"Kamu itu milik saya, seluruh tubuh kamu juga milik saya! Hanya saya yang boleh menikmatinya."
~ Vicky Salvino
•••
Azila Anastasya, sosok gadis cantik berusia muda itu harus menghadapi kenyataan bahwa dirinya merupakan incaran dari sosok lelaki yang tak lain adalah ayah sahabat dekatnya sendiri. Azila tentu tak percaya, kehadirannya ke rumah sahabatnya justru menjadi awal mula malapetaka ini terjadi.
Vicky Salvino, duda tampan kaya raya yang telah bertahun-tahun ditinggal sang istri itu sudah lama tak merasakan kenikmatan duniawi. Sebab itulah Vicky mengincar Azila, teman dari anaknya. Sejak lama Vicky mengagumi gadis itu, bahkan ia bertekad memiliki Azila seutuhnya.
Mampukah Vicky mewujudkan keinginannya?
Atau justru Azila dapat kabur dari kejaran lelaki itu?
Baca yuk kelanjutan kisah mereka disini!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon patrickgansuwu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27. Kedap suara
Vicky membawa Azila ke sebuah ruangan yang dimana isinya sangat mewah dan begitu luas, Vicky masih terus menggenggam telapak tangan Azila dan perlahan berjalan masuk ke dalam ruangan itu sambil tersenyum manis.
Azila mengedarkan pandangannya, ia sungguh tak menyangka kalau Vicky sudah menyiapkan semua ini untuknya. Di dalam sana, dapat ia lihat ada banyak sekali foto dirinya. Bahkan, beberapa foto yang tak ia miliki pun juga terpajang disana.
"I-ini apa-apaan sih om? Kok bisa om punya foto aku sebanyak ini, darimana om dapetinnya?" Azila bertanya-tanya dengan wajah bingung.
Vicky menyeringai, "Mudah bagi saya mendapatkan apa yang saya inginkan Azila, termasuk kamu. Buktinya sekarang kamu udah jadi milik saya kan? Kamu gak akan bisa lepas dari saya," jawabnya santai.
"Ta-tapi om, aku kayaknya gak perlu punya ruangan seluas ini deh. Apalagi, aku kan pasti jarang ada disini nantinya," ucap Azila.
"Gapapa sayang, kalau kamu mau nanti kita bisa banyak-banyak menghabiskan waktu disini kok. Ruangan ini kedap suara loh, gak akan ada yang bisa dengar kita," ucap Vicky.
Deg
Jantung Azila seolah berhenti berdetak saat mendengar itu, tubuhnya merinding terlebih ketika Vicky sengaja mengendus lehernya dan mendekap tubuhnya. Mereka saling menempel kali ini, Vicky bahkan tak bisa berhenti mengecupi lehernya.
"Eengghh..."
Tanpa sadar Azila melenguh saat Vicky melakukan itu, ia seperti terbawa suasana karena kelakuan pria itu. Namun, sesaat kemudian Azila tersadar dan berusaha melepaskan diri dari dekapan Vicky.
"Ck, om cukup! Jangan kayak gini om! Om udah janji kan gak akan ngelakuin ini lagi sama aku, tolong ditepati om!" pinta Azila.
Vicky terdiam, akhirnya ia menghentikan aksinya dan memundurkan wajahnya. Ia juga melepas tangannya dari tubuh Azila, kemudian memutar tubuh gadis itu dan menangkup wajahnya. Ia membelai lembut kedua pipi Azila, tersenyum lebar seperti menenangkan gadis itu.
"Saya kan hanya ingin beritahu kamu kalau semua yang kita lakukan tidak mungkin bisa didengar orang di luar sana," ujar Vicky.
"Om ini bicara apa sih? Cukup ya om, tolong jangan bikin aku kesel! Om harus tepati janji om, seperti halnya aku menepati janji aku!" tegas Azila.
"Baiklah, saya akan tepati janji saya. Kamu gak perlu marah-marah begitu, santai aja Azila!" ucap Vicky.
Dengan kasar Azila menghentak kedua tangannya sampai terlepas dari genggaman Vicky, ia terlihat kesal sekali karena Vicky terus berupaya menggodanya. Padahal, pria itu sudah berjanji bahwa dia tidak akan melakukan hal-hal buruk padanya.
"Kamu ini kenapa sih Azila? Saya kan udah bilang ke kamu, saya gak akan melakukan itu lagi. Kok kamu malah kasar begini sama saya?" ujar Vicky.
"Maaf om, aku cuma gak suka aja kalo tubuh aku disentuh kayak gitu!" ketus Azila.
Gadis itu berpaling dan menjauh, namun Vicky tak membiarkannya lepas begitu saja dan mengikutinya dari belakang. Sesekali Vicky menghirup aroma tubuh Azila, memang terasa sangat wangi di hidungnya dan membuat Vicky betah melakukannya.
"Sudah lima tahun saya tidak merasakan ini Azila, jujur saya rindu dengan sentuhan lembut bibir kamu itu," ucap Vicky.
"A-apa sih maksud om?" tanya Azila.
Tanpa basa-basi, Vicky kembali mencengkram bahu Azila dan memutar tubuhnya agar menatap ke arahnya. Ya Azila tak dapat berbuat apa-apa, terlebih kini Vicky tampak mengikis jarak diantara mereka sambil membelai lembut bibir mungilnya.
"Saya mau mengulangi kejadian lima tahun lalu itu," ucap Vicky.
"Hah? Mmpphhh.."
Belum sempat protes, bibir Azila sudah langsung dilahap oleh Vicky yang juga menekan tubuhnya hingga menyentuh meja di belakangnya.
•
•
Disisi lain, Max dibuat bingung ketika ada dua orang asing mendatangi rumah Azila dan berkata ingin mengambil barang-barang milik gadis itu. Jelas saja Max tak mengerti, sebab ia tak diberitahu apa-apa oleh Azila mengenai hal itu.
"Kalian ini sebenarnya mau apa sih? Gausah mengada-ngada deh, bilang aja kalian sebenarnya rampok kan!" tegas Max.
"Bukan begitu, kami ini orang suruhan pak Vicky. Kami ditugaskan kesini untuk mengambil barang-barang milik bu Azila, karena setelahnya kami akan membawa semua barang itu ke tempat tinggal baru bu Azila. Kami hanya ingin menjalankan tugas, tolong jangan persulit kami!" jawab salah seorang dari mereka, sebut saja Tegar.
"Maksudnya apa? Memangnya Azila mau pindah kemana? Terus apa hubungannya Azila dengan Vicky, kenapa dia harus repot-repot suruh kalian?" heran Max.
"Soal itu kami tidak tahu menahu, anda bisa tanyakan langsung ke beliau! Sekarang tugas kami hanya masuk dan mengambil seluruh barang milik bu Azila, setelah itu baru kami akan pergi," ucap Tegar.
"Iya kami tidak akan lama, jadi sebaiknya kamu bantu kami!" sahut Eki.
Max terdiam, rasanya semua ini cukup janggal baginya dan sulit untuk bisa ia percayai. Ia sangat bingung mengapa tiba-tiba Vicky menyuruh orang untuk mengambil barang milik Azila, lalu membawanya ke tempat yang baru.
"Ini sebenarnya ada apa sih? Azila, apa yang terjadi sama kamu?" batinnya kebingungan.
Karena penasaran, Max memutuskan mengambil ponselnya dan ingin menghubungi Azila lebih dulu. Akan tetapi, usahanya gagal lantaran telponnya tak kunjung diangkat oleh Azila. Ia jadi semakin cemas kali ini, apalagi ia ingat Azila pernah dilecehkan oleh Vicky beberapa tahun lalu.
Tak lama kemudian, bik Imah muncul dengan wajah bingung ketika melihat Max tengah berbincang bersama dua pria asing di depan sana. Sontak bik Imah langsung mendekati mereka, lalu menanyakan apa yang sebenarnya terjadi.
"Loh loh, ini ada apa den? Mereka siapa?" tanya bik Imah tampak penasaran.
"Ah iya bik, mereka orang suruhan bosnya Azila. Katanya mereka mau bawa seluruh barang milik Azila dari sini, bibik bisa tolong bantu mereka?" jawab Max.
"Hah? Emangnya non zila mau pindah kemana den? Kok gak ada kabarin bibik dulu sebelumya?" heran bik Imah.
Max menggeleng, "Aku juga gak tahu bik, ini aku udah coba telpon Azila tapi gak diangkat-angkat. Kayaknya sih ini semua ulah bosnya itu," ucapnya.
"Duh ya ampun, non zila! Kenapa non jadi kayak gini sih?" bik Imah begitu cemas.
"Hey, ayo cepat bantu kami! Jangan malah pada diskusi kayak gitu, tugas kami bukan cuma disini saja!" sentak Tegar.
"Aduh, sabar atuh gausah marah-marah! Iya iya saya bantu siapin barang-barang punya non Azila, tunggu sebentar!" ucap bik Imah.
Setelahnya, bik Imah bergegas masuk ke dalam rumah untuk merapihkan barang-barang milik Azila. Sedangkan Max tetap disana menahan kedua orang suruhan Vicky itu, ia berusaha mendapatkan informasi sekecil apapun dari mereka.
...~Bersambung~...
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GUYS YA!!!...