Brisella merupakan seorang koki dengan karir cemerlang. Namun, segalanya hancur ketika ia dikhianati rekan kerjanya dan diselingkuhi sang suami. Hidupnya berakhir hingga dia terlempar ke dunia lain.
Jiwa Brisella berpindah ke tubuh seorang Tuan Putri dari kerajaan miskin yang terjerat banyak utang. Dia bernama Brisella Sizilien. Setelah mengetahui kondisi kerajaan yang amat memprihatinkan, Brisella diharuskan berpikir dan bertindak membangun kerajaan ini kembali.
Sanggupkah nanti Brisella memanfaatkan kemampuan memasaknya untuk melunasi utang-utang kerajaan serta memakmurkan kerajaan ini?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Xeiralana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tertangkap Basah
Begitu Brisella siuman, kedua kakak dan ayahnya langsung melihat kondisinya. Mereka tampak sangat khawatir dengan Brisella. Namun, Brisella terlihat tak mengingat baik bahwa sebelumnya ia jatuh pingsan. Hanya saja Brisella merasakan ada yang berbeda dari tubuh ia kala itu.
Sekujur badan Brisella terasa lebih ringan, seakan-akan tubuhnya baru saja dinetralisir dari racun. Setelah dia pikir-pikir kembali, tubuh yang ia rasuki saat ini tidak nyaman untuk ditempati sebab bagian dalam tubuh tersebut seperti dipenuhi oleh racun. Terkadang dia tidak bisa tidur nyenyak karena sering terbangun akibat rasa panas yang membakar dada.
“Tubuhku terasa sangat bugar.” Brisella melompat-lompat kegirangan. “Aku tidak lagi merasa sesak dan juga aku rasa aku sedikit jauh lebih tinggi sekarang.”
Brisella memandangi bayangan dirinya di depan cermin. Piyama tidur yang dia kenakan tampak pendek daripada sebelumnya.
“Ternyata benar, aku bertambah tinggi. Aku tidak tahu penyebab pasti mengapa tubuhku tak kunjung bertumbuh, tetapi saat ini aku dapat merasakan dengan jelas bahwa belenggu yang menghambat pertumbuhanku sepertinya sudah terlepas.”
Brisella berputar-putar di depan cermin seraya berkata, “Wah, aku benar-benar cantik. Berapa kali pun aku melihat wajah ini, aku selalu berpikir bahwa paras ini terlalu cantik dibanding perempuan yang biasa aku temui.”
Brisella tiba-tiba memuji diri sendiri sambil tertawa kecil. Ketika itu pula Nirana memperhatikan gadis itu sedari tadi. Dia menggeleng-geleng menyaksikan tingkah Brisella yang suka sekali berbicara sendirian.
“Bagaimana bisa kau mengabaikanku setelah kau sadar?” Nirana jengkel, ia pun melontarkan protes terhadap Brisella.
“Hehe, maafkan aku, Nirana,” ucap Brisella.
“Ya sudah, lupakan itu. Sekarang karena kau telah sadar, ayo fokus menangkap pelaku yang mengubur kristal mana terlarang di kamar kakakmu. Aku yakin pelakunya berada di antara para pekerja di istana. Jangan sampai dia berbuat sesuatu lebih jauh lagi,” kata Nirana mendesak Brisella.
“Baiklah. Tunggu dulu sebentar, aku mau berganti pakaian.”
Kemudian sesudah berganti pakaian, Brisella dan Nirana mulai beraksi. Mereka berkeliling di beberapa titik istana sambil memperhatikan satu persatu gerak-gerik penghuni istana. Akan tetapi, sampai makan malam selesai, Brisella belum menemukan titik terang tentang pelaku.
“Apa benar dia masih berada di istana?” Brisella menghela napas panjang. Lalu mendadak dia mengingat sesuatu. “Oh, benar! Pelayan yang biasa mengantar makanan untuk kakakku gelagatnya terlihat mencurigakan. Aku baru sadar belum melihat dia sejak tadi pagi. Aku harus mencari dia sekarang.”
Brisella segera bangkit dari kursi. Dia membawa Nirana untuk mencari keberadaan pelayan tersebut. Sampai pada akhirnya, Brisella menemukan pelayan itu sedang mengendap-endap di koridor kosong ke arah istana kediaman Hestio.
“Itu dia!”
“Apa yang dia bawa di tangannya? Mungkinkah itu kristal mana terlarang?”
Indra penglihatan Brisella dan Nirana menangkap pergerakan pelayan wanita itu menggenggam dua buah benda mirip kristal mana terlarang. Mereka berdua pun diam-diam mengikuti si pelayan dari belakang sembari bersembunyi di balik tembok.
Pelayan itu berhenti di depan pintu masuk kamar Hestio, kepalanya melirik kanan dan kiri memastikan tidak ada orang di sana selain dirinya. Memang pada waktu itu Hestio sedang tidak berada di kamarnya, ditambah para kesatria sedang istirahat makan malam. Dikarenakan jumlah kesatria di istana terbatas, jadi terkadang ada waktu di mana istana kosong tanpa ada pengawasan dari kesatria.
“Aku harus cepat sebelum ada orang yang melihatku di sini,” gumam pelayan wanita itu bergegas masuk ke dalam kamar.
Brisella memberi kode Nirana untuk melihat si pelayan itu dari jarak yang lebih dekat. Dari celah pintu masuk yang sedikit ternganga, pelayan tersebut terlihat sedang meletakkan satu kristal mana terlarang di bawah kasur Hestio dan satunya lagi dia taruh di dalam guci kosong di sudut kamar.
“Kali ini dia menaruh dua kristal mana terlarang. Tidak bisa dibiarkan!”
Si pelayan wanita mendadak dikejutkan oleh kemunculan Brisella. Reaksinya panik dan gelagapan mengambil posisi pura-pura tengah membereskan meja. Dengan cepat ia menyembunyikan mimik panik tak karuannya itu. Berupaya bersikap biasa saja supaya tidak dicurigai.
“Salam hormat—”
“Apa yang kau lakukan di sini?” Brisella memotong perkataannya. Dia menatap si pelayan penuh intimidasi.
“Saya sedang membereskan kamar putra mahkota, Yang Mulia,” jawab pelayan itu disertai intonasi nada suara nan lemah dan bergetar.
“Benarkah? Padahal kamar kakakku baru saja selesai dibersihkan pelayan lain. Kau berbohong padaku?”
Sungguh menakutkan! Brisella terus menerus mengintimidasi pelayan tersebut melalui indra penglihatannya. Pelayan itu seketika menunduk karena takut menatap manik mata Brisella yang besar dan menyorot dengan sangat tajam bak mata pisau yang nyaris menerkamnya.
“T-Tidak, Y-Yang Mulia! Saya tidak b-berbohong. S-Saya sungguh … s-sungguh ….” Pelayan itu sontak terdiam tatkala tanpa sengaja menegakkan kepala lalu menatap mata Brisella. Seakan-akan nyawanya dilahap detik itu juga oleh aura mengerikan yang memancar dari diri Brisella.
“Kenapa tidak dilanjutkan? Mendengarmu terbata-bata begitu membuatku yakin kau menyembunyikan sesuatu. Tentu saja aku telah melihat semua sejak awal. Kau menaruh benda mencurigakan di bawah kasur dan di dalam guci kan?”
Pelayan itu pun kian menggigil ketakutan. Tanpa dia ketahui dari menjelang dia masuk kemari Brisella sudah mengintainya lebih dahulu. Kini alasan apa lagi yang mau dia katakan? Dia takkan bisa mengelak dari Brisella.
“Yang Mulia, saya—”
“Aku sudah tahu benda yang kau letakkan itu adalah benda berbahaya yang dapat menjadi racun bagi orang lain. Kau ini suruhan kaisar, bukan?”
Tatkala Brisella berbicara demikian, pelayan itu mengeluarkan sebilah pisau dari balik pakaiannya. Secara sadar, dengan keinginan membunuh nan kuat, tiba-tiba dia menerjang ke arah Brisella seraya mencoba membidik perut Brisella.
“Matilah kau! Aku takkan mengatakan apa pun padamu!” Si pelayan berteriak penuh amarah bercampur kepanikan.
Sayangnya, keinginan dia membunuh Brisella tidak berhasil. Brisella berhasil menghindari dari ujung pisau yang hampir menusuk perutnya. Jantung Brisella berdebar kencang, sekilas teringat dengan kejadian Ziggy menusuk dia menggunakan pisau.
“Untung tidak kena.” Brisella membuang napas lega.
“Sialan! Kenapa kau suka sekali mengacaukan rencana orang lain?!”
Brisella cepat-cepat meraih sebuah kayu kebetulan tergeletak tidak jauh dari jangkauan. Sebelum pelayan itu berbalik badan dan menyerang Brisella kembali, gadis itu sudah lebih dulu bergerak menghantam kepala si pelayan.
“Jangan pernah bermimpi membunuhku. Aku tahu kau suruhan kaisar yang diutus untuk membunuh kakakku. Aku tidak tahu dengan jelas apa yang diinginkan kaisar dan permaisuri, tetapi karena mereka terang-terangan mengusik keluargaku, aku takkan membiarkannya begitu saja!”
Pelayan wanita itu terkapar di atas lantai dalam kondisi kepala berdarah. Siapa sangka riwayatnya tamat di tangan Brisella. Gadis lemah dan selalu disembunyikan keberadaannya kini berdiri tegak di hadapan dia penuh ketegasan serta diliputi aura nan amat kuat.
Ketika kesadarannya seutuhnya terenggut, pelayan itu menelan sebuah pil yang disimpan di kantong pakaiannya. Tidak lama, si pelayan mengembuskan napas terakhir sebelum sempat diintrogasi oleh Brisella.
“Sepertinya dia sudah mati,” kata Nirana mengecek keadaan si pelayan.
“Dia mati? Padahal masih banyak yang ingin aku tanyakan. Ya sudahlah, mau bagaimana lagi. Aku akan memanggil kakak dan ayahku. Tolong kau amankan dulu kristal mana terlarang itu.”
jgn biarkan permaisuri jahat menang, kalo dia licik maka lawan dgn cara lebih cerdik lagi