hubungan Selama tiga tahun tak bisa bertahan karena orang ketiga, sahabat baik suamiku datang dengan dalih pertemanan, awalnya aku menanggapi biasa saja hingga suatu hari aku tak sengaja ingin memberikan kejutan malah aku yang di berikan kejutan oleh suamiku,, perih dan pedih rasanya hingga aku tak mampu bertahan, Bahkan kaki seakan lemas tak bertulang... menyaksikan suamiku membawa sahabatnya dan memperkenalkan sebagai adik maduku.aku yang tak rela di madu memilih mundur..
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon salsabilaimuet, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hari kepulangan ayu.
Setelah masa sidang selesai Ayu langsung berpamitan kepada Naina untuk pulang karena ia juga gak tega meninggalkan bapaknya sendiri di rumah.
"Nai aku pulang dulu ya, maaf gak bisa menginap di rumah kamu, kamu kan tau bapak lagi sakit, jadi maaf ya udah ngrepotin kamu." ucap Ayu kepada Naina.
"Iya sama-sama Ayu, kamu hati-hati dijalan ya," Naina mengantarkan Ayu pulang.
melihat kepergian Ayu, Naina pun langsung beranjak pulang, karena memang urusannya sudah selesai.
melihat sahabatnya yang suka jauh pergi, Naina merasakan apa yang di rasakan oleh sahabatnya, itu,
"Selamat jalan sahabatku, semoga selamat sampai tujuan, aku hanya bisa mendoakan yang terbaik untuk kamu, semoga kamu mendapatkan jodoh yang bisa membahagiakan kamu dan tak ada atu tetes air mata yang jatuh sekalipun." batin Naina.
Naina pulang dengan perasaan yang campur aduk antara bahagia juga kehilangan, sahabat yang tak akan kembali ke kota ini lagi.
Sampai di depan rumah Naina di kejutkan dengan kehadiran Rendra yang sudah menunggu di sana.
"Ngapain kamu kesini.." ucap ketus Naina.
"Aku hanya ingin bertanya saja apa Ayu masih disini.." tanya Rendra,
"Gak kapok saja kamu Rendra, bukanya sudah aku bilang jika Ayu sudah tak mau bertemu denganmu lagi," jawabnya Naina yang merasa jengah,
"Apa segitu bencinya Ayu kepadaku Nai," Rendra tertunduk merasa dadanya sangat sesak?
"Itulah kebodohanmu Rendra, bukanya kamu sendiri yang membuat luka itu, jadi nikmatilah,"
"Apa tak ada sedikit saja kata maaf untukku Nai.." Rendra makan bertanya.
"Orang aneh sepertimu tak ada maaf sama sekali, setelah apa yang kamu lakukan, pulanglah, aku malas jika harus menjelaskan apa yang tidak penting untuk di bahas." tegas Naina.
Rendra mengalah dan langsung pulang kerumah istri mudanya, bagaimana dulu ia sangat dekat dengan Naina. karena ayu adalah sahabat Naina dan juga masih terikat saudara.
Rendra berjalan dengan lesu masuk kedalam rumah, yang sangat sepi, itu, ia juga tidak tau istri mudanya itu kemana, Yang ada hanya rumah terasa hampa, dan juga dengan keadaan kosong,
"Kemana Vanesa kok gak ngabarin jika pergi, rumah terlihat sepi." Rendra bertanya-tanya kemana istrinya itu.
Ahirnya Rendra mengembik ponsel di saku celananya dan langsung menghubungi Vanesa.
Tut
Tut
Tut
Lama panggilan tidak di jawab oleh istrinya itu membuat hati Rendra ketar-ketir tak karuan, bagiamana tidak ia cemas dengan keadaan Vanesa itu, tapi sang empu malah asik dengan Rian memadu kasih di sebuah hotel yang biasa ia kunjungi..
ahirnya Rendra menyerah karena panggilannya tak kunjung di jawab,
Vanesa yang masih memeluk Rian tertidur pulas karena pergulatan siang tadi Hanna menguras tenaga.
"Bangun apa kamu gak pulang honey," rian menepuk bahu Vanesa yang masih ada dalam pelukannya.
"Hemb..." Vanesa mengeliat kecil karena tidurnya terusik.
"Kamu gak pulang ini udah hampir magrib lo, nanti suamimu nyariin kamu.." rian masih mengecup pipi vanesa yang menurutnya menggemaskan,
Walaupun Vanesa menolak, tapi rian punya seribu alasan untuk menjerat Vanesa hingga ia menuruti semua yang ia inginkan, termasuk memenuhi kebutuhannya soal sex.
Ahirnya Vanesa bangun dengan malas dan langsung masuk kedalam kamar mandi, ia juga langsung bergegas untuk pulang takut Rendra mencarinya, karena ia belum pamit tadi, bagiamana mau pamit, sedangan Rian sudah tau rumah barunya itu.
"Aku pulang dulu, jangan kirim apa-apa kalo aku ada di rumah ya.." Vanesa memperingatkan Rian karena Rian adalah tipe orang yang nekat, bisa-bisa kebohongan terbongkar setelah ini.
"Baik honey asalkan jika aku butuh kamu langsung datang okey.."
"Ya.."
Vanesa meninggal Rian seperti biasanya, karena sudah menjadi rutinitas kebiasaan mereka berdua..bahkan pasangan masing-masing tidak ada yang tahu, jika hubungan mereka masih berlanjut, mungkin. kalo istri Rian tau, tamat lah riwayat mereka.
Sampai di rumah Vanesa langsung masuk kedalam.rumah dan langsung di sambut oleh Rendra uang duduk menyilangkan kakinya di ruang tamu..
"Baru pulang kamu yank..." Rendra masih dengan nada rendah..
"Maaf ya mas, aku gak tau kalo kamu langsung pulang, bukanya kamu kirim pesan dulu gitu, jadi tidak bentrok begini kan.." Vanesa langsung duduk.
"Maksut kamu bentrok yang bagaimana, harusnya istri itu ada di rumah bukan keturunan gak jelas begini.." Rendra mulai sedikit meninggikan suaranya.
"Mas kok jadi marah, aku dirumah itu suntuk mas, asal kamu tau saja sejak aku cuty aku gak punya kegiatan sama sekali, apa aku gak bosan dirumah.." Vanesa tak mau kalah.
"Aku tau tapi gak seharunya kamu keluyuran setiap hari juga kan. Kamu juga harus ingat ada suami yang harus kamu urus."
"Aku gak kewajibanku mas tapi asal kamu tau saja, aku juga sudah belajar untuk menjadi istri yang baik buat kamu, bukanya selama ini aku sudah memperlakukan kamu dengan baik, melayani kamu diatas ranjang."
"Hanya itu kan yang kamu bisa, kamu juga gak bisa kan memuaskan untukku,"
"Jadi kamu sudah mulai protes sekarang, bukanya aku sudah pernah bilang bukan dari awal aku wanita karir buka ibu rumah tangga, jadi salah ku dimana mas, jangan samakan aku dengan Ayu, jelas beda." Vanesa langsung meninggalkan Rendra sendiri di ruang tamu tampa peduli Rendra belum makan atau tidak.
Rendra sekarang menyadari antara ayu dan juga Vanesa yang jauh berbeda, dikatakan ia menyesal sangat, bagaimana tidak memasak saja Vanesa tidak bisa, bukanya ini yang di inginkan Rendra karena usaha membuang permata demi batu kerikil.
Ayu sekarang sudah sampai di kampung tengah malam, ia juga masih menunggu ojek yang akan mengantarkan ia pulang, walaikum tengah malam begini masih saja ada ojek di daerah sana.
"Pak anterin saya pulang ya, ke kampung j." ucap Ayu yang bertanya kepada salah satu ojek yang sudah setengah baya itu.
"Baik neng, tunggu ya." bapak itu menghidupkan motornya dan langsung mengantarkan Ayu pulang,
Di perjalan malam Ayu berhafas segera pulang dan juga ingin segera bertemu dengan bapaknya sejak ia berada di kota ia selalu kepikiran tentang bapaknya yang sakit itu.
"Sudah sampai neng," bapak ojek itu menghentikan motornya di alamat yang sudah di sebut oleh Ayu tadi.
"Makasih pak, ini ongkosnya.." ayu menyerahkan uang seratus ribu dan menyerahkan ke bapak tadi.
"Kebanyakan neng, " bapak itu menerima dan ingin mengembalikan kembalian itu ke neng tadi.
"Tidak usah pak, anggap itu rezeki bapak," Ayu menolak dengan halus,
Setelah itu Ayu berjalan menuju pintu, dan mengetuk pintu, rumah,
Tok
Tok
Tok
"Pak assalamualaikum.." Ayu masih berdiri di ambang pintu.
"Walaikum salam nak," pak Mardi dari dalam rumah langsung menghampiri pintu dan membukakannya.
"Kok pulang malam nak, harusnya besok aja nak." pak Mardi kaget saat putrinya sudah sampai, ia juga sangat kawatir sekali,
"Gak papa. pak Ayu kawatir dengan bapak." ahirnya Ayu masuk kedalam rumah dengan badan yang sedikit capek.