar dua tindak karena terkejut oleh pecahan sinar yang menyiprat ke dirinya, termasuk wajahnya. Setelah itu, Abon Rentak menjerit keras dengan sepasang mata memejam kencang. Sepertinya cipratan sinar itu ada yang mengenai sepasang mata.
Bercak-bercak sinar merah redup itu sempat menyala sejenak membakar kulit tangan, wajah, dan membolongi kain baju. Setelah itu lenyap.
Jika sifat pecahan sinar merah tersebut demikian, maka jelas akan membahayakan mata jika terkena. Wajar saja jika Abon Rentak menjerit kesakitan.
“Aaaggrr!”
Set! Set!
Abon Rentak jadi mengamuk. Sambil berteriak marah dengan mata memejam, dia menebaskan goloknya ke depan yang dia anggap Cempaka Air berdiri di sana. Namun, tebasan yang tanpa melihat itu hanya menebas ruang kosong karena Cempaka Air sudah berpindah tempat di pinggir panggung, di luar jangkauan golok.
Wut!
“Aaakk!”
Tiba-tiba Cempaka Air berkelebat lewat di dekat tubuh Abon Rentak. Lelaki itu kembali menjerit kesakitan, bukan jerit kemarahan. Pasalnya, sambil lewat, Cempaka Air menjambak rambut gondrong Abon Rentak.
Rambut gondrong itu ditarik kencang ke belakang, sampai-sampai badan besar tersebut terlempar mengudara dan jatuh di tanah berumput.
Gong!
Seketika itu juga, suara gong berbunyi.
“Berakhir! Pemenangnyaaa, si cantik Cempaka Air!” teriak Wadi Mukso pakai acara menyisipkan pujian.
“Aku memang cantik,” ucap Cempaka Air seraya tersenyum sinis menunjukkan keangkuhannya.
“Wuuu!” sorak Pandan Duri seorang diri. Entah siapa yang dia soraki, apakah Abon Rentak yang tidak terlihat kejantanannya atau Cempaka Air yang angkuh karena cantiknya?
“Pertarungan selanjutnya! Kidulang Tuo melawan Tingkir Gawaaat!” teriak Wadi Mukso.
Tingkir Gawat adalah pendekar muda. Ibarat langit dan sumur jika berbanding usia.
Satu per satu pendekar kemudian melakoni jatah pertarungannya. Yang namanya pertandingan, ada menang, ada kalah. Tidak hanya itu, ternyata ada yang menang tapi kalah alias gugur. Itu terjadi karena lawannya dia kalahkan sampai kehilangan nyawa. Kemenangan dengan cara itu dianggap gugur.
Di saat para pendekar melakoni pertandingannya, Dua Pendekar Sombong justru jadi pesakitan. Aji Ronggoloyo yang berencana mengobati adiknya, justru kondisinya lebih parah.
Jika bokong Adi Ronggoloyo hanya membengkak beberapa inci, maka paha Aji Ronggoloyo membengkak beberapa milimeter. Semakin tidak ditangani luka karena jarum itu, bokong dan paha kakak adik itu semakin sakit dalam berdenyut.
“Kita bukan sahabat, bukan kakak adik, dan bukan suami istri. Jika aku bisa menyelamatkan kehormatan kalian, apa yang akan aku dapat dari kalian?” tanya Tangpa Sanding kepada Dua Pendekar Sombong.
Sambil mengerenyit menahan sakit, Aji dan Adi saling pandang.
“Kami akan memberikan kau satu cawan emas kami,” kata Aji Ronggoloyo kemudian.
“Hahaha! Cawan emas kalian tidak akan mengubah air tawar menjadi air semanis madu,” kata Tangpa Sanding yang didahului dengan tawanya.
“Jika kami menjadi juara, sepertiga dari hadiah yang kami dapat, kami bagi kepadamu,” kata Adi Ronggoloyo.
“Aku meragukan kalian akan menang. Baru satu pertarungan saja kalian sudah seperti ini,” kata Tangpa Sanding lagi.
“Itu karena kami dikeroyok. Coba, jika satu lawan satu, kami tidak akan terkalahkan,” kilah Adi Ronggoloyo masih sombong.
“Bagaimana jika aku meminta kalian melaksanakan satu perintahku? Jadi dua perintah,” tawar Tangpa Sanding.
“Kau pasti ingin mencelakai kami dengan perintah itu,” tukas Aji Ronggoloyo.
“Aku bukan orang jahat. Perintahku tidak akan membunuh kalian,” kata Tangpa Sanding.
“Lalu apa perintahmu itu?” tanya Adi Ronggoloyo.
“Tergantung situasi. Nanti aku akan menagihnya sewaktu-waktu di saat aku memerlukan bantuan kalian. Itu tidak akan mengancam nyawa kalian. Bagaimana?” kata Tangpa Sanding.
Aji dan Adi Ronggoloyo diam sejenak. Mereka kembali saling pandang, berembug dalam diam.
“Baiklah jika kalian tidak mau. Minta tolonglah kepada pendekar yang lain untuk mengobati kalian,” kata Tangpa Sanding sambil bergerak berdiri dari duduknya di rumput.
“Eh eh eh! Tunggu!” seru Aji Ronggoloyo menahan sambil menyentuh lutut Tangpa Sanding.
Pendekar berbadan besar itu menahan gerakannya.
“Satu perintah saja,” kata Aji Ronggoloyo.
“Ya, satu orang satu perintah,” tandas Tangpa Sanding.
“Baiklah,” kata Aji Ronggoloyo.
“Tapi ingat, perintahmu jangan macam-macam,” kata Adi Ronggoloyo pula.
“Hahaha! Tenang saja, Sahabat,” kata Tangpa Sanding sambil tertawa meyakinkan Dua Pendekar Sombong.
“Ayo, cepat sembuhkan kami!” kata Aji.
Maka Tanpa Sanding kembali duduk. Dia lalu mengobati kedua pemuda tampan itu selagi namanya belum dipanggil untuk naik ke panggung. (RH)