Karya sudah Tamat.
Ini tentang Seorang yang begitu setia dalam menjalin hubungan, hingga mendapat sebuah penghianatan yang akhirnya merubah cara pandang hidupnya mengenai seorang perempuan di dunia ini.
"Langit tidak akan menikah seumur hidup! Perempuan tidak ada yang setia kecuali Bunda dan Nenek!"
Yah itulah Langit putra Pratama seorang pemuda tampan yang sangat setia pada kekasihnya, namun karena penghianatan dia tidak percaya sama sekali dengan wanita kecuali Bundanya dan Neneknya.
Hingga suatu saat di sebuah Rumah sakit dia bertemu Mentari, Dokter Cantik bersahaja yang merawat Bundanya. Mengubah Kehidupannya dalam sekejap.
Mampukah Mentari mencairkan bekunya kutub Utara pada Hati Langit???
Bisakah Langit mempercayai cinta dan jatuh cinta sekali lagi???
Bagaimana kah kisah cinta diantara mereka???
Yuk lanjut baca sampai selesai.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon shakila kanza, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pulang
Detik berputar berlalu meninggalkan diri berpacu mengejar menit, dan menit berputar berlalu mengejar jam, demikian juga jam berputar melaju menyongsong hari lalu hari berganti meninggalkan diri menjadi Minggu lalu berganti menjadi bulan.
Waktu berlalu begitu membosankan bagi orang yang melakukan rutinitas itu dan itu di ruang yang sempit dan sama setiap harinya. Dinding putih, ranjang pesakitan, selang infus, obat dan begitu setiap harinya.
Jika dulu hal yang biasa bagi Mentari namun semenjak menjadi pasien Dia amat bosan dengan hal itu semua. Semua terasa sempit di pandangannya, hanya dengan membaca buku dan menonton drama yang sehari-hari bisa dia lakukan.
Akhirnya setelah melalui sekian perjuangan kesabaran melalu semuanya, Mentari di nyatakan boleh pulang dan harus cek up setiap 2 minggu sekali.
Hari ini adalah hari kebebasannya, hari dimana udara tidak beraroma itu-itu saja, hari dimana diding putih akan berganti dengan pemandangan yang lainnya.
Mentari sudah di lepas semua alatnya, tinggal menunggu suaminya menjemput lalu pulang ke rumah suaminya. Bunda Kharisma memohon untuk tinggal bersama selama Mentari belum benar-benar sehat seperti dulu lagi.
Setelah menunggu Langit datang, lalu menaruhnya di kursi roda, sesungguhnya dia sudah mampu berjalan namun saking over protective sang suami tidak mengijinkan Mentari untuk berjalan dulu.
Setelah memasuki mobil, Langit mendampingi istrinya di kursi belakang sementara supirnya menyetir di depan.
Mobil keluar dari area Rumah Sakit dan membelah jalanan kota menuju kediaman Langit. Mentari tertidur di pundak Langit, sesekali Langit membelai kepala Mentari dan mengecup puncak kepala Istrinya yang tengah terlelap itu.
Sopir tersenyum melihat kehangatan keluarga kecil baru itu yang tengah merasakan manisnya pernikahan setelah perjuangan pahit yang tengah di lalui keduanya.
Setelah menempuh perjalanan yang lumayan lama, akhirnya mobil memasuki rumah kediaman Langit sekeluarga.
Bunda Kharisma sudah menunggu di depan pintu dengan cemasnya, setelah mobil memasuki gerbang barulah beliau tersenyum lega.
Mentari langsung sambut dengan pelukan bunda Kharisma lalu di suruh masuk dan meminta Langit untuk membawa ke kamar Langit di lantai atas.
Langit membopong Mentari menaiki tangga lalu di ajak masuk ke dalam kamarnya. Ranjang yang luas dengan nuansa biru muda dan tatanan yang amat mewah dan rapi sudah menyambutnya.
Semua barang Mentari yang ada di rumahnya sudan berpindah di tempat suaminya semua. Mentari berjalan ke arah balkon yang ternyata ada banyak bunga-bunga berwarna-warni bermekaran dengan langit yang cerah juga udara yang segar menyambutnya.
Langit memeluk Mentari dari belakang lalu meletakan kepalanya di bahu Mentari. Langit lebih suka aroma tubuh Mentari dari pada bunga-bunga di balkon, baginya Mentari lebih menawan.
"Udah yah, dingin masuk ya Sayang..." Kata Langit lalu tanpa permisi membopong Mentari ke ranjang.
Langit membaringkan Mentari di atas ranjang lalu dia ikut menyusulnya. Langit memeluk Mentari lebih dekat dari posisi di Rumah Sakit sebelum-sebelumnya, membuat Mentari berdebar di buatnya.
Langit memandang Mentari lalu mengikis jarah dan semakin beradu nafas, lalu fokusnya pada sesuatu yang selalu manis di matanya.
Cup
Kecupan singkat yang mematik sesuatu yang sudah seharusnya, menginginkan yang lebih, tanpa permisi Langit menyatukan dua baris merah muda yang biasa tersenyum merekah padanya itu pada bibirnya.
Langit mengajari Mentari perlahan untuk mengajari rasanya. Sesuatu yang manis semakin di dalami semakin menghadirkan rasa yang indah. Tidak perlu terburu-buru, perkenalan bertahap saja yang penting mengesankan dan selalu terkesan.
Ingin lebih namun Langit sadar semakin memasuki rasa yang dalam maka akan menyesakan baginya sendiri, tentu Dia tidak mau jika berjuang sendirian, karena Mentarinya begitu polos dan tubuhnya belum bisa di ajak untuk bekerjasama Lebih, baginya hadirnya Mentari kembali kedalam kehidupan adalah anugrah dan keajaiban terindah.
🙏🙏🙏🙏🙏
please, author mohon bagi yang baca, selalu ikhlaskan like nya, komentar membangunnya, vote jika berkenan dan pencet favorit untuk dukung author....
Semoga pembaca semua selalu sehat dan bisa menyimak karyaku
🤗🤲🌷🌷🌷🤲🤲🤲