*******! Banyak ****** ****** bertebaran jadi ***** ***** memilih bacaan.
Perasaan cintanya untuk seseorang yang begitu besar membuat luka yang mendalam bagi seorang Kanaya.
Kanaya Tsabita menerima pertunangan dari Arslan Khairul Azam karena percaya akan kesungguhan cinta Arslan yang diberikan padanya. Tapi siapa tahu diantara perjalanan cinta mereka hadirlah Rindu Anjani sang sekretaris yang berhasil mengalihkan perhatian Arslan hingga akhirnya melukai perasaan Kanaya.
Diantara gempuran luka dan mempertahankan sebuah harga diri, sosok Baratha hadir untuk menjadi tameng dan luapan rasa kecewa Kanaya pada sebuah cinta.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kirana Putri761, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pesona Kanaya
"Akhirnya kita bertemu, Nay!" suara Arslan menyentakkan rasa kaget pada Kanaya.
Gadis itu menghentikan langkah saat Arslan menghadangnya. Pria itu sengaja mencari tahu keberadaan Kanaya dan kini mendapati Kanaya setelah membeli sayuran di sebuah pasar tradisional yang tidak jauh dari rumah kontrakan.
"Kenapa memblokir nomerku, Nay?" tanya Arslan saat berhasil menghentikan langkah gadis itu.
"Aku pikir tidak perlu menyimpan nomer Mas Arslan." jawab Kanaya tanpa melihat pria didepannya. Kanaya takut menatap mata pria yang selalu berpenampilan rapi itu dan sulit untuk move on.
"Oke-oke, tapi aku masih mencintaimu, Nay. Aku selalu merindukanmu." ujar Arslan, membuat jantung Kanaya berdegup lebih kencang dari sebelumnya. Kata-kata yang selalu membuat hati Kanaya luluh.
"Aku sudah menikah, Mas." ucap Kanaya lirih, hatinya kembali bimbang karena memang masih ada rasa cinta untuk Arslan.
"Aku tidak peduli, Nay! Aku akan tetap menunggumu. Aku tidak akan menikah jika tidak denganmu, Nay." lanjut Arslan membuat Kanaya menatapnya tajam. Perasaan dan logika gadis itu kini sedang bertempur habis-habisan.
Meskipun hatinya masih mencintai Arslan. Tapi, pernikahan itu bukanlah sebuah permainan dan dia juga tidak ingin menjadi istri durhaka.
Tak lama dering di ponselnya pun berbunyi. Kanaya melihat ada nomer asing yang kini sedang memanggil.
"Assalamualaikum." ucap Kanaya.
"Waalaikum salam. Kamu dimana?"
"Mas Bara." sambut Kanaya saat mendengar suara Baratha.
"Cepatlah pulang, sebentar lagi aku pulang!" ucap Baratha kemudian menutup panggilannya.
Pria itu sengaja berhenti dari kejauhan saat melihat Arslan mengejar Kanaya. Masih di atas motor, pria itu terus saja mengawasi pergerakan dua orang yang sedang berbicara di tepi jalan.
Dia mengeluarkan sebatang rokok dan menyalakannya. Tatapan tajamnya tak lepas dari sosok berkerudung merah yang berlari meninggalkan Arslan yang hanya mematung menatap sosok cantik itu.
Pemandangan seperti itu sebenarnya membuatnya muak. Arslan, Bara tahu yang menghenduskan buruknya reputasi Kanaya adalah sang mantan tunangan.
Suara deru motor dari luar membuat Kanaya menghentikan aktifitasnya di dapur. Gadis itu langsung berlari menyambut kepulangan Baratha.
Entah kenapa setiap suaminya pulang membuatnya sangat senang, sepeti suami istri pada umumnya.
"Mas Bara langsung makan atau..."
"Aku akan mandi dulu!" ujar Bara dengan singkat kemudian meninggalkan istrinya yang kini menyurutkan senyuman saat tatapannya mengiringi pria bertubuh tinggi itu masuk ke dalam kamar mandi.
Ada perasaan tidak nyaman pada diri Kanaya saat mendapati sikap Bara yang lebih dingin dari biasanya.
Sambil menunggu Bara mandi, Kanaya melanjutkan masakannya. Hanya tinggal menggoreng Ayam setelah membuat sambal tomat dan menyiapkan sayur bening dimeja.
" Aduh...sakit!" Kanaya meringis kesakitan saat ayam yang dia goreng meletupkan minyak panas di tangannya.
"Kena minyak panas?" tanya Bara yang baru saja keluar dari kamar mandi. Pria yang rambutnya masih basah itu hanya mengenakan handuk menghampiri Kanaya.
Diambilnya tangan putih yang sudah memerah dan membawanya kebawah kran, "Jika menggoreng ayam atau ikan ditutup saja! Ini masih untung kena tangan, bagaimana jika terkena wajah atau matamu." mendengar Omelan Bara, Kanaya hanya menatap wajah serius pria yang tubuhnya menempel pada punggungnya. Baru kali ini Baratha bicara panjang lebar.
Setelah mengoleskan salep pada tangan putih Kanaya, Bara langsung mengangkat dan meniruskan ayam goreng.
"Terima kasih, Mas." ucap Kanaya yang tak mendapatkan respon dari Bara. Suaminya itu justru melenggang masuk ke dalam kamar untuk berganti.
"Kurang garam!" gerutu Kanaya saat mengunyah masakannya. Sementara Bara hanya melirik dan masih mengunyah makanan didepannya.
"Mas jangan diteruskan! Aku akan membelikan Mas Bara nasi padang." cegah Kanaya mencoba menghentikan Bara yang terus menyuap makanan.
"Nggak usah, Nay. Aku makan ini saja!" ucap Bara yang terus saja mengunyah makanannya tanpa beban.
Melihat Bara yang seperti menikmati makanannya membuat Kanaya terus saja menatap pria yang makan dengan fokus dan cepat. Sedangkan dirinya begitu sulit menelan makanannya.
"Masakanku belum layak dimakan, kenapa Mas Bara diam saja." Kanaya kembali bersuara saat mereka mengakhiri makan malam mereka.
"Sudah lebih baik, dari pada bubur bayam kemarin sore." jawab Bara dengan datar. Pria itu pun meneguk segelas air putih.
Saat tak ada jawaban dari Kanaya, Bara melihat wanita yang tengah cemberut. Kanaya terlihat sangat kesal saat kemudian beranjak dari duduknya. Dengan gerakan menyentak, Kanaya langsung membereskan meja. Hal itu membuat Bara menatap bingung istrinya.
Bara merasa dirinya tidak salah ngomong tapi kenapa wanita bertubuh mungil itu terlihat cemberut dan kesal, bahkan dia setengah memukul dan membanting peralatan makan saat mencucinya.
"Kenapa, Nay?" Bara pun mendekati Kanaya yang masih mencuci piring.
"Hae, Kamu kenapa?" ulang Bara yang masih merasa penasaran.
"Aku memang nggak pinter masak, masak sayur asem saja jadinya bubur bayam. Kemarin kebanyakan garam dan sekarang kurang garam." ucap Kanaya sambil menyentak sebuah piring saat hingga berbentur dengan piring lainnya.
Sementara Bara hanya mengusap tengkuk dan menggelengkan kepala. Sepertinya dia salah ngomong kali ini, dia lupa seperti apa mahkluk Tuhan yang selalu benar di muka bumi ini.
"Tapi enak masakanmu hari ini. Justru aku mengurangi makan garam agar awet muda, kok." Seketika Kanaya langsung menoleh kearah wajah yang kini tersenyum padanya. Senyum pria itu memang jarang didapat oleh Kanaya.
"Beneran? Mas Bara bohong,kan?" desak Kanaya dengan terus menatap ragu sosok berahang tegas.
"Beneran. Kebanyakan garam akan membuat kulit kita cepat mengendor." Bara terus berusaha menyakinkan, hingga akhirnya senyum terbit di wajah cantik dengan bibir ranum itu.
"Baiklah kalau begitu, aku akan memasak dengan sedikit garam saja." Wajah Kanaya yang semula cemberut pun langsung berganti dengan penuh semangat.
Sementara Bara hanya tersenyum tipis. Langkahnya kali ini kurang tepat agar istrinya tidak ngambek lagi.
Setelah membersihkan diri dan menoleh wajahnya dengan bedak tipis-tipis. Kanaya berjalan mendekati Bara yang masih terlihat asyik di depan laptop. Kanaya ingin bercerita tentang pertemuannya dengan Arslan tadi sore.
"Mas." panggil Kanaya membuat Bara menoleh dan mengalihkan pandangannya pada wajah cantik dan segar itu. Tanpa make up pun Kanaya sudah terlihat cantik apalagi saat bibir ranum itu dipoles lipstik tipis-tipis membuat Bara enggan mengalihkan tatapannya.
"Mas Bara sedang sibuk ya?" Pertanyaan Kanaya membuat Bara tersadar dari lamunan.
"Tidak juga. Duduklah!" ucap Bara dengan menepuk bangku di sebelahnya.
Kanaya pun langsung duduk di dekat Bara. Tapi, sekilas tatapannya beralih pada layar laptop yang menampilkan model hot dan sebuah aplikasi terlarang.
"Mas Bara main slot?" tanya Kanaya dengan rasa terkejut dan kecewa.
"Nggak, cuma lihat-lihat saja." jawab Baratha.
"Mas Bara suka lihat model ceweknya yang hot? Aku nggak nyangka saja ternyata Mas Bara suka lihat wanita yang mengumbar tubuhnya." Kanaya terlihat emosi, wajahnya pun langsung memerah, bahkan dia sangat kecewa karena tidak menyangka pria pendiam seperti Baratha ternyata berotak mesum.
"Nay..." Bara langsung menarik tubuh Kanaya hingga terjatuh di pangkuannya. Lengan kokohnya langsung mengunci tubuh mungil itu hingga percuma rasanya berontak.
Kini Kanaya hanya menatap mata tajam Bara yang begitu instens menatapnya.
"Dengarkan dulu!" lirih Baratha dengan tatapan penuh intimidasi. Jarak wajah mereka yang begitu dekat membuat Kanaya merasa gusar apalagi posisi tubuhnya terkunci dalam pelukan Bara.
"Aku suka wanita yang bikin penasaran." lirih Baratha dengan suara berbisik.
Wajahnya terus mendekati wajah cantik yang hanya bisa membeku. Bara terus saja mengikis jarak diantara wajah mereka, bahkan tatapannya yang fokus ke bibir menantang Kanaya sudah melupakan segalanya.
Dorongan jiwanya telah membuatnya melumat bibir ranum yang sejak tadi menggodanya. Pria itu menikmati ciuman yang membuatnya enggan untuk menghentikannya jika bukan karena Kanaya terus memukul dadanya. Gadis itu terengah meraup oksigen sedalam mungkin, bahkan wajahnya kini memerah karena tersipu.
Kanaya tak menyangka jika pria pendiam itu seganas itu saat menunjukkan sisi lain dirinya.
"Maaf!" ucap Bara dengan mengusap bibir Kanaya yang semakin memerah dan sedikit membengkak karena ulahnya. Bahkan, Kanaya pun terlihat tersipu setiap tatapan mereka saling bertemu.