Selma, seorang perempuan yang baru saja lulus SMA, harus mengubur impiannya untuk kuliah dengan beasiswa. Pacaran yang terlampau batas, membuatnya harus menanggung kehamilan bayi kembar di usia dini.
Sementara orang tua Radit, pacar yang juga teman sekolah Selma, hanya ingin bertanggung jawab dengan memberikan sejumlah uang, bukan dengan menikahkan anak mereka karena Radit harus kuliah di luar negri demi masa depannya. Hubungan mereka harus kandas begitu saja tanpa saling mengetahui kabar masing-masing.
Hingga 8 tahun kemudian, Radit yang sudah menikah, bertemu kembali dengan anak kembarnya tanpa disengaja dan tanpa ia tahu.
Apakah mereka akan kembali bersatu, atau kembali menjalankan kehidupan masing-masing?
Ikuti kisah selengkapnya di sini ya…
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Byiaaps, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Selamanya Menjadi Kita
Hari demi hari berlalu, pagi ini tiba saatnya janji suci akan diucapkan. Selma dan kembar dari semalam sudah pindahan dan tidur di rumah Radit, bersama budenya. Sedangkan Radit dan orang tuanya menginap di hotel.
Hanya ada beberapa tamu dalam acara pagi ini diantaranya Bu Farah sang pemiliki toko kue, Lia dan Sinta para karyawan toko kue, bude Selma, Pak Rudi kuasa hukum Radit, sekretaris Radit dan beberapa pejabat kantor sebagai perwakilan dari kantor Radit, serta beberapa keluarga Radit lainnya, dan 2 orang sahabat yang juga merupakan kolega papa Radit.
Tentunya ada 2 bocah yang tampak menggemaskan dengan pakaiannya pagi ini, Rayi dengan setelan jaznya, dan Raya dengan gaun putihnya.
Setelah penghulu, wali hakim, dan para saksi telah hadir, juga doa-doa telah dilantunkan, acara akan pun segera dimulai.
Penghulu sudah bersiap menjabat tangan Radit, untuk menikahkannya dengan Selma.
“Saudara Raditya Bagus Bimantara bin Bagus Ananto, saya nikahkan dan saya kawinkan Anda dengan saudari Tatiana Selma binti Andi Wiraya, dengan mas kawin seperangkat alat sholat, 1 set perhiasan sebesar 25 gram, serta uang tunai sebesar 100 juta rupiah dibayar tunai!”
“Saya terima nikah dan kawinnya Tatiana Selma binti Andi Wiraya dengan mas kawin tersebut tunai!” ujar Radit begitu lancar hanya dengan 1 tarikan nafas, diikuti teriakan para tamu yang hadir.
“SAAAHHH!”
Setetes air mata jatuh membasahi pipi Selma, yang segera diseka oleh budenya. "Ibumu pasti tersenyum di atas sana."
Sayang sekali ibunya tak bisa menemaninya di hari bahagia Selma. Senyum sumringah terpajang di wajah para tamu yang hadir, namun berbeda dengan senyuman getir yang terpasang di wajah mama Radit. Kembar yang dijaga oleh Lia dan Sinta pun seakan ikut riang gembira, meski mereka tak tahu acara apa ini.
Para tamu kemudian dipersilakan menyantap hidangan yang sudah disiapkan, sembari mereka saling berfoto dan mengobrol. Papa Radit itu juga tampak sedikit bercerita dengan keluarga dan koleganya, tentang pernikahan ini dan juga perceraian anaknya, seakan tak malu mengakui masa lalu Radit. Berbeda dengan mama Radit yang tak banyak bicara dan lebih banyak diam karena kecewa, usahanya agar pernikahan ini tak terjadi seakan sia-sia.
“Mbak Tia, selamat ya,” ujar Lia dan Sinta ikut bersuka cita atas pernikahan managernya itu.
Begitu pun dengan Bu Farah yang membawa anak bungsunya juga mengucapkan kalimat suka citanya atas pernikahan Selma. Tak terkecuali dengan Sisil yang sudah menjadi salah satu orang kepercayaan Radit pun turut mengucapkan rasa bahagianya. Dan ucapan bahagia para tamu yang hadir seakan tak luput menghiasai hari bahagia Radit dan Selma.
Setelah acara berlangsung beberapa lama kemudian, semua orang di ruangan itu seakan dibuat tertawa oleh aksi kembar yang mengajak anak bungsu bu Farah bermain di playground mini di dalam rumah, hingga anak bu Farah tersebut tak mau diajak pulang.
###
Sore tadi, orang tua Radit juga bude Selma langsung pulang ke rumah masing-masing. Mulai hari ini, Radit dan keluarga kecilnya akan berkumpul tinggal di rumah ini. Berharap semoga kembar tak banyak bertanya lagi tentang Oma Winta yang tak ikut tinggal bersama mereka.
Karena seharian bermain dan tidak tidur siang, kembar kembali terlelap saat waktu masih menunjukkan pukul 7 malam, syukurnya sore tadi mereka sudah makan, sehingga Selma tak khawatir mereka akan kelaparan.
Mulai malam ini, Selma juga akan tidur bersama Radit untuk yang pertama kalinya. Meski sebelumnya mereka pernah melakukan hubungan terlarang, namun tetap saja berbeda rasanya. Mereka juga masih sama-sama kaku dan canggung seolah baru pertama bertemu. Bagaimana pun, Radit dan Selma memang sudah sekian lama tak bertemu.
Selma memandangi setiap sudut kamar Radit yang tampak besar dan tertata rapi. Lalu, Radit mengejutkannya dengan memeluk istrinya dari belakang. Melihat Selma yang masih memandangi seisi kamar, membuat Radit bertanya apakah istrinya itu kurang suka dengan kamar mereka.
“Aku suka, hanya saja...” Selma tak melanjutkan ucapannya. Ia tak enak hati jika mengatakan bahwa ia tak nyaman tidur 1 di satu ranjang yang sama dengan ranjang tempat Radit tidur bersama Gita dulu.
“Hanya apa?” tanya Radit ingin tahu.
“Ingin melihat apakah masih ada barang-barang mantan istri kamu di sini,” ungkap Selma berbohong.
Radit membalikkan tubuh Selma menghadap ke arahnya. “Aku bisa pastikan tidak ada yang tertinggal, tapi kalau pun masih ada, aku minta maaf karena aku tak punya banyak waktu untuk mengeceknya. Mengingatnya saja sudah malas.”
“Kamu juga tidak perlu khawatir, aku sudah mengganti kasur dan dipannya. Sudah aku pindahkan ke kamar tamu, dan aku ganti dengan yang baru untuk kamar kita. Sehingga, semuanya serba baru, almari, meja rias, dan semuanya,” lanjut Radit yang seolah mengetahui isi otak istrinya.
Selma tersenyum haru. Radit memang selalu memperlakukannya bak seorang ratu. Dengan segala pengorbanan yang dilakukannya.
"Ehm, jadi, apa kamu sudah terpikirkan mau memberi kembar adik? Kali ini tak akan terlarang lagi seperti dulu,” ujar Radit melekatkan keningnya dengan kening Selma.
Selma menggeleng dan melepaskan pelukan Radit. “Tidak mau!”
...****************...